Di mata dunia, Shaneen von Asturia hanyalah putri bangsawan lulusan Oxford yang cantik dan tenang. Namun di balik layar, dia adalah "Nin", penulis lagu jenius yang menguasai industri musik global. Sebagai seorang Virgo yang perfeksionis dan mandiri, Shaneen tidak butuh pangeran, apalagi sebuah pernikahan kaku.
Namun, ketenangannya terusik saat Duke Matthias von Falkenhayn, sang Jenderal berdarah dingin yang terobsesi pada aturan, mulai mengejarnya. Matthias menginginkan Shaneen yang tangguh dan bermulut tajam, sementara Shaneen hanya ingin bebas.
Bagi Matthias, ini adalah misi penaklukan. Bagi Shaneen, ini adalah gangguan yang harus disingkirkan dengan cara elegan. Ketika si Jenderal kolot bertemu si Dewi Modern yang bermulut pedas, siapa yang akhirnya akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan yang Menghentikan Waktu
Dermaga utama ibu kota hari ini bukan sekadar tempat transit kapal, melainkan panggung politik yang megah. Mobil-mobil mewah keluaran terbaru berjejer rapi, memantulkan sinar matahari musim panas pada body metaliknya yang mengkilap. Di barisan terdepan, keluarga Asturia telah hadir. Marquess Asturia berdiri dengan wibawa yang tenang, diapit oleh si kembar Stellan dan Samuel yang tampak lebih rapi dari biasanya.
Namun, fokus semua orang tertuju pada podium kerajaan. Di sana, Raja berdiri bersama Putri Isabella yang tampil sangat anggun. Di sisi lain, para bangsawan muda termasuk Clarissa, berkumpul dengan mata berbinar, menantikan sosok yang selama dua tahun ini menjadi legenda di medan perang.
Sarah, pelayan setia Shaneen, berdiri sedikit di belakang Marquess Asturia. Ponselnya terus menyala, terhubung dalam sebuah sambungan telepon tersembunyi dengan Shaneen yang memutuskan untuk tidak menampakkan diri di kerumunan itu.
"Lady, suasananya sangat kacau di sini," bisik Sarah ke mikrofon kecil di kerah bajunya.
Di paviliunnya yang tenang, Shaneen mendengarkan laporan itu sambil memutar-mutar pena peraknya. "Biarkan saja, Sarah. Aku ingin tahu seberapa kuat mental Jenderal kita menghadapi komplotan wanita haus takhta itu."
Sambil menunggu kapal bersandar, Marquess Asturia menatap laut lepas dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia teringat percakapannya dengan Matthias dua tahun lalu di ruang kerja. Ia juga teringat masa mudanya sendiri.
"Kalian tahu," suara Marquess memecah keheningan di antara kedua putranya, "terkadang ayah merasa kasihan pada Matthias. Menjadi seorang Duke di usia semuda itu bukan hanya soal gelar, itu adalah penjara. Dia dituntut untuk sempurna tanpa celah. Itulah sebabnya dulu ayah bertengkar hebat dengan Tuan Asturia, kakek kalian. Ayah berhenti menjadi pangeran mahkota karena aku ingin hidup sebagai manusia, bukan sebagai simbol kekuasaan."
Stellan dan Samuel saling pandang, mereka jarang mendengar ayah mereka bicara sejujur ini.
"Matthias tidak punya pilihan itu," lanjut sang Marquess. "Dia dibentuk menjadi mesin oleh neneknya. Tapi saat dia menatap adikmu tempo hari... Ayah melihat sesuatu yang berbeda. Dia tidak menatap Shaneen sebagai 'pajangan' atau 'alat politik'. Dia menatap Shaneen dengan rasa ingin tahu yang besar, seolah Shaneen adalah satu-satunya hal menarik yang tidak pernah ia temukan di rumahnya yang dingin atau di luar sana yang penuh kepalsuan."
Marquess tersenyum tipis. "Shaneen adalah anomali. Dia mandiri, tegas, dan galak pada hal yang menurutnya tidak benar, tapi dia punya hati yang paling lembut. Matthias butuh itu. Dia butuh seseorang yang berani membantahnya agar dia merasa hidup."
"Jadi Ayah benar-benar setuju?" tanya Samuel penasaran.
"Ayah sudah mengatakannya pada Matthias: 'Jika kau menyukainya, usahalah sendiri'. Kami tidak akan memaksanya. Restu kami ada padanya, tapi penaklukan hati Shaneen adalah perangnya yang paling berat."
Kapal perang The Great Eagle akhirnya merapat. Saat tangga kapal diturunkan, sosok Matthias von Falkenhayn muncul. Dia terlihat luar biasa tampan, meski wajahnya lebih tirus dan matanya lebih tajam dari dua tahun lalu. Seragam militernya sangat bersih, memancarkan aura otoritas yang tak tergoyahkan.
Begitu ia menginjakkan kaki di dermaga, Raja langsung melangkah maju dan memegang bahu Matthias.
"Duke Falkenhayn! Atas nama kerajaan, aku menyambut Anda pulang. Dan sebagai hadiah atas loyalitasmu, aku telah memutuskan untuk menyatukan garis keturunan kita. Putriku, Isabella, akan menjadi istrimu. Ini adalah perjodohan yang paling sempurna yang pernah ada di abad ini!" seru Raja dengan suara lantang yang sengaja diperdengarkan ke seluruh hadirin.
Sarah yang mendengar itu langsung melaporkannya dengan cepat. "Lady! Raja baru saja menjodohkan mereka secara terang-terangan! Tepat di depan semua orang!"
Di seberang telepon, Shaneen terdiam. Ada rasa panas yang menjalar di dadanya, sebuah perasaan posesif yang selama ini ia tekan rapat-rapat. "Lalu, apa reaksi Matthias?"
"Dia... dia tidak tersenyum sama sekali, Lady. Dia hanya memberi hormat kaku, lalu meminta izin untuk segera pergi dengan alasan laporan militer mendesak. Dia bahkan tidak melirik Putri Isabella atau Clarissa yang melambai padanya!"
Matthias segera masuk ke dalam mobil SUV hitam militer yang sudah menunggunya. Mobil itu melesat meninggalkan pelabuhan, mengabaikan pesta penyambutan yang sudah disiapkan Raja. Tujuannya hanya satu: Elysium Estate.
Satu jam kemudian, sebuah mobil agensi hitam yang elegan berhenti di depan gerbang paviliun pribadi Shaneen. Shaneen turun dari mobil itu dengan langkah anggun namun terburu-buru. Dia baru saja menyelesaikan urusan di perusahaan agensi musik besarnya—sebuah kekaisaran bisnis yang ia kelola dalam bayang-bayang sebagai "Nin". Tidak ada yang mengenalnya di sana sebagai Lady Asturia, tapi di sana dia adalah penguasa.
Shaneen sedikit terkejut melihat sebuah SUV militer sudah terparkir di depan pintunya. Di sana, bersandar pada pintu paviliun, berdiri Matthias.
Pria itu masih mengenakan seragam lengkapnya. Dia tampak lelah, namun matanya yang ice blue berkilat saat melihat Shaneen berjalan mendekat.
"Tuan Falken," Shaneen memulai dengan nada galak yang ia buat-buat, mencoba menutupi detak jantungnya yang menggila. "Berani-beraninya kau muncul di sini setelah dua tahun menghilang? Dan lihat mobilmu, itu menghalangi jalan masuk ku. Kau tahu aku benci sesuatu yang tidak pada tempatnya—" Kata-kata Shaneen terputus.
Matthias tidak membalas dengan kata-kata. Dia melangkah maju dengan cepat, menarik pinggang Shaneen dan memeluknya dengan sangat erat. Shaneen terkesiap, tangannya menggantung di udara.
Matthias membenamkan wajahnya di ceruk leher Shaneen, menghirup aroma mawar dan stroberi dari tubuh gadis itu dengan rakus, seolah dia sedang mengisi paru-parunya dengan oksigen setelah dua tahun tenggelam dalam debu perang. Tubuhnya yang besar sedikit gemetar.
"Dua tahun, Ninin..." bisik Matthias dengan suara serak yang penuh kerinduan. "Dua tahun aku hampir mati karena merindukan omelanmu."
Shaneen yang tadinya ingin mengomel, mendadak kehilangan semua kekuatannya. Pertahanan "Ice Queen"-nya runtuh seketika saat merasakan hangatnya pelukan Matthias. Perlahan, tangan Shaneen naik, membalas pelukan itu. Dia menepuk-nepuk punggung tegap Matthias dengan lembut, seolah sedang menenangkan seorang anak kecil yang baru pulang dari perjalanan jauh.
"Kau berantakan sekali, Matthias," bisik Shaneen pelan, suaranya kini melunak.
Matthias justru mempererat pelukannya, seolah tidak ingin melepaskan Shaneen lagi. "Biarkan saja. Untuk saat ini, biarkan aku menjadi kekacauan yang kau izinkan masuk. Aku merindukanmu... sangat merindukanmu."
Di bawah sinar matahari sore yang mulai menguning, dua jiwa yang selama ini hidup dalam tekanan "kesempurnaan" akhirnya menemukan kedamaian mereka. Di depan paviliun yang biasanya rapi dan steril, kini ada "kekacauan" paling manis berupa pelukan dua orang yang saling mendamba.
Shaneen tersenyum tipis di pundak Matthias. Ternyata, seberapa pun kuatnya ia membangun benteng, kunci perak yang ia simpan selama dua tahun ini memang ditakdirkan untuk membuka pintu hatinya bagi pria ini.