NovelToon NovelToon
Sembilan Gulungan Naga Legendaris

Sembilan Gulungan Naga Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Tiga ribu tahun yang lalu, sembilan kultivator legendaris menciptakan teknik kultivasi tertinggi: Orkestrasi Sembilan Naga. Teknik ini konon bisa membawa pengguna melampaui batas Ranah Pendakian Abadi yang tidak pernah bisa dicapai oleh kultivator manapun, karena "Tribulasi Langit" selalu menghancurkan mereka yang berani mencoba.

Namun menyadari bahayanya, para pendiri memecah teknik ini menjadi sembilan gulungan dan menyebarkannya kepada sembilan klan yang mereka dirikan. Setiap gulungan merepresentasikan satu aspek naga: Petir, Api, Air, Tanah, Angin, Cahaya, Bayangan, Ruang, dan Kekacauan.

Selama ribuan tahun, sembilan klan ini menjadi kekuatan dominan di dunia kultivasi. Namun mereka tidak pernah berani menyatukan gulungan kembali, karena legenda mengatakan: "Siapa yang menyatukan Sembilan Naga, akan menjadi Penguasa Langit atau menghancurkan dunia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 : Rahasia yang Terlalu Dekat

Gedung Kuil Cahaya Suci mudah dikenali, bangunan tiga lantai dengan dinding putih bersih dan atap berwarna emas. Emblem matahari keemasan terpampang jelas di pintu utama, memancarkan wibawa yang tenang namun kuat.

“Kita sampai,” ujar Zhou Ming. Ia lalu menoleh ke Lin Feng. “Lin Feng… apakah kau mau masuk bersama kami? Setidaknya untuk makan dan beristirahat sebentar?”

Lin Feng ragu. Masuk ke gedung milik sekte besar berarti semakin banyak mata yang akan memerhatikannya, dan semakin banyak pertanyaan yang mungkin tak ingin ia jawab.

Namun di sisi lain, perutnya lapar, tubuhnya lelah, dan ia tidak memiliki tujuan lain untuk saat ini.

“Hanya sebentar,” putusnya akhirnya.

Yue Lian tersenyum lebar. “Bagus! Ayo masuk.”

Bagian dalam gedung Kuil Cahaya Suci bersih dan terang.

Lantai marmer putih berkilau di bawah cahaya lentera spiritual. Dindingnya dihiasi lukisan pemandangan alam. Di tengah aula utama berdiri sebuah patung besar, seorang biksu duduk bersila dalam posisi meditasi, kedua tangannya membentuk mudra, sementara aura cahaya lembut menyelimuti seluruh tubuhnya.

“Itu Pendiri Kuil,” bisik Yue Chen ketika melihat Lin Feng menatap patung tersebut. “Master Guang Dao. Konon beliau mencapai Tingkat kultivasi yang sangat tinggi sebelum menghilang tiga ribu tahun lalu.”

Tiba tiba seorang perempuan muda berjubah putih mendekat dengan senyum indah. “Selamat datang di Kuil Cahaya Suci cabang Kota Qingshui. Ada yang bisa saya bantu?”

“Kami dari cabang pusat,” ujar Zhou Ming sambil memperlihatkan token miliknya. “Baru kembali dari misi. Kami perlu melapor pada Tetua yang bertugas.”

Ekspresi perempuan itu langsung berubah lebih serius. “Baik. Mohon tunggu sebentar, saya akan memanggil Tetua Liu.”

Ia segera menghilang ke koridor bagian dalam gedung.

“Tetua Liu?” tanya Lin Feng pelan pada Yue Lian.

“Pemimpin cabang ini,” jawab Yue Lian. “Ranah Formasi Inti Lapisan Keenam. Sangat ketat dan adil. Semua operasi kuil di wilayah ini berada di bawah pengawasannya.”

Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya keluar dari koridor. Rambutnya telah beruban, janggutnya rapi, dan auranya kuat serta stabil, jelas seorang kultivator berpengalaman yang sudah lama berada di Ranah Formasi Inti.

“Zhou Ming, Yue Lian,” sapa Tetua Liu dengan suara berat. “Kalian datang kesini. Apa ada masalah?”

“Ada, Tetua.” Zhou Ming membungkuk hormat. “Kami sedang melakukan misi, dan tiba tiba diserang oleh kultivator Klan Langit Biru di Hutan Kabut Abadi. Mereka menggunakan formasi pertempuran dan...”

“Tunggu,” potong Tetua Liu sambil mengangkat tangannya. “Ini bukan tempat untuk laporan seperti itu. Ikuti aku ke ruang pribadi.”

Tatapannya kemudian beralih ke arah Lin Feng. “Dia siapa?”

“Dia teman kami sekaligus penyelamat kami Tetua,” jawab Yue Lian cepat. “Tanpa dia, kami semua mungkin sudah mati oleh Klan Langit Biru.”

Tetua Liu menatap Lin Feng lebih saksama. Indra spiritualnya menyapu tubuh Lin Feng dengan hati-hati.

Lin Feng refleks mengaktifkan Tirai Kabut Kekacauan, menyembunyikan aliran qi-nya. Namun ia tahu, itu tidak sepenuhnya efektif, indra spiritual Tetua Liu terlalu kuat.

“Ranah Pembentukan Fondasi,” gumam Tetua Liu. “Namun… qi-mu aneh. Tidak bisa kubaca dengan jelas.” Ia menatap Lin Feng tajam. “Siapa namamu anak muda?”

“Lin Feng,” jawabnya tenang, meski jantungnya berdetak lebih cepat. “Seorang kultivator bebas.”

“Kultivator bebas dengan qi yang tidak biasa, dan mampu menyelamatkan lima murid Kuil Cahaya Suci?” Tetua Liu mengernyit. “Kau tidak tampak seperti orang biasa.”

“Aku juga tidak pernah bilang aku biasa,” jawab Lin Feng hati-hati.

Lalu Tetua Liu tertawa, tawa yang dalam dan tulus. Ia menepuk bahu Lin Feng cukup keras hingga hampir membuatnya kehilangan keseimbangan.

“Berani,” katanya puas. “Aku suka anak muda yang pemberani. Baiklah, Lin Feng si kultivator bebas. Kau juga ikut ke ruang pribadi. Siapa pun yang menyelamatkan murid Kuil Cahaya Suci adalah tamu terhormat Kuil.”

Ia berbalik. “Dan seseorang siapkan makanan dan minuman. Mereka semua kayaknya terlihat kelaparan.”

Rombongan pun mengikuti, Lin Feng berada di belakang dengan perasaan campur aduk. Reaksi Tetua Liu jauh dari yang ia bayangkan.

Mungkin, pikirnya, tidak semua orang di dunia kultivasi adalah musuh.

Ruang pribadi Tetua Liu sederhana namun nyaman. Sebuah meja kayu besar berada di tengah ruangan, dikelilingi kursi empuk. Rak buku memenuhi dinding, dan sebuah jendela besar menghadap langsung ke Danau Giok.

Mereka duduk sesuai posisinya, Tetua Liu di kursi utama, Zhou Ming dan Yue Lian di sisi kanan dan kirinya, sementara Lin Feng dan yang lain di kursi tambahan.

Tak lama kemudian, pelayan datang membawa makanan: roti hangat, daging panggang, buah segar, serta teh panas. Lin Feng berusaha menjaga sikap, namun perutnya yang berbunyi nyaring mengkhianatinya.

Tetua Liu tersenyum tipis. “Makan dulu. Untuk laporan bisa kita bahasa setelah kalian kenyang..”

Mereka makan dalam keheningan yang nyaman. Lin Feng hampir lupa kapan terakhir kali ia menikmati makanan senikmat ini, daging empuk berbumbu sempurna, roti lembut yang masih hangat, dan teh yang menenangkan tubuh serta pikirannya.

Setelah selesai, Tetua Liu meletakkan cangkir tehnya dan menatap Zhou Ming dengan serius.

“Sekarang, ceritakan semuanya.”

Zhou Ming pun memaparkan misi mereka, pencarian Teratai Cahaya Bulan, kabut yang mendadak menebal, kelompok yang terpisah, hingga serangan lima kultivator Klan Langit Biru dengan formasi pertempuran.

Wajah Tetua Liu semakin menggelap.

“Klan Langit Biru…” gumamnya. “Mereka akhirnya semakin berani.”

“Apakah ini bukan yang pertama Tetua?” tanya Yue Lian dengan terkejut.

“Bukan,” jawab Tetua Liu. “Dua minggu lalu, anggota patroli kami diserang di wilayah perbatasan. Tiga terluka, satu hilang. Minggu lalu, tim pengumpul ramuan juga diserang, beruntung mereka berhasil kabur.”

“Kenapa mereka menyerang kita?” tanya Zhou Ming.

“Bukan karena konflik langsung,” jawab Tetua Liu. “Melainkan karena sesuatu yang mereka cari. Sesuatu yang mereka yakini berada di wilayah ini.”

“Gulungan Naga,” ujar Lin Feng tiba-tiba.

Semua mata langsung tertuju padanya.

“Kau tahu?” tanya Tetua Liu tajam.

“Yue Lian menyebutkannya di hutan,” jawab Lin Feng tenang. “Katanya ada rumor Klan Langit Biru sedang mencari Gulungan Naga yang hilang.”

“Bukan sekadar rumor,” kata Tetua Liu serius. “Kuil menerima banyak laporan, mereka tengah mencari Gulungan Naga Kekacauan, gulungan terakhir yang hilang seribu tahun lalu. Dan mereka percaya gulungan itu berada di wilayah ini.”

“Kenapa mereka yakin?” tanya Lin Feng.

“Karena adanya fluktuasi qi tidak normal,” jawab Tetua Liu. “Qi dengan sembilan elemen yang selaras. Ciri khas Gulungan Naga Kekacauan.”

Lin Feng menjaga wajahnya tetap datar, meski jantungnya berdetak keras. Mereka tahu. Atau setidaknya hampir tahu.

“Namun itu masih dugaan,” lanjut Tetua Liu. “Belum ada bukti pasti. Bisa saja berasal dari fenomena alam atau artefak lain.”

“Apa langkah kuil selanjutnya?” tanya Yue Lian.

“Melapor ke pusat dan meningkatkan patroli,” jawab Tetua Liu. “Jika Klan Langit Biru terus bertindak, ini akan menjadi masalah diplomatik besar.”

Ia menatap mereka dengan lebih lembut. “Kalian boleh beristirahat di sini selama diperlukan. Dan Lin Feng kau juga. Sebagai ucapan terima kasih, kau dipersilakan menginap di gedung ini selama berada di Kota Qingshui.”

“Terima kasih Tetua,” kata Lin Feng sambil membungkuk. “Namun aku tidak ingin merepotkan.”

“Tidak merepotkan,” potong Tetua Liu tegas. “Lagipula aku penasaran padamu.”

Lin Feng tidak tahu apakah itu pujian atau peringatan.

“Kalian semua tampak lelah,” lanjut Tetua Liu sambil berdiri. “Pergilah beristirahat. Kita lanjutkan pembicaraan besok.”

Mereka pun akhirnya pamit.

Di koridor, Yue Lian tersenyum pada Lin Feng. “Lihat? Tidak seburuk itu. Kau bahkan dapat tempat tinggal gratis.”

“Ya,” jawab Lin Feng pelan. “Tidak terlalu buruk.”

Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu situasi ini semakin berbahaya. Tetua Liu bukan orang bodoh. Cepat atau lambat ia akan tau semuanya.

Dan saat itu terjadi… Lin Feng harus sudah pergi jauh dari kota ini.

Namun untuk sekarang, ia memiliki tempat tidur yang layak dan makanan yang cukup.

Dan mungkin, kesempatan untuk menggali kebenaran tentang pembunuh keluarganya.

Jika Klan Langit Biru memang berada di balik semua itu… Maka Lin Feng akan memastikan mereka membayar semuanya, tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan.

1
Green Boy
lanjut lagi thor
Green Boy
semangat thor💪💪💪
Green Boy
semangat thor💪💪💪💪
🌸 Maya Debar 🌸
Tak tunggu selalu upnya Thor 💗💗💗💕💕💞💞💝💖💖💖💋💋💖💝💝💞💞💕💗💗💗🤩🤩💗💕💞💝💝💖💋💋💋💖💋💋💋💋💋💋💖💖💖💝💝💞💕💗🤩
🌸 Maya Debar 🌸
Tak tunggu selalu upnya Thor 💗💗💗💕💕💞💞💝💖💖💖💋💋💖💝💝💞💞💕💗💗💗🤩🤩💗💕💞💝💝💖💋💋💋💖💋💋💋💋💋💋💖💖💖💝💝💞💕💗🤩
Arinto Ario Triharyanto
Yoi, MC terlalu naif, kyknya kalahan ini mah kalo tarung, apalagi sama cewek, Cemen 😄
rozali rozali
lanjut thor.
💪💪💪💪
Muh Nasrun
Thor, kenapa harus mencuri pil hanya utk meningkatkan kultivasinya, ini ga benar, kalaupun bisa tambah kuat tapi dgn cara yg tdk benar.
Arinto Ario Triharyanto
kebanyakan mikir lu Feng 🤣
Celestial Quill: masih belum pede dengan kekuatannya.😄
total 1 replies
Muh Nasrun
Tingkatan ke 3 tetapi bisa bertarung dgn level 8, apa2an ini, terlalu sekali, lebih baij tdk perlu ada level thor, tdk berguna level,kalau di cerita silat yg lainnya itu spt semut ketemu gajah, terlalu jauh rananya.
Celestial Quill: saya luruskan sedikit ya, Zhao Ming yang Lapisan Ketiga kenapa bisa bertarung dengan lapisan keenam atau Kedelapan bukan karena Lapisannya, melainkan karena teknik tempur nya kuat, tetapi ia tidak bisa bertarung dengan lama melawan lapisan yang lebih tinggi, karen Qi yang di milikinya terbatas berbeda dengan Lapisan yang lebih tinggi.🙏
total 1 replies
Arinto Ario Triharyanto
bagus, lanjutkan
Celestial Quill: Siap🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!