Bagi orang lain, ia adalah definisi kemandirian yang sempurna. Namun, di balik punggungnya yang tegap, tersimpan luka yang tak pernah dipeluk siapa pun.
Ia tumbuh dalam rumah yang penuh, tetapi merasa seperti yatim piatu di tengah hiruk-pikuknya. Sejak kecil, ia dipaksa menelan rindu pada orang tua yang merantau, hanya untuk kembali dan mendapati dirinya sebagai orang asing yang selalu salah. Tanpa pembelaan, tanpa kasih sayang, ia belajar satu hal: satu-satunya orang yang bisa ia andalkan adalah dirinya sendiri.
Namun, sampai kapan seseorang bisa terus menjadi "langit" yang kokoh tanpa pernah runtuh? Ketika semua keinginan harus dipenuhi sendiri dan setiap air mata harus disembunyikan, ia mulai kehilangan jejak akan perasaannya sendiri.
Di rumah yang seharusnya menjadi pelabuhan, ia justru tenggelam dalam kesepian yang paling sunyi. Mampukah ia menemukan jalan pulang ke dirinya sendiri, ataukah ia akan terus menopang langit itu sampai hancur berkeping-keping?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18
Di Bali, Alana baru saja menyelesaikan sarapan singkatnya di teras hotel yang menghadap langsung ke hamparan sawah hijau Ubud. Begitu notifikasi pesan masuk, ia meletakkan cangkir kopinya dengan terburu-buru.
Mata Alana mengerjap berkali-kali. “Semangat untuk hari ini,” ia mengeja kalimat itu dalam hati. Kalimat sederhana, namun keluar dari mulut—atau jempol—seorang Pradipta, itu setara dengan sebuah deklarasi besar.
"Dia benar-benar mengirimnya..." Alana berbisik pada semilir angin Bali. Senyumnya mengembang, lebih lebar dari biasanya.
Alana menatap layar ponselnya cukup lama, jempolnya menari di atas keyboard dengan keraguan yang menyenangkan. Ia tidak ingin terdengar terlalu kegirangan, namun ia juga ingin Pradipta tahu bahwa pesan singkat itu telah mengubah seluruh suasana hatinya pagi ini.
Alana: Terima kasih, Pak. Semangat juga untuk pertemuan dengan klien hari ini. Saya yakin Bapak akan memenangkan kesepakatannya seperti biasa. Saya berangkat ke lokasi proyek sekarang.
Setelah menekan tombol kirim, Alana segera menyambar tas selempang dan topi lebarnya. Ia melangkah keluar hotel dengan energi yang berbeda. Jika biasanya ia merasa terbebani oleh bayang-bayang utang keluarga yang menghantuinya di Jakarta, hari ini ia merasa seolah-olah memiliki pelindung tak kasat mata yang menjaganya dari jauh.
Perjalanan menuju lokasi proyek di daerah Gianyar ditempuh dengan mobil sewaan. Sepanjang jalan, Alana menatap hamparan hijau Bali dengan mata yang lebih berbinar. Kata-kata Pradipta tentang "langit Bali yang terasa lebih luas" terus terngiang di kepalanya.
Begitu sampai di lokasi pembangunan resort mewah milik perusahaan, Alana langsung disambut oleh mandor dan tim arsitek lapangan.
"Pagi, Bu Alana. Tumben sekali hari ini kelihatan segar sekali, seperti tidak ada beban," canda Wayan, kepala pengawas proyek di sana.
Alana tertawa renyah, sebuah pemandangan langka bagi siapa pun yang mengenalnya di kantor pusat. "Udara Bali memang beda, Pak Wayan. Yuk, kita cek progres fondasi di sektor sayap barat."
Alana langsung terjun ke area proyek yang masih berupa struktur beton dan tanah. Ia memeriksa setiap detail dengan teliti—mulai dari kualitas material hingga kesesuaian jadwal kerja. Namun, di sela-sela kesibukannya memeriksa cetak biru bangunan, sesekali ia meraba ponsel di saku celananya, bertanya-tanya apakah Pradipta sudah membaca balasannya di tengah kemacetan Jakarta.
Ia tidak tahu, bahwa di saat ia sedang fokus bekerja demi masa depannya, di Jakarta, Pradipta baru saja menerima notifikasi balasan darinya tepat saat ia turun dari mobil di depan hotel bintang lima tempat pertemuannya.
Membaca pesan "Saya yakin Bapak akan memenangkan kesepakatannya", Pradipta menutup ponselnya dengan mantap. Senyum percaya diri tersungging di wajahnya. Hari ini, ia merasa sanggup menaklukkan klien paling sulit sekalipun
Pradipta baru saja melangkah di lobi marmer hotel bintang lima tersebut. Langkahnya terhenti mendadak. Ia menatap pesan balasan dari Alana sekali lagi. Keyakinan Alana padanya seolah menjadi suntikan adrenalin yang lebih kuat dari kafein pagi ini.
Tanpa mempedulikan jadwal rapat yang tinggal sepuluh menit lagi, Pradipta melakukan sesuatu yang membuat sekretarisnya, Rina, hampir menjatuhkan tablet di tangannya: ia menekan tombol panggil pada kontak Alana.
"Pak? Maaf, lima menit lagi kita harus masuk ke penthouse untuk bertemu investor," tegur Rina pelan, matanya membelalak heran. Ia tahu betul, Pradipta adalah penganut ketaatan waktu yang ekstrem. Menelepon di depan pintu ruang rapat adalah anomali besar.
Pradipta hanya mengangkat satu tangannya, memberi isyarat agar Rina diam dan menjaga jarak.
Di Uluwatu alana yang sedang menyesuaikan letak helm proyeknya tersentak saat ponsel di saku celananya bergetar hebat. Nama 'Pak Pradipta' muncul dengan ikon panggilan masuk. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Ia segera menjauh dari suara bising mesin pengaduk semen.
"Halo? Pak Pradipta? Ada masalah mendesak di kantor?" tanya Alana dengan nada cemas yang kental.
"Tidak ada masalah, Alana," suara berat Pradipta terdengar melalui earpiece, jauh lebih tenang namun memiliki kedalaman yang tidak biasa. "Saya hanya ingin mendengar suaramu sebelum saya masuk ke ruang rapat."
Alana tertegun di tengah debu proyek. "Bapak... menelepon hanya untuk itu?"
"Ya. Keyakinanmu bahwa saya akan menang... saya ingin membuktikannya. Tetaplah di lapangan dengan hati yang tenang, Alana. Jangan biarkan apa pun mengganggumu hari ini. Mengerti?"
"Mengerti, Pak," jawab Alana pelan, bibirnya tak kuasa menahan senyum. "Semoga sukses rapatnya."
"Terima kasih. Sampai nanti."
Pradipta memutus sambungan telepon dengan gerakan tegas. Ia berbalik menemui Rina yang masih berdiri mematung dengan mulut sedikit terbuka. Pradipta kembali ke mode CEO-nya yang dingin, namun ada gairah kemenangan yang sudah terpancar bahkan sebelum negosiasi dimulai.
"Ayo masuk, Rina. Kita selesaikan ini dalam satu jam," ujar Pradipta sambil melangkah lebar menuju lift.
Rina hanya bisa mengekor di belakang dengan pikiran yang berkecamuk. Ia sudah bekerja bertahun-tahun untuk Pradipta, dan baru kali ini ia melihat bosnya tampak begitu... hidup.