NovelToon NovelToon
Belaian Kakak Iparku

Belaian Kakak Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Selingkuh
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: syizha

Menumpang di rumah kakaknya sendiri seharusnya terasa aman.
Namun justru di sanalah semuanya berubah.
Di balik rumah tangga yang terlihat tenang, ternyata tersimpan jarak, kesunyian, dan luka yang tak pernah terlihat orang lain. Ia hanya berniat tinggal sementara… tapi semakin lama, ia mulai melihat sisi lain dari pria yang seharusnya tak boleh ia perhatikan.
Tatapan yang terlalu lama.
Perhatian yang terasa berbeda.
Dan debar yang muncul di waktu yang salah.
Ia tahu batasnya.
Ia tahu itu salah.
Tapi bagaimana jika hati justru tertarik pada seseorang yang tak pernah dimiliki siapa pun bahkan oleh istrinya sendiri?
Dan ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap…
hubungan terlarang itu perlahan menjadi sesuatu yang tak bisa lagi dihentikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syizha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Acara reuni

Malam harinya ....

Aku menghentikan mobil Civic merahku di dalam halaman sebah cafe. Tempat yang begitu ramai. Dipenuhi oleh pengunjung dari segala jenis usia.

Aku dan Liliana turun. Mengejutkan Liliana menggandeng lenganku. Dia dengan langkah percaya diri mengajakku masuk ke dalam bangunan cafe.

Suasana di dalam semakin ramai dari pada suasana di luar. Hampir semua kursi sudah dihuni. Pelayan-pelayan tampak sibuk berlalu-lalang sambil membawa makanan pesanan dari pelanggan. Di sudut, ada pertunjukan live musik. Terdiri dari lima orang. Masing-masing memegang alat musik, satu orang bernyanyi.

Liliana mengedarkan pandangan, mencari keberadaan teman-temannya. Dia pun menemukan mereka, tepat di sisi timur ruangan cafe ini.

Segerombolan orang-orang yang seumuran dengan kami. Mereka adalah teman SMA Liliana. Orang-orang terdekat Liliana.

"Itu mereka. Ayo, kita ke sana, Mas." Liliana menarik lenganku.

Aku pun mengikuti langkahnya. Semua teman-teman Liliana langsung melihat ke arah kami. Aku menilai dari ekspresi mereka, mereka sangat terkejut. Bahkan beberapa di antaranya tampak melongo, serasa sedang melihat sesuatu yang sulit dipercaya.

"Hai, semua!" sapa Liliana.

Ia melihat satu persatu dari teman-temannya. Aku pun demikian, melihat ke arah mereka semua. Aku mengenali satu orang. Laki-laki itu. Laki-laki yang kulihat di mall, yang dulu tengah bersama Liliana.

Aku bahagia, dia ada di sini. Yang berarti sebentar lagi dia akan tahu, aku adalah suami Liliana. Yang berarti, tak ada hubungan spesial di antara mereka berdua.

"Siapa, Lin? Pacar kamu?" Wanita bergaun merah bertanya. Liliana tak langsung menjawab, dia malah tersenyum.

"Perkenalkan, dia Mas Juna. Dia suamiku." Liliana berbicara ke seluruh teman-temannya. Lagi-lagi aku menangkap ekspresi keterkejutan dari mereka.

"Kamu serius?" Laki-laki berkacamata belum begitu percaya.

"Ya."

"Kapan kamu nikah? Baru-baru ini kah?" tanya teman Liliana yang lainnya.

"Udah tiga tahun yang lalu."

"Hah!!!!" Kini semuanya terang-terangan terkejut.

"Kok, kamu nggak pernah bilang, Lin?"

"Kok, waktu itu kamu nggak ngundang?"

"Kamu udah punya momongan?"

Pertanyaan demi pertanyaan bertubi-tubi mereka lontarkan. Mau tak mau Liliana harus menjawab satu persatu. Sedang aku, malah fokus ke hal yang lain. Aku sibuk memperhatikan laki-laki itu.

Laki-laki yang bersama Liliana di mall waktu itu. Hanya dia yang wajahnya tampak terpukul. Dia tak bisa menyembunyikannya. Terutama dariku.

"Ayo, Mas duduk!" ajak Liliana.

Aku dan Liliana segera bergabung duduk melingkari meja oval berukuran besar. Kami duduk bersama yang lainnya.

"Kenalin, Mas, aku Suketi, dulu satu kelas pas kelas tiga sama Liliana." Wanita di sampingku mengulurkan tangan ke arahku. Aku pun menjabatnya.

"Aku Juna, salam kenal ya." Kulemparkan senyum tipis ke arah wanita bernama Suketi tersebut. 11

"Mas Juna kerja di mana?" Suketi mulai melemparkan pertanyaan.

"Aku buka klinik di rumah."

"Klinik? Klinik apa?"

"Klinik kesehatan gigi."

"Jadi Mas Juna Dokter gigi?"

"Iya." Suketi terperangah.

"Wah, kebangetan kamu, Lin, punya suami Dokter gigi nggak pernah dikenalin sama kita-kita." Dia berceloteh ke arah Liliana juga ke yang lainnya. Suaranya lumayan lantang, jadi semua mendengar.

"Serius Mas Juna Dokter gigi? Sampai sekarang?" baru mereka berbicara ke arahku.

"Iya." Aku menjawab seadanya.

"Kalau gitu, aku mau dong diperiksa gigiku, kalau Dokternya secakep kamu, Mas."

Aku tersenyum kecil menanggapi candaannya. Sedang yang lainnya tertawa terbahak-bahak termasuk Liliana.

"Rahasianya apa, Lin, kamu bisa dapetin Suami seperfect ini? Udah ganteng, ternyata kerjaannya juga wow lagi. Secara kamu kan cuma seorang guru SD. Nggak selevel lah sama dia." Teman Liliana yang lainnya berceloteh. Liliana tak menanggapinya dengan serius.

Mungkin mereka memang sudah terbiasa ngomong terlalu blak-blakan soal apapun. Jadi tak akan ada ketersinggungan satu sama lain.

Aku terus memperhatikan obrolan mereka. Sampai aku menangkap sesekali Liliana melihat ke arah si laki-laki yang sedari tadi menjadi pusat perhatianku. Laki-laki yang kalau tak salah bernama Iban.

Aku tahu, karena aku sempat mendengar ada yang memanggilnya dengan nama tersebut.

Mereka kadang bertemu pandang. Dan kadang mata mereka tampak saling berbicara. Entah berbicara apa, hanya mereka lah yang tahu.

Di momen ini aku lebih banyak diam. Selain aku belum begitu mengenal mereka semua, juga obrolan mereka tak begitu nyambung denganku. Kadang aku malah tak begitu mengerti apa yang sedang mereka bicarakan, atau mereka candakan. Seolah circle mereka, sangat berbeda dengan jenis circleku dengan teman-teman pergaulanku.

Drrrrrt....

Handphoneku bergetar. Seenggaknya membuyarkan kediamanku di antara keramaian di tempat ini. Ada pesan masuk. Nomor tak dikenal. Aku pun membukanya.

[Sepi. Mas Juna di mana?] Aku mengernyit. Lalu kuketik balasan untuk pesan tersebut.

[Ini siapa?]

[Yaelah, ternyata Mas Juna belum nyimpen nomorku.] Emoticon menangis di selipkan di antara ketikan pesannya.

[Ini siapa?] Aku mengulangi pertanyaanku.

[Alana, Mas Juna Sayang.]

Aku menarik nafas. Ternyata dia. Tapi gilanya, dia memanggilku Sayang.

[Oh kamu.] Balasanku hanya seperti itu. Aku selalu kehabisan kata-kata jika lawan bicaraku adalah Alana.

[Mas Juna lagi di mana?]

[Mas lagi pergi sama Mbak kamu.]

[Lagi makan malam ya?]

[Iya.] Aku mengiyakan, karena saat ini kami kumpul-kumpul sambil menghadap makanan yang tersaji di atas meja.

[Yahhhh. Jadi kali ini aku harus makan malam sendiri, nih. Huhuhu....] Alana kembali menyelipkan emoticon menangis.

Aku tersenyum.

[Maaf ya.] Hanya seperti itu balasanku. Cuma dibaca saja, tak langsung dijawab olehnya. Pikirku, mungkin dia sedang mulai melakukan kegiatan makannya.

Kuletakkan handphoneku. Aku kembali hanya menjadi pendengar di tempat ini. Mendengar obrolan-obrolan teman-teman Liliana. Kadang ikut tertawa kecil, jika ada yang menurutku lucu.

Drrrrrt....

Handphone kembali bergetar. Ada pesan dari nomor yang tadi. Nomor Alana. Aku membukanya, kali ini sebuah gambar. Bukan hanya sebuah pesan singkat. Aku tertawa kecil. Gambar itu menunjukkan Alana sedang berselfie dengan sebuah boneka.

Yang menurutku lucu, dia memasang topeng bergambar fotoku di wajah boneka tersebut. Aku bingung, dari mana dia mendapat kertas tebal itu, kertas yang ada gambar fotoku?

[Lihat, aku juga sedang makan malam sama Mas Juna.] Dia membubuhkan caption seperti itu.

"Kamu lagi chat-an sama siapa?" Liliana tiba-tiba bertanya. Tak kusangka dia memperhatikanku.

"Sama Alana. Nih." Aku mengarahkan layar handphoneku ke hadapan Liliana. Memperlihatkan foto yang dikirimkan Alana.

"Kekanak-kanakan." Liliana bergumam pelan. Dia terlihat sebal.

Brakkkk.....

"Aku ke kamar mandi dulu."

Liliana berdiri. Tanpa menunggu jawabanku, ia melenggang pergi dari semua orang yang ada di sini. Aku mengobrol-ngobrol santai dengan yang lainnya. Sembari menunggu Liliana kembali dari kamar kecil.

1
Anna leticia
baru mampir Thor, penasaran banget semoga aja ceritanya seru dan berkesan sampai keakhiir🌹🌹❤️😊
Anna leticia
penasaran mampir, penasaran banget, cuma kata plakor,itu merusak mata, cerita cinta dimulai dari kesalahan 🌹🌹🤔😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!