NovelToon NovelToon
Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta setelah menikah / Selingkuh / Pengkhianatan
Popularitas:15.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.

Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.

Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.

Maukah Arsy menerima lamaran pernikahan dari laki laki yang telah lama mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Suasana hening kembali jatuh di antara mereka.

“Kau ingin aku…” Syakil menggantungkan kalimatnya.

“Membelinya,” potong Omar dengan tenang. “Mengambil alih rumah sakit itu sepenuhnya.”

Detik itu juga, ada perubahan halus di wajah Syakil. Bukan senyum, tapi sesuatu yang lebih berbahaya dari sekadar ekspresi puas. Matanya menyipit sedikit, seolah sedang melihat papan catur dan menemukan langkah pamungkas.

“Jika rumah sakit itu berhasil menjadi milik Tuan,” lanjut Omar, “maka Radit tidak perlu dijatuhkan lewat rumor, tuduhan, atau skandal. Ia bisa disingkirkan secara resmi dengan kekuasaan yang dimiliki oleh tuan sebagai pemilik rumah sakit itu.”

Syakil menoleh sepenuhnya ke arah Omar sekarang.

“Sebagai pemilik,” lanjut Omar dengan hati-hati, “Tuan memiliki hak penuh atas struktur manajemen, kebijakan internal, dan tentu saja sumber daya manusia.”

Artinya jelas. Pemecatan. Legal. Bersih. Tidak bisa digugat dengan mudah.

Beberapa detik berlalu. Syakil menimbang-nimbang ide yang diberikan Omar dengan seksama, bukan karena ragu, tapi karena memastikan semua konsekuensi sudah ia pahami. Lalu ia tersenyum kecil—senyum tipis yang dingin dan penuh perhitungan.

“Itu masuk akal,” ucap Syakil akhirnya yang membuat Omar mengangguk kecil.

“Berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk membeli rumah sakit itu termasuk dokumennya?” tanya Syakil.

“Jika Tuan ingin bergerak cepat,” jawab Omar, “kita bisa menemui pemiliknya malam ini juga.”

Syakil melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah lewat tengah malam. Jakarta tidak pernah benar-benar tidur, dan para pengusaha, terutama yang sedang ingin melepas aset justru sering lebih mudah ditemui di jam-jam seperti ini.

“Siapkan mobil,” perintah Syakil tanpa ragu. “Kita pergi sekarang.”

Omar sedikit terkejut, meski tidak menunjukkannya secara terang-terangan.

“Sekarang, Tuan?”

“Ya,” jawab Syakil dingin. “Aku tidak suka menunda hal yang harus diselesaikan.”

Ia melangkah pergi tanpa menunggu jawaban, meninggalkan Omar yang segera mengikuti di belakangnya.

Malam itu, kota Jakarta terasa berbeda bagi Syakil. Lampu-lampu yang ada di gedung tinggi berpendar seperti bintang palsu, jalanan berkilau oleh sisa hujan, dan udara membawa aroma aspal basah. Di dalam mobil, suasana terasa sunyi. Omar sibuk dengan ponselnya, mengatur pertemuan mendadak, sementara Syakil duduk diam dan menatap ke depan. Di benaknya, bukan Radit yang ia bayangkan. Melainkan Arsy.

Wajah perempuan itu terlintas jelas. Cara ia tertidur kelelahan di kursi rumah sakit. Cara ia memaksakan senyum. Cara ia selalu berkata bahwa ia baik-baik saja, padahal jelas-jelas tidak.

“Semua orang yang berani menyakitimu, harus merasakan penderitaan berkali kali lipat dari apa yang kamu alami, Arsy. Akan ku buat Radit hancur hingga ia menyesal karena sudah menyakiti mu.” gumam Syakil dengan lirih, nyaris tak terdengar oleh siapa pun.

Keesokan paginya, cahaya matahari pagi menyusup perlahan ke dalam ruang IGD. Lampu di dalam ruangan itu masih menyala, tapi sinar alami dari matahari pagi itu membuat suasana terasa sedikit lebih hangat. Arsy mengerjapkan matanya perlahan. Kepalanya terasa berat, tubuhnya pegal, dan untuk beberapa detik ia tidak tahu di mana dirinya berada. Ia menghela napas sembari mencoba menggerakkan tubuhnya. Dan di situlah kebingungan itu datang.

Ini bukan kursi besi. Arsy mengangkat kepalanya sedikit dan menatap sekeliling. Ia sedang berbaring di atas sofa panjang di sudut ruangan IGD. Sofa yang kemarin ia lihat, tapi tidak pernah ia sentuh. Ingatannya berputar cepat. Semalam ia duduk di kursi. Di samping ayahnya. Ia ingat kepalanya terasa berat, matanya perih, lalu ia merasa mengantuk.

Arsy duduk perlahan, rasa pusing menyerang kepalanya sebentar sebelum mereda. Ia mengusap wajahnya, lalu pandangannya jatuh pada sesuatu yang menutupi tubuhnya. Sebuah jas. Jantung Arsy berdegup sedikit lebih cepat saat ia mengenali jas itu. Warna gelap. Bahannya tebal. Dan aroma yang sangat familiar.

Syakil.

Arsy menatap jas itu cukup lama, jemarinya menyentuh ujung kainnya dengan ragu. Ada kehangatan yang tersisa, seolah jas itu masih membawa jejak pemiliknya.

“Jadi semalam kamu tidak pulang, Syakil.” gumam Arsy dengan lirih.

Potongan-potongan kejadian semalam menyusun diri di kepalanya. Permintaannya agar Syakil beristirahat. Tatapan lelaki itu yang tidak setuju. Dan kini jawabannya jelas. Semalam Syakil tetap di sini menemaninya diam-diam. Ada sesuatu yang menghangat di dada Arsy. Sesuatu yang membuat matanya terasa sedikit perih. Ia menarik napas pelan, lalu dengan hati-hati melipat jas itu.

Gerakannya pelan, seolah ia takut merusak sesuatu yang berharga. Setelah memastikan jas itu rapi, Arsy meletakkannya di ujung sofa.

Ia berdiri perlahan dan melangkah ke arah ranjang ayahnya. Ayahnya itu masih tertidur. Napasnya terlihat lebih teratur. Monitor jantung yang ada di samping ranjang menunjukkan tanda-tanda yang lebih stabil dibandingkan semalam. Arsy menghela napas lega, lalu duduk di sisi ranjang itu sembari menggenggam tangan ayahnya dengan penuh kasih.

“Ayah,” bisik Arsy pelan yang hampir seperti doa. “Bangun, yah. Jangan buat Arsy semakin khawatir dengan kondisi ayah.” pinta Arsy namun tak ada jawaban.

Arsy menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia mengusap tangan ayahnya dengan ibu jarinya, gerakan kecil yang ia lakukan berulang-ulang sejak tadi. Tiba-tiba, jemari yang ia genggam bergerak. Gerakan kecil dan pelan tapi cukup untuk membuat Arsy menegang seketika.

“Ayah?” panggilnya cepat, suaranya sedikit bergetar. Kepalanya mendongak, matanya menatap wajah ayahnya tanpa berkedip

Kelopak mata Pak Rahman bergetar pelan. Lalu perlahan terbuka.

“Ar… sy…” suara itu keluar dengan lirih, nyaris seperti hembusan napas.

Untuk sesaat, Arsy hanya terdiam. Otaknya seperti butuh waktu untuk memproses apa yang baru saja terjadi. Lalu detik berikutnya, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh begitu saja.

“Ayah…” Arsy bangkit setengah berdiri, sementara tangannya menggenggam tangan ayahnya lebih erat. Senyum kecil muncul di wajahnya, bercampur tangis yang tak bisa ia kendalikan. “Syukurlah ayah sudah sadar.”

Pak Rahman menatap putrinya dengan pandangan yang sedikit kabur, tapi penuh kehangatan. Sudut bibirnya bergerak naik, membentuk senyum yang terlihat lemah.

“Kamu jangan nangis, nak.” gumam pak Rahman pelan dan membuat Arsy menggeleng cepat, meski air matanya terus mengalir.

“Nggak ayah, ini… ini air mata bahagia,” jawab Arsy dengan terbata-bata, lalu tertawa kecil yang langsung berubah menjadi isakan. “Ayah bikin Arsy kaget.”

Pak Rahman menghela napas pelan, dadanya naik turun perlahan. Tangannya yang bebas bergerak sedikit, seolah ingin mengusap kepala Arsy, tapi tenaganya tak cukup. Arsy segera menunduk dan mendekatkan kepalanya agar tangan ayahnya bisa menyentuhnya. Sentuhan itu terasa ringan dan hampir tak terasa. Tapi cukup untuk membuat dada Arsy terasa sesak.

“Maafin Arsy ya, Yah…” ucap Arsy tiba-tiba. Suaranya melemah, kepalanya menunduk.

Pak Rahman mengernyit pelan.

“Maaf kenapa nak?”

Arsy menggigit bibirnya, mencoba menahan tangis yang kembali muncul. “Kalau aja Arsy tahu laki laki seperti apa itu Radit,” napas Arsy tersendat. “Ayah nggak akan sampai sakit begini.”

1
Greta Ela🦋🌺
Ada ya laki2 gila kayak gini
Greta Ela🦋🌺
Itulah karma
Greta Ela🦋🌺
Dari pada kau udah buat bapak orang kena serangan jantung
Greta Ela🦋🌺
Si Radit stres
Greta Ela🦋🌺
Syukurlah sang ayah gak kenapa napa
Nonà_syaa.
Jdi ke inget nnek ku yg sdh ga ada ,
dpsng alat monitor jantung, aku yg bntu jaga di rs tiap mlm/Pray//Cry/
Greta Ela🦋🌺
Hayo looo minta maaf pun tak akan bisa menghapus rasa sakit itu
Greta Ela🦋🌺
Udahlah Radit terima lah kenyataan itu
Greta Ela🦋🌺
Karma kau ini Radit
Greta Ela🦋🌺
Nah Radittt mampusss loee
Greta Ela🦋🌺
Ada apakah ini?
Greta Ela🦋🌺
Iya wajar sih Arsy takut begini
Nabila Bilqis
lagi tegang²nya💪😍
Nabila Bilqis
lanjut thor
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: iya kak siap terima kasih udah mampir ya kak😍🙏
total 2 replies
Nonà_syaa.
Up lgi kk😍
vita
bagus
Greta Ela🦋🌺
Nah kan langsung direstuin
Greta Ela🦋🌺
Pak tolongggg jangan pergii
Lihat anakmu pak😭
Greta Ela🦋🌺
Kamu nyalahin diri sendiri mulu lah Arsy
Kami lah nyalahin si Radit
Greta Ela🦋🌺
Ayahnya kapan bangun sih😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!