Berabad-abad setelah perang yang menghancurkan dunia Avalon, perdamaian tidak lebih dari sebuah tirai rapuh yang menyembunyikan ambisi-ambisi kuno dan rahasia-rahasia yang telah lama terkubur. Kael Ashvern, seorang remaja dari desa Ashfall, menjalani kehidupan yang tenang—hingga sebuah tragedi mendadak memaksanya melangkah jauh melampaui batas segala yang pernah ia kenal, dan mengungkapkan bahwa kalung warisan orang tuanya adalah salah satu dari dua puluh Philosopher Stones, artefak paling kuat yang lahir dari sisa-sisa The Great War.
Diburu oleh faksi-faksi yang saling bersaing dan dibayangi oleh kekuatan gelap yang mulai menggeliat kembali, Kael perlahan memahami bahwa dirinya bukan sekadar korban takdir. Untuk bertahan hidup, ia harus menghadapi dunia di mana kekuatan besar tidak pernah datang tanpa pengorbanan.
Mampukah Kael melewati ujian-ujian yang menantinya dan mengungkap kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon celvinworks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Pertama
Pedang itu membelah udara dengan presisi yang tiga bulan lalu mustahil bagiku.
Bentuk Moonblade ke-Tujuh Belas, Wind Cutter.
Energi void menyelimuti bilah pedang—bukan lapisan kasar seperti di Academy, tapi terintegrasi secara mulus. Pedang dan sihir menjadi satu, tak bisa dibedakan.
Tebasan horizontal—jejak void mengikuti, membelah boneka latihan tepat di tengah.
Bukan karena kekuatan fisik semata.
Melalui pemotongan dimensi—bilah secara harfiah memotong ruang itu sendiri, materi terbelah sebelum kontak terjadi.
"Lebih baik," suara Ayah datang dari sisi arena. "Tapi sudutnya tiga derajat terlalu lebar. Energi terbuang. Ulangi."
Aku mereset kuda-kuda. Bernapas. Mengeksekusi.
Kali ini—sempurna.
Boneka itu tidak hanya terbelah. Ia hancur mengikuti garis potongan—energi void mengonsumsi materi sepenuhnya.
"Bisa diterima," Ayah mengakui—pujian yang tinggi darinya. "Bentuk Tujuh Belas dikuasai. Besok, Bentuk Delapan Belas. Bubar untuk sarapan."
Aku menyelipkan pedangku ke sarungnya—bilah khusus yang ditempa oleh pandai besi Covenant, dirancang spesifik untuk menyalurkan void. Tidak ada bandingannya dengan senjata latihan Academy. Ini senjata sungguhan. Senjata yang mematikan.
Tiga bulan pelatihan.
Tiga bulan transformasi total.
"Ingat minggu pertama?" Azure Codex terlihat bangga. "Kamu hampir tidak bisa mempertahankan Bentuk Lima selama tiga puluh detik tanpa ambruk. Sekarang? Tujuh belas Bentuk dikuasai, integrasi void hampir sempurna, stamina meningkat 300%. Pertumbuhan yang mengesankan."
"Metode Ayah brutal tapi efektif."
"Gaya pelatihan Moonblade Saint. Dorong melampaui batas setiap hari, istirahat cukup untuk mencegah cedera, ulangi sampai 'mustahil' menjadi 'dasar'. Kakekmu menggunakan metode yang sama—hasilnya berbicara sendiri."
Aku berjalan menuju benteng utama—matahari terbit melukis Shattered Plains dalam warna merah-emas yang aneh, retakan dimensi kurang terlihat di siang hari tapi tetap ada.
Tiga bulan di sini.
Tiga bulan sejak meninggalkan Academy.
Terasa seperti seumur hidup.
Tubuhku sudah berubah. Otot-otot yang kencang menggantikan kekurusan anak desa. Bekas luka dari kecelakaan latihan dan satu misi tempur nyata dua minggu lalu—serangan iblis kecil. Kapalan dari pekerjaan senjata, sirkulasi mana yang kini begitu efisien hingga hampir tidak butuh upaya sadar lagi.
Di sisi magis, penguasaan void magic melonjak secara eksponensial. Aku bisa mempertahankan Void Sphere selama lima menit sekarang—dibandingkan sembilan puluh detik di Academy. Jangkauan Dimensional Step meningkat sepuluh kali lipat. Teknik-teknik baru terbuka, Void Severance untuk pemotongan spasial, Azure Burst untuk detonasi void yang eksplosif, Null Field untuk penekanan sihir area.
Dan integrasi Azure Codex—
TIER 3 TERCAPAI.
Dua minggu lalu. Lebih cepat dari bahkan timeline agresif Ibu.
Tier 3 berarti akses penuh ke pengetahuan yang terakumulasi dari Pemilik Scholar. Kecepatan analisis yang ditingkatkan. Kemampuan untuk berinteraksi langsung dengan jaringan Philosopher Stone—bukan hanya melacak, tapi berkomunikasi.
Persiapan perang semakin dipercepat. Aku butuh kekuatan lebih cepat dari yang perkembangan normal.
Pikiranku juga lebih tajam. Lebih fokus. Pemikiran strategis membaik secara dramatis berkat pelatihan taktis Drian. Aku bisa menilai skenario tempur dalam hitungan detik, mengidentifikasi pendekatan optimal, memprediksi gerakan musuh tiga langkah ke depan.
Tapi juga—kelelahan.
Lelah sampai ke tulang sumsum.
Tiga bulan pelatihan intensif. Hari istirahat minimal. Tekanan konstan.
Bertahan. Bahkan berkembang.
Tapi kelelahan.
Ruang tengah—pertemuan pagi seperti biasa.
Orang tuaku ditambah Drian, tapi hari ini ada seseorang lain yang hadir,
Komandan Arcturus.
Seorang veteran yang sudah terasah, mungkin usia lima puluhan, bekas luka yang ekstensif, postur militer yang absolut. Komandan lapangan senior Covenant, jarang mengunjungi markas Shattered Plains.
Kehadirannya berarti sesuatu yang penting.
"Kael," Ibu menyapaku dengan senyum—tiga bulan tidak mengurangi kegembiraannya melihatku setiap hari. "Makan cepat. Komandan punya briefing."
Aku duduk dan mengambil makanan. "Ada apa?"
"Misi," Drian menjawab blak-blakan. "Misi nyata. Bukan latihan. Operasi lapangan yang sesungguhnya—berbahaya, kritis, sensitif waktu."
Komandan Arcturus bicara—suaranya kasar, memerintah. "Intelijen mengindikasikan aktivitas besar Demon King di Wilayah Perbatasan Utara. Tepatnya, Grimvault Pass—sebuah jalur strategis antara Material Plane dan zona lemah pengawasan tempat serangan iblis sering terjadi."
Ia mengaktifkan peta holografik—medan terperinci, lokasi yang ditandai, pergerakan pasukan.
"Sebulan terakhir, aktivitas iblis meningkat 400%. Bukan serangan acak—persiapan penyerangan terkoordinasi. Mereka mengumpulkan kekuatan, membangun basis terdepan, menetapkan jalur pasokan. Penumpukan pra-invasi yang klasik."
"Invasi ke mana?" tanyaku. "Grimvault itu terpencil—tidak ada kota besar di dekatnya, nilai strategis militer terbatas."
"Bukan target militer," Arcturus mengoreksi. "Celestial Aegis—Philosopher Stone yang saat ini diamankan di sebuah vault Covenant, Pegunungan Utara, delapan puluh kilometer dari Grimvault Pass."
Perutku terjun bebas.
"Mereka sedang mempersiapkan serangan langsung ke Stone itu."
"Benar," Ibu mengonfirmasi dengan pahit. "Grimvault Pass memungkinkan penyebaran cepat pasukan iblis menuju Pegunungan Utara. Kalau mereka mengamankan Pass itu, mendirikan basis terdepan, mereka bisa mengepung vault Covenant secara sistematis."
"Apakah para penjaga vault tidak bisa menangkis serangan itu?" aku mempertanyakan.
"Mungkin," kata Ayah. "Tapi kalau kekuatan iblis sangat besar—ratusan, ribuan—pertahanan vault bisa jebol. Celestial Aegis ditangkap atau dihancurkan, penghalang semakin melemah, serangan iblis meningkat secara global."
"Tujuan misi," Drian melanjutkan, "adalah pengintaian-dan-gangguan. Tim kecil menyusup ke area Grimvault, menilai kekuatan iblis, mengkonfirmasi bahwa mereka menarget Celestial Aegis secara spesifik, dan—jika memungkinkan—menyabotase persiapan. Tunda invasi, beli waktu untuk penguatan vault."
"Tim kecil," Arcturus menekankan. "Empat operatif. Prioritas stealth. Hindari konfrontasi langsung jika memungkinkan. Dapatkan intelijen, keluar."
Ia menatap mataku langsung. "Kamu salah satunya."
Bukan pertanyaan. Sebuah pernyataan.
"Mengapa aku?" tanyaku dengan hati-hati. "Baru tiga bulan terlatih. Covenant punya veteran, pejuang berpengalaman—"
"Karena," Ibu menyela, "Azure Codex memberimu keunggulan unik. Sensitivitas tinggi—kamu bisa mendeteksi apakah iblis memiliki pemilik Philosopher Stone bersama mereka, apakah mereka menggunakan sihir yang berasal dari Stone, apakah mereka sudah menemukan Celestial Aegis secara tepat. Intelijen yang hanya bisa disediakan oleh Pembawa Keystone."
"Ditambah," Ayah menambahkan, "pengalaman tempur nyata. Kamu tidak bisa berlatih selamanya. Kamu butuh paparan lapangan—risiko terkontrol, operasi yang diawasi, tapi taruhan yang sesungguhnya. Misi ini ideal untuk itu."
Mereka benar, pelatihan itu berharga, tapi pertempuran nyata menguji kemampuan secara berbeda. Ditambah—misinya kritis. Celestial Aegis yang dikompromikan akan katastropik. Kita harus pergi.
"Siapa lagi dalam tim?" tanyaku.
"Diriku," Drian menjawab. "Komandan Arcturus. Dan—" Ia mengisyaratkan ke arah pintu masuk.
Sebuah sosok melangkah masuk—ramping, berkerudung, wajah tersembunyi dalam bayangan. Menarik kerudungnya ke belakang—
Seorang wanita. Akhir dua puluhan. Rambut merah menyala. Mata yang berbeda warna—kiri amber, kanan jade. Bekas luka di tenggorokannya. Aura yang berbahaya, predatoris.
"Lyra," Arcturus memperkenalkan. "Operatif Covenant, spesialisasi infiltrasi dan pembunuhan. Veteran wilayah iblis—tiga puluh tujuh misi terkonfirmasi, nol kegagalan."
Lyra mengangguk singkat ke arahku. "Usahakan tidak langsung mati—mengangkut mayat itu merepotkan."
Blak-blakan.
"Akan kucoba sebaik mungkin untuk tidak merepotkanmu," balasku kering.
Seulas senyum tipis. "Bagus. Kita berangkat siang ini. Bawa perlengkapan minimal—ransum tiga hari, peralatan sesedikit mungkin, prioritas stealth. Detail briefing selengkapnya saat transit."
"Grimvault Pass dua ratus kilometer ke utara," Drian menjelaskan. "Teleportasi Dimensional Step untuk kecepatan—kita tiba malam ini, mulai pengintaian saat fajar besok."
"Kael," Ibu mendekat, kekhawatiran terlihat jelas. "Ini berbahaya. Sangat berbahaya. Wilayah iblis, potensi tempur, pilihan ekstraksi yang terbatas jika ada yang salah. Kamu bisa menolak—tidak ada rasa malu, tidak ada konsekuensinya. Katakan saja, kami tugaskan operatif yang berbeda."
Aku bisa menolak.
Tetap di sini. Tetap aman. Lanjutkan pelatihan sampai benar-benar siap.
Atau—
Terima risikonya. Dapatkan pengalaman. Berkontribusi secara berarti pada upaya perang.
Aku memikirkan Kakek yang mati melindungiku—mengajarkan bahwa pengorbanan itu kadang perlu. Kelompok belajar yang mempertaruhkan segalanya untuk membantu—mengajarkan bahwa loyalitas berarti tindakan. Tujuh belas tahun bersembunyi, berlari, bertahan hidup—sudah waktunya untuk melawan balik.
"Aku pergi," aku memutuskan dengan tegas. "Misinya kritis, aku punya kemampuan unik, tim membutuhkanku. Aku pergi."
Ibu tidak terlihat senang—naluri keibuan berperang dengan penilaian profesional—tapi ia mengangguk. "Kalau begitu kita siapkan semuanya dengan matang. Ayah, periksa senjata. Aku akan mengoptimalkan sirkulasi mananya untuk operasi berkepanjangan. Drian, pastikan kristal komunikasi berfungsi. Komandan, selesaikan parameter misi."
Semua orang berpencar untuk bersiap.
Orang tuaku menarikku ke samping sebentar.
"Kael," kata Ayah dengan serius, "pertempuran nyata berbeda dengan latihan. Ragu-ragu itu membunuh. Belas kasihan terhadap iblis—sia-sia, mereka tidak membalasnya. Kalau pertempuran dimulai, kamu bertarung habis-habisan. Gunakan semua yang ada—Moonblade Forms, void magic, manfaatkan semua kegunaan Azure Codex. Tidak ada yang ditahan, tidak ada yang setengah-setengah. Mengerti?"
"Mengerti."
Ibu menyentuh wajahku dengan lembut. "Dan kembalilah. Tolong. Kami tidak bisa kehilanganmu setelah baru saja menemukanmu. Kembalilah dengan selamat."
"Aku akan kembali," aku berjanji. "Masih terlalu banyak yang harus dipelajari, terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab. Tidak akan mati di suatu wilayah perbatasan yang tidak jelas."
Ia tersenyum—goyah tapi tulus. "Bagus. Sekarang pergi berkemas. Kami urus logistiknya."
Aku berkemas dengan teliti, ransum tiga hari dari daging kering, roti perjalanan, dan batangan energi, wadah air, perlengkapan berkemah dasar, kit medis, pedang khusus, kristal komunikasi, dokumen misi.
Beban ringan. Mobilitas diprioritaskan.
Tim berkumpul di halaman—
Empat orang untuk menyusup ke wilayah yang dikuasai iblis, menilai kekuatan sebuah pasukan, menyabotase operasi, dan mengekstrak dengan selamat.
Entah brilian atau bunuh diri.
"Pemeriksaan terakhir," Arcturus memerintah. "Drian—koordinat dimensional terkunci?"
"Dikonfirmasi. Zona pendaratan target dua puluh kilometer selatan Grimvault Pass, area berhutan, kehadiran iblis diharapkan minimal."
"Lyra—rute infiltrasi sudah direncanakan?"
"Tiga pendekatan utama teridentifikasi, dua opsi cadangan, titik ekstraksi darurat ditandai. Prosedur standar."
"Kael—siap misi?"
"Tier 3 aktif, sensitivitas jaringan terkalibrasi, siap untuk deteksi dan analisis Stone."
"Bagus. Drian—eksekusi transit dimensional. Tujuannya Zona Operasi Perbatasan Grimvault."
Mata Drian bersinar—sihir teleportasi diaktifkan dalam skala besar.
Empat orang sekaligus. Jarak dua ratus kilometer. Pendaratan presisi diperlukan.
Energi terbangun—realitas membengkok, ruang terlipat, jarak menjadi tidak berarti—
Orang tuaku menonton—kekhawatiran bercampur kebanggaan terlihat jelas di wajah mereka.
"Eksekusi," Arcturus memerintah.
Realitas melintir.
Sensasi yang sama seperti transit pertama—dunia terbalik, atom berserakan, keberadaan terfragmentasi lalu terbentuk kembali.
Berlangsung lima detik yang terasa abadi.
Saat realitas stabil—
Wilayah Perbatasan Utara. Wilayah Grimvault.
Hutan lebat. Udara dingin—jauh lebih dingin dari Shattered Plains. Akhir musim gugur yang sedang bertransisi menjadi musim dingin di sini.
Langit abu-abu, mendung. Jarak pandang terbatas oleh pepohonan.
Dan baunya—
Samar. Hampir tidak terasa. Tapi ada.
Belerang. Abu. Pembusukan.
Kehadiran iblis. Jauh, tapi tidak bisa disangkal.
"Pendaratan berhasil," Drian mengonfirmasi, memeriksa kompas yang dienchant untuk akurasi arah pasca-transit. "Dua puluh dua kilometer selatan-tenggara dari Grimvault Pass. Dalam parameter operasional."
"Formasi," Arcturus memerintah. Efisiensi militer yang absolut. "Lyra di depan—intai ancaman. Drian di tengah—sihir siap digunakan cepat. Kael di belakang—lakukan deteksi aktif secara terus-menerus. Aku koordinasi. Bergerak diam, bergerak cepat, tetap bersama. Eksekusi."
Kami bergerak.
Perjalanan hutan berbeda dari medan terbuka. Rintangan terus-menerus—pohon, semak belukar, tanah yang tidak rata. Stealth menuntut segalanya—setiap langkah dipertimbangkan, setiap suara diminimalkan.
Lyra di depan—menghilang ke dalam bayangan seperti hantu. Muncul kembali secara berkala untuk memberi sinyal aman atau bahaya.
Aku mengaktifkan mode pemindaian, menganalisis ambient mana. Mendeteksi tingkat kontaminasi iblis. Mengukur ketidakstabilan dimensional. Mencari tanda-tanda Philosopher Stone.
"Ada sesuatu?" Drian bertanya pelan.
"Kontaminasi iblis di level rendah," aku melaporkan. "Konsisten dengan kedekatan perbatasan, bukan serangan aktif. Belum ada tanda tangan Philosopher Stone terdeteksi—jangkauan saat ini terbatas, perlu mendekat untuk pembacaan yang akurat."
"Tetap memindai. Laporkan perubahan segera."
Kami berjalan selama tiga jam—sunyi, efisien, profesional.
Perlahan, suasana hutan berubah.
Pohon-pohon semakin gelap. Lebih terpelintir. Daun-daun menghitam, tidak sehat. Tanah di bawah kaki kami—retak, kering meski iklimnya dingin, korupsi terlihat nyata.
"Zona pengaruh iblis," Lyra berbisik, mundur ke kelompok. "Lima kilometer ke depan—area yang sudah dibersihkan. Kemungkinan kamp terdepan. Asap terlihat, pergerakan terdeteksi."
"Jumlah?" Arcturus bertanya.
"Tidak pasti. Minimal puluhan. Mungkin ratusan. Perlu penilaian lebih dekat."
"Kael—deteksi Stone?"
Aku memfokuskan Azure Codex—mendorong jangkauan ke maksimum—
Ada sesuatu.
Samar. Jauh. Tapi ada.
"Mendeteksi... tanda-tanda sihir yang tidak biasa," aku melaporkan dengan hati-hati. "Bukan Philosopher Stone sepenuhnya—terlalu lemah. Tapi mungkin berasal dari Stone? Artefak yang ditenagai oleh fragmen Stone, atau iblis yang terkontaminasi akibat kedekatan dengan Stone?"
Drian mengumpat pelan. "Lebih buruk dari yang diperkirakan. Kalau iblis sudah punya aset yang berasal dari Stone, berarti mereka lebih siap dari yang intelijen sarankan."
"Lanjutkan pendekatan," Arcturus memutuskan. "Prioritas pengintaian tidak berubah. Lyra—bangun titik observasi yang menghadap kamp. Kita nilai, dokumentasi, mundur."
"Diterima."
Kami bergerak maju—lebih berhati-hati sekarang, sadar musuh semakin dekat.
Instingku memperingatkan. Objek itu—bergerak. Menuju kita. Cepat.
"Kontak mendekat!" aku mendesis mendesak. "Tanda-tanda sihir tidak dikenal, mendekat cepat, tiga puluh meter timur laut—"
AUMAN.
Bukan manusiawi. Dalam dari perut. Kemarahan dan kelaparan yang bercampur.
Menerjang melalui semak belukar—bentuk yang masif, terlalu cepat untuk ukurannya—
IBLIS.
Bukan pion level rendah. Ini adalah Iblis Tempur Tier 2—tiga meter tingginya, kulit obsidian, tanduk dikelilingi api, cakar yang menetes racun korosif.
Dan senjatanya—
Bilah yang terkontaminasi. Bersinar merah-hitam. Fragmen Stone tertanam di gagangnya.
Itulah tanda tangan tadi. Iblis yang menggunakan senjata bertenaga fragmen Philosopher Stone yang dicuri.
"FORMASI TEMPUR!" Arcturus memerintah. "Pertahanan defensif, prioritaskan keselamatan di atas eliminasi!"
Iblis itu menerjang—secara tidak masuk akal cepat meski tubuhnya besar—cakar mengincar aku secara spesifik.
Ia merasakan Azure Codex. Menarget Keystone.
Tidak ada waktu berpikir.
Bentuk Moonblade ke-Tujuh, Rising Guard.
Pedangku mencegat cakarnya—energi void berbenturan dengan korupsi iblis.
Dampaknya seperti palu godam—mendorongku mundur tiga meter, sepatu mengukir alur di tanah.
Iblis itu tidak berhenti—terus menekan serangannya tanpa henti.
Bentuk ke-Sepuluh, Flowing Counter.
Tangkis, putar, tebas—tepi void memotong lengan bawah iblis, menarik darah hitam.
Hampir tidak memperlambatnya.
Drian sudah menggaram—petir menghantam punggung iblis, membakar daging.
Lyra mengapit—belati berlapis racun, menusuk titik-titik lemah di persendian.
Arcturus menyerang dari depan—kapak perang bercahaya dengan blessing suci, pukulan-pukulan masif yang membuat iblis tetap sibuk.
Tapi iblis itu fokus padaku. Terus menekan ke arahku meski diserang dari mana-mana oleh tim.
Ia menginginkan Azure Codex. Mungkin perintah. Mungkin insting. Tidak masalah—niatnya jelas.
Iblis itu mengayunkan bilah terkorups—
Void Severance.
Bilahku bertemu bilah iblis—potongan spasial versus korupsi fragmen Stone.
Energi-energi itu berbenturan—detonasi eksplosif, gelombang kejut melempar semua orang ke belakang.
Iblis itu sempoyongan. Bilahnya retak—fragmen tidak stabil.
Sebuah celah terbuka.
Azure Burst.
Aku menyalurkan energi void secara langsung—detonasi eksplosif dalam jarak sangat dekat.
Iblis itu menjerit—suara yang merobek realitas—lalu hancur berkeping-keping.
Bukan mati atau diusir dengan benar.
Tapi benar-benar hancur sepenuhnya.
Keheningan sesudahnya. Napas berat. Adrenalin yang mereda.
"Laporan," Arcturus memerintah, suaranya stabil meski jelas kelelahan.
"Iblis dieliminasi," Lyra mengonfirmasi. "Korban—nihil. Cedera—minor, bisa ditangani."
"Kael—status?"
"Berfungsi," aku berhasil mengucapkan, tubuh gemetar dari lonjakan tempur. "Mana terkuras 40%, stamina berkurang, tapi masih bisa beroperasional."
"Itu adalah Iblis Tempur Tier 2," Drian mengamati dengan suram, memeriksa bangkai yang sedang luruh. "Bersenjata dengan senjata fragmen Stone. Secara aktif memburu Pembawa Keystone. Mengkonfirmasi intelijen—iblis tidak hanya mempersiapkan serangan terhadap Celestial Aegis. Mereka memburu semua pemilik Stone."
Arcturus mengambil sisa bilah yang terkorupsi—fragmentnya masih bersinar redup. "Fragmen ini—diambil dari Stone mana?"
Menganalisis tanda-tanda residual... kecocokan ditemukan. Obsidian Void—salah satu dari empat Stone yang dikonfirmasi dihancurkan puluhan tahun lalu. Fragmen diselamatkan, dijadikan senjata. Perkembangan yang berbahaya.
"Fragmen Obsidian Void," aku melaporkan. "Stone yang dihancurkan dijadikan senjata. Mereka menggunakan sisa-sisa Stone yang dihancurkan sebagai senjata melawan Stone yang masih hidup."
"Strategis," Arcturus mengakui. "ternyata mereka sangat cerdas, ini mengkhawatirkan. Mengubah parameter misi—kamp terdepan kemungkinan berisi lebih banyak iblis bersenjata fragmen. Probabilitas pertemuan tinggi, tingkat kematian meningkat."
"Rekomendasi?" Drian bertanya.
"Lanjutkan. Intelijen terlalu kritis. Tapi kehati-hatian maksimum. Tidak ada keterlibatan yang tidak perlu. Pengintaian murni, kemudian ekstraksi segera."
"Setuju," Lyra dan Drian berkata bersamaan.
Mereka menatapku. "Kael—apakah kamu mampu melanjutkan? Pertempuran melawan iblis nyata untuk pertama-kalinya. Berpotensi traumatis. Katakan saja, kita batalkan, kembali untuk penguatan."
Aku menanganinya dengan baik. Pembunuhan pertama—iblis, bukan manusia—beban psikologisnya lebih ringan dari yang mungkin diperkirakan. Kemampuan fisik masih utuh. Kita bisa melanjutkan.
"Aku baik-baik saja," aku mengonfirmasi. "Terguncang, tapi masih bisa berfungsi. Misi berlanjut."
"Bagus. Reformasi. Maju. Pembangunan titik observasi—lima belas menit."
Kami bergerak maju—lebih waspada sekarang, mengetahui iblis secara aktif berpatroli, secara khusus memburu pembawa Stone.
Perang tidak akan datang.
Perang sudah ada di sini.
Hanya belum ada yang menyadarinya.
Kecuali kami.
Lima belas menit kemudian—kami sudah berposisi di sebuah tonjolan batu yang menghadap lembah yang sudah dibersihkan.
Kamp terdepan iblis.
Tidak seperti perkemahan militer manusia.
Ini adalah... kekacauan yang terorganisir.
Tenda-tenda—kalau bisa disebut tenda—dibangun dari kulit iblis, rangka tulang, bercahaya dengan corruption magic. Tersusun dalam pola melingkar kasar di sekeliling struktur komando sentral yang lebih besar, lebih rumit, dibangun dari batu obsidian yang entah bagaimana diangkut atau dimaterikan di sini.
Dan iblis-iblis itu—
Ratusan.
Mungkin ribuan.
Berbagai tier—pion level rendah sebagai umpan meriam Tier 0-1, pejuang menengah seperti yang baru kami bunuh di Tier 2, beberapa spesimen lebih besar yang jelas kelas komandan minimal Tier 3.
"Perkiraan sekitar delapan ratus kombatan yang terlihat," Lyra berbisik, mendokumentasi melalui sebuah perekam kristal—perangkat magis yang menangkap data visual untuk analisis intelijen. "Perkiraan dua ratus tambahan di tenda atau sedang berpatroli. Total kekuatan lebih dari seribu. Komposisi 60% Tier 0-1, 30% Tier 2, 9% Tier 3, 1% klasifikasi lebih tinggi yang tidak diketahui."
"Distribusi senjata?" Arcturus bertanya, memindai secara sistematis.
"Mayoritas senjata iblis standar—cakar, senjata kasar, kemampuan alami. Tapi—" Lyra memperbesar perekam ke arah area sentral. "—sekitar lima puluh iblis membawa bilah terkorupsi serupa yang menyerang kami tadi. Senjata yang ditingkatkan dengan fragmen Stone. Itu... konsentrasi yang belum pernah terjadi sebelumnya."
Drian mengumpat pelan. "Lima puluh senjata fragmen berarti persediaan yang substansial. Entah mereka sudah menyelamatkan jumlah besar dari Stone yang dihancurkan, atau mereka aktif memproduksi senjata dari penghancuran terbaru."
Mengaktifkan pemindaian mendalam—mendorong sensitivitas jaringan ke maksimum meski ada biaya mana besar yang harus dikeluarkan, menganalisis tanda-tanda fragmen... mendeteksi beberapa sumber. Fragmen dari Obsidian Void (dikonfirmasi sebelumnya), Crimson Judgment (dihancurkan 30 tahun lalu), Verdant Genesis (dihancurkan 15 tahun lalu).
"Fragmen dari tiga Stone yang telah dihancurkan," aku melaporkan. "Obsidian Void, Crimson Judgment, Verdant Genesis. Operasi penyelamatan yang menyeluruh—mereka mengumpulkan secara sistematis."
"Penolakan aset strategis," Arcturus bergumam. "Kita menghancurkan Stone untuk mencegah penangkapan—mereka menyelamatkan sisa-sisanya untuk dijadikan senjata. Strategi balasan yang efektif."
"Struktur komando sentral," Lyra mengalihkan perhatian kami. "Perhatikan konstruksinya? Bukan sementara. Fondasi permanen, dinding diperkuat, ward defensif terlihat. Mereka sedang mendirikan basis yang bertahan, bukan kamp serangan."
Ia benar. Ini bukan persiapan invasi—ini adalah infrastruktur invasi.
"Logistik?" Drian mempertanyakan.
"Jalur pasokan terlihat ke barat laut—" Lyra menunjuk. "—karavan bergerak antara kamp dan retakan dimensional tiga kilometer jauhnya. Perkiraan throughput: lima puluh iblis per hari ditambah pasokan material. Operasi berkelanjutan yang mampu bertahan berbulan-bulan minimum."
"Konfirmasi target diperlukan," Arcturus menyatakan. "Kita tahu mereka di sini, tahu jumlah mereka, tahu perlengkapan mereka. Tapi—apakah kita tahu mereka secara spesifik menarget Celestial Aegis? Perlu bukti sebelum merekomendasikan penguatan vault—sumber daya terbatas, tidak bisa mempertahankan semua tempat sekaligus."
"Kael," Drian berbalik ke arahku. "Sensitivitas mana Azure Codex. Bisakah kamu mendeteksi apakah mereka sudah menemukan Celestial Aegis? Jejak magis, percobaan skrying, apa pun yang mengindikasikan kesadaran akan Stone?"
Aku mendorong Azure lebih dalam—sulit, melelahkan, tapi harus—memindai pola mana struktur komando iblis... mendeteksi penyelidikan magis yang terorganisir... fokus arah... menghitung vektor...
Sebuah peta terbentuk dalam pikiranku—pemindaian magis yang memancar dari kamp, menyebar ke luar dalam pola berbentuk kerucut menuju—
"Ya," aku mengonfirmasi dengan pahit. "Mereka tahu. Sihir skrying secara aktif menyelidiki wilayah Pegunungan Utara. Pola konsisten dengan pencarian sistematis—cakupan grid, pemindaian yang tumpang tindih, metodologi profesional. Bukan serangan acak. Perburuan Stone yang ditargetkan."
"Bukti sudah cukup," Arcturus memutuskan. "Tujuan misi tercapai—dikonfirmasi kekuatan iblis mengkoordinasikan serangan terhadap Philosopher Stone. Rekomendasikan ekstraksi segera, laporan darurat ke Dewan Covenant, penguatan vault diprioritaskan."
"Setuju," kata Drian. "Lyra—data terekam sepenuhnya?"
"Afirmatif. Dokumentasi kamp lengkap, analisis komposisi kekuatan, penilaian logistik, konfirmasi penyelidikan magis. Semua yang diperlukan untuk respons strategis."
"Maka kita mundur—"
ALARM
Bukan alarm yang terdengar. Alarm sihir.
Nyala tiba-tiba dari ward deteksi di seluruh kamp—iblis merespons seketika, terorganisir, disiplin.
"Sialan," Lyra mendesis. "Mereka mendeteksi kita. Bagaimana—"
Pemindaian jaringanku. Terlalu intensif, terlalu terfokus. Meninggalkan tanda tangan magis. Mereka melacaknya balik.
"Kesalahanku," aku mengakui cepat. "Pemindaian sihir terlalu jelas—mereka mendeteksi kehadiran Keystone."
"Menyalahkan diri nanti saja," Arcturus memerintah. "Ekstrak sekarang. Drian—sihir teleportasi apakah tersedia?"
"Negatif—ketidakstabilan dimensional lokal terlalu tinggi, sihir iblis dirancang khusus sebagai anti-teleportasi. Butuh jarak untuk transit yang aman—minimum lima kilometer."
"Maka kita lari. Formasi Mundur Alpha—Lyra di belakang sebagai pengganggu, aku bersihkan jalur depan, Drian dukungan tengah, Kael dilindungi di tengah. Bergerak!"
Kami mulai berlari—mundur teratur menuruni tonjolan batu berbatu ke arah hutan.
Di belakang kami—kekuatan iblis sedang memobilisasi. Cepat.
Puluhan—tidak, ratusan—mengalir dari kamp, mengejar dengan kecepatan supernatural.
"Kontak belakang!" Lyra berseru, melempar pisau yang dilapisi enchantment eksplosif—detonasi memperlambat iblis-iblis terdekat, memberi kami detik-detik berharga.
Kami mencapai tepi hutan—terjun ke dalam pepohonan, cabang-cabang mencambuk wajah, akar mengancam menjatuhkan kaki, setiap langkah putus asa.
Melacak para pengejar—delapan puluh tujuh iblis dalam pengejaran langsung, kecepatan 30% lebih cepat dari lari manusia, perkiraan intersep dalam empat puluh detik kecuali kecepatan ditingkatkan.
"Tidak bisa mengalahkan kecepatan mereka," Drian menilai. "Butuh penundaan tempur—kurangi jumlah mereka, ciptakan jarak, kemudian ekstrak."
"Titik penyergapan di depan," Arcturus memutuskan. "Jurang sempit, dua ratus meter. Titik sempitan—memaksa terowongan, memberi keunggulan defensif. Tiga puluh detik—LARI!"
Kami berlari sekencang-kencangnya—paru-paru terbakar, kaki menjerit protes, adrenalin mengesampingkan kelelahan.
Jurang itu muncul—celah sempit di antara dinding batu, mungkin tiga meter lebarnya, sebuah botol leher yang sempurna.
"DI SINI!" Arcturus memerintah. "Formasi defensif—zona bunuh di tengah, tembakan terkonsentrasi, maksimalkan korban sebelum mundur lagi!"
Kami memposisikan diri—Arcturus dan aku di depan sebagai penghalang jarak dekat, Veyron dan Lyra di tengah belakang untuk dukungan jarak jauh, jurang membatasi sudut pendekatan iblis.
Iblis-iblis itu tiba—gelombang cakar, gigi, senjata terkorupsi, kemarahan yang menjelma.
PERTEMPURAN DIMULAI.
Iblis pertama menerjang—pion Tier 1, kecerdasan minimal, agresi murni.
Bentuk Moonblade ke-Tiga, Flowing River.
Tebasku membelokkan cakarnya, tebasan balik memutus lehernya—darah hitam menyembur, bangkai ambruk.
Iblis kedua—ketiga—keempat—
Mereka terus datang.
Arcturus di sampingku—kapak perang berayun dengan presisi mekanis, setiap pukulan membunuh, pengalaman puluhan tahun terlihat jelas. blessing suci membakar daging iblis, mengkauterisasi luka, mencegah regenerasi.
Di belakang kami—Drian menyihir cepat tanpa henti, petir, serangan tombak es, ledakan, pengendalian massa, kerusakan persisten.
Lyra—presisi dalam membedah. Pisau lempar mengenai mata, tenggorokan, persendian. Setiap lemparan membunuh atau melumpuhkan, tidak ada gerakan yang terbuang.
Tapi iblis-iblis itu sangat banyak.
Untuk setiap tiga yang terbunuh, lima lagi muncul.
Seekor Iblis Tempur Tier 2 menerobos masuk—tipe yang sama dengan sebelumnya, bilah fragmen bersinar.
Ia langsung menghadapiku—mengenali ancaman Keystone.
Benturan.
Bilah bertemu bilah—void melawan corruption weapon, Spatial Cut melawan Demonic Enchanment.
Percikan beterbangan—gesekan realitas harfiah—sihir yang tidak kompatibel, saling menolak dengan keras.
Iblis itu lebih kuat secara fisik—mendorongku mundur meski aku unggul dalam teknik.
Bentuk ke-Dua Belas, Mountain Stance.
Aku mengunci posisi, mengalihkan gaya, membalas dengan tebasan ke atas—
Void Severance mengenai sasaran—bilah iblis hancur berkeping.
Fragmen itu meledak—umpan balik magis mentah, iblis menjerit, sempoyongan ke belakang sambil menggenggam tangan senjatanya yang sudah hancur.
Aku menindaklanjuti—Bentuk ke-Lima Belas, Execution Strike.
Bilah berlapis void menembus jantung iblis—kalau iblis punya jantung secara anatomis—inti hancur bagaimanapun juga.
Tidak mati maupun hancur, keberadaannya seolah terhapus dari dunia ini. Lagi.
Aku terengah-engah keras. Mana menipis dengan berbahaya cepat. Stamina menyurut.
"Status!" Arcturus berseru di sela-sela ayunan kapak.
"Mana terkuras 60%!" Drian melaporkan. "Tidak bisa mempertahankan kecepatan penggunaan sihir ini lebih lama!"
"Amunisi habis!" Lyra—ia sudah beralih dari pisau lempar ke belati ganda, terlibat dalam pertarungan jarak dekat.
"Kael?"
"Masi bisa menahan! Mungkin sepuluh menit lagi maksimum!" Perkiraanku terlalu optimis—lebih dekat ke lima menit realistisnya.
"Cukup! Mundur—SEKARANG!"
Kami melepaskan diri secara bersamaan—Drian menjatuhkan mantra flashbang, cahaya menyilaukan dan jeritan iblis mengisi udara, dan kami berlari lebih dalam ke jurang, iblis-iblis sementara disorientasi.
Seratus meter tergapai—belum cukup.
Iblis-iblis itu pulih cepat. Pengejaran dilanjutkan.
"Drian—teleportasi sudah memungkinkan belum?" Arcturus menuntut.
"Memeriksa—" Drian berhenti, merasakan sesuatu. "Negatif! Para penyihir iblis sudah mengeluarkan jangkar dimensional—tidak ada teleportasi dalam radius sepuluh kilometer! Kita terkunci!"
Sialan.
Jangkar dimensional ditopang oleh ritual—minimal tiga penyihir iblis, penggunaan terpusat. Kalau kita eliminasi sumber jangkarnya, transit menjadi memungkinkan. Tapi itu berarti...
"Kita harus menyerang kamp," aku menyelesaikan pikiran itu dengan keras. "Hancurkan ritual jangkar, kemudian ekstrak."
"Bunuh diri," Lyra menyatakan tegas. "Empat operatif melawan seribu iblis—secara matematis mustahil."
"Alternatifnya?" Arcturus menantang. "Lari sampai kelelahan, mati sedikit demi sedikit? Bertahan dan mati di sini? Menyerah—yang mana iblis tidak menerimanya? Menyerang setidaknya memberi kita kesempatan."
Keheningan—tim memproses pilihan-pilihan yang mustahil.
Akhirnya, Drian bersuara, "Sabotase memang sudah menjadi tujuan misi sejak awal. Kita serang kamp, ciptakan kekacauan maksimum, hancurkan ritual jangkar, ganggu operasi secara umum. Kalau kita mati—kita mati sambil menyelesaikan misi. Kalau kita selamat—itu bonus."
Humor gelap. Tapi logikanya masuk akal.
"Voting," Arcturus menuntut. "Serang atau lari sampai mati. Drian?"
"Serang."
"Lyra?"
"...Serang. Setidaknya kita bawa banyak dari mereka."
"Kael?"
Aku memikirkan Kakek—mati sambil bertempur, melindungi, tidak pernah menyerah. Orang tuaku—bertahan tujuh belas tahun melalui risiko yang diperhitungkan dan tindakan yang berani. Kelompok belajar—mempercayaiku untuk membuat keputusan sulit. Azure Codex—mitra, bukan penumpang, sama-sama berkepentingan dalam keselamatan.
"Serang," aku memutuskan dengan tegas. "Tapi serangan yang cerdas. Bukan bunuh diri frontal—infiltrasi, sabotase presisi, penarikan taktis. Gunakan kekacauan yang ada untuk keuntungan kita."
Arcturus tersenyum—suram tapi menyetujui. "Seperti seorang pejuang sejati. Setuju—serangan cerdas. Rencana terbentuk. Lyra—ahli infiltrasi. Kelemahan tata letak?"
Ia berpikir cepat. "Struktur komando sentral—penyihir iblis kemungkinan di sana, melakukan ritual jangkar. Dijaga ketat tapi target yang tidak bergerak. Kalau kita menembus cepat, eliminasi para penyihir, ritualnya runtuh. Masalahnya: Penetrasi melalui seribu iblis."
"Kecuali," Drian menyela, "kita menciptakan pengalihan. Pecah kekuatan iblis, tarik mayoritas menjauh, tim kecil menyusup saat kekacauan."
"Siapa yang mengalihkan?" Lyra bertanya skeptis. "Kita butuh ancaman yang signifikan untuk menarik perhatian—satu operatif tidak cukup."
"Bukan satu," Arcturus berkata pelan, rencana mengkristal. "Dua. Aku dan Drian—serangan frontal, tampilan magis yang masif, percobaan pembunuhan nyata terhadap komandan mereka. Iblis-iblis menyerbu kami, kamp mengosongkan diri mengejar. Kael dan Lyra—spesialis infiltrasi—menyelinap dari arah berlawanan, eliminasi penyihir jangkar, runtuhkan ritual, kita semua transit dimensional serentak."
"Kalian akan mati," Lyra menyatakan. "Dua orang melawan ratusan—tidak akan bertahan lima menit."
"Kita akan bertahan lebih lama dari yang kamu kira," Drian membantah. "Aku adalah Spesialis Dimensional magic—portal, kedipan, distorsi spasial. Arcturus adalah Veteran belum mencapai level Sword Saint—tapi terlatih oleh seorang di level itu. Kita licin, tahan banting, menjengkelkan. Kita bisa beli sepuluh menit minimum—cukup untuk tim infiltrasi."
Level Sword Saint seperti level Kakek.
"Kamu tidak pernah menyebutkan itu sebelumnya," aku berkata, terkejut.
"Tidak pernah relevan. Sekarang relevan." Arcturus menatap mataku dengan serius. "Kael—rencana ini bergantung padamu dan Lyra. Infiltrasi, eliminasi, keruntuhan ritual—jalur kritis. Bisakah kamu eksekusi? Penilaian yang jujur."
Apakah bisa?
Tiga bulan pelatihan. Misi nyata pertama. Sudah kelelahan. Menghadapi penyihir iblis di benteng mereka.
Kemungkinan yang gila.
Tapi—
Kita sudah berlatih untuk tepat ini. Void magic sempurna untuk infiltrasi—dimensional step, stealth, anti-sihir. Pemilik Scholar adalah spesialis infiltrasi—pengetahuannya tersedia. Kita bisa melakukan ini. Pertanyaannya—apakah kamu mau?
"Aku bisa mengeksekusinya," aku mengonfirmasi. "Kita akan selesaikan."
"Lyra?"
Ia mempelajariku—menghitung, menilai. Akhirnya: "Dia kompeten. Tidak berpengalaman, tapi kompeten. Aku bisa bekerja dengan itu. Kita akan berhasil atau mati mencobanya."
"Kemungkinan yang bisa diterima," Arcturus berkata. "Hitung mundur: enam puluh detik. Veyron dan aku bergerak pertama—kebisingan maksimum, visibilitas maksimum, ancaman maksimum. Tarik kawanan iblis. Kael dan Lyra tunggu dua puluh detik, kemudian infiltrasi dari arah berlawanan. Target: Penyihir iblis, ritual jangkar. Eliminasi, ekstrak. Sederhana."
"Sederhana," Veyron menggemakan dengan sarkasme. "Tidak pernah sederhana. Tapi bisa dieksekusi. Siap?"
Aku memeriksa perlengkapanku—pedang utuh, mana pulih sedikit mungkin 50% sekarang, stamina rendah tapi berfungsi, Azure Codex tersinkronisasi penuh.
"Siap."
"Enam puluh detik," Arcturus memulai hitung mundur. "Lima puluh sembilan... lima puluh delapan..."
Aku berdiri. Bernapas. Fokus.
Inilah saatnya.
Misi nyata pertamaku berakhir pada infiltrasi yang putus asa melawan kemungkinan yang mustahil.
Entah menjadi pahlawan atau mati mencoba.
Kakek, aku berpikir ke arah ingatannya, semoga pelatihanmu sudah cukup.
Sudah cukup. Azure Codex meyakinkan. Percayai dirimu sendiri. Percayai aku. Kita bisa melakukan ini.
"...Tiga... dua... satu... EKSEKUSI!"
Arcturus dan Drian meledak ke dalam aksi—meledak dari jurang menuju kamp, kapak perang bersinar, portal dimensional terbuka, sihir menyala seperti mercusuar.
"IBLIS SAMPAH!" Suara Arcturus diperkuat secara magis, bergema melintasi lembah. "TERIMA PENGHAKIMAN DIRIKU!"
Iblis-iblis merespons seketika—ribuan berbalik, meraung, bergegas menuju ancaman yang nyata-nyata terlihat itu.
Kamp mengosongkan diri. Semua mengejar.
Persis seperti yang direncanakan.
"Bergerak," Lyra mendesis.
Kami bergerak—arah berlawanan, melalui bayangan, dalam keheningan, tak terlihat dibandingkan dengan pengalihan eksplosif Arcturus.
Infiltrasi dimulai.
Fase kritis misi.
Selamat atau mati.