Bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungimu? Dari orang tua yang egois hingga 'cinta' yang berujung pada tindak kriminal dan hilangnya kehormatan. Novel ini adalah perjalananku menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak pernah adil. Tentang bagaimana berdiri di antara pengkhianatan keluarga dan trauma masa remaja yang merusak harga diri. Saat pintu-pintu baru mulai terbuka, justru ingin lari. Karena tahu, tidak semua yang datang berniat menyembuhkan beberapa mungkin hanya ingin mematahkan apa yang sudah retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjelisitinjak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 32
Aku memarkirkan motorku di garasi dengan gerakan yang jauh lebih lincah dari biasanya. Senyum di wajahku enggan luntur, bahkan aku sempat bersiul pelan saat melepas helm. Rasanya energi di tubuhku penuh kembali, padahal seharian ini cukup melelahkan sebagai mahasiswa pindahan.
"Sore, Mah! Tomi pulang!"
ucapku setengah berteriak saat melangkah masuk ke rumah.
Mama yang sedang menata majalah di ruang tengah langsung menoleh, alisnya terangkat sebelah melihat penampilanku.
"Loh, kamu hari pertama kuliah kok pulangnya selarut ini sih, Tom? Baru jam enam lewat. Ada masalah di kampus baru?" tanya Mama penuh selidik.
Aku memegang rambutku, berusaha mengatur ekspresi agar tidak terlalu terlihat salah tingkah.
"Nggak kok, Mah. Tadi lagi singgah main sebentar, cari angin," jawabku santai sambil menuju dapur untuk mengambil air minum.
Mama mengikutiku dari belakang, tangannya bersedekap dengan nada suara yang mulai berubah meledek.
"Cari angin atau cari apa nih? Kok wajahnya berbinar-binar gitu? Kayaknya semangat banget, nggak kayak tadi pagi yang mukanya ditekuk terus."
Aku meneguk air dingin dari gelas, mencoba bersikap cuek.
"Ya... kan udah dapet temen baru, Mah. Jadi ya seneng aja."
"Temen apa 'temen' nih?" pancing Mama lagi sambil menyenggol lenganku pelan.
"Melihat anak Mama yang biasanya cuek tiba-tiba pulang sambil senyum-senyum sendiri begini, kayaknya ada 'kejutan' yang beneran nunggu kamu di kampus ya?"
"Apaan sih, Mah? Udah ah, Tomi mau mandi dulu, gerah!" jawabku cepat-cepat sambil ngeloyor pergi menuju tangga, menghindari interogasi Mama yang makin tajam.
"Hati-hati, Tom! Nanti kalau senyumnya ketinggalan di kamar mandi, Mama nggak tanggung jawab ya!" teriak Mama tertawa dari arah dapur.
Aku hanya membalas dengan lambaian tangan tanpa menoleh.
Malam ini rasanya hatiku sangat hangat. Aku berbaring sebentar sambil menatap langit-langit kamar, bayangan wajah Hana saat tertawa tadi terus saja berputar di kepalaku.
Dia gadis yang manis, meskipun harus kuakui, ada sisi misterius yang sangat kuat dari dirinya. Rasanya seperti ada sesuatu yang dia simpan rapat-rapat di balik tatapan matanya yang teduh.
Tapi, aku segera menggeleng pelan, mencoba menyingkirkan dulu pikiran-pikiran itu. Aku tidak boleh terlalu hanyut. Dengan malas, aku bangkit dan berjalan menuju meja belajar, lalu menyalakan laptop.
"Fokus, Tom. Kuliah dulu," gumamku pada diri sendiri.
Aku harus mengerjakan beberapa tugas dan melengkapi catatanku yang masih berantakan.
Beruntung, materi kampusku di kota asalku ternyata tidak jauh berbeda dengan yang ada di sini, jadi aku tidak perlu meraba-raba dari nol. Hanya saja, tetap ada sedikit perbedaan kurikulum dan urutan pembahasan yang membuatku harus ekstra kerja keras malam ini.
Jemariku mulai lincah menari di atas keyboard. Aku meninjau kembali silabus mata kuliah semester 5 ini, mencocokkan bab-bab yang sudah dibahas dosen tadi pagi dengan referensi buku yang aku punya. Aku benar-benar harus mengejar ketertinggalan agar posisiku di kelas tetap stabil. Aku tidak mau reputasiku sebagai mahasiswa yang kompeten hancur hanya karena pindah kampus.
Di sela-sela mengetik laporan, sesekali fokusku teralih ke ponsel yang tergeletak di samping laptop. Ada keinginan kecil untuk mencari nama "Hana Alisya" di media sosial atau sekadar menanyakan kabarnya pada teman-teman baruku lewat grup WhatsApp yang tadi sore sempat kubentuk bareng Yogi.
Tapi aku menahan diri.
Aku tidak mau terlihat terlalu agresif di hari pertama. Biarlah semuanya mengalir. Yang penting, malam ini aku harus menyelesaikan utang catatan ini supaya besok di kampus aku bisa duduk di sampingnya dengan perasaan lebih tenang dan mungkin, bisa punya alasan lebih banyak untuk mengajaknya bicara lagi.
...----------------...
Hari-hariku di kampus baru terasa berjalan begitu cepat. Tidak ada lagi rasa malas atau keinginan untuk cepat-cepat pulang ke kota asalku.
Sekarang, alasanku untuk bangun pagi dan semangat berangkat kuliah cuma satu Hana (cita cita juga sihh hehehehe).
Kemajuannya luar biasa positif.
Siapa sangka, si mahasiswa pindahan ini akhirnya berhasil mendapatkan nomor WhatsApp-nya! Haha, sungguh sebuah pencapaian yang bikin aku senyum-senyum sendiri kalau melihat deretan pesan di ponselku.
Ternyata, Hana tidak sedingin kelihatannya. Dia hanya tipe cewek yang butuh waktu untuk membuka diri. Begitu sudah merasa nyaman, dia mulai bisa kuajak bercanda, bahkan sesekali dia yang membalas ledekanku.
Chattingan kami juga mulai mengalir lancar. Dari yang awalnya cuma bahas tugas atau nanya
"Besok ada kelas jam berapa?", sekarang sudah mulai masuk ke hal-hal random seperti curhat tentang dosen yang killer atau saling kirim foto makanan.
Di kampus pun, posisi dudukku sudah permanen di sampingnya. Teman-teman yang lain Yogi, Dhea, dan yang lainnya sudah bosan meledek kami karena melihat kami yang makin menempel.bahkan Dhea dan Diva merasa aku mencuri sahabat mereka haha ada ada saja
"Ehem! Dunia serasa milik berdua ya, yang lain kontrak!" sindir Yogi suatu siang saat kami sedang asyik diskusi di koridor kelas.
Aku hanya tertawa menanggapi sindiran itu.
Aku merasa sangat beruntung. Di balik wajahnya yang manis dan pembawaannya yang pendiam, Hana punya sisi humoris yang hanya ditunjukkan pada orang-orang tertentu.
Dan fakta bahwa aku adalah salah satu orang itu, membuat perasaanku makin tak karuan.
Tapi, meski kami makin dekat, terkadang aku masih melihat tatapan kosong itu sesekali muncul di matanya saat dia sedang melamun sendiri. Rasa penasaranku tentang apa yang sebenarnya dia sembunyikan masih ada, tapi aku memilih untuk tidak mendesak. Aku ingin dia sendiri yang bercerita saat dia sudah benar-benar siap.
...----------------...
Aku merebahkan tubuhku di atas kasur tanpa sempat melepas jaket kulit yang masih terasa dingin oleh terpaan angin malam.
Aku menatap langit-langit kamar yang hanya diterangi lampu tidur remang-remang, namun pikiranku justru terang benderang, memutar kembali setiap detik yang kulewati bersama Hana hari ini.
Jujur, siang tadi saat aku memutuskan keluar untuk mencari makan karena bosan dengan menu di rumah, aku sama sekali tidak menyangka akan menemukan pemandangan yang membuat hatiku mencelos.
Aku masih ingat persis bagaimana mataku menangkap motor matic Hana terparkir di depan restoran pinggir kota itu. Begitu aku melangkah masuk dan menemukannya duduk di pojokan yang tersembunyi, duniaku seolah berhenti sejenak.
Hana terlihat sangat rapuh. Matanya sembab, wajahnya kusam, dan dia menatap tumpukan makanan di depannya dengan pandangan yang kosong. Aku tahu dia sedang hancur. Aku tahu alasan "bangun tidur kelamaan" yang dia ucapkan itu hanya bualan belaka untuk menutupi luka yang sedang menganga.
Siapa yang bangun tidur tapi memesan nasi goreng spesial, ayam bakar, hingga cumi tepung seolah sedang menjamu satu kompi tentara? Dia sedang berusaha mengalihkan rasa sakitnya dengan rasa lapar, tapi jiwanya terlalu penuh dengan kesedihan sampai suapan itu pun tak sanggup tertelan.
Aku memilih untuk ikut masuk ke dalam permainannya. Aku tidak bertanya "ada apa" atau "kenapa kamu menangis". Aku tahu wanita seperti Hana tidak butuh interogasi, dia butuh pengalihan.
Maka aku menarik kursi, mengambil garpu, dan berpura-pura menjadi lelaki rakus yang menyelamatkannya dari "cumi-cumi yang hampir menangis". Saat aku melihat ujung bibirnya sedikit terangkat dan suara tawa kecilnya pecah, rasanya seperti aku baru saja memenangkan lotre paling mahal di dunia.
Setelah restoran itu, aku nekat membawanya ke pasar malam. Aku tidak mau dia pulang ke rumah dalam keadaan suasana hatinya masih menggantung. Aku ingin dia benar-benar lelah karena tertawa, bukan karena menangis.
"Wah, meremehkan ya? Lihat nih!" ucapku tadi dengan nada sombong yang kubuat-buat saat dia meragukan kemampuanku melempar kaleng.
Dalam hati aku merutuki tanganku yang tiba-tiba gemetar. Aku, Tomi, yang biasanya begitu tenang saat mengeksekusi three point di lapangan basket, mendadak jadi pecundang di depan tumpukan kaleng susu bekas. Lemparan pertama meleset, lemparan kedua menghantam meja. Aku bisa mendengar tawa Hana pecah di belakangku tawa yang lepas, tawa yang benar-benar berasal dari perutnya.
Melihatnya tertawa sampai memegangi perut dan matanya menyipit adalah pemandangan paling indah yang pernah kulihat sejak aku pindah ke kota ini. Persetan dengan harga diriku sebagai mantan kapten basket kalau menjadi konyol dan payah bisa membuatnya tertawa sekeras itu, aku rela menjadi orang paling ceroboh sedunia setiap hari.
Pada akhirnya, aku hanya bisa memberikan sebuah gantungan kunci kecil yang kudapatkan dari rasa kasihan si abang penjaga stand. Saat aku menyerahkannya, aku sempat tertegun. Hana menatapku dengan tatapan yang sangat dalam, sebuah tatapan yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Matanya yang tadi sembab kini berkilau, bukan karena air mata, tapi karena rasa nyaman. Saat itu juga, aku sadar satu hal: aku sudah jatuh terlalu dalam pada gadis misterius ini.
Perjalanan pulang di atas motor tadi terasa begitu lambat. Aku sengaja tidak memacu motorku dengan kencang. Aku ingin dia menikmati angin malam, aku ingin dia merasa bahwa dia aman. Aku bisa merasakan dia sesekali mengeratkan pegangannya pada jaketku, dan setiap sentuhan itu seolah mengirimkan aliran listrik yang membuat jantungku berdegup gila-gilaan.
Sekarang, di dalam kesunyian kamarku, aku meraih ponsel di atas nakas. Aku mengetik sebuah pesan, menghapusnya lagi, lalu mengetiknya ulang. Aku tidak ingin terlihat terlalu agresif, tapi aku ingin dia tahu bahwa aku ada.
To Hana: "Sudah sampai dalam rumah dengan aman, kan? Jangan lupa cuci muka, terus tidur. Besok aku nggak mau liat cewe cantik sekampus mukanya sembab lagi. Good night, Han. Tidur yang nyenyak ya."
Hanya butuh beberapa detik sampai ponselku bergetar.
Hana: "Udah sampai kok. Makasih buat hari ini ya, Tom. Beneran makasih banget. Good night."
Aku membaca pesan itu berulang kali sampai mataku terasa panas. Kata "makasih banget" itu terasa sangat berat. Aku tahu, hari ini aku bukan cuma mengajaknya makan atau bermain, tapi aku sedang menjahit satu persatu retakan di hatinya.
Pindah ke Kota J ini awalnya terasa seperti hukuman bagiku. Aku benci harus meninggalkan lingkunganku, benci harus membantu perusahaan Papa yang sedang bermasalah, dan benci harus beradaptasi lagi. Tapi malam ini, aku bersyukur pada setiap keputusan Papa.
Kalau bukan karena masalah perusahaan itu, aku tidak akan pernah menginjakkan kaki di kampus ini. Aku tidak akan pernah berada di restoran itu di jam yang sama. Dan aku tidak akan pernah bertemu dengan Hana Alisya.
Hana itu seperti teka-teki silang yang rumit.
Dia punya banyak kotak kosong yang belum terisi, punya banyak rahasia yang tersimpan di balik blazer abu-abunya. Aku tahu jalanku masih panjang. Aku tahu di belakangnya ada bayangan masa lalu yang mungkin lebih besar dari yang bisa kubayangkan.
Tapi malam ini, sambil memeluk bantal dan mencium sisa wangi angin malam di jaketku, aku membuat janji pada diriku sendiri.
Aku akan tetap di sini. Aku akan menjadi lelucon receh saat dia sedih, aku akan menjadi teman makan saat dia kehilangan selera, dan aku akan menjadi orang yang berdiri paling depan jika bayangan gelap itu mencoba menyentuhnya lagi.
"Selamat tidur, Hana," bisikku pada langit-langit kamar.
"Tidurlah yang nyenyak, karena besok, aku akan pastikan kamu punya lebih banyak alasan untuk tersenyum."
Aku memejamkan mata dengan senyum yang masih tertinggal. Esok hari mungkin akan ada masalah baru di kantor Papa, esok mungkin tugas kuliah akan menumpuk, tapi selama ada Hana di kursi sebelahku, aku tahu Kota J sudah resmi menjadi rumahku yang sebenarnya.
Sepertinya Hana gadis yang menyimpan banyak luka dan beban batin ya.....semangat Hana 💪💪