Penyatuan dua dinasti bisnis raksasa melalui pernikahan mendadak Fank Manafe dan Renata Batistuta memaksa Ezzvaro dan Gabriel terjebak dalam satu atap sebagai saudara tiri.
Namun, di balik status formal itu, tersimpan sejarah kelam: mereka adalah mantan kekasih yang berpisah dengan luka menganga akibat pengkhianatan dan kecemburuan fatal tiga tahun lalu.
Ketika gairah terlarang dan dendam masa lalu mulai membakar batasan moral, mereka terseret ke dalam konspirasi bisnis yang berbahaya.
Di tengah desingan peluru dan pengkhianatan keluarga, Ezzvaro harus memilih antara melindungi wanita yang paling ia benci atau membiarkan dunia menghancurkannya.
Di dunia di mana "cinta adalah kelemahan dan kekuasaan adalah segalanya," kelebihan/melampaui batas akan memaksa mereka menghadapi pilihan tersulit: bersatu dalam kehancuran atau saling menghancurkan demi bertahan hidup 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#25
Mesin kapal itu menderu rendah, membelah ombak Selat Inggris yang pekat dan dingin. Di belakang mereka, lampu-lampu pelabuhan London perlahan mengecil, meninggalkan jejak peluru dan bau mesiu yang masih melekat di pakaian. Di dalam kabin sempit yang hanya diterangi lampu redup kekuningan, napas Ezzvaro terdengar berat dan tersengal.
Jas mahalnya sudah robek di bagian bahu kiri, menyingkap kemeja putih yang kini berubah warna menjadi merah tua yang mengerikan. Sebutir peluru telah menyerempet otot lengannya, meninggalkan luka robek yang cukup dalam. Namun, alih-alih merintih kesakitan, pria itu justru terduduk lemas di lantai kabin, menyandarkan punggungnya pada dinding kayu yang bergetar.
Gabriel berlutut di hadapannya dengan tangan gemetar, memegang kotak P3K yang ia temukan di bawah kursi kapal. Air matanya terus mengalir, jatuh membasahi punggung tangan Ezzvaro.
"Vavo... lukanya... ini sangat dalam," bisik Gabriel parau. Ia mencoba membuka kancing kemeja Ezzvaro untuk membersihkan luka itu, namun isaknya membuat jemarinya kaku.
Ezzvaro meringis pelan, lalu dengan tangan kanannya yang masih sehat, ia menarik lembut kepala Gabriel agar mendekat ke arah perutnya sendiri—tempat di mana benih kehidupan berusia enam minggu itu sedang bersembunyi dari badai dunia.
Ezzvaro menundukkan kepalanya, menempelkan keningnya tepat di depan perut Gabriel. Suaranya rendah, bergetar oleh rasa sakit namun penuh kasih sayang yang tak terbatas.
"Sayang... maafkan Ayah, ya?" bisiknya pada janin yang belum bisa mendengar itu. "Lengan Ayah terluka sedikit. Jadi nanti, Ayah tidak lagi bisa menggendong Ibumu dengan dua tangan seperti biasanya. Ayah akan menggendongnya dengan satu tangan saja, tapi Ayah janji pelukannya akan tetap sama kuatnya."
Ezzvaro mengelus perut Gabriel dengan jemarinya yang dingin. "Jangan rewel ya di dalam sana, Sayang. Kasihan Ibumu... dia sudah cukup lelah karena Ayah dan kakekmu yang gila itu."
Dada Gabriel seolah sesak mendengar penuturan itu. Di tengah pelarian maut, di saat nyawa mereka diujung tanduk, Ezzvaro masih sempat memikirkan kenyamanannya dan sang bayi. Gabriel menghapus air matanya dengan kasar, lalu menyahut dengan suara yang dibuat-buat seperti suara bayi—sebuah cara konyol untuk menenangkan ketegangan di antara mereka.
"D-Daddy... tidak apa-apa," sahut Gabriel dengan nada suara kecil yang lucu, meski suaranya masih serak karena sisa tangis. "Dede bayi janji tidak rewel, asal Daddy cepat sembuh. Dede ingin lihat Daddy kuat lagi untuk lawan orang jahat."
Ezzvaro terkekeh lemah, sebuah tawa yang berakhir dengan rintihan kecil karena luka di lengannya berdenyut hebat. Ia menatap Gabriel dengan binar cinta yang begitu dalam, seolah-olah wanita di depannya adalah satu-satunya oksigen yang tersisa di bumi.
"Terima kasih, Sayang," gumam Ezzvaro.
"Sekarang diamlah, biar aku bersihkan ini," perintah Gabriel dengan ketegasan yang dipaksakan.
Ia mulai menuangkan cairan antiseptik ke atas luka Ezzvaro. Pria itu mencengkeram pinggiran kursi kayu hingga buku-buku jarinya memutih, namun ia tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Gabriel dengan telaten membersihkan sisa-sisa mesiu dan darah, lalu membalutnya dengan kain kasa bersih. Setiap gerakan Gabriel dilakukan dengan penuh kehati-hatian, seolah ia sedang menyentuh barang pecah belah yang paling berharga.
Setelah balutan itu selesai, Gabriel menyandarkan kepalanya di bahu kanan Ezzvaro yang tidak terluka. Keheningan laut malam menyergap mereka, hanya menyisakan suara ombak yang menghantam lambung kapal.
"Tidurlah, Sayang," bisik Ezzvaro sambil mengecup puncak kepala Gabriel. "Kau pasti sangat capek. Perjalanan menuju Utara masih jauh, dan stres ini tidak baik untuk kandunganmu."
Gabriel menggeleng kuat di dalam dekapan Ezzvaro. Ia melingkarkan tangannya di pinggang pria itu, seolah takut jika ia memejamkan mata, Ezzvaro akan menghilang atau Ayahnya akan tiba-tiba muncul dari balik kegelapan laut.
"Aku tidak ingin tidur, Vavo. Aku ingin menjagamu," sahut Gabriel. "Aku tidak tahu siapa yang menunggu kita di dermaga Utara nanti. Bagaimana jika orang suruhan Kak Theo juga berkhianat? Bagaimana jika Ayah sudah sampai di sana lebih dulu?"
Ezzvaro terdiam. Kekhawatiran Gabriel sangat masuk akal. Di dunia Manafe, kesetiaan seringkali memiliki harga, dan Fank Manafe mampu membeli harga siapa pun. Namun, ia tidak boleh menunjukkan keraguan itu sekarang.
"Tharzeo tidak akan mengkhianati kita, Gaby. Dia memang dingin, tapi dia punya satu hal yang tidak dimiliki Ayah: nurani," ucap Ezzvaro meyakinkan, meski hatinya sendiri dipenuhi kewaspadaan. "Dan jika pun ada yang menghadang, aku masih punya satu tangan untuk menarik pelatuk dan melindungi mu. Percayalah padaku."
Gabriel mendongak, menatap wajah Ezzvaro yang tampak sangat pucat di bawah lampu kabin yang remang. Ia menyadari betapa banyak yang telah dikorbankan pria ini untuknya—karirnya, statusnya sebagai pewaris, bahkan hubungan darah dengan ayahnya sendiri. Semuanya ditinggalkan demi dirinya dan bayi yang bahkan belum mereka rencanakan kehadirannya.
"Aku percaya padamu, selalu," bisik Gabriel.
Di tengah laut yang dingin dan tak tentu arah, dua jiwa ini saling mendekap erat. Kapal kecil itu terus melaju menembus kabut, membawa rahasia besar tentang pewaris Manafe yang terbuang.
Mereka tidak tahu apa yang menanti di daratan Utara nanti—apakah itu kebebasan ataukah jebakan maut lainnya. Namun bagi mereka, selama napas masih beradu dalam satu pelukan, badai sehebat apa pun akan mereka terjang demi janin kecil yang menjadi simbol harapan baru di tengah reruntuhan dinasti mereka.
🌷🌷🌷🌷