NovelToon NovelToon
Pewaris Rahasia

Pewaris Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Hantu
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Abdul Rizqi

Janu Manggala adalah seorang pemuda polos yang tak menyadari bahwa dirinya memiliki kesaktian Tiada Tanding... Segala jenis pusaka tunduk di hadapannya, ucapannya langsung menjadi kenyataan, dan orang orang yang menunjukan kesaktiannya di mata Janu mereka hanyalah orang gila...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Target!

"Bodo amat!! Udah sini naskah lu!" Ucap Rendi sembari merebut naskah yang di genggam Janu.

"Ka.. kapan saya dapat kabar tentang status tinjauan naskah saya Mas?"

"Se! ka! rang! juga!!! Duduk di sana! Dan tunggu gua! Kalau ngga gua coret sekarang naskah lu ini!" Ucap Rendi jutek.

Janu pun berjalan mencari meja kosong dan duduk sendirian. Tidak lama kemudian Rina datang menghampirinya.

"Aku temenin di sini boleh?" Sapa Rina sambil menarik kursi, Janu hanya mengangguk singkat.

"Maaf ya... Pacarku memang agak sensi orangnya, tapi sebenarnya dia orangnya baik, dan intuisinya bagus kok dalam melihat dan menilai sesuatu yang berbeda."

"Iya mbak, ngga papa.. jadi dia kerja jadi editor di kantor penerbit itu ya mbak?" Tanya Janu.

"Ngga, dia magang di sana masih mahasiswa. Memang penulis pemula yang baru ajukan naskah dia yang handel."

"Oh gitu..." ucap Janu, "padahal masih magang, tapi gayanya udah kayak CEO." Lanjutnya dalam hati.

Janu terus memperhatikan Rendi yang sedang membaca naskah novelnya awalnya baik-baik saja, bahkan Janu seperti serius membaca naskah novel tersebut hingga selang lima menit Rendi melirik kanan kiri ia tampak baru menyadari bahwa Rina pindah tempat duduk dan duduk di sebelah Janu.

Rendi menatap tajam Janu, "sialan kuli itu..!! Padahal novelnya cukup bagus. brengsek pasti dia punya pikiran buat rebut Rina.. ngga akan gua lolosin novel lu!" Batin Rendi.

Mendapati tatapan tajam Rendi, Janu langsung mengalihkan pandangannya.

Rendi kembali membaca naskah novel tersebut. Namun kali ini berbeda, ia tampak mencoret coret naskah tersebut dengan pulpen merah.

Janu dan Rina yang memperhatikan dari kejauhan tampak gelisah. Terutama Janu entah mengapa hatinya terasa sakit, melihat novel hasil karangannya yang sudah ia buat dengan memakan waktu yang sangat lama di coret coret oleh Rendi.

15 menit kemudian...

Rendi menghampiri Rina dan Janu yang sedang berbincang.

Brak!

Rendi membanting naskah novel yang penuh dengan coretan tinta merah di meja tepat di hadapan Janu.

"Naskah sampah!! Mending lu nguli aja ngga usah nulis! Gua baca lima bab dah ngga ada hal yang menjual dan menarik dari tulisan lu yang kayak bocah baru belajar nulis! Paham lu?!" Ucap Rendi bersila tangan.

"Ke.. kesalahan dan kekurangannya apa mas? Biar saya Revisi."

"Ngga perlu revisi revisian! Naskah lu terlau banyak kesalahan. Alur konflik ngga runtut dan logis! Gak relevan dan ngga sesuai sama topik yang di bahas, terlalu banyak efisiensi bahasa. Epilog dan narasi terlalu panjang, gaya percakapan ngga sesuai novelis. Perubahan POV yang tiba-tiba dan di jelaskan justru di akhir paragraf! Dan masih banyak lagi kesalahan lu. Kalau gua harus jelasin semuanya habis waktu gua... intinya lu ngga punya bakat nulis! Nguli aja sana!" Jelas Rendi blak blakan yang membuat Janu terdiam membisu, menelan ludah sambil memandang naskah novel yang tergeletak di depannya.

Beberapa pengunjung tampak terdiam di tempat memandangi Janu yang kena semprot Rendi, beberapa dari mereka tampak memandang iba Janu dan beberapa dari mereka juga ada yang tersenyum puas seolah kejadian itu adalah hiburan untuk mereka.

"Ayo Rin, kita cabut!" Ucap Rendi sembari mengambil kopi dan menumpahkannya ke naskah novel itu.

Ia kemudian berjalan begitu saja meninggalkan Janu yang diam membisu dengan hati yang terasa sangat sakit.

"Yang sabar ya Mas Janu.." ucap Rina sebelum akhirnya pergi menyusul.

Merasa di perhatikan banyak orang Janu pun bergegas mengambil naskah itu dan pergi dengan ekspresi penuh kecewa.

***

"Ren apaan sih! Kok lu arogan banget sekarang! Minta maaf ngga lu sama dia!" Ucap Rina.

Mereka berdua kini berada di dalam mobil hendak menuju kantor penerbit.

Rendi tidak menjawab, ia hanya diam membisu sembari fokus menatap jalanan di depannya. Sementara Rina terus menerus mengomel menyalahkan sikapnya yang sangat arogan. Rendi membiarkan Rina mengamuk begitu saja karena tak suka dengan sikapnya.

"Udah marahnya? Lu sadar ngga sih Rin? Lu yang buat gua ngga lolosin novel dia!" Ucap Rendi.

Rina terdiam sesaat kemudian bertanya dengan nada heran, "maksudnya?"

"Novel dia bagus, kisah Psikopat yang jatuh cinta sama gadis polos. Gaya penulisannya juga bagus, minim typo dan mengandung banyak pelajaran hidup dan kisah romansa kalangan remaja. novel dia punya potensi untuk di baca banyak pembaca dan laku keras di pasaran. Namun karena kamu udah deket deket sama dia, terpaksa aku ngga lolosin novel dia..."

"Apa!!!" Rina tampak semakin murka, "lu.. lu jahat banget sumpah Ren! Hanya karena gue duduk deket dia lu ngga lolosin novel dia dan cacimaki dia di depan umum! Cuma karena itu..?"

"Gue lakuin semua itu karena lu Rin, coba kalau lu ngga duduk sama dia, gue pasti bakal lolosin novel dia.."

"Gue sama sekali ngga nyangka sifat asli lu kayak begini Ren... berhentiin mobilnya!" Ucap Rina namun Rendi sama sekali tidak menjawab dan terus menjalankan mobilnya.

"Berhentiin mobilnya atau gue telfon papa!" Bentak Rina.

Barulah Rendi menepikan mobilnya.

"Gue kecewa sama lu Ren.. kita putus!" Ucap Rina sembari membuka pintu mobil hendak keluar.

Mata Rendi terbelalak, ia langung memegang pergelangan tangan Rina.

"Lu putusin gue cuma karena kuli itu Rin?! Jadi.. lu beneran suka sama dia?" Tanya Rendi.

Rina melepaskan paksa genggaman tangan Rendi kemudian menjawab, "iya! Gue suka sama kuli itu! Puas lu! Dari awal pertemuan gue sama dia, gue udah tau dia orang baik, sopan, dan gaya bicaranya ngga merendahkan orang lain. Beda kayak lu, gue ngga suka sikap arogan lu, baru pacaran aja lu udah menunjukan sikap yang begitu! Apalagi kalau udah menikah, lebih baik gue putusin hubungan ini dari pada gue nyesel nanti!" Ucapnya kemudian keluar dan membanting pintu mobil.

"Rina..!!!" Rendi berusaha mencegah namun Rina sudah terlebih dahulu berlari menuju gang sempit yang mustahil untuk mobil bisa masuk.

Apa yang tidak di ketahui oleh Rendi maupun Rina, di pinggir trotoar jalan raya bawah pohon, duduk seorang nenek tua menyeramkan dengan tampilan seperti pemulung lengkap dengan karung berisi botol plastik di sampingnya.

Nenek tua itu memiliki tampang yang sangat menyeramkan, rambutnya putih acak acakan, wajahnya hitam legam seperti di olesi arang, dan bola mata sebelah kirinya berwarna putih, ya! Mata kiri nenek tua itu buta.

Nenek tua itu tersenyum menyeringai, menampilkan gigi giginya yang kuning dan beberapa ada yang hitam, "jadi dia targetnya, Nona Muda Rina anak dari Tuan Prastowo... sepertinya ini akan sangat mudah karena dia... hanyalah manusia biasa."

1
Aman Wijaya
Rangga kepedean merasa dirinya seperti pangeran 🤴
Tini Nurhenti
mentri bahlul gan
Tini Nurhenti
puspa gmna kabare thor ?? 💪💪💪
Tini Nurhenti
kek kamyu ea thor 🤭🙏
Tini Nurhenti
baru lgi thor ?? hadir n nyimsk dlu thor 😄🙏🤭
bedul: iya nih, jangan lupa baca sampe selesai ya. udah 37 bab terjadwal nih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!