NovelToon NovelToon
Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Di malam ketika hujan mengguyur tanpa ampun, Raya diusir dari rumah yang dulu ia sebut surga. Suaminya menolak kehadirannya hanya karena ia tak mampu memenuhi harapan keluarga—seorang anak laki-laki. Dengan hati hancur dan tubuh gemetar, Raya berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya tersungkur di trotoar. Di ambang putus asa, sebuah mobil berhenti di depannya. Pria asing bernama Arya menawarkan sesuatu yang terdengar tak masuk akal: sebuah pernikahan pura-pura sebagai solusi bagi masalah mereka masing-masing.
Arya membutuhkan seorang istri untuk meredam tekanan keluarganya, sementara Raya membutuhkan tempat berlindung dari dunia yang telah menolaknya. Tanpa cinta, tanpa janji manis, hanya sebuah kesepakatan dingin yang mengikat dua jiwa terluka. Namun di balik perjanjian tanpa perasaan itu, perlahan mereka mulai menemukan kehangatan yang tak direncanakan. Dari hubungan yang semula sekadar sandiwara, tumbuh benih perasaan yang menguji batas antara kewajiban dan cinta sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8

Bu Atika menatap Raya dengan lembut, tetapi ada ketegasan dalam sorot matanya saat ia bertanya, "Nak Raya, apakah kamu mencintai Arya?"

Raya tersentak. Pertanyaan itu membuatnya sedikit gelagapan. Ia baru saja hendak membuka mulut untuk menjawab ketika tiba-tiba suara Arya terdengar dengan nada percaya diri.

"Tentu saja dia mencintaiku, Bu. Dan aku juga mencintainya. Buktinya? Lihatlah, sekarang dia tengah mengandung buah hati kami," ucap Arya santai sambil menyandarkan punggungnya pada kursi taman.

Mata Raya membesar, ia menoleh tajam ke arah Arya. "Jangan asal bicara! Aku belum---"

Arya mendekat sedikit ke arah Raya dan berbisik pelan dengan senyum jahil di wajahnya. "Jangan lupa perjanjian kita. Bukankah kau juga harus meyakinkan orang tuaku?"

Raya menahan napas, giginya hampir bergemeletuk menahan rasa sebal. Tapi di depan Bu Atika, ia tidak bisa meledak begitu saja. Bu Atika tersenyum bahagia mendengar jawaban Arya.

"Alhamdulillah, Ibu lega kalau begitu. Aku ingin kalian benar-benar bahagia, Nak. Rumah tangga itu butuh rasa cinta dan saling percaya," katanya dengan penuh harapan.

Arya mengangguk santai, sementara Raya hanya tersenyum kaku. Bu Atika pun akhirnya beranjak masuk ke dalam rumah setelah merasa puas dengan jawabannya.

Begitu ibunya sudah tidak terlihat, Raya segera mencubit lengan Arya dengan kesal. "Apa-apaan kamu tadi?! Bicara sembarangan! Aku belum menjawab pertanyaan itu!"

Arya meringis, tetapi tetap tersenyum menggoda. "Tenang saja, aku hanya menyelamatkan situasi. Lagipula, bukankah lebih mudah kalau kita bersikap seolah-olah memang saling mencintai?"

Raya mendengus. "Mudah untukmu, tapi tidak untukku! Aku bahkan tidak terbiasa dengan semua ini."

"Kamu harus mulai membiasakan diri, sayang," ujar Arya santai, sengaja menekankan kata "sayang" dengan nada menggoda.

Raya ingin menendangnya jika bisa. "Hentikan panggilan itu!"

Arya malah tertawa pelan. "Tapi itu terdengar bagus, kan?"

Raya semakin kesal, tetapi sebelum ia bisa membalas, ibunya tiba-tiba masuk kembali.

Wajahnya langsung berubah panik dan buru-buru menyingkir dari Arya.

Bu Atika mengangkat alis. "Kalian sedang apa?"

"Tidak ada!" sahut Raya cepat, bahkan terlalu cepat hingga terdengar mencurigakan.

Arya, dengan wajah tenang dan penuh percaya diri, tersenyum dan menjawab, "Sedang menikmati kebersamaan kami sebagai calon suami istri."

Seketika ingin rasanya Raya melemparkan sepatu ke wajah Arya.

Arya lalu bertanya pada ibunya, "Ada apa Ibu datang kembali ke sini?"

Bu Atika tersenyum lembut, menatap putranya dan Raya bergantian. "Ibu sudah mengatur jadwal untuk check-up kandungan Raya ke dokter. Selain itu, Ibu juga sudah mendaftarkan kalian ke kelas parenting calon orang tua."

Raya terbelalak kaget, hampir saja tersedak minuman yang baru saja ia teguk. "Kelas parenting?" ulangnya dengan suara yang nyaris bergetar. "Bu, bukankah itu terlalu berlebihan?"

Arya yang duduk di sebelahnya justru menyeringai senang. "Bagus, Bu. Saya dan Raya memang perlu belajar menjadi orang tua yang baik. Terima kasih sudah mengatur semuanya."

Raya melirik Arya tajam, mencoba memberi kode agar laki-laki itu tidak menambah masalah. Namun, seperti biasa, Arya malah menikmati kekacauan kecil ini.

"Ibu tidak ingin cucu Ibu nanti dirawat oleh orang tua yang tidak siap. Ini penting, Raya," lanjut Bu Atika dengan nada lembut, tetapi penuh penekanan.

Raya hanya bisa tersenyum kaku, merasa tidak punya alasan kuat untuk menolak.

"Bagaimana? Setuju, kan?" tanya Bu Atika lagi.

"Ehem... Iya, Bu," jawab Raya akhirnya, menyerah.

Arya menahan tawa melihat wajah pasrah Raya.

"Nah, begitu dong. Kita harus kompak sebagai calon orang tua, kan, Sayang?"

Raya mendelik, pipinya memerah. "Jangan panggil aku begitu!"

"Kenapa? Bukannya kita pasangan yang penuh cinta?" Arya berbisik pelan, mendekatkan wajahnya hingga hanya beberapa senti dari wajah Raya.

Raya refleks mundur, tetapi Arya justru semakin maju. Bu Atika menggeleng geli melihat interaksi keduanya. "Kalian ini, mesra sekali. Ibu jadi semakin yakin kalau kalian akan jadi orang tua yang hebat nanti."

Raya ingin menyangkal, tetapi mulutnya terasa kelu. Ia hanya bisa menatap Arya dengan tatapan penuh protes, sementara laki-laki itu tetap dengan ekspresi usilnya.

"Baiklah, kalau begitu besok kita ke dokter dulu. Setelah itu, minggu depan kalian akan mulai kelas parenting. Jangan sampai telat ya, Arya, Raya," pesan Bu Atika sebelum akhirnya meninggalkan mereka berdua.

Begitu Bu Atika pergi, Raya langsung mencubit lengan Arya. "Kamu sengaja, kan?"

Arya tertawa pelan. "Sengaja apa, Sayang? Aku hanya ingin kita jadi pasangan yang kompak."

"Berhenti memanggilku 'Sayang'!" Raya mendesis, tetapi pipinya masih tetap bersemu merah.

Arya tertawa semakin keras, menikmati bagaimana wanita itu semakin salah tingkah karena dirinya. "Baiklah, baiklah. Aku janji akan lebih romantis lain kali."

"Astaga, Arya!" Raya memukul pelan bahunya, sementara laki-laki itu terus tertawa puas.

Arya menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan santai, matanya memancarkan kepuasan saat dia menatap Raya yang duduk di seberangnya. Dengan suara tenang namun penuh ketertarikan, dia berkata, "Kau tahu, perusahaan Hartawan sedang dalam masalah besar. Aku bisa membayangkan bagaimana paniknya Daffa sekarang."

Raya yang semula hanya mendengarkan tiba-tiba menegakkan tubuhnya. Matanya berbinar, senyumnya terukir dengan penuh kemenangan. "Benarkah?" katanya dengan nada penuh antusias. "Aku benar-benar ingin melihat mereka hancur. Mereka yang menganggap aku dan anakku sebagai beban. Sekarang, lihatlah! Aku akan memastikan mereka merasakan penderitaan yang lebih dari yang aku rasakan."

Mendengar nada penuh kebencian dalam suara Raya, Arya justru merasa semakin iba. Wanita ini telah terluka begitu dalam. Semakin lama dia mengenalnya, semakin kuat keinginannya untuk terus berada di sisinya, melindunginya dari dunia yang telah menyakitinya.

Namun, suasana serius itu tak bertahan lama.

Arya, dengan senyum usilnya, tiba-tiba bersandar lebih dekat ke Raya dan berkata dengan nada menggoda, "Sepertinya Daffa akan semakin hancur ketika mengetahui bahwa kita adalah suami istri yang saling mencintai. Kita bahkan pasangan yang sangat romantis. Mungkin kita harus membuat foto keluarga."

Raya langsung menoleh dengan alis bertaut.

"Apa?" tanyanya tajam.

Arya mengangguk-angguk dengan senyum penuh kenakalan. "Ya, foto keluarga. Kau, aku, dan calon bayi kita. Foto yang sempurna untuk menggambarkan keluarga bahagia."

Raya hanya bisa menghela napas panjang, merasa kesal dengan tingkah Arya yang selalu membuatnya salah tingkah. "Kau benar-benar gila, Arya," gumamnya sambil berdiri dari kursinya, berniat meninggalkan ruangan itu.

Namun, Arya dengan sigap mengikutinya, langkahnya cepat menyamai Raya. Ketika mereka mencapai ruang tengah, mereka bertemu dengan Bu Atika yang langsung menatap mereka dengan penuh selidik.

"Ada apa ini?" tanya Bu Atika dengan tatapan penasaran.

Raya membuka mulutnya, siap menjelaskan, tetapi seperti biasa, Arya lebih cepat darinya. "Aku ingin mengajak Raya foto bersama dengan kehamilannya," kata Arya dengan nada polos namun jelas ada nada godaan di baliknya.

Mata Bu Atika langsung berbinar senang. "Itu ide yang luar biasa! Foto kehamilan adalah momen yang harus diabadikan. Bagaimana menurutmu, Raya?"

Raya yang masih dalam keadaan syok hanya bisa menatap Arya dengan kesal. Namun, melihat ekspresi penuh harapan di wajah Bu Atika, Raya tahu bahwa dia tak punya pilihan lain selain mengikuti kemauan mereka. Dengan senyum terpaksa, dia berkata, "Tentu saja, Bu."

Arya tersenyum penuh kemenangan, matanya berkilat nakal. Dia tahu bahwa ini hanyalah permulaan dari banyak momen menyenangkan yang bisa dia ciptakan bersama Raya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!