NovelToon NovelToon
Emergency Love

Emergency Love

Status: tamat
Genre:Romansa / Cinta Seiring Waktu / Cintamanis / Tamat
Popularitas:523.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: dtyas

Dituduh Cinta karena kesalahan. Rama membuktikan kalau cintanya bukan kesalahan, murni rasa dari mata turun ke hati. Usaha mendapatkan cintanya seolah didukung oleh jagat raya meski berawal dari kesalahpahaman.

“Nggak masalah nikah karena digrebek, yang penting sah.”

“Siapa kamu, berani mencintai seorang Bimantara.”

“Di dunia ini, Rama jodohnya Gita.”

Kisah cinta Rama Purwangga dan Gita Putri Bimantara, jadilah saksi seberapa darurat cinta mereka.

Spin off Bosku Perawan Tua dan Diam-diam Cinta

=== Mohon dengan sangat agar tidak baca dengan melompat bab dan ikuti sampai akhir ya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Tragedi (2)

Bab 30

 Suara sirine itu akhirnya berhenti berganti dengan suara roda brankar yang didorong bergegas memasuki UGD. Petugas sudah mendapatkan informasi ada pasien kecelakaan dalam perjalanan.

“Bed 3,” seru salah satu perawat. “Dokter Rendi,” panggil perawat itu.

“Status?” tanya Rendi sambil memakai sarung tangan.

"Laki-laki, trauma tumpul kecelakaan motor, kesadaran menurun, tekanan darah 90 per 60!" seru seorang petugas ambulans lalu memindahkan pasien ke bed.

Rendi menghampiri dan menyibak tirai memindai tubuh pasien dan ….

“Rama,” ujarnya.

Perawat yang akan memeriksa pun mengenal pasien itu. “Iya, ini mas Rama.”

“Rama, lo denger gue!” Dengan cekatan Rendi memeriksa pupil mata Rama dengan senter kecil.

“Kenal dok?”

“Dia nakes di sini. Perawat OK,” sahut Rendi. “Hei, bantu cari ponselnya, hubungi dokter Asoka dan Edward,” teriak Rendi.

Perawat menggunting jaket Rama serta sisa pakaian lainnya. Dar4h merembes dari area luka mengotori sprei. Alat untuk memonitor jantung pun terpasang mengeluarkan suara bip … bip … bip.

“Rama, bisa dengar suara gue?”

"I…bu.” Suara serak itu nyaris tidak terdengar dalam masker oksigen.

“Rama, jangan tidur.”

“Gi-ta.”

"Dok, ada luka robek dalam di kaki kiri, lengan kanan dan pah4 luar kiri. Perdar4han aktif. Saya siapkan hecting set?"

"Tunggu. Kita nggak tahu ada patah tulang atau tidak. Ram, mana yang sakit? Bisa gerakkan kaki?”

Rama mengerjap kemudian kembali terpejam. Tangannya perlahan terangkat menunjuk kakinya. “B 1324 GN," ujarnya lirih.

Rendi saling tatap dengan perawat. “Mungkin bukan kecelakaan biasa,” ujar perawat itu.

“Ambil rontgen portable. Ponsel pasien mana, udah ketemu belum? Asoka dan Edward,” teriak Rendi

Perawat lainnya sudah memberikan pertolongan pertama bersama Rendi, dengan memasang infus dan memberi suntikan.

“Mana korban kecelakaan?” tanya Asoka sudah berada di UGD lalu memakai sarung tangan.

“Bed 3 dok.”

“Asoka,” teriak Rendi. “Ini Rama.”

“Hah?” Asoka mendekat dan terkejut pasien yang terbaring sedang ditangani bahkan bagian tubuh tertentu berlumur darah ternyata Rama.

“Tidak ada patah tulang,” ujar Rendi masih menatap layar rontgen portable. “Tapi ada pendarahan aktif di kaki, tertu-suk benda tumpul. Luka robek di lengan dan lecet akibat gesekan di bahu sampai lengan kanan.

Asoka menarik nafas sebelum fokus memeriksa area luka. “Hubungi OK, tindakan segera. Kita siapkan pasien.”

“Dok, ini ponselnya,” ujar petugas lain.

“Hubungi Beni, biar dia yang kabari ibu dan istrinya,” titah Asoka. Rendi mengangguk, menerima ponsel milik Rama.

Asoka bersama petugas yang lain mendorong bed keluar dari UGD menuju ruang tindakan.

***

“Halo, sayang,” sapa Arya saat Sarah menghubunginya.

“Mas, kok Rama belum datang ya. Udah siang begini.”

“Ck, kamu hubungi aku malah bicarakan Rama. Kenapa aku cemburu ya,” keluh Arya. Terdengar decakan di ujung sana.

“Jangan ngaco kamu. Tadi pagi Gita telepon Rama katanya udah mau pulang, sampai sekarang belum ada juga.”

“Ya udah aku yang hubungi. Hebat kali menantu ini, sampai belum pulang pun aku ikut campur. Mana berlaku untuk yang lain, bahkan Sadewa aja aku nggak ikut campur sejauh ini,” tutur Arya.

“Mau aku atau kamu yang hubungi?”

“Aku sayang, biar aku saja. Kamu jangan pusing sama hal begini, cukup fokus dengan kesehatan dan fokus dengan hubungan kita.”

“Inget umur, udah tua masih aja lebay.”

Arya terkekeh. Tidak lama komunikasi pun berakhir. Arya mencari kontak Rama, kebetulan sekali menantunya itu malah telpon.

“Iya, Ram. Di mana kamu?” tanya Arya tanpa basa basi.

“Maaf pak Arya, saya Beni. Rekan Rama.”

Arya mengernyitkan dahinya, ada masalah apa lagi sampai rekan Rama yang menghubunginya.

“Ada masalah?”

“Rama … kecelakaan. Saat ini sedang dioperasi. Dari tadi kami hubungi Gita, tapi tidak direspon.”

Demi apa Arya seperti tersambar petir. Cobaan apalagi yang harus dia rasakan, mendadak ia nge blank memikirkan nasib Rama dan Gita.

“Halo, pak ….” Suara di ujung sana kembali menyadarkan Arya.

“Iya, saya dengar. Ponsel tertinggal di rumah, Gita ada di kantor Mamahnya. Bagaimana dengan Ibunya Rama?”

“Sudah dijemput rekan kami yang lain.”

“Oke, saya segera ke sana.”

Arya mengusap wajahnya, lalu mengabarkan Sarah terkait kondisi Rama. Lalu menghubungi Gilang.

“Iya, pah.”

“di mana Gita?”

“Mending ponselnya cepat dikembalikan pah. Dari tadi ribet dan gelisah terus, malah mau pulang katanya kangen Rama. Pusing aku.”

“Kamu ajak Gita ke SM, jangan bicara apapun. Rama kecelakaan sekarang sedang tindakan operasi.”

“Serius Pah?”

“Hm. Kita bertemu di sana.”

***

“Rumah sakit sih?” tanya Gita heran saat mobil yang dikendarai Gilang berbelok memasuki area SM. “Siapa yang sakit? Mama baik-baik aja ‘kan?”

Gilang menoleh lalu kembali fokus melaju mencari parkiran.

“Kak, siapa yang sakit?”

“Sabar, nanti juga tahu. Ayo, turun!”

Kakak beradik itu berjalan bergegas di sepanjang koridor menuju ruang operasi. Gita pikir mamanya mungkin kolaps lagi. Tidak ingin terjadi sesuatu pada mamanya, ia sampai memeluk erat lengan Gilang.

Tiba di area ruang Ok, Gita melihat papanya berdiri berbincang dengan seseorang.

“Pah,” panggil Gita agar berlari menghampiri dan langsung memeluk pria itu. “Mama ….” Pandangannya tertuju pada kedua wanita duduk di kursi stainless. Ibu mertuanya juga perawat yang ia tahu masih kerabat dari suaminya.

“Siapa yang sakit? Abang dimana?” cecarnya.

“Sayang, kamu tenang dulu.”

“Bang Rama di mana?” tanyanya mulai histeris dan ibu mertuanya menangis. “Pah, abang kenapa?”

“Sayang, hey, tenang dulu.” Arya menangkup wajah Gita. “Rama sedang ditangani, dia … kecelakaan.”

“Nggak mungkin.” Gita menggeleng air matanya mulai mengalir. “Abang janji ajak aku kencan sore ini, dia nggak mungkin ingkar.”

“Gita ….”

1
Kezia ayumi
biasanya yang merasa tersisihkan tu suami , ini kok neng Gita sih 🤦🤦🤦
Kezia ayumi
itu siapa yang nyetop🤔🤔
Kezia ayumi
kesamping ya dr Oka bukan 17 kedepan 🐍🐍
Niken Dwi Handayani
Eh beneran dong. Malahan dosa kita kalau ngga dijawab salam nya🤭
Niken Dwi Handayani
Ngakak saya bacanya🤣🤣 meskipun sudah berulang kali dibaca nih cerita🤭
Kezia ayumi
kepala suku sewot merasa tersisihkan 🙊🙊
Kezia ayumi
itu baru pas
Kezia ayumi
langsung di buka masalah nya🙊🙊
Kezia ayumi
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Kezia ayumi
gilaak udah siap aja rombongan introgasi🙈🙈
Kezia ayumi
mo dibikin bunyi apa Ram 🤔🤔
Kezia ayumi
telat kamu dok
Kezia ayumi
minus dr OKA ya
Kezia ayumi
lambaikan tangan Git /Yawn//Yawn/
Kezia ayumi
/Joyful//Joyful//Joyful/
Kezia ayumi
pas banget bank Mada kalo ngomong /Shhh//Shhh/
Kezia ayumi
usil banget tu mulut🐍🐍
Kezia ayumi
capek ngeliatin ya ceng
Kezia ayumi
diiiiiih si Rama keliatan banget ngebet nya
Kezia ayumi
BUKAN
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!