Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.
Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.
Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.
Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.
Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16. CEMBURU?
Langit sore di atas kediaman keluarga Duke Ravens perlahan berubah warna menjadi jingga lembut. Cahaya matahari yang memudar menyelinap melalui jendela-jendela tinggi kastil, memantulkan kilau emas di lantai marmer yang luas.
Hari itu terasa panjang bagi Elara.
Bukan karena pelajaran akademi.
Bukan juga karena hukuman lari yang diberikan oleh Profesor Garrick.
Justru sebaliknya ... hari itu terasa begitu penuh.
Elara masih bisa merasakan hembusan angin di wajahnya saat berlari di lapangan akademi, percakapan santainya dengan Edgar Maverick, dan senyum lembut Evangeline yang kini terbayang jelas di ingatannya.
Hari itu untuk pertama kalinya sejak lama, Elara merasa dunia akademi tidak sepenuhnya menolaknya.
Elara bahkan pulang dengan langkah ringan.
Begitu memasuki gerbang kediaman Duke Arram, para pelayan menyambutnya dengan sopan.
"Nona Elara, selamat datang kembali," sambut para pelayan.
Elara mengangguk kecil. "Terima kasih."
Gadis itu menaiki tangga besar menuju lantai atas dengan langkah santai, satu tangan memegang tas buku yang kini sudah kembali rapi berkat bantuan Evangeline.
Saat sampai di lorong kamarnya, ia menghela napas lega.
Akhirnya.
Istirahat.
Elara membuka pintu kamar tanpa banyak berpikir.
Namun langkahnya terhenti seketika.
Seseorang duduk santai di kursi dekat jendela kamarnya. Kaki panjang disilangkan dengan santai, tubuh bersandar, dan ekspresi wajahnya begitu tenang seolah ia berada di ruang tamunya sendiri.
Rambut pirang jatuh rapi di dahi. Tatapan mata biru bak permata menoleh perlahan.
Aaron.
Elara langsung melipat kedua tangannya di dada dan berkata dengan nada sebal, "Bukankah tidak sopan masuk ke kamar gadis seperti ini?"
Aaron tersenyum santai. Senyum yang sangat ia kenal sejak kecil.
"Kemarilah," kata Aaron ringan. "Aku ingin bicara denganmu soal akademi."
Elara mendengus pelan. Ia berjalan masuk, menutup pintu di belakangnya, lalu melempar tas bukunya ke meja dengan sembarang.
"Kalau kau ingin bicara, kau bisa melakukannya di ruang tamu," kata Elara.
Aaron tidak menjawab. Ia hanya menatap Elara. Tatapan yang terlalu fokus. Terlalu dalam. Seolah ia sedang memastikan sesuatu.
Elara yang awalnya masih sebal mulai merasa aneh.
"Apa?" tanya Elara akhirnya.
Aaron tetap menatapnya.
Beberapa detik.
Terasa lebih lama dari seharusnya.
Elara akhirnya berjalan mendekat dan duduk di kursi di depannya.
"Jadi? Apa yang mau kau katakan?" tanya Elara lagi.
Aaron masih menatapnya. Seolah ia tidak ingin melepas pandangan. Mata birunya bergerak perlahan dari wajah Elara, rambutnya, lalu kembali ke matanya.
Elara mulai merasa tidak nyaman. "Aaron," tegurnya.
Akhirnya Aaron berbicara. "Apa hubunganmu dengan Edgar Maverick?"
Pertanyaan itu membuat Elara terdiam.
Beberapa detik.
Elara menatap Aaron dengan mata menyipit. "Bagaimana kau tahu aku kenal dengannya?"
Aaron menjawab dengan santai. "Aku melihatmu. Kau dan dia. Di lapangan tadi. Kalian tampak sangat dekat."
Elara menaikkan alisnya.
Aaron melanjutkan dengan nada datar. "Edgar tidak pernah sedekat itu dengan orang lain kecuali dengan anak Student Council.Jadi aku penasaran. Apa hubungan kalian?"
Elara menatap Aaron beberapa detik.
Lalu ...
Gadis itu tertawa.
Tawa yang cukup keras.
Aaron berkedip, bingung, "Kenapa kau tertawa?"
Elara menatap pria itu dengan wajah mengejek. "Kau cemburu, ya."
Ruangan menjadi hening.
Aaron menatapnya.
Lama.
Lalu Aaron menghela napas pelan. Ia melipat tangannya di dada. Dan menjawab tanpa ragu. "Kalau memang aku cemburu lalu kenapa?"
Elara langsung berhenti tertawa. Seketika. Ia tidak menyangka jawaban itu. Ia kira Aaron akan menyangkal. Atau menghindar.
Tapi ...
Tidak.
Aaron justru mengakuinya. Dengan santai. Dengan sangat serius.
Elara berkedip beberapa kali. Wajahnya mulai terasa panas.
Aaron bersandar santai di kursinya. Senyum tipis muncul di bibirnya lalu berkata, "Kau pikir aku hanya menganggapmu teman kecilku?"
Elara hanya diam.
Nada suara Aaron berubah sedikit lebih rendah. Lebih pelan. "Kau terlalu lugu sampai tidak menyadari bagaimana kalau aku melihatmu bukan hanya sekadar teman dekat."
Wajah Elara langsung memerah.
Benar-benar merah.
Aaron melihat perubahan itu dengan jelas. Senyumnya semakin lebar.
Ia bangkit dari kursinya. Perlahan. Langkahnya tenang saat berjalan mendekati Elara.
Elara yang duduk langsung menegang. "A-Aaron?"
Namun Aaron tidak berhenti. Ia berdiri tepat di depan Elara. Lalu mencondongkan tubuhnya.
Kedua tangan Aaron bertumpu pada sandaran kursi di belakang Elara. Sehingga Elara seolah terkurung di antara lengannya.
Jarak mereka kini sangat dekat.
Terlalu dekat.
Elara bisa melihat jelas warna mata biru pria itu. Bisa merasakan napas Aaron karena saking dekatnya jarak mereka.
"Aaron-"
Aaron berbicara sebelum Elara sempat melanjutkan. "Elara Ravens. Ingat ... kau yang melamarku saat kita kecil."
Elara langsung membeku.
Aaron melanjutkan dengan santai. "Kau mengatakan kalau suatu hari nanti kau akan menjadi istriku. Menikah denganku."
Elara langsung panik. "Itu hanya-"
Aaron memotongnya dengan senyum malas. "Jadi, kau sudah terikat denganku sejak hari itu."
Elara menggeleng cepat. "Itu hanya ucapan anak kecil! Tidak bisa kau anggap serius!"
Aaron mengangkat satu alisnya. "Ah.Ah." Ia menggeleng kecil dengan ekspresi pura-pura menyesal. "Maaf, Lala-ku Sayang.”
Elara membeku mendengar panggilan itu.
Aaron menatap Elara lurus. "Tapi kau milikku sejak hari itu. Jadi jangan terlalu dekat dengan pria lain."
Nada suara Aaron tetap santai. Namun ada sesuatu yang tegas di dalamnya.
"Karena aku pria yang sangat pencemburu," tambah Aaron. Ia sedikit mendekat lagi. "Hm?"
Elara benar-benar tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Wajahnya sudah seperti tomat.
Aaron tersenyum puas melihat reaksi gadis di depannya.
"Dan aku tahu ... kalau kau juga melihatku lebih dari sekadar teman," kata Aaron dengan senyum paling indah yang pernah Elara lihat.
Elara langsung membantah. "Aku tidak-"
Namun kata-kata Elara terhenti ketika Aaron tiba-tiba menyentuh pipi Elara. Dengan sangat lembut.
Aaron mencondongkan wajahnya sedikit.
Lalu ...
Mencium pipi Elara.
Singkat.
Hangat.
Namun cukup untuk membuat dunia Elara berhenti beberapa detik.
Aaron mundur. Ia menatap Elara yang masih membeku. Senyumnya penuh kemenangan.
"Kau milikku. Dulu. Sekarang. Dan selamanya," klaim Aaron. Ia berdiri tegak kembali. "Jadi jangan nakal."
Lalu Aaron berbalik menuju pintu.
Elara masih diam beberapa detik. Memroses semuanya.
Lalu ...
Wajah Elara berubah semakin merah. Ia meraih bantal sofa di sampingnya. Dan melemparkannya ke arah pintu. Bantal itu melesat cepat.
BRAK!
Tepat menghantam pintu ... di samping kepala Aaron.
Elara berdiri dan berteriak. "KUADUKAN PAPA KAU NANTI!"
Aaron berhenti. Ia menoleh perlahan. Senyumnya semakin lebar dan berkata, "Boleh. Sekalian membicarakan pertunangan kita."
Elara membeku. "AARON!"
Aaron tertawa. Tawa yang jarang sekali terdengar. Tawa yang benar-benar tulus.
Pria itu membuka pintu kamar.
Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi. Matanya masih penuh kehangatan.
"Selamat istirahat, Lala," ucap Aaron.
Lalu pria itu pergi.
Pintu tertutup perlahan.
Dan Elara ...masih berdiri di tempatnya. Wajahnya masih merah. Jantungnya masih berdetak terlalu cepat. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Apa barusan itu, kenapa tiba-tiba dia seperti itu, sih?" gumamnya malu.
Elara menjatuhkan dirinya ke sofa. Mengubur wajahnya ke bantal.
"Dasar menyebalkan," ucap Elara lagi.
Namun entah kenapa ... senyum kecil muncul di bibir gadis itu.
Sedangkan di lorong luar kamar. Aaron berjalan santai. Namun senyumnya belum hilang. Ia menyentuh pelan bibirnya sendiri dan mengingat pipi lembut Elara yang ia cium.
Dan bergumam pelan "Edgar Maverick, aku harus mengawasinya dengan benar setelah ini. Dia tidak boleh mengambil gadis-ku begitu saja."
Namun beberapa detik kemudian ia menghela napas. Senyumnya kembali muncul.
"Elara Ravens. Benar-benar menggemaskan," ucapnya Aaron.
Di dalam kamar.
Elara akhirnya duduk tegak kembali. Ia menatap jendela. Langit sudah berubah gelap.
Hari itu terasa begitu panjang.
Ia bertemu Edgar.
Ia mendapatkan teman baru.
Dan ... Aaron.
Elara menutup wajahnya lagi, salah tingkah. "Kenapa dia tiba-tiba berkata seperti itu!"
Namun jauh di dalam hatinya Elara tahu.
Ucapan Aaron tadi tidak sepenuhnya membuatnya marah.
Justru membuatnya merasakan seperti ada kupu-kupu mengepak dalam di perutnya. Dan itu membuatnya semakin bingung.
Malam itu.
Elara Ravens tertidur dengan pipi yang masih sedikit merah.
Tanpa gadis tersebut sadari itu bukan hanya awal perubahan hidupnya di akademi.
Namun juga awal sesuatu yang lain.
Sesuatu yang telah dimulai sejak lama.
Sejak dua anak kecil membuat janji yang tampak seperti lelucon.
Janji yang ternyata tidak pernah dilupakan oleh salah satu dari mereka.
𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐧𝐲𝐚𝐧𝐲𝐢 𝐥𝐚𝐠𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐩 🤪🤪
menjadi dewasa,dengan beban dan kewajiban yg mengikuti.
bahkan kita sudah lupa kapan terakhir kita bisa tertawa lepas 🥹
panik donk😜🤣🤣
hyper nya 🤣🤣😜
ya anda coba aja rasakan😜