Randy, mahasiswa Teknik Mesin semester dua, punya segalanya: tinggi menjulang, senyum manis, motor Kawasaki Ninja yang gagah, dan kamera DSLR yang setia menemaninya berburu foto di sudut-sudut kota. Tapi di balik pesona itu, Randy tetap jomblo—lebih suka memotret penjual cilok atau suasana kumuh daripada nongkrong romantis. Cewek-cewek kampus gemas, tapi Randy selalu jaim, seolah menutup pintu hatinya.
Suatu malam, hidupnya berubah. Dalam mimpi yang terasa terlalu nyata, ia bertemu Ki Suromenggolo—kakek buyut tabib sakti yang mewariskan ilmu penyembuhan legendaris. Randy bangun dengan dada hangat dan perasaan aneh, seakan membawa kekuatan baru.
Di tengah hiruk-pikuk kota, persahabatan, godaan cinta, dan bahaya yang mengintai, Randy akan belajar bahwa menjadi “tabib tampan” bukan sekadar gelar. Ini adalah perjalanan tentang keberanian, tanggung jawab, dan hati yang selalu diuji oleh banyak perempuan yang diam-diam jatuh hati padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Pak Cokro
Sesampainya di rumah setelah beristirahat sebentar, kemudian Randy membulatkan tekad menggenggam ponselnya untuk menelepon Pak Cokro. “Saya percaya saja dia orang baik,” kata Randy dalam hati.
“Selamat sore, Pak Cokro,” sapa Randy dalam percakapan teleponnya. “Bagaimana, Pak, ada yang perlu saya bantu?”
“Oh, sore Mas Randy,” jawab Pak Cokro di seberang telepon dan terdengar ramah. “Maaf berkali-kali mendesak Mas Randy, karena barusan saya menerima tawaran investasi bikin pabrik skincare, maka saya telepon Mas Randy dulu, apakah bisa menerima tawaran saya tentang klinik itu tempo hari?”
Randy diam sejenak, dan Pak Cokro melanjutkan, “Sekiranya tawaran saya ditolak, dana untuk investasi klinik saya alihkan untuk pendirian pabrik skincare.”
“Um, begini, Pak, saya dan papa saya berniat menemui Bapak di hari Minggu, di coffee shop yang sama kita bertemu tempo hari, Pak.”
“Oh, begitu. Apa bisa dipercepat?” tanya Pak Cokro mendesak. “Karena pihak skincare juga mendesak saya mengambil keputusan secepatnya.”
“Mungkin tidak bisa, Pak,” kata Randy tegas, “karena ayah saya kerja kadang sampai malam, dan saya kuliah, jadi waktu senggang kami cuma hari Minggu, Pak.”
Kemudian Pak Cokro mengalah. “Baiklah, saya akan katakan pada pihak skincare saya baru bisa ambil keputusan setelah hari Minggu kalau begitu. Terima kasih ya, Mas. Selamat sore.”
“Selamat sore juga, Pak,” jawab Randy, lalu terdengar suara telepon ditutup.
Dengan rasa penasaran, Randy menyalakan laptopnya mencari-cari profil tentang Pak Cokro ini di Google dan ChatGPT. Tidak terlalu banyak profil tentang Pak Cokro, dan tidak terlalu mudah, karena ada banyak orang yang bernama Cokro di dunia maya ini, tapi dia mendapatkan suatu informasi yang sangat berharga ini:
Nama: Cokro Wiranata, usia 55 tahun, pekerjaan: investor. Lengkap dengan foto yang sama persis dengan Pak Cokro yang ditemui di coffee shop beberapa waktu lalu.
Pak Cokro adalah pemilik salah satu jaringan rumah sakit terbesar di Indonesia, Arkananta Hospital, serta jaringan klinik yang tak kalah besarnya, Klinik Arkananta. Randy, papa, dan mamanya kebetulan adalah pasien dari klinik itu yang salah satu cabangnya ada di dekat rumah Randy.
“Bukan orang sembarangan rupanya Pak Cokro,” gumam Randy seorang diri, lalu dia melanjutkan.
“Cokro Wiranata bukan lahir dari keluarga kaya raya. Ayahnya adalah seorang karyawan biasa, dan dia memulai karir sebagai seorang pegawai administrasi di rumah sakit.”
Kemudian Randy meneruskan membaca, “berkat koneksinya sebagai seorang karyawan rumah sakit, dia mulai membangun jaringan distribusi obat. Dan karena perusahaan distribusi obatnya itu semakin besar, dia kemudian keluar dari rumah sakit dan fokus di perusahaan yang didirikannya itu.”
“Menarik, kisah Pak Cokro mirip kisah para pengusaha besar pada umumnya seperti Prajogo Pangestu, Elon Musk, Steve Jobs, dll. yang memulai karier dari bawah,” gumam Randy dan meneruskan membaca profil Pak Cokro. “Bukan dari bawah lagi, mereka benar-benar merintis bisnis dari dasar.”
“Setelah perusahaan distribusi obatnya itu tumbuh besar, dia mendirikan RS Arkananta, dan kemudian berkembang pesat bahkan memiliki beberapa rumah sakit cabang Arkananta di bawah bendera Arkananta Hospitals Group. Bukan cuma itu, Arkananta Hospitals juga kemudian mendirikan ratusan Klinik Arkananta di berbagai kota dan tempat.”
“Luar biasa perjuangan hidupnya,” gumam Randy lirih, kemudian dia mencetak artikel tersebut untuk diberikan pada papanya agar dipelajari juga.
“Papa juga sudah mempelajari tentang Pak Cokro ini, Rand,” kata papanya Randy saat makan malam dan membaca print out tentang Pak Cokro itu. “Dia orang besar, dan bukan orang sembarangan rupanya.”
“Dia memulai karir dari bawah, Pa,” kata Randy.
“Sebaiknya kamu hati-hati sama Pak Cokro ini, Rand,” kata papanya Randy dengan mimik serius. “Kayaknya dia bukan orang sembarangan.”
“Tapi waktu ketemu Randy orangnya sangat baik, Pa,” tukas Randy. “Orangnya humble dan sangat friendly. Memang sih, penampilannya perlente, tapi dia cukup ramah.”
“Hati-hati saja, Rand,” kata mama Randy yang ikut nimbrung dalam obrolan di meja makan itu. “Biasanya feeling papamu tajam.”
“Iya, Ma,” sahut Randy pendek. Namun dalam hati dia tidak percaya bahwa Pak Cokro adalah orang jahat, karena dia benar-benar baik saat ketemu Randy.
Akhirnya hari Minggu tiba. Pagi itu Randy diantar papanya menuju ke coffee shop di Cideng pada waktu yang telah disepakati bersama. Seperti sebelumnya, Pak Cokro sudah menunggu di salah satu coffee shop itu. Tampaknya dia adalah seorang yang sangat menepati waktu. Poin positif pertama yang diberikan oleh papanya Randy. Pak Cokro melambaikan tangan kepada Randy, dan dibalas dengan senyum dan lambaian pula.
Setelah melakukan pemesanan kopi, Randy dan papanya segera duduk di depan Pak Cokro.
“Selamat pagi, Pak,” kata papanya Randy sambil menyerahkan kartu namanya dan menjabat tangan Pak Cokro. “Arnold. Arnold Subakti.”
“Saya Cokro Wiranata,” katanya tersenyum lebar dan balas menjabat tangan papanya Randy dan Randy sambil memberikan kartu namanya juga. “Bergerak di bidang apa, Pak Arnold?”
“Saya sama teman-teman bergerak di bidang konsultasi keuangan kecil-kecilan, Pak,” jawab papanya Randy.
“Wah hebat, perusahaan saya kalau perlu boleh menggunakan jasa perusahaan Bapak, dong?” kata Pak Cokro sambil terkekeh.
“Boleh saja, Pak,” jawab papanya Randy sambil tertawa juga. “Silakan langsung kontak saja, Pak.”
“Mas Randy, bagaimana kuliah kamu, lancar?” tanya Pak Cokro kepada Randy penuh perhatian.
“Lancar, Pak,” jawab Randy. “Sebentar lagi ujian semesteran.”
“Oh syukurlah kalau lancar,” tukas Pak Cokro. “Kita langsung ke masalah saja ya?”
Papa Randy menangkap impresi kedua tentang Pak Cokro, bahwa Pak Cokro adalah tipe orang yang langsung ke inti masalah, berbasa-basi seperlunya saja, tidak perlu berpanjang-panjang.
“Bagaimana soal penawaran yang saya ajukan tempo hari kepada Mas Randy?” tanya Pak Cokro langsung ke inti masalah.
“Soal itu biar papa saya saja yang bicara, Pak,” jawab Randy sopan. “Saya masih anak singkong soal begituan.”
“Begini, Pak, sebenarnya tawaran Bapak sangat menarik,” kata papanya Randy dengan hati-hati. “Tapi ada suatu masalah.”
Muka Pak Cokro sedikit berubah, namun dia segera menutupinya dengan senyuman ramah. “Masalah apa itu, kalau saya boleh tahu?”
“Mungkin buat Bapak sulit untuk mempercayai, tapi Randy ini memperoleh kemampuan itu secara gaib dari kakek buyutnya,” jelas papanya Randy dengan hati-hati. “Namun ada semacam ketentuan bahwa jika kemampuan itu dikomersialisasi, Randy akan kehilangan kemampuan itu.”
Rona muka Pak Cokro berubah serius. “Maksud Bapak?”
“Singkatnya ilmu itu akan hilang jika dikomersialisasi,” tegas papa Randy. “Kami tidak akan ambil risiko itu, Pak. Nanti bukan saja mengecewakan Bapak, tapi Randy juga akan kecewa jika kehilangan ilmu itu. Seperti yang saya bilang, Bapak akan sulit mempercayainya, tapi itulah kenyataannya, Pak.”
“Baiklah, saya mengerti, dan saya tidak akan memaksa,” kata Pak Cokro sambil menghembuskan napas. “Tapi saya tetap terbuka bekerja sama dengan Mas Randy.”
“Maaf, bukan saya menolak, Pak, tawaran Bapak sangat menarik,” tukas Randy. “Tapi ada aturan yang membatasi, Pak.”
“Omong-omong siapa yang memberi tahu Bapak soal kemampuan Randy ini?” tanya papanya Randy. “Karena menurut Randy dia tidak terlalu terbuka soal kemampuannya ini.”
“Sebagai pengusaha yang bergerak di bidang itu, telinga saya ada banyak, Pak,” jawab Pak Cokro diplomatis sambil tertawa. “Randy jadi idola cewek-cewek di kampusnya saja saya tahu.”
Randy hanya tersenyum malu mendengar candaan Pak Cokro.
“Saya kira cukup sekian pertemuan kita kali ini, saya masih ada meeting lain,” kata Pak Cokro sambil beranjak berdiri. “Kalau mau berubah pikiran atau mau menaikkan tawaran saya, silakan kontak saya, HP saya selalu on 24 jam.”
“Terima kasih, Pak,” kata papa Randy sambil berdiri dan menyalami Pak Cokro. “Tapi betul, bukan masalah besarnya tawaran, tapi karena ada aturan yang membatasinya, Pak.”
Pak Cokro hanya mengangguk dan tersenyum lalu meninggalkan tempat itu, sementara Randy dan papanya melanjutkan berbincang sebentar di coffee shop itu.
“Impresi Bapak terhadap Pak Cokro positif, beliau kayaknya pengusaha yang jujur,” kata papanya Randy sambil menyesap kopinya. “Sayang kamu terikat oleh perjanjian itu.”
“Iya, Pa,” Randy juga menyayangkan hal itu. “Moga-moga Ki Suromenggolo hadir dalam mimpi Randy lagi dan memberikan petunjuk soal ini.”
Randy dan papanya tak sadar bahwa percakapan mereka dimonitor oleh Pak Cokro yang meletakkan sebuah transmitter kecil di pohon imitasi yang terletak di dekat tempat duduk mereka.