NovelToon NovelToon
Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: AkeilanaTZ

Hari pernikahan adalah momen paling membahagiakan bagi seorang wanita.
Setidaknya, itulah yang selalu kupercaya.
Aku menikah dengan pria yang kupikir telah kupahami.
Ia baik, bertanggung jawab, dan tidak pernah menyakitiku.
Namun sejak malam pertama, ada jarak yang tak mampu kujelaskan.
Kami berbagi rumah, berbagi meja makan, bahkan berbagi ranjang—
tetapi tidak pernah benar-benar berbagi kedekatan.
Ia tidak pernah bersikap kasar.
Ia hanya. terlalu hati-hati.
Terlalu jauh.
Dalam diam, aku mulai bertanya:
apakah aku istrinya,
atau hanya teman hidup yang kebetulan ia nikahi?
Dan ketika pernikahan ini hampir kehilangan maknanya,
ia harus memutuskan—
tetap berjalan setengah hati,
atau belajar mencinta dengan utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AkeilanaTZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama yang tidak sempat terucap

Aku ingin bertanya lebih jauh, tapi takut terdengar mencurigakan.

Takut terdengar seperti istri posesif yang belum genap dua minggu menikah.

“Ada apa memangnya?” tanyanya balik.

“Tidak ada.”

Ada. Banyak sekali.

Tapi aku tidak tahu bagaimana menyusunnya menjadi pertanyaan yang masuk akal.

Sebelum menutup telepon, ia berkata pelan, “Mala… jangan berpikir yang aneh-aneh.”

Kalimat itu justru membuatku berpikir lebih aneh.

Hari berikutnya, aku tidak bisa berhenti memikirkan pesan itu.

“Jangan terlalu dipaksa kalau belum siap.”

Belum siap untuk apa?

Malam pertama kami terlintas di kepalaku.

Ia tidak menyentuhku.

Ia bahkan tidak mencoba.

Ia lebih terlihat… Seperti menahan diri.

Dan sekarang ada pesan seperti itu dari seorang pria.

Raka.

Aku mencoba mengingat. Sepertinya Ashar pernah menyebut nama itu sekali, sebelum kami menikah.

Jika aku tidak salah ingat katanya teman kuliah.

Aku duduk di ruang tamu sambil memeluk lutut.

Apakah mungkin…

Tidak.

Aku bahkan tidak berani menyelesaikan pikiran itu.

Tapi semakin aku mencoba menghindar, semakin jelas bayangan itu muncul.

Bagaimana jika Ashar sebenarnya… tidak menyukai perempuan?

Bagaimana jika ia menikahiku karena tekanan keluarga?

Bagaimana jika aku hanya topeng?

Dadaku terasa sesak.

Air mata menggenang tanpa permisi.

Malam ketujuh, Ashar mengirim foto.

Ia dan seorang pria berdiri berdampingan di depan sebuah restoran.

Pria itu tinggi, berkulit sawo matang, dengan senyum lebar dan tangan yang tampak akrab merangkul bahu Ashar.

Caption-nya hanya:

“Ketemu teman lama.”

Aku menatap foto itu cukup lama.

Cara pria itu berdiri begitu dekat.

Cara Ashar terlihat lebih santai daripada ketika bersamaku.

Senyumnya di foto itu berbeda.

Lebih lepas.

Lebih… hidup.

Jantungku terasa seperti diremas perlahan.

Apakah selama ini ia hanya bersikap formal denganku?

Apakah sisi ceria itu bukan untukku?

Tanpa sadar, aku memperbesar foto tersebut.

Pria itu—mungkin Raka.

Tangannya masih berada di bahu Ashar.

Terlalu nyaman.

Terlalu akrab.

Tanganku gemetar ketika mengetik balasan.

“Kalian terlihat dekat.”

Balasan datang cukup cepat.

“Kami memang dekat.”

Hanya itu.

Tidak ada penjelasan tambahan.

Aku menutup ponsel dan memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku merasa benar-benar takut.

Bukan takut kehilangan.

Tapi takut mengetahui kebenaran.

Aku bukan takut tidak disentuh.

Aku takut tidak diinginkan.

Dua hari kemudian, Ashar pulang lebih cepat dari jadwal.

Ia berdiri di depan pintu dengan koper di tangan dan wajah lelah.

Aku seharusnya bahagia.

Dan memang aku bahagia.

Aku memeluknya.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku yang memulai pelukan itu.

Tubuhnya kaku sesaat.

Lalu perlahan ia membalas.

Tidak erat.

Tidak dalam.

Sekadar cukup.

Aku bisa merasakan jarak itu.

“Mala,” panggilnya pelan.

“Hm?”

“Kita perlu bicara.”

Kalimat itu membuat perutku seperti diisi batu.

Tentang apa?

Tentang kami?

Tentang Raka?

Tentang… sesuatu yang belum siap kudengar?

Ia masuk ke dalam rumah, menaruh koper, lalu duduk di sofa.

Aku duduk di depannya.

Tangannya saling bertaut, seperti seseorang yang sedang mengumpulkan keberanian.

“Aku tahu kamu pasti berpikir macam-macam.”

Aku tidak menjawab.

“Aku… memang belum siap.”

Kata-kata itu seperti gema dari pesan Raka.

Belum siap.

Untuk apa, Ashar?

Aku menunggu kelanjutannya.

Namun ia hanya terdiam.

Tatapannya turun ke lantai.

Untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu di wajahnya yang belum pernah kulihat sebelumnya—

Keraguan.

Bukan pada diriku.

Tapi pada dirinya sendiri.

Dan saat itulah sebuah pikiran yang selama ini kutahan akhirnya muncul dengan jelas di benakku.

Apakah suamiku… bahkan belum yakin dengan dirinya sendiri?

Bab itu berakhir bukan dengan jawaban.

Tapi dengan satu kesadaran pahit—

Bahwa mungkin masalahnya bukan aku yang kurang menarik.

Melainkan lelaki yang menikahiku masih belum sepenuhnya mengenal siapa dirinya.

Dan aku tidak tahu…

apakah aku siap menjadi bagian dari pencarian itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!