NovelToon NovelToon
Dua Pewaris Rahasia Keluarga Vasillo

Dua Pewaris Rahasia Keluarga Vasillo

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:82.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Tasya tidak pernah memilih takdirnya. Dijual oleh keluarga pamannya demi menyelamatkan perusahaan yang hampir bangkrut, ia melarikan diri dari sebuah kamar hotel mewah, tanpa tahu bahwa pria asing yang ia tinggalkan malam itu adalah Alex Roman Vasillo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa di Jerman.

Tujuh tahun berlalu, setelah dia melarikan diri dari Berlin menuju Indonesia, tanah kelahiran Kakeknya.

Tasya hidup tenang di Indonesia bersama dua anak kembarnya, Kenzo dan Kenzi, yang tak pernah tahu siapa ayah mereka sebenarnya.

Sampai suatu hari, di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta yang berada di bawah naungan keluarga Vasillo, seorang bocah enam tahun dengan percaya diri memanggil seorang pria berjas mahal, pria itu Alex Roman Vasillo.

“Daddy!”

"Hah?!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Siang itu suasana IGD rumah sakit berubah menjadi sedikit kacau. Dua perawat yang mendorong kursi roda kakek Tasya baru saja akan masuk lebih dalam ke ruang penanganan darurat.

“Berhenti dulu!”

Seorang pria berjas rapi berjalan cepat menghampiri mereka. Dia adalah manager operasional rumah sakit.

Kedua perawat langsung berhenti.

“Pak … pasien ini—”

Manager itu mengangkat tangan, menghentikan penjelasan mereka.

“Pemilik rumah sakit akan tiba sebentar lagi.”

Perawat itu terlihat bingung.

“Tapi Pak, pasien ini—”

“Sambut dulu pemilik rumah sakit!” potong manager dengan nada tegas. “Semua staf harus di lobby.”

Tasya yang berdiri di samping kursi roda langsung terbelalak tidak percaya.

“Apa?”

Manager itu baru menyadari keberadaan Tasya.

“Maaf, Bu. Kami harus menyambut direktur utama lebih dulu.”

Wajah Tasya langsung berubah.

“Ini IGD,” katanya tegas.

Tangannya menunjuk kakeknya yang masih gemetar di kursi roda.

“Kakek saya kejang dan ini kondisi darurat.”

Perawat terlihat ragu namun manager itu tetap bersikeras.

“Semua staf medis diminta menyambut pemilik rumah sakit. Ini perintah!”

Tasya menatapnya tajam.

“Kamu serius?”

Manager itu mengerutkan kening.

“Anda tidak perlu mengatur rumah sakit ini, Bu.”

Tasya menghela napas pendek, mencoba menahan emosi. Lalu dia berkata dengan suara dingin,

“Baik.”

Manager itu terlihat puas sejenak.

Namun, kalimat Tasya berikutnya membuat wajahnya langsung kaku.

“Kalau kalian meninggalkan pasien darurat demi menyambut pemilik rumah sakit…”

Tasya mengeluarkan ponselnya.

“Aku pastikan video ini viral di seluruh media sosial.”

Beberapa orang di sekitar mereka langsung saling menatap.

Manager itu menegang.

“Kamu—”

“Silakan,” potong Tasya tanpa takut. “Aku juga ingin tahu bagaimana reaksi publik kalau rumah sakit ini lebih peduli menyambut pemiliknya daripada menyelamatkan pasien.”

Perawat-perawat itu semakin bingung. Manager itu mengepalkan tangannya kesal. Namun sebelum ia sempat membalas, suasana lobby tiba-tiba berubah.

Beberapa dokter jaga bergegas keluar. Dokter spesialis yang tadi berada di ruang konsultasi juga ikut berdiri di barisan.

Seorang staf berbisik pelan,

“Direktur sudah datang…”

Pintu utama rumah sakit terbuka.

Langkah kaki sepatu formal terdengar di lantai marmer. Seorang pria tinggi berjalan masuk dengan langkah tenang namun penuh wibawa. Jas hitam mahal membungkus tubuhnya dengan sempurna. Tatapannya tajam, dingin, dan penuh dominasi. Dialah Alex Roman Vasillo. Pria yang sekarang memegang seluruh kekuasaan Vasillo Group di Indonesia tidak hanya di rumah sakit saja, tetapi perusahaan juga.

Begitu ia masuk, seluruh suasana lobby berubah tegang. Dokter-dokter langsung menundukkan kepala dengan hormat.

“Selamat datang, Tuan Alex.”

Manager yang tadi berdebat dengan Tasya langsung panik. Dia buru-buru merapikan jasnya lalu berlari menuju pintu depan.

“Selamat datang, Tuan Vasillo!”

Alex berhenti beberapa langkah di dalam lobby. Tatapannya menyapu ruangan dengan dingin. Aura yang terpancar darinya membuat beberapa staf bahkan tidak berani mengangkat kepala.

Dua perawat akhirnya tetap tinggal di IGD untuk menangani kakek Tasya. Salah satu dari mereka segera memasang alat bantu napas, sementara dokter jaga mulai memeriksa kondisi jantungnya.

Di sisi lain lorong, Tasya berdiri dengan wajah cemas. Tangannya masih menggenggam tangan kedua anaknya.

“Kalian di sini saja, ya,” katanya pelan.

Kenzo dan Kenzi mengangguk tetapi beberapa detik kemudian Kenzo berkata,

“Mommy … kami ke sana sebentar.”

Tasya sedang fokus melihat kondisi kakeknya, jadi ia hanya menjawab tanpa menoleh,

“Jangan pergi jauh.”

“Iya, Mommy.”

Kedua anak itu lalu berjalan menjauh dari IGD. Karena sebenarnya mereka menuju ke arah lobi utama rumah sakit, mereka penasaran sama pemilik rumah sakit itu yang sangat di hormati banyak orang.

Kenzo berjalan lebih cepat, matanya terlihat serius. Kenzi berjalan di belakangnya dengan sedikit gelisah. Mereka berhenti di dekat tembok besar di sisi lobi. Dari sana mereka bisa melihat seorang pria tinggi berjalan bersama dua orang lain.

Pria itu memakai jas hitam mahal. Aura dingin dan berwibawa membuat semua orang memberi jalan ketika ia lewat.

Kenzo menatapnya tanpa berkedip, "pria itu Alex Roman Vasillo, pemilik perusahaan yang menolak Mommy," kata Kenzo.

Semakin lama dia melihatnya, semakin kuat perasaannya.

"Dia sangat mirip denganku…"

Sementara itu Alex berjalan bersama Mario dan manager menuju ruang rapat. Manager sedang menjelaskan sesuatu dengan gugup. Langkah Alex tiba-tiba terhenti. Karena sebuah suara kecil memanggilnya dari belakang.

“Daddy!” Seluruh langkah langsung berhenti, Alex perlahan menoleh. Mario juga ikut menoleh bahkan manager terlihat bingung. Seorang anak laki-laki berdiri beberapa meter dari mereka.

Wajahnya tampan, matanya tajam dan dia sedang menatap langsung ke arah Alex.

Alex mengerutkan kening.

“Kamu panggil saya apa?” Nada suaranya dingin.

Mario langsung menelan ludah, manager bahkan terlihat terkejut. Kenzo berjalan mendekat tanpa rasa takut sedikit pun. Dia menatap Alex dari atas sampai bawah dengan penuh perhatian.

“Daddy,” katanya lagi santai.

Lalu ia tersenyum kecil.

“Ternyata kamu tampan juga ya … dan sangat berkelas.”

Alex tidak bergerak.

Kenzo menunjuk jas yang dikenakan Alex.

“Jas yang kamu pakai ini mahal sekali.”

Ia melanjutkan dengan nada penuh percaya diri.

“Kalau dihitung dari jas, jam tangan, sepatu, dan semua yang ada di tubuhmu … nilainya sekitar sepuluh miliar.”

Mario hampir tersedak mendengarnya, Manager juga melotot. Alex sendiri justru menatap bocah itu dengan tatapan lebih tajam.

“Menarik sekali,” gumamnya pelan.

Dalam hidupnya, belum pernah ada anak enam tahun yang berani menilai penampilannya seperti ini. Sementara itu dari kejauhan Kenzi berdiri dengan wajah pucat.

Dia melihat semuanya dan dia mulai panik.

"Oh tidak … jangan sampai Kenzo membuat pria itu marah. Kalau Mommy tahu kami bicara dengan orang asing…"

Mario akhirnya melangkah sedikit maju, dia menunduk agar sejajar dengan Kenzo.

“Adik manis,” katanya lembut.

“Jangan sembarangan memanggil orang ya.”

Dia tersenyum canggung.

“Tuan Alex bukan Daddy kamu. Kamu salah orang, beliau belum menikah.”

Manager yang tadi masih terkejut akhirnya ikut bergerak.

“Anak siapa ini?” gumamnya kesal.

“Kok bisa nyasar ke sini dan mengaku anak Tuan Alex?”

Ia menoleh pada Alex dengan gugup.

“Maaf, Tuan Alex. Sudah mengganggu kenyamanan Anda. Saya akan membereskannya.”

Manager itu hendak menarik lengan Kenzo.

“Berhenti!” Suara Alex membuatnya langsung membeku Alex mengangkat sedikit tangannya, memberi isyarat agar manager tidak menyentuh anak itu.

Ia lalu menatap Kenzo lagi.

“Anak kecil.” Nada suaranya datar.

“Aku bukan Daddy kamu.”

Beberapa detik hening, Kenzo tiba-tiba tertawa kecil, tawa yang sedikit mengejek.

“Kalaupun iya,” katanya santai.

“Aku juga tidak akan sudi mengaku kamu Daddy-ku.”

Mario langsung terdiam, Manager menegang. Kenzo melanjutkan dengan wajah sinis kecil.

“Aku malu punya Daddy bertampang kriminal seperti kamu.”

Alex mengerutkan kening.

“Kriminal?”

Kenzo menyilangkan tangan.

“Iya.”

Tatapannya berubah tajam.

“Daddy macam apa yang suka membully wanita?”

Sementara itu Kenzi akhirnya tidak tahan lagi. Ia berlari cepat mendekati kakaknya.

“Maaf, Tuan!” katanya cepat sambil menunduk.

“Kakak saya mengganggu waktu Anda.”

Ia langsung menarik tangan Kenzo.

“Kami permisi dulu.”

Kenzo sempat melangkah mundur tetapi sebelum pergi dia menatap Alex sekali lagi. Tatapan yang tajam seolah menyimpan sesuatu. Seperti dendam kecil yang belum dimengerti seorang anak. Kenzi segera menyeret kakaknya pergi.

Alex tetap berdiri di tempatnya, dan tiba-tiba merasakan perasaan aneh dadanya terasa sedikit sesak. Ada anak kecil yang berani menghancurkan suasana hatinya namun dia tidak merasa marah.

Manager buru-buru menunduk.

“Maafkan kami, Tuan Alex. Anak itu—”

“Sudah.” Alex memotong dingin.

Ia kembali berjalan menuju ruang rapat.

“Ke ruang rapat.”

“Baik, Tuan.”

Mario akhirnya menghela napas lega saat mereka berjalan lagi.

'Kenapa anak itu … berani sekali pada Tuan Alex?' batin Mario bingung.

Langkah kaki mereka bergema di lorong rumah sakit yang luas dan bersih. Suasana yang tadi sempat ricuh di lobi kini kembali tenang, namun udara di sekitar Alex tetap terasa menekan.

Pria itu berjalan paling depan dengan langkah panjang dan tenang. Wajahnya dingin seperti biasa, seolah pertemuan singkat dengan anak kecil tadi tidak berarti apa-apa. Namun, tiba-tiba Alex menghentikan langkahnya. Mario yang berjalan di belakang hampir saja menabraknya.

“Tuan?” tanya Mario cepat.

Alex tidak langsung menoleh. Tatapannya lurus ke depan, rahangnya sedikit mengeras.

“Mario,”

“Ya, Tuan.”

“Cari tahu dari mana anak itu datang.” Nada suaranya rendah, namun tegas dan tidak memberi ruang untuk ditolak.

Mario mengangguk segera.

“Baik, Tuan.”

Alex akhirnya menoleh sedikit, matanya menyipit seolah mengingat sesuatu.

“Tidak mungkin anak kecil seperti itu pandai bicara.” Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada dingin.

“Dan keberaniannya … terlalu tidak biasa.”

Mario kembali mengangguk hormat.

“Saya akan menyelidikinya.”

Alex tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia kembali melangkah menuju ruang rapat, sementara manager rumah sakit yang ikut berjalan bersama mereka hanya bisa menunduk gugup. Beberapa detik kemudian mereka sampai di depan ruang rapat. Namun, sebelum masuk, Mario sempat melirik ke arah lobi yang tadi mereka tinggalkan.

Di dalam hatinya, pikirannya kembali pada dua anak kecil itu.

'Anak itu…' Wajah Kenzo dan Kenzi terlintas jelas di benaknya. Mario menelan ludah pelan.

'Kenapa mereka terlihat sangat mirip dengan Tuan Alex…' Semakin ia mengingatnya, semakin aneh rasanya.

'Apa mungkin…'

Pikiran lain muncul tiba-tiba, membuat jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.

'Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan kejadian tujuh tahun yang lalu…'

Mario segera menggeleng pelan, mencoba menepis pikirannya sendiri.

'Tidak … mungkin hanya kebetulan saja.'

Namun, meski begitu, perasaan aneh itu tetap tertinggal di hatinya saat ia membuka pintu dan mengikuti Alex masuk ke ruang rapat.

'Aku harus cari tahu, dan bila perlu melakukan tes DNA untuk memastikan, tidak hanya tidak mungkin. Wanita tujuh tahun lalu hilang begitu saja. Padahal, jika mengingat jaringan keluarga Vasillo, mungkin wanita itu tak bisa lari jauh, kecuali satu Negara indonesia,' batin Mario menerka.

1
Endang
salah saing TDK tau anak sendiri jdi detektif
Lican
good job Kenzo, buat tu Deddy mu GK berkutik
ken darsihk
Wooowww Kenzo 👍👍👍
merry
berati Alex msh impoten donk 😄😄😄 di ancam ank kcil sm anky sndri lgg
merry
siapa ya dsrh plg🤔🤔
Teh Euis Tea
alex, anak km jenius lex keturunan tasya dan km menjadikan anak itu super jenius
Joey Joey
kamu tidak akan tau , dia tau dari iPad mu sendiri😲🤪🤭🤣
ken darsihk
Siapa yng bi Mirna hubungi yak atas perintah kakek Rocki
Aseli penasaran 👍👍👍
Joey Joey
naseb mu aja gak mujur , jgan sampai melukainya🤣🤣🤣
Joey Joey
astaga
Dini Anggraini
alex kenzo itu persis seperti kamu versi mini punya pandangan tajam terhadap sesuatu yang mengancam sedangkan kenzi persis tasya ceria gampang luluh sama orang. 😍😍
Esther
Kamu cari kemanapun tidak akan ketemu Alex, karena Kenzo sangat jenius
Nyonya Gunawan
Ayooo kenzo bkin si Alex g' bisa berbuat apa",,
Ace🌷
aish kamu cari sampe ke pelosok pun tak akan ketemu, Alex karena dia memang ditakdirkan jenius 🤭🤭
Uviek Ku: Lebih cocok ROMAN PICISAN kak🤣🤭
total 3 replies
Esther
Siapa yg diminta kembali sama kakek Rockhi ?
kalau itu pamannya Tasya, bisa jadi Tasya malah dalam bahaya
Teh Euis Tea
makin penasaran ini, siapa lg yg di hubungi tuan rocksi?
ga mungkin putranya kan putranya arlad udah meninggal
Oma Gavin
keren cerita nya penuh intrik dan dendam asli nya pasti cuma salah paham ada mafia lain yg memanfaatkan persahabatan mereka supaya saling bunuh, jgn harap alex bisa memilih hati tasya dan kenzo
Nelly M
Salah paham gak sih
Nyonya Gunawan
Tuan Rokhi ceritakan pda tasya apa yg trjdi di masa lalu biar kn tasya yg menilai sendri,,siapa tau dgan bantuan kenzo yg mnjdi rahasia di masa lalu bisa terbuka
tia
kenzo cemburu 😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!