NovelToon NovelToon
27 Hari Setelah Melahirkan

27 Hari Setelah Melahirkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cerai / Selingkuh / Ibu susu
Popularitas:11.6k
Nilai: 5
Nama Author: Septi.sari

Ibarat luka jahitan saja belum sepenuhnya kering. Tepat 27 hari setelah kematian bayinya, Hana dikejutkan dengan surat gugatan cerai yang Dzaki layangkan untuknya.

Status Whatsaap Mona-sahabat Hana, tertulis "First day honeymoon". Dan Hana yakin betul, pria menghadap belakang yang tengah Mona ajak foto itu adalah suaminya-Dzaki.

Sudah cukup!

Hana usap kasar air matanya. Memutuskan keluar dari rumah. Kepergian Hana menjadi pertemuanya dengan sosok bayi mungil yang tengah dehidrasi akibat kekurangan Asi. Dengan suka rela Hana menyumbangkan Asinya pada bocah bernama~Keira, bayi berusia 2 bulan yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

"Dengan senang hati, Bu... O ya namanya siapa ya, cantik amat... Cup-cup, sayang...." Hana begitu antusias menengkan, juga mengajak bayi 2 bulan itu bernyanyi kecil.

Dan seketika tangisan Baby Keira berhenti.

"Mbak, bisa kasih Asi didalam... Silahkan masuk," ujar Dokter Ama- Dokter spesialis anak.

Wanita bernama Bu Ana itu segera mengikuti langkah Hana kedalam, sementara Pelayan tadi duduk menunggu didepan ruangan.

"Bismillah ya, sayang... Pelan-pelan aja nen'nya... Nggak ada yang minta kok," lirih Hana sambil mengusap kepala Baby Keira yang begitu kehausan menyedot sumber makananya itu.

Hati Hana mendadak berdesir. Matanya berkaca-kaca, duduk tenang membiarkan bayi kecil itu lebih rilex. "Ya Allah, andai saya kamu masih hidup Lylia, pasti Bunda akan terus mengAsihi kamu."

"Mbak, maaf... Saya boleh tahu siapa nama kamu? Sepertinya usia kamu seusia putri bungsu saya. Soalnya masih muda sekali," celetuk Bu Ana yang baru saja menjatuhkan duduk disamping Hana.

Hana tersenyum, "Nama saya Hana, Bu... Benar, usia saya baru 23 tahun," kekehnya tipis.

"Saya Ana, saya ucapkan terimakasih sudah mau menolong cucu saya," ujarnya sambil menepuk bahu Hana. "Oh ya Hana... Putrimu sudah berapa bulan? Sepertinya kamu juga baru melahirkan ya?"

Dengan senyum lembut, Hana berkata, "Putri saya sudah tiada, Bu... Hanya bertahan 1 jam saja setelah saya melahirkan. Makanya, saya mulai sekarang datang ke rumah sakit ini untuk menyetorkan Asi saya."

Bu Ana tersentak. Wajahnya begitu shock. Lalu dengan gerakan cepat ia memegang lengan Hana. "Maaf Hana, saya nggak tahu. Saya turut berduka ya....." ucapnya pelan.

Hana menoleh, tersenyum hangat mengangguk kembali. "Nggak papa, Bu... Semua sudah takdir Allah, jadi kita hanya bisa menjalani saja."

Tatapan Hana jatuh kembali pada wajah Baby Keira yang sudah mulai kenyang. Bayi kecil itu perlahan melepaskan sumber makananya, tersenyum lega, seolah tengah berkata 'Aku sudah kenyang, terimakasih' begitulah kira-kira.

"Sayang, kamu sudah kenyang ya?" kekeh Hana sambil membenarkan kembali kancing dressnya.

Bu Ana kembali membuka suara, "Oh ya, apa kamu tadi datang bersama suamimu? Takutnya dicariin...."

Hana kembali menoleh. Wajahnya menegak, suaranya tenang, "Saya baru saja mendapat ujian, Bu... Baru kemarin saya di gugat suami saya. Dan, ini sebentar lagi akan menjalani proses cerainya."

"Ya Allah...." Bu Ana kali ini benar-benar dibuat tak berkutik dengan ungkapan wanita didepanya itu. Bahkan, Bu Ana sampai menggeser duduknya lebih dekat, memegang lengan Hana dengan rasa iba. "Saya turut prihatin, Hana... Kamu memang wanita pilihan."

Hana mengangguk. "Bu, ini... Terimakasih sudah mengijinkan saya menyusui cucu Ibu."

Bu Ana menerima Baby Keira yang sudah mulai menguap. "Sepertinya udah ngantuk," Hana menutup mulut kecil bayi itu.

Sementara di luar, seorang pria datang menggunakan pakaian formal. Wajahnya tampan, namun sorot mata serta rahangnya sangatlah kuat.

"Eh, Aden sudah datang...." pelayan tadi bangkit.

Pria berusia 32 tahun itu mengedarkan pandanganya, "Ibu sama Keira mana, Bi?"

"Itu, Den... Ibu sama Non Keira ada di dalam-" belum selesai pelayan tadi melanjutkan, pria tadi langsung berniat untuk masuk kedalam. Namun belum sampai, Bik Inem menghadang jalan Tuan mudanya. "Eh, eh... Aden mau kemana?"

Pria tadi melipat dahinya dalam. "Ya masuklah, Bi... Saya mau bilang sama Ibu, jika Keira sudah mendapat tempat VVIP."

"Tapi, di dalem... I-itu, Den... Di dalem ada, wanita yang menyusui Non Keira, karena sejak tadi Nona menangis terus," jelas Bik inem terpatah.

Pria bernama Danish itu semakin mengerutkan dahinya berlipat-lipat. "Wanita? Siapa, Bi?"

Lalu, tiba-tiba pintu terbuka dari dalam.

Ceklek!

Hana berjalan di belakang Bu Ana yang sudah menyerahkan Baby Keira kepada Bik Inem. Hana sempat menatap sekilas pria dewasa didepanya kini, hingga pria tadi bersuara.

"Sudah tidur, Bu?" tanya Danish.

Bu Ana menjawab, "Sudah, Dan... Oh ya, ini Hana, dia yang sudah menyusi putrimu," Bu Ana juga beralih menatap Hana. "Han, ini namanya Danish, putra saya."

Dengan wajah datar itu, Danish berkata, "Seharsunya Anda tidak perlu repot seperti ini, saya ucapkan terimakasih!"

Hana tertunduk segan, "Sama-sama, saya senang dapat membantu Baby Keira."

"Hana... Yuk!"

Suara Dokter rifki membuat ketiga orang itu reflek menoleh. Hana tersenyum lembut, lalu menatap kembali Bu Ana begitu juga pelayan dan sang putra.

"Bu, saya pamit dulu ya! Mari, Bik Inem, mari...." pamitnya kepada Danish.

Begitu Hana sudah pergi dengan Dokter Rifki, Danish cukup bergeming kesekian detik, lalu menoleh sekilas kearah tempat menghilangnya wanita tadi.

Satu perawat datang. Wanita berjilbab hijau pastel itu berkata, "Bu... Silahkan, ruangan sudah siap!"

Bu Ana mengangguk, "Dan... Ayo! Kok malah ngelamun gitu," tegurnya. Namun tak lama itu Bu Ana segera mengikuti sang Perawat menuju lantai 8.

Danish membuyarkan lamunannya, entah mengapa wajah wanita tadi tak begitu asing lagi baginya. "Siapa wanita itu sebenarnya? Apa dia Istrinya Dokter Rifki? Tapi kenapa aku nggak tahu?"

Merasa pertanyaanya akan sia-sia, Danish langsung aja mengikuti Ibunya menuju lantai 8 agar sang putri segera mendapat penanganan.

*

*

"Hana, kamu kenal pada keluarga tadi? Atau kamu tahu siapa keluarga tadi?" Setelah menjelaskan semuanya secara rinci, barulah Dokter spesialis kandungan itu bertanya.

Jelas saja Hana menggeleng cepat. "Tidak, Dok! Kebetulan aja tadi pas tungguin Dokter datang, saya denger bayi tadi nangis kenceng."

Sambil mengeluarkan surat kontrak kerja, Dokter Rifki kembali bersuara. "Dia pemilik Rumah Sakit ini, Han... Dan pria tadi, namanya Danish, putra pertama Bu Ana."

Hana sampai menganga tak percaya. Ia tak menyangka, dapat membantu orang terpenting itu. "Ya Allah, semoga saja bayi tadi tumbuh baik, dan selalu menjadi kebanggaan orang taunya."

"Ya sudah, kamu tanda tangani saja dulu, Han... Ini pulpennya.

Hana segera menggoreskan tinta itu pada kontrak kerja yang sudah terdapat matrei diatasnya. Sejujurnya Hana sediri tidak mengiginkan imbalan apapun. Namun, pihak rumah sakit sendiri yang merasa keberatan jika Hana menolak.

Setelah selesai, barulah Hana bangkit berpamitan untuk keluar. Selama 1 tahun belakangan itu, ia dan Dokter Rifki sudah saling kenal satu sama lain, karena Dokter Rifki lah yang menangani proses persalinan bayinya secara normal.

Langkah kaki Hana menggantung setibanya ia keluar dari lift.

Didepan, dua orang beda gender itu berjalan masuk kedalam dengan wajah bahagianya. Melihat bagaimana keduanya tadi tersenyum, dengan sesekali wanita tadi mengusap perut, hal itu bagaikan lemparan busur panah yang melesat pas di dadanya. Hana merasa perih, sesak, bahkan tubuhnya sampai gemetar.

"Sayang, kita duduk aja yuk, aku nggak ingin kamu kecapean kalau berdiri lama-lama," ucap pria tadi yang tak lain Dzaki sendiri.

Pagi itu, dirinya mengajak Mona, wanita selingkuhannya dari Hana. Dan selama ini, Mona lah wanita yang sudah berhasil merusak rumah tangga sahabatnya sendiri.

Baru saja Dzaki akan berbalik bersama Mona, tiba-tiba saja....

Deg!

Dzaki dan Mona bak musuh yang sudah terkepung. Wajah keduanya berkeringat, jantungnya berpacu lebih cepat.

Mona-ia segera melepaskan tanganya dari genggaman tangan Dzaki. "Ha-Hana... Kamu, kamu juga ada disini, ngapain?" suara Mona bergetar.

1
Ma Em
Danish kalau kamu suka sama Hana jgn jual mahal sok tdk butuh padahal hatinya mau , awas saja nanti ditikung Lukman baru Danish gigit jari wanita kesukaan nya diambil adiknya .
Anonymous
BUNUH RISMA BUNUH,, BUNUH BUNUH BUNUH... TATAKAE TATAKAE SHINZOU SASAGEYO SHINZOU SASAGEYO SHINZOU SASAGEYO
Anonymous
resign Cok resign
Dew666
🍡🍡🍡🍡🍡
Arin
Kasih bukti tuh orang tua Rani.... biar melek matanya. Jangan asal nuduh orang lain sebagai pelakor. Sedangkan anaknya sendiri yang lari dari rumah, masih ingin bebas celap celup dengan laki-laki lain ckckck😡😡😡😡
Hr sasuwe
👍
Titien Prawiro
Ada ya lelaki seperti itu, istri baru melahirkan, jahitan belum kering sdh diceraikan. kasihan kamu Hana. jgn ditangisi lelaki bejad, gk pantas air matamu kamu keluarkan.
Arin
Dzaki mengada-ada..... ya jelas dia buat tuntutan itu semua. Karena waktu itu dia sudah sibuk dengan Mona.... Dia gak perduli lagi sama Hana.
Ig:@septi.sari21: iya kak, jang jelas semua itu nggak bener. dia memalsukan semuanya.
total 1 replies
Dew666
💎💎💎💎
Dew666
💎💎💎💎💎
Herlina Susanty
lanjut thor smgt 😍
Ig:@septi.sari21: kak herlina macihhh❤❤❤🙏
total 1 replies
Arin
Uuh..... kelakuan Mona-Dzaki.... Cepet banget udah hamil aja si Mona???
Ig:@septi.sari21: udah lama banget yang selingkuh🔥
total 1 replies
Dew666
🍒🍒🍒🍒🍒
Ig:@septi.sari21: hai kak deww jumpa lagi. makasih dukunganya🙏🙏❤❤
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!