Di antara gemuruh kereta dan debu kehidupan yang keras, Siman hanyalah seorang pemuda yang tak pernah dianggap.
Dihina. Ditolak. Dilupakan.
Hingga suatu senja, seorang nenek misterius meninggalkan sebuah warisan di tangannya—akik biru laut yang memancarkan cahaya tak biasa… dan mengubah segalanya.
Keberuntungan mulai datang tanpa diminta.
Pintu-pintu yang dulu tertutup kini terbuka.
Dunia yang pernah merendahkannya mulai berbalik memandang.
Namun semakin tinggi Siman melangkah, semakin besar pula harga yang harus dibayar.
Apakah semua ini benar-benar takdir?
Ataukah hanya ilusi dari kekuatan yang belum ia pahami?
Ketika masa lalu kembali menghantui, dan kepercayaan dirinya runtuh tanpa akik itu di tangannya, Siman dihadapkan pada satu pilihan:
Terus bergantung pada keajaiban… atau menjadi penakluk sejati atas hidupnya sendiri.
Sebuah kisah tentang luka, harapan, cinta, dan keberanian untuk bangkit.
SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT
Jejak takdir tidak pernah salah memilih pemiliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Ancaman di Tangan Siman
"Siman... ini... ini keren banget! Gila! Sesuai ekspektasiku, bahkan lebih!" Bang Bimo berseru antusias, menyodorkan ponselnya ke sebuah layar monitor besar yang menampilkan desain poster Siman. Sebuah senyum tipis merekah di bibir Bang Bimo, tanda apresiasi tulus. Siman melihat betapa desain itu tampil sempurna, berkat akik di jarinya yang dia percaya telah memberikannya kekuatan.
Karyawan Bang Bimo yang ikut menyaksikan pun terdengar berbisik kagum di latar belakang. Kata-kata "inovatif", "artistik", dan "mengena" terdengar sayup-sayup. Air mata Siman menetes, tidak terbendung. Bukan air mata kesedihan, melainkan kelegaan, kebahagiaan murni yang tak terkira. Siman merasakan akik di jari manisnya, berdenyut pelan, terasa tenang, seperti sebuah apresiasi tersendiri.
"Nggak ada yang perlu dikoreksi, Man! Aku puas banget! Dan ini... aku akan kirimkan honor lebih buat kamu! Besok bisa kita diskusi lagi ya. Kamu pasti jadi bintang di industri ini, aku jamin! Aku bangga banget punya desainer lokal sepertimu!"
Bang Bimo mengakhiri panggilan. Siman terduduk lemas di bangku kursusnya, masih terkesima. Ia melihat notifikasi bank di ponselnya. Angka yang tertera membuat matanya terbelalak. Bukan tiga juta. Melainkan lima juta rupiah. Jauh di atas perkiraannya, bahkan mencapai batas atas yang disebut Rido!
"Ya, Allah... aku..." Siman tak bisa berkata-kata. Ia meremas akik biru lautnya. Itu hadiah, sekali lagi. Hadiah takdir. Untuknya.
Siman akhirnya bangkit, bergegas pulang. Langkahnya kini tak lagi diselimuti lelah, melainkan oleh ringan kebahagiaan. Sisa-sisa trauma dari perkataan Dina kini seolah pupus, hilang tak berbekas, tertutup oleh kemenangan kecil ini. Begitu sampai di rumah, Siman membaringkan diri di tempat tidurnya yang sederhana. Akik itu diletakkan di dekat bantal, bersinar redup di kegelapan kamar.
Murni akan bangga kepadanya. Dia tahu. Murni akan menjadi orang pertama yang akan mendukungnya lagi. Siman akan menemuinya pagi nanti, bercerita. Siman tersenyum samar. Matanya menatap rembulan. Di bayangan rembulan itu. Ia melihat dirinya. Wajah Dina di sisi yang lain tampak murung dan menyedihkan. Ini bukan hanya awal sebuah kisah. Ini awal dari sebuah era.
Ia menyalakan ponselnya. Sebuah pesan masuk, dari nomor yang tak dikenal.
"Bang Bimo kembali berulah, ya?" Siman mengerutkan dahi. Ia lantas menekan sebuah aplikasi pengiriman pesan, mencari nama Intan. Dia akan menghubungi Intan esok hari. Mengajak dia untuk proyek itu. Karena itu adalah janji dirinya pada Murni dan dirinya sendiri.
"Tolong berhati-hati, Siman."
"Orang sepertimu, suatu saat pasti akan menabrak batunya juga."
*
Ponsel Siman kembali bergetar pelan di tangan kanannya, menyusul getaran kuat akibat desah kereta yang baru saja melintas. Alarm peringatan beruntun semalam, dengan pesan misterius yang terngiang-ngiang tentang Bang Bimo dan ancaman akan "menabrak batunya", mengikis sedikit kebahagiaan yang membuncah setelah keberhasilan proyek poster itu. Ia menelaah pesan terakhir, “Orang sepertimu, suatu saat pasti akan menabrak batunya juga.” Siman mengerutkan dahi, hati kecilnya diselimuti rasa cemas yang tak kasat mata.
Dirinya bertekad mengusir keraguan tersebut. Ia tidak ingin pikirannya digerogoti oleh hal-hal yang tidak jelas. Sebuah pesan anonim seharusnya tidak menghancurkan semangat yang baru saja ia pupuk. Akik biru laut di jari manisnya terasa hangat, menenangkan, seperti berbisik untuk tetap maju.
Setelah menarik napas dalam-dalam, Siman membuka aplikasi pengiriman pesan, mencari nama Intan. Dia harus memenuhi janji. Bukan hanya kepada Intan, melainkan kepada dirinya sendiri, untuk tak pernah lagi bersembunyi di balik bayang-bayang ketidakmampuan. Pagi ini, sebuah babak baru harus dimulai.
Nomor Intan terpampang. Siman menarik sebuah bangku di teras, jauh dari bapak dan ibunya yang masih sibuk mengurus rumah dan kebutuhan sarapan. Ia lantas menekan tombol panggil.
"Halo, Intan? Ini Siman," sapanya setelah suara "halo" di seberang sana menjawab.
"Oh, Mas Siman! Ya ampun! Kenapa nih telepon pagi-pagi gini? Ada apa?" Suara Intan terdengar riang, khasnya.
"Nggak, nggak apa-apa. Ini… proyek semalam sama Bang Bimo. Kata Bang Bimo, butuh desainer grafis lagi. Kemarin kan aku janji mau ajak kamu buat kerja sama." Siman berusaha menata kalimatnya, sedikit gugup.
"Wah, serius, Mas Siman?! Itu proyeknya Bang Bimo?! Gila, keren banget lho! Itu event organizer gede banget! Saya cuma denger-denger aja sih dia nyari desainer dadakan. Dan... Mas Siman yang dapet? Hebat!" Intan terdengar terkejut, namun dengan nada kagum yang tulus.
"Iya, aku nggak nyangka juga, Tan. Ini baru pertama kali aku ngerjain yang... 'segini' besarnya." Siman terkekeh, perasaan bangga meluap dalam dirinya, sedikit mengusir sisa kecemasan.
"Luar biasa, Mas! Berarti emang Pak Harun bener waktu itu. Bakatmu tersembunyi banget ya, kayak intan!" Intan tergelak. "Terus… ini beneran saya diajak? Mau kerja bareng?"
"Iya, Tan. Bang Bimo butuh dua orang. Kayaknya aku bisa bagi kerjanya. Gimana, kamu minat?"
"Minat banget, Mas Siman! Siapa sih yang nggak mau proyek dari Bang Bimo! Ini kesempatan emas! Asal... asal kerjanya nanti nggak ngebut banget ya. Saya kalau disuruh buru-buru suka agak error gitu. Hehehe." Ada jeda. "Tapi serius, ini berapa upahnya, Mas? Saya sungkan kalau Mas Siman mau bagi hasil. Masak dari kerjaan Mas Siman, saya dapet begitu aja."
"Nggak apa-apa, Intan. Kita sama-sama kerja. Hasilnya ya kita bagi rata. Soal nominal, aku janji nggak akan bikin kamu kecewa." Siman berujar mantap, teringat nominal besar yang Bang Bimo transfer ke rekeningnya.
"Duh, Mas Siman baik banget! Beda banget sama orang-orang di kelas yang kalau ada proyek maunya sendiri doang! Kapan kita mulai? Saya siap nih, Mas!"
"Nanti aku kirimkan brief-nya via WhatsApp. Kita mulai hari ini juga. Cuma ada tiga hari buat nyelesain. Gimana?"
"Waduh, mepet banget, Mas! Tapi oke! Pasti bisa lah. Selagi sama Mas Siman mah yakin saya. Tenang aja! Beres ini! Nanti kalau ada apa-apa, saya WhatsApp ya, Mas!"
"Oke, Tan. Aku tunggu ya kerjamu." Siman menutup telepon. Hatinya merasa lega. Satu janji terlunasi. Setidaknya, beban kerjanya juga berkurang. Kini, bukan cuma Siman seorang yang akan menunjukkan diri. Ada Intan juga, yang semangatnya akan mendorong dirinya.
Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah dinding memberikan sedikit kehangatan pada ruangan bengkel "Roda Sakti". Suasana masih riuh rendah, diselimuti aroma khas oli dan karet ban yang tak pernah berubah. Siman sibuk memilah-milah mur dan baut, menyimpannya rapi ke dalam kotak-kotak bertingkat. Akiknya terasa dingin, berdenyut ringan di jarinya.
"Sudah kelar proyek dadakanmu itu, Siman?" Pak Jitomo, bos bengkel, tiba-tiba muncul di sampingnya, menyeruput kopi hitam panas dari gelas kaleng. Matanya menyiratkan rasa ingin tahu. "Saya dengar dari si Rido. Hebat juga kamu, Man. Sudah berani ambil proyek begitu. Langsung kejar promotor event besar lagi."
***