NovelToon NovelToon
Dia Masih Tetap Anaku

Dia Masih Tetap Anaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

Tiga hari ia bergulat dengan maut. Bayinya lahir tanpa tangis. Lalu diam selama 25 tahun.

Aryo hanya penarik becak. Istrinya buruh cuci. Mereka tak punya uang untuk rumah sakit, apalagi untuk terapi. Tapi ketika dokter bilang anaknya tak akan pernah normal, Aryo cuma berkata: "Dia tetap anakku."

Warga bilang anaknya kena guna-guna. Tetangga bergunjing di setiap pos kamling. Batu dilempar ke rumahnya tengah malam. Tapi Aryo bertahan. Sampai suatu hari, istrinya batuk darah. Dan Aryo harus memilih: selamatkan istri, atau rawat anak yang tak pernah bisa memanggilnya Bapak?

Kisah nyata seorang ayah yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.

Siap-siap sediakan tisu. Karena setiap bab akan membuatmu terisak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: TANAH DAN HARAPAN

Hari ke-1.341. Sehari setelah rencana beli tanah, Aryo bangun pagi dengan perasaan campur aduk. Ada degup di dada, campuran antara gugup, bahagia, dan takut. Degup yang sama seperti tiga tahun lalu, saat pertama kali menggendong Risma yang diam membisu. Degup yang sama seperti saat pertama kali melihat Budi menangis keras di ruang bersalin.

Pagi itu, Aryo bangun lebih awal. Bukan karena kerja. Tapi karena janji dengan Mbah Kar. Urus tanah.

Budi 2 tahun 9 bulan. Aktif, lincah, dan cerewet. Ia sudah bangun lebih dulu. Duduk di lantai, mainan mobil-mobilan kesayangannya. Mobil bekas, catnya mengelupas, tapi Budi menyayanginya seperti harta karun.

"Pa... pa... mau pipis."

Aryo tersenyum. Gendong Budi ke kamar mandi. Badan Budi hangat, masih bau tidur. Wangi khas anak kecil yang membuat Aryo selalu ingin menciumnya.

"Nak, Bapak mau beli tanah. Buat kita."

Budi bingung. Matanya yang bulat membelalak. "Tanah apa, Pa?"

"Tanah buat bangun rumah. Rumah kita sendiri."

Budi diam. Lalu bertanya, "Kita punya rumah, Pa?"

Aryo menghela napas. Ingat kontrakan kecil tempat mereka tinggal. Dinding triplek, lantai semen, atap bocor di sana-sini. Bukan rumah. Hanya tempat berteduh.

"Nanti, Nak. Nanti kita punya rumah. Kamar sendiri. Halaman sendiri."

Budi mengangguk semangat. "Mau! Mau kamar banyak mainan!"

Aryo tertawa. "Iya, Nak. Nanti Bapak beliin mainan banyak."

Mereka keluar kamar mandi. Risma sudah bangun. Di kursi khususnya. Terbaring seperti biasa. Tak bisa bergerak. Tak bisa tengkurap. Tak bisa duduk. Tapi matanya... matanya hidup. Menatap Budi.

Risma 4 tahun 8 bulan. Masih belum bisa apa-apa. Hanya matanya yang bicara. Lebih dari ribuan kata.

Budi lari ke Risma. "Kak! Kak! Pa mau beli tanah! Kita punya rumah!"

Risma diam. Tapi sudut bibirnya terangkat. Senyum tipis. Senyum yang selalu membuat Aryo meleleh.

Aryo lihat dari pintu. Hatinya hangat.

 

Pukul 8 pagi, Aryo dan Mbah Kar pergi ke notaris. Mbah Kar memakai baju terbaiknya. Kemeja putih lusuh, tapi disetrika rapi. Celana hitam, sepatu pantofel yang sudah retak di ujung.

"Mas, tenang. Tanah ini bagus. Lokasi strategis. Dekat pasar, dekat sekolah," kata Mbah Kar sepanjang jalan.

"Iya, Mbah. Saya percaya."

Tapi dalam hati, Aryo gemetar. 10 juta. Uang hasil keringat setahun lebih. Uang dari angkat karung di pasar. Uang dari jaga warung malam. Uang dari narik becak minggu pagi. Uang dari menahan lapar, menahan capek, menahan segalanya.

Sepanjang jalan, ia ingat. Dari penarik becak dengan utang 7 juta. Dari pelarian di malam gelap. Dari kecelakaan truk dan koma. Dari KTP palsu dan bank yang mengejar. Dari air mata yang tak terhitung.

Dan sekarang? Ia akan punya tanah.

Tanah sendiri.

 

Di notaris, proses cepat. Tanda tangan di sana-sini. Cap. Materai. Aryo lihat jari tangannya sendiri yang kasar, kapalan, penuh luka kecil. Jari itu menandatangani surat berharga.

"Ini sertifikatnya, Pak Aryo. Selamat."

Aryo pegang sertifikat itu. Tangannya gemetar. Kertas itu ringan, tapi rasanya berat. Berat dengan perjuangan. Berat dengan air mata. Berat dengan harapan.

Ia keluar kantor notaris. Matahari silau. Tapi ia tidak peduli. Ia pandangi sertifikat itu. Berkali-kali.

"Mbah... ini... ini beneran?"

Mbah Kar tersenyum. "Beneran, Mas. Itu tanahmu."

"Ini buat Risma dan Budi, Mbah."

Mbah Kar pegang pundaknya. "Iya, Mas. Warisan buat mereka. Tapi jangan lupa, ini juga buat kamu dan Dewi. Kalian berhak bahagia."

Aryo nangis. Nangis di pinggir jalan. Orang-orang lalu lalang, ada yang menoleh, ada yang tidak peduli. Tapi Aryo tidak malu. Biar mereka lihat. Biar mereka tahu. Seorang penarik becak, kuli pasar, mantan buronan utang, sekarang punya tanah.

 

Pulang, ia tunjukkan sertifikat ke Dewi.

"Ini, Ri. Tanah kita."

Dewi pegang sertifikat. Matanya basah. Jarinya mengelus kertas itu, seperti tak percaya.

"Mas... kita punya tanah..."

"Iya, Ri. Kita punya."

Mereka berpelukan. Lama. Risma di kursi, matanya ke sertifikat. Mungkin ia tak paham, tapi ia merasakan kebahagiaan orang tuanya.

Budi lari-lari. "Pa, itu apa?"

"Tanah, Nak. Buat bangun rumah."

Budi senang. Melompat-lompat. "Rumah! Rumah! Budi mau kamar sendiri!"

Risma lihat Budi. Matanya berbinar. Senyum.

 

Malam itu, mereka rayakan sederhana. Mbah Kar masak mie goreng. Telur dadar. Kerupuk. Sederhana. Tapi terasa mewah.

"Untuk tanah baru," kata Mbah Kar mengangkat gelas.

"Untuk tanah baru," sahut mereka.

Budi ikut-ikutan. "Untuk tanah baru!"

Mereka tertawa. Risma di kursi, matanya ke mereka. Lalu... tersenyum. Senyum lebar.

Dewi lihat. "Mas, Risma senang."

Aryo mengangguk. "Iya, Ri. Dia ikut senang."

 

Tapi kebahagiaan tak datang tanpa tantangan.

Malamnya, setelah Budi dan Risma tidur, Aryo hitung tabungan.

"Tabungan kita 12 juta. Tadi bayar tanah 10 juta. Biaya notaris 500 ribu. Sisa 1,5 juta, Ri."

Dewi diam. "Mas, itu cukup buat bangun rumah?"

"Nggak, Ri. Jauh. Bangun rumah paling nggak 7-8 juta."

Mereka diam. Harapan yang baru muncul, mulai meredup.

Mbah Kar yang sedang minum teh di ruang tamu, mendengar percakapan mereka. Ia masuk.

"Mas, saya bisa bantu. 5 juta. Nggak usah bunga."

Aryo kaget. "Mbah... nggak... nggak usah..."

"Ambil, Mas. Anggap modal. Nanti kalau sudah punya, bayar. Saya percaya sama kalian."

Aryo nangis. "Mbah... saya... saya nggak tahu harus bilang apa..."

"Nggak usah bilang apa-apa. Saya ikhlas. Kalian sudah seperti keluarga."

Dewi ikut nangis. Risma di kamar, seolah mendengar, tangannya bergerak tak terkontrol. Mencari sesuatu.

Mbah Kar masuk kamar, pegang tangan Risma.

"Cucu saya... kamu doain Mbah ya. Biar Mbah panjang umur. Biar Mbah bisa lihat kamu besar."

Risma diam. Tapi matanya... matanya berkaca. Seperti tahu, Mbah Kar adalah malaikat tanpa sayap.

 

Hari ke-1.346. Aryo mulai bangun rumah.

Dengan uang 6,5 juta (1,5 juta tabungan + 5 juta dari Mbah Kar). Nggak cukup buat rumah besar. Tapi cukup buat rumah sederhana. Sangat sederhana.

Ia beli bahan bangunan bekas. Bata bekas dari proyek bongkaran. Kayu bekas dari tetangga yang renovasi rumah. Genteng bekas dari tukang loak. Semua bekas. Tapi kuat. Tapi layak.

Aryo kerja dari pagi sampai malam. Sendirian. Kadang dibantu Mbah Kar. Kadang dibantu tetangga.

Hari pertama, mereka gali pondasi. Aryo cangkul tanah. Tangannya lecet. Pundaknya sakit. Kaki pincangnya makin nyut-nyutan. Tapi ia tak berhenti.

"Ini buat Risma. Ini buat Budi," gumamnya setiap kali cangkul turun.

Budi ikut-ikutan. Bawa cangkul kecil dari bambu. Lucu. Ia gali tanah, kena air, jadi lumpur. Ia tertawa.

"Pa, aku bantu!"

Aryo tersenyum. "Iya, Nak. Makasih."

Risma di kursi. Di bawah pohon. Matanya mengikuti Budi. Sesekali tersenyum.

Dewi bawakan air minum. "Mas, istirahat."

"Bentar, Ri. Ini tinggal sedikit."

Tapi tidak pernah sedikit. Selalu banyak.

 

Hari ke-1.350. Dinding mulai berdiri.

Aryo pasang bata satu per satu. Pelan. Tidak rapi seperti tukang profesional. Tapi tegak. Kuat.

Tetangga pada bantu. Ada yang bantu ngaduk semen. Ada yang bantu angkat kayu. Ada yang bantu pasang atap.

Seorang bapak-bapak, tetangga baru, bertanya, "Pak, bangun rumah sendiri? Tukangnya mana?"

Aryo tersenyum. "Saya sendiri, Pak. Daripada bayar tukang, mending buat beli material."

Bapak itu mengangguk kagum. "Kuat ya, Pak. Semangat."

"Anak saya dua, Pak. Mereka butuh rumah."

Bapak itu lihat ke arah Risma di kursi. Lalu ke Budi yang main lumpur. Ia menghela napas.

"Saya bantu, Pak. Nggak usah bayar. Saya lihat Bapak perjuangan."

Aryo terharu. "Pak... nggak... nggak usah..."

"Udah. Saya senang bantu."

Aryo nangis. Lagi-lagi nangis. Tapi kali ini nangis haru.

 

Hari ke-1.366. Rumah jadi.

Kecil. 5x10 meter. Dua kamar. Satu ruang tamu. Satu dapur kecil. Kamar mandi di belakang. Lantai semen, belum keramik. Dinding bata, belum diplester. Atap genteng bekas, masih bolong di beberapa tempat.

Tapi itu rumah. Milik sendiri.

Aryo berdiri di depan rumah. Matanya basah. Tangannya memegang tiang pintu. Kayu bekas, masih kasar. Tapi kokoh.

"Ini rumah kita, Ri."

Dewi pegang tangannya. "Iya, Mas. Rumah kita."

Mbah Kar keluar dari rumahnya. Ia lihat rumah kecil itu. Tersenyum.

"Selamat, Mas. Selamat menempati. Ini lebih bagus dari rumah pertama saya dulu."

Aryo peluk Mbah Kar. "Makasih, Mbah. Mbah udah seperti orang tua buat kami."

Mbah Kar terharu. Matanya berkaca. "Saya bangga lihat kalian. Dari lari dari utang, sekarang punya rumah."

 

Malam itu, mereka pindah. Barang-barang sederhana. Kasur bekas, kompor minyak, panci penyok, piring retak. Tapi hati penuh syukur.

Risma di kursi. Dipindahkan ke kamar baru. Matanya lihat sekeliling. Kamar kecil, tapi bersih. Wangi kapur baru.

Budi lari-lari senang. "Kamar! Kamar Budi!"

"Kamar kita, Nak. Bukan sendiri."

Budi cemberut. Tapi kemudian tertawa. "Kamar kita!"

Mereka tidur di lantai. Belum punya kasur. Hanya tikar pandan. Tapi hangat. Karena mereka bersama.

"Ri, kita punya rumah."

Dewi tersenyum. "Iya, Mas. Akhirnya."

Risma di antara mereka. Matanya terbuka. Menatap langit-langit yang masih bolong. Bintang terlihat dari sana.

Bintang itu seperti harapan. Kecil, tapi bersinar.

Aryo pegang tangan Risma. "Nak, ini rumah kita. Rumah kamu. Rumah Budi. Rumah Ibu. Rumah Bapak."

Risma diam. Tapi tangannya... tangannya bergerak. Meraih jari Aryo. Gerakan tak terkontrol. Tapi Aryo tahu, itu jawabannya.

 

Hari ke-1.386. Hidup makin mapan.

Aryo kerja kuli pasar. Jaga warung Mbah Kar malam. Narik becak minggu pagi. Penghasilan 2,5 juta per bulan. Cukup buat makan, susu Budi, dan terapi Risma.

Risma terapi rutin. Seminggu sekali. Terapi pasif. Pijat. Stimulasi. Bukan untuk bisa jalan. Tapi untuk menjaga ototnya tetap sehat. Untuk membuatnya nyaman.

Terapisnya, Mbak Wulan, selalu sabar.

"Pak, Risma baik. Ototnya tidak terlalu kaku. Dia nyaman. Itu yang penting."

Aryo senang. "Makasih, Mbak."

 

Hari ke-1.400. Seperti biasa, Aryo duduk di samping Risma.

"Nak, Bapak cerita ya. Rumah kita sudah jadi. Kecil. Tapi punya sendiri."

Risma diam. Tapi matanya ke Aryo.

"Kamu ingat nggak, dulu kita tinggal di kontrakan? Sempit. Bocor. Takut diusir."

Risma tak bergerak. Tapi matanya berkaca.

"Sekarang kita punya rumah, Nak. Punya tanah. Punya keluarga. Punya Mbah Kar. Punya Budi."

Air mata Risma jatuh. Satu tetes.

Aryo usap. "Nak, kenapa nangis?"

Risma tak jawab. Tak bisa. Tapi Aryo tahu. Risma bahagia.

 

Hari ke-1.416. Suatu sore, Budi bawa buku gambar.

Ia suka menggambar. Sembarangan. Coret-coret. Tapi ia bangga.

"Ini kakak. Ini Budi. Ini rumah."

Risma lihat gambar itu. Matanya berbinar. Tangannya bergerak tak terkontrol. Ingin pegang.

Aryo lihat. "Ri, Risma mau pegang."

Ia ambil pensil. Duduk di samping Risma. Pegang tangan Risma. Tangan kaku itu.

"Ayo, Nak. Coba."

Risma coba. Susah. Tangannya gemetar. Pensil jatuh. Aryo ambilkan lagi. Letakkan di tangan Risma. Pegangi.

"Coba lagi, Nak. Pelan-pelan."

Risma coba lagi. Kali ini, tangannya bergerak sedikit. Coretan kecil di kertas. Miring. Tipis. Tapi itu coretan.

"Ini gambar Risma," kata Aryo.

Risma lihat coretannya. Matanya berbinar. Senyum.

Budi lihat. "Kak! Kak! Gambar!"

Ia ambil pensil. Coret-coret di samping gambar Risma. "Ini Budi gambar."

Mereka tertawa. Risma senang.

Dewi tempel gambar itu di dinding. "Karya anak-anak."

 

Malam itu, Aryo duduk di teras rumah kecilnya.

Rumah sederhana. Dinding bata belum diplester. Lantai semen. Atap masih bolong di sana-sini. Tapi ini rumahnya.

Ia pandangi langit. Bintang-bintang berkerlip. Sama seperti malam tiga tahun lalu, saat ia duduk di lorong rumah sakit, menunggu kabar Dewi yang sekarat.

"Tuhan... makasih. Makasih udah kasih aku keluarga ini. Risma, Budi, Dewi, Mbah Kar. Mereka alasan aku hidup."

Dari dalam, suara Budi. "Pa... pa... aku mimpi."

Aryo masuk. Budi merangkak di lantai, mata masih terpejam setengah. Setengah tidur, setengah sadar.

"Iya, Nak. Bapak antar."

Ia gendong Budi ke kamar mandi. Pipis. Lalu bawa kembali ke kamar.

Risma sudah tidur. Dewi di sampingnya.

Aryo tidur di lantai. Tikar pandan. Bantal dari kain bekas. Tapi hangat.

Ia pandangi mereka bertiga. Risma, Budi, Dewi. Nafas mereka teratur. Dada naik turun. Hidup.

"Ini hartaku. Ini segalanya."

Air matanya jatuh. Tapi ia tersenyum.

 

Besok pagi, hidup terus berjalan. Aryo akan kembali ke pasar, angkat karung, jaga warung, narik becak. Capek. Tapi ia tak pernah mengeluh.

Karena di rumah kecil ini, ada yang menunggunya. Risma dengan senyumnya. Budi dengan tawanya. Dewi dengan peluknya. Mbah Kar dengan nasinya yang hangat.

Itu cukup. Lebih dari cukup.

Tapi Aryo tidak tahu, malam itu, saat mereka semua tidur, sebuah surat terselip di pintu rumahnya.

 

[Hari ke-1.417. Pagi. Pintu digedor keras.]

"PAK ARYO! PAK ARYO!"

Aryo bangun kaget. Jantungnya berdegup. Ia lihat jam. Masih subuh. Siapa pagi-pagi?

Ia buka pintu. Seorang pria berdiri di sana. Setelan rapi. Wajah tegang. Dua orang di belakangnya. Badan besar. Muka garang.

"Pak Aryo? Saya dari bank. Bapak punya utang?"

Aryo pucat. "Utang? Nggak, Pak. Saya udah lunas semua. Urusan bank udah selesai. Itu KTP palsu, sudah lapor polisi."

Pria itu menghela napas. "Ini utang lain, Pak. Utang lama. Atas nama Bapak. 5 juta. Kami baru temukan datanya di sistem lama. Bapak harus bayar."

Aryo gemetar. "Tapi... tapi... saya udah lapor polisi... nama saya bersih..."

Pria itu mengeluarkan kertas. "Ini suratnya. Bapak harus bayar. Atau kami sita jaminan."

Ia lihat ke dalam rumah. Lihat rumah kecil itu. Lihat tanah di belakang.

"Rumah ini? Tanah ini? Semua bisa kami sita. Termasuk... istri dan anak Bapak bisa jadi jaminan."

Aryo teriak. "JANGAN! JANGAN SENTUH MEREKA!"

Pria itu tersenyum sinis. "7 hari, Pak. Lunasin 5 juta plus bunga. Atau kami ambil semuanya."

Mereka pergi. Meninggalkan Aryo yang lemas di pintu.

Dari dalam, suara Risma. Nangis. Budi ikut nangis. Mereka merasakan ketakutan ayahnya.

Dewi keluar. "Mas... gimana?"

Aryo nggak bisa jawab. Ia hanya pandangi surat itu. Tangannya gemetar. Tubuhnya lemas.

Rumah barunya. Tanahnya. Hasil perjuangan setahun lebih. Terancam.

Masa lalu... datang lagi.

Menghantui.

Dan Aryo harus berjuang lagi.

Untuk keluarganya. Untuk rumahnya. Untuk tanahnya. Untuk Risma dan Budi.

Tapi kali ini, ia tidak sendiri.

Ada Dewi. Ada Risma. Ada Budi. Ada Mbah Kar. Ada tetangga yang baik.

Ia akan lawan.

Bersama.

Tapi di dalam hatinya, ia bertanya. Mampukah? Setelah semua ini? Setelah semua yang ia lewati?

Ia tak tahu.

Tapi satu hal yang ia tahu: ia tak akan menyerah.

Demi Risma. Demi Budi. Demi Dewi. Demi Mbah Kar. Demi keluarganya.

 

[BERSAMBUNG KE BAB 19]

 

1
Nurgusnawati Nunung
Ya Allah yang Maha Kuasa... semangat thor
Nurgusnawati Nunung
mewek lagi.. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
keluarga yang kuat.. semangat.
Nur Syamsiah
certNy bagus menyentuh
Nurgusnawati Nunung
semangat thor...
Ayaelsa: Terima kasih dukungannya😄
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
cerita di dunia nyata itu sangat mengerikan jika ada orang seperti Joko
Nurgusnawati Nunung
orang jahat banyak akal iblis
Nurgusnawati Nunung
Ada ada saja orang gila harta orang lain.,
Nurgusnawati Nunung
Mbah Kar sudah tiada.. semoga ada lagi orang baik sepertinya. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
berjuang lah Risma untuk orang tuamu yang tak henti berjuang untukmu.. sedih baca cerita ini. semangat thor
Ayaelsa: terimakasih sudah Sudi membaca
total 1 replies
Siti Dede
Semangaaaat👍
Nurgusnawati Nunung
kecil amat gaji sebulan
Nurgusnawati Nunung
kasihan sekali hidup mereka.. semoga selalu diberi kemudahan
Nurgusnawati Nunung
Alhamdulillah masih ada orang baik.
Nurgusnawati Nunung
Yaa Allah..
Ayaelsa: terima kasih sudah membaca kisah ini
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
sedih yaaa. alhamdulillah susternya pada baik. semangat
Nurgusnawati Nunung
Thor.. belum apa2 sudah lemas hatiku. sedih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!