Alya, wanita cantik yang sudah lelah dengan kisah kehidupannya, mencoba untuk membuka hatinya kembali untuk seorang pria yang dijodohkan oleh bos di kantornya. Ia berharap itu yang menjadi cinta terakhirnya. Namun, siapa sangka ternyata pria itu menyimpan sebuah masa lalu yang membuat Alya, kembali berpikir apakah ia harus hidup tanpa cinta untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon empat semanggi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rindu
Alya menatap kosong ke arah beberapa koper yang telah ia siapkan.
hatinya terasa gundah karena minggu depan, ia sudah harus keluar kota untuk melakukan survei lokasi terkait proyek yang akan mereka lakukan.
yaa, Alya menyetujui proyek yang diberikan padanya. ia tak memikirkan tentang keluar negeri, melainkan berusaha untuk mencapai target yang telah ia tentukan.
wanita cantik itu, menatap kacamatanya sambil bergumam perlahan.
sudah tiga hari ia tak bertemu Raka, karena pria itu juga sedang berada di keluar kota untuk menyelesaikan beberapa pekerjaannya. Alya menarik nafas panjang, dan menghembuskannya secara kasar.
setelah proyek yang ia kerjakan selesai, maka ia akan segera menikah dan meninggalkan kota ini.
Raka sudah membereskan semua persyaratan pernikahan mereka jadi tinggal tanggal pernikahannya saja yang ditentukan.
Raka, pria itu tak memberi tahu Alya, bagaimana ia bertemu pak Waldo, dan meminta kesepakatan itu.
sampai saat ini, Alya masih merasa berat untuk berbicara dari hati ke hati bersama ayahnya. jika ditanya apakah ia sudah memaafkan ayahnya, maka jawabannya adalah iya, Alya sudah memaafkannya. Namun, untuk bertemu dan berbincang-bincang, Alya belum siap.
masih terlalu kecil ia ditinggalkan sehingga membuat luka dalam hatinya begitu dalam.
Alya beralih menatap ponselnya, berharap akan ada pesan singkat atau panggilan dari Raka.
"hufttt,,," Alya menghembuskan nafas kasar, "aku rindu, tapi aku nggak mau gangguin kamu" gumam Alya. sambil terlentang menatap langit-langit kamarnya.
"apa mungkin, Raka juga menunggu pesan dariku?" batin Alya. tanpa menunggu lama, ia meraih ponselnya, dan membuka kotak pesan, dan mencoba untuk mengirim pesan pada Raka.
tampak beberapa kali ia menghapus pesan yang telah ia ketik, lalu kembali mengetik. Hal itu ia lakukan hingga beberapa kali.
"aishh, aku merindukanmu Raka Kingston" gumam Alya, lalu melemparkan bendah pipih itu ke sembarang arah.
drtttt,,drtttr,,,drtttr,,drttt
ponsel Alya tiba-tiba bergetar membuat wanita cantik itu kalang kabut mencari bendah pipih itu.
"ahh yaahh ketemu" teriak Alya. jantung Alya berdebar, saat melihat nama yang tertera dalam panggilan itu. Nama, yang telah lama ia tunggu untuk menghubunginya.
"Haloo,," ucap Alya, setelah berhasil mengatur nafasnya. Alya tak mendengar suara di ujung sana, yang ia dengarkan justru sebuah helaan nafas panjang.
"sudah tidur?" terdengar suara Raka yang sedikit bergetar.
"belum, aku masih membereskan beberapa pekerjaanku" tipu Alya. tak mungkin ia mau jujur pada Raka, jika ia tengah menunggu pesan dan panggilan dari pria itu. Bukan hanya hari ini, melainkan setiap hari disaat Raka pergi keluar kota. Alya selalu menunggu kabar dari pria itu.
"hmm,,apa kau bisa membuka jendela kamar mu sebentar" ucap Raka membuat Alya mengerutkan keningnya bingung.
Namun, Alya ikut saja perintah pria itu. dengan cepat ia membuka jendela kamarnya.
"sudah" jawab Alya cepat.
"lihat lurus ke depan" ucap Raka lagi di ujung sana.
Alya dengan cepat mengikuti arahan Raka dan, degh,,,jantung Alya seakan berhenti berdetak, saat melihat diseberang jalan, tampak Raka sedang melambaikan tangannya.
Refleks Alya juga ikut mengangkat tangannya, dengan senyuman yang sangat indah.
"terima kasih, sudah mau melihat ku" ucap Raka dan hanya di angguki oleh Alya.
"tadinya aku hanya ingin melihat wajahmu dari jauh, dan setelah itu pulang.,,"ucap Raka tertahan, pria itu terdengar menarik nafas sebelum melanjutkan ucapannya.
"namun, karena sudah disini. apa kau bisa keluar sebentar, agar aku bisa melihat wajahmu lebih dekat lagi?"
Alya tak menjawab, melainkan kembali menganggukan kepalanya, walau ia tahu mungkin tak terlihat jelas oleh pria itu.
"baiklah tunggu satu menit,,ahh enggak-enggak, tiga puluh detik" ucap Alya.
Buru-buru Alya keluar dari kamarnya untuk menemui Raka. ia takut jika Raka tiba-tiba menghilang dari hadapannya jika ia sedikit lambat.
Alya berlari ke arah Raka, sambil ponselnya terus ia tempelkan pada telinganya.
"nggak usah buru-buru, kau bisa jatuh nanti" tegur Raka, setelah Alya berdiri tepat di depannya.
"aku hanya ingin cepat menemuimu, agar bisa secepatnya tidur" kilah Alya.
Raka tersenyum mendengar alasan Alya.
"sudah makan?"
"hmm, sudah"
"baguslah, tetap jaga kesehatan "
lagi-lagi Alya menganggukan kepalanya, membuat Raka tersenyum.
"apa kau akan terus menempelkan ponsel itu di telingamu? tegur Raka, membuat Alya dengan cepat menurunkan ponselnya dari telinga.
"bagaimana keadaanmu?" tanya Alya.
"seperti yang kau lihat, hanya sedikit lelah" jawab Raka.
"kau harus segera istirahat" ucap Alya lagi.
"yaa kau benar,,,aaaa,,," Raka menjeda ucapannya, ia kembali menarik nafas panjang.
"hmm, apa aku boleh meminta sedikit energi darimu? sepertinya aku terlalu lelah jika harus kembali ke rumah" ucap Raka membut Alya tak mengerti.
"maksudmu?" tanya Alya.
"apa aku boleh memelukmu?" tanya Raka sedikit ragu.
Alya terdiam sebentar dan kemudian membuka kedua tangannya.
"kemarilah" ucap Alya.
tanpa menunggu lama, Raka dengan cepat memeluk Alya. cukup erat ia memeluk Alya, seolah-seolah sedang menyerap energi dari wanita cantik itu.
"aku rindu" gumam Raka.
Alya mengelus pundak Raka lembut, memberikan kenyamanan pada pria itu.
"maaf karena nggak sempat menghubungimu, aku benar-benar nggak ada waktu buat istirahat" jelas Raka.
"iyaa, nggak masalah" balas Alya.
Raka melepaskan pelukannya, dan menatap mata Alya.
"aku bisa tidur nyenyak setelah ini" ucap pria itu.
"masuklah, terima kasih karena sudah mau menemuiku" ucap Raka, sambil mengusap lembut kepala Alya.
Alya menurut, ia kembali ke dalam sambil terus menoleh ke arah Raka.
"kau akan terjatuh, jika berjalan seperti itu" tegur Raka. Buru-buru Alya mempercepat langkahnya.
setelah memastikan Alya telah berada di kamarnya, Raka kemudian meninggalkan rumah itu.
ada sedikit kelegaan dalam hati Raka. Rindunya seperti terbayar tuntas setelah ia bertemu Alya. bahkan, rasa lelah yang ia rasakan dalam perjalanan tadi, seakan menguap dalam dirinya.
Raka beruntung karena Dave ikut menemaninya, karena jika tidak ia akan drop, karena kebanyakan pekerjaan.
ia juga bersyukur, karena Alya bukan tipe wanita yang selalu menuntut kabar. Alya adalah tipe wanita yang mengerti kesibukannya. tak seperti wanita lainya yang pernah Raka temui.
namun, Raka juga sadar diri. walau Alya tak menuntut, Raka harus tetap memberi kabar pada wanita itu, karena sejatinya wanita merasa di hargai saat diberi kabar walau dalam keadaan sibuk.
"sepertinya aku harus segera menikahinya, aku nggak bisa tersiksa hanya karena rindu ini" batin Raka. ia kemudian melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
biar cepet koit tuhhhh marah-marah melulu 😤
lanjuuttttt 💪💪💪🤩🤩
semoga langgeng dan harmonis terus rumah tangga nya 👍👍🤗🤗🤗
gak tergoda yg lain, atau menyakiti hati Alya 👍👍🤗