NovelToon NovelToon
SPION KIRI

SPION KIRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Mata Batin
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: nhatvyo24

Di antara aroma aspal basah setelah hujan dan asap sate maranggi di pinggiran jalur Cisaat, Adella Veranza Tan hanya ingin menjalani hidup normal sebagai mahasiswi hobi motoran.

Bersama Sasha Eliana Wijaya, sahabatnya yang terobsesi pada kuliner hits Instagram, Della membelah kabut Sukabumi dengan Scoopy krem kesayangannya.

​Namun, bagi Della, spion motor bukan sekadar alat pantau lalu lintas. Sejak kunjungan ke sebuah kedai kopi "tersembunyi" di lereng gunung, spion kirinya tak lagi menampilkan aspal yang kosong.

​Ada sosok yang betah duduk di jok belakang, tepat di belakang Sasha yang tak menyadari apa pun.

​Gerian Liemantoro, mekanik andalan sekaligus sahabat masa kecilnya, mulai curiga saat mesin motor Della sering kali "berat" tanpa alasan teknis.

Ada sesuatu yang ikut berboncengan.

"Loe ngerasa motor gue berat nggak, Sha?"

​"Enggak ah, Del. Perasaan loe aja kali, atau sate tadi emang bikin kenyang bego?"

​Della melirik spion kiri, Sosok itu kini balas menatapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: Rute Goalpara

​Sabtu pagi di Sukabumi biasanya diawali dengan aroma bubur ayam dan udara dingin yang segar. 

Namun bagi Della, udara pagi ini terasa lebih berat, seolah oksigen di sekitarnya bercampur dengan debu dari masa lalu.

​Della sengaja tidak menghubungi Geri. Ia tidak ingin melihat telapak tangan sahabatnya itu melepuh lagi atau melihat Geri harus mempertaruhkan bengkel keluarganya. 

Dengan jaket windbreaker biru gelap dan peta tua yang diselipkan di balik dashboard, Della menghidupkan mesin Scoopy-nya.

​Ceklek…

​Garis hitam di pergelangan tangannya berdenyut tepat saat mesin menyala. Bungkusan timah di spion kirinya kini terlihat tidak rata, ada tonjolan-tonjolan dari dalam seolah sesuatu sedang mencoba menekan keluar.

​"Kita pergi sekarang," bisik Della pada motornya.

​Jalur menuju Goalpara adalah salah satu rute paling indah sekaligus paling sunyi di Sukabumi. Setelah melewati pemukiman warga di Cisarua, jalanan mulai menyempit. Aspal yang tadinya mulus berubah menjadi jalan berbatu dengan lubang-lubang yang digenangi air sisa hujan semalam.

​Semakin tinggi Della mendaki, perkebunan teh mulai membentang di kiri dan kanan jalan. Hijau yang tak berujung, namun sunyi yang mencekam. Biasanya, di jam-jam seperti ini, banyak pemetik teh yang berlalu-lalang. Namun hari ini, Della tidak melihat satu jiwa pun.

​Hanya ada dia, Scoopy-nya, dan suara gesekan daun teh yang tertiup angin suaranya terdengar seperti bisikan ribuan orang yang sedang bergunjing.

​Srek... srek... srek...

​Tiba-tiba, mesin motor Della tersendat.

​Brebet... brebet... mati.

​"Jangan sekarang, Please..." Della mencoba menekan tombol starter berulang kali. Tidak ada respon.

​Ia turun dari motor, mencoba memeriksa kabel busi. Saat itulah ia menyadari sesuatu yang aneh. Di sekeliling motornya, kabut mulai turun dengan kecepatan yang tidak wajar. Kabut itu tidak putih bersih, melainkan keabu-abuan dan berbau seperti logam berkarat.

​Della melirik bungkusan timah di spion kirinya, Timah itu mulai meleleh. Cairan abu-abu panas menetes ke aspal, dan dari baliknya, kaca spion yang retak itu kembali menampakkan dirinya.

​Di dalam pantulan spion yang baru saja "bebas", Della melihat jalanan di belakangnya tidak kosong.

 Di sana, di tengah jalan berbatu yang tadi ia lewati, berdiri tiga sosok anak kecil mengenakan baju tradisional Tionghoa kuno. Wajah mereka pucat, dan mereka masing-masing memegang sebuah potongan cermin pecah.

​Mereka tidak bergerak. 

Mereka hanya berdiri menatap ke arah motor Della.

​Della merogoh sakunya, hendak mengambil HP untuk menelepon Geri, namun tangannya terpaku pada peta tua itu. Garis hitam di tangannya tiba-tiba memanjang, merambat hingga ke jari telunjuknya. Secara refleks, jarinya menunjuk ke sebuah jalan setapak kecil di antara semak-semak teh yang hampir tertutup rumput liar.

​Itu bukan jalan untuk motor. 

Itu jalan pintas menuju Makam Cermin.

​"Loe mau gue lewat sana?" tanya Della pada spionnya.

​Kaca spion itu tidak menjawab dengan suara, tapi sebuah retakan baru retakan ketujuh muncul perlahan. Di dalam retakan itu, Della melihat bayangan ibunya sedang duduk di ruang tamu rumah mereka, sedang memegang sebuah foto tua yang dibakar ujungnya.

​Della tersentak,  Ini bukan lagi soal hantu di jalan. Ini soal ancaman terhadap keluarganya.

​Tanpa pikir panjang, Della menuntun motornya masuk ke jalan setapak itu. Ia tidak peduli jika bodi motornya tergores dahan pohon atau tanahnya becek. Ia harus sampai ke titik merah di peta itu sebelum kabur ini benar-benar membutakannya.

​Tiba-tiba, dari arah belakang, suara tawa anak kecil terdengar bersahutan.

​"Nona... jangan tinggalkan cerminmu... atau kami yang akan membawanya..."

​Della mempercepat langkahnya, keringat dingin bercucuran. 

Di depannya, sebuah gerbang kayu tua yang sudah roboh mulai terlihat. Di atas gerbang itu, tertulis nama yang membuat jantungnya hampir copot: Keluarga Tan.

Della menyeret Scoopy-nya melintasi semak-semak yang tingginya hampir sedada. Bau tanah basah dan aroma bunga melati yang terlalu menyengat biasanya pertanda "penghuni" lain mulai memenuhi indra penciumannya. 

Motor matic itu terasa sangat berat, seolah ban belakangnya sedang dipegang oleh puluhan tangan tak terlihat.

​"Sedikit lagi," bisik Della, menyemangati dirinya sendiri yang sudah bermandikan keringat.

​Gerbang kayu itu sudah lapuk, diselimuti lumut tebal dan tanaman merambat yang berduri. Begitu roda depan Scoopy melewati garis gerbang, kabut abu-abu yang tadi mengejarnya mendadak berhenti di luar, seolah-olah ada dinding transparan yang melarang kabut itu masuk ke area pemakaman keluarga Tan.

​Di sana, di balik gerbang, suasana justru sangat hening. Tidak ada suara jangkrik, tidak ada suara angin. Hanya ada deretan nisan tua dengan ukiran aksara Mandarin yang memudar, tertata rapi diantara barisan pohon pinus yang menjulang tinggi.

​Della menyandarkan motornya pada sebuah pohon besar. Ia berjalan perlahan mengikuti instruksi peta di tangannya. Garis hitam di nadinya kini berdenyut seirama dengan suara langkah kakinya. Deg. Langkah. Deg. Langkah.

​Langkah Della terhenti di depan sebuah bangunan kecil menyerupai kuil mini (Cetiya) yang terletak di titik paling tinggi pemakaman. Di sana, tidak ada nisan batu. Yang ada hanyalah sebuah meja batu besar dengan tumpukan pecahan kaca yang disusun membentuk pola lingkaran.

​Di tengah lingkaran kaca itu, tertancap sebuah batang besi tua yang berkarat.

​Della mendekat. Saat ia berdiri tepat di depan susunan kaca itu, spion kiri di motornya yang terparkir beberapa meter di belakang tiba-tiba memantulkan cahaya matahari padahal langit sedang sangat mendung.

​Cahaya itu memantul ke arah susunan kaca di atas meja batu, menciptakan proyeksi gambar di udara.

​Della melihat potongan-potongan memori:

​Seorang pria (Kakek Tan) sedang menangis di depan meja ini.

​Ia sedang mencoba "mengikat" sesuatu ke dalam spion motor miliknya.

Ada sosok wanita cantik berbaju putih yang terus-menerus muncul di dalam kaca, namun wajahnya selalu tertutup oleh kabut hitam.

​"Kau membawa beban yang belum selesai, Nak," sebuah suara parau mengejutkan Della.

​Della berbalik dengan sigap, tangan kanannya refleks merogoh saku, mencari sesuatu yang bisa dijadikan senjata. 

Di bawah bayangan pohon pinus, berdiri seorang kakek tua mengenakan caping dan baju pangsi hitam yang sudah kumal. Tangannya memegang sebuah arit besar, namun matanya... matanya tertutup oleh kain putih yang melingkar di kepalanya.

​"Siapa Bapak?" tanya Della waspada.

​"Saya hanya tukang sapu di sini. Nama saya tidak penting," ucap kakek itu sambil terus menyapu daun-daun kering tanpa menabrak satu nisan pun, meski matanya tertutup. "Sudah lama 'Mata Kiri' itu tidak pulang ke rumahnya. Kenapa kau membawanya kembali sekarang? Apa kau siap kehilangan separuh duniamu?"

​Della mengerutkan kening. "Saya cuma mau garis hitam di tangan saya ini hilang, Pak. Dan saya mau teman-teman saya nggak diganggu lagi."

​Si kakek berhenti menyapu, Ia menoleh ke arah Della (atau lebih tepatnya ke arah suara Della). "Garis itu bukan kutukan, itu adalah 'jangkar'. Spion itu sedang mengikatkan dirinya padamu karena ada sesuatu yang dicuri dari tempat ini puluhan tahun lalu. Dan si pencuri... sekarang sedang menunggu di gerbang keluar."

​Della teringat pada Pak Hendra dan kafe cerminnya. "Maksud Bapak, Pak Hendra?"

​"Dia hanya salah satunya," kakek itu terkekeh pelan, suara tawanya terdengar seperti gesekan kertas amplas. "Darah Tan selalu menarik perhatian mereka yang haus akan penglihatan masa depan. Sekarang, taruh tanganmu di atas meja batu itu. Biarkan dia melihat apa yang kau bawa."

​Della ragu. 

Garis hitam di tangannya mendadak terasa sangat panas, seolah-olah tinta di bawah kulitnya ingin meledak keluar.

1
falea sezi
)bakar.lah motornya goblok amat della
falea sezi
sasa ne ngeyel. amat harusnya biarin aja mati biar gk jd beban aja temen goblok
falea sezi
di blg ngeyel sih kapok di tempelin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!