Satu tabrakan mengubah segalanya.
Aluna Prasetya tidak pernah membayangkan kecelakaan kecil akan menjebaknya dalam kontrak 6 bulan dengan Arsen Mahendra, pengusaha kaya raya yang dingin, berkuasa, dan obsesif.
Aturan ketat. Kontrol total. Kepemilikan mutlak.
"Kamu milikku, Aluna. Hanya milikku."
Arsen bukan sekadar menginginkannya sebagai asisten. Ia menuntut kepemilikan penuh jiwa, raga, dan hati. Sentuhan possesifnya membakar, obsesinya mencekik, namun Aluna terjerat terlalu dalam untuk kabur.
Ketika masa lalu kelam Arsen terungkap dan ancaman datang menghampiri, Aluna menyadari satu hal, melarikan diri dari Arsen Mahendra adalah mustahil.
Tapi apakah ia masih ingin melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora_Minji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 33: Punishment
Setelah malam yang penuh kelelahan emosional, pagi itu Arsen bangun lebih awal daripada biasanya. Ruang kerja mereka kini telah dipulihkan, serpihan beling dikumpulkan, dokumen tersusun rapi lagi, tetapi suasana di rumah tetap tegang, seperti embun pagi yang menetes lambat-lambat di daun-daun kering. Aluna sudah mandi dan bersiap untuk hari itu, tapi ia tahu Arsen tidak akan biarkan semuanya berlalu begitu saja. Keputusan untuk mencari psikolog besok masih hangat di udara, tapi bagi Arsen, itu bukan akhir dari pembicaraan, itu hanya transisi ke bentuk lain dari kontrol.
Aluna turun ke dapur untuk sarapan ringan, secangkir teh hijau tanpa gula, saat Arsen muncul di ambang pintu. Wajahnya tenang sekarang, mata birunya yang dingin kembali, tapi ada kilatan samar di sana, sesuatu yang lebih dalam dari kemarahan semalam, seperti api yang baru saja reda tapi masih membara di dasar. Ia tidak berkata apa-apa saat melewati Aluna, tapi tangannya menyentuh pinggangnya dengan gerakan yang lambat, possessive, mengarahkannya ke ruang tamu. Di sana, Arsen duduk di sofa panjang, menepuk pangkuannya.
"Sini," perintahnya pelan, suaranya datar tapi penuh otoritas, seperti instruksi bisnis yang tak bisa ditolak.
Aluna ragu sejenak, tapi ia tahu resistensi hanya akan memperburuk situasi. Ia duduk di pangkuannya, kepala bersandar di bahunya, tapi posisi itu terasa seperti jeratan, tubuhnya ditekan erat, lengan Arsen memeluk pinggangnya dengan kuat, jari-jarinya menjalar ke pinggulnya, mengunci posisi itu. Ini bukan pelukan romantis, ini adalah reminder bahwa ia milik Arsen, dan batas-batasnya masih ditentukan olehnya.
"Kamu tahu mengapa kita di sini?" Arsen bertanya, suaranya rendah, hampir bergumam di telinga Aluna. Napasnya hangat di kulitnya, tapi sentuhan itu terasa seperti rantai, possessive, mengingatkan siapa yang berkuasa.
Aluna menggeleng pelan, tapi ia merasakan getaran di tubuhnya, campuran antara ketakutan dan sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang membuatnya merinding bukan karena dingin, tapi karena kehadiran Arsen yang mendominasi ruangan.
"Karena kemarin," lanjut Arsen, tangannya geser ke paha Aluna, menekan dengan tekanan yang tidak main-main. "Kamu duduk dua puluh tiga menit dengan pria itu. Kamu bicara tentang teman lama, tentang masa lalu yang sudah selesai. Tapi aku melihat lokasi kamu berhenti di sana. Aku melihat kamu tertawa. Aku melihat kamu... bebas."
Suara Arsen naik sedikit, tapi tetap terkendali, seperti gunung es yang berbahaya di balik permukaan tenang. Tangannya naik ke dagu Aluna, memaksanya menatap matanya. Mata birunya gelap, penuh intensitas yang membuat Aluna merasa seperti ikan di air panas, tercekik tapi tidak bisa kabur.
"Aku tahu kamu tidak berbohong," katanya lagi, tapi nada itu berubah menjadi tuduhan yang halus. "Tapi kamu tidak memberitahuku. Kamu pergi tanpa izin. Kamu biarkan aku khawatir, biarkan aku merasa seperti... hilang. Dan itu tidak boleh terjadi lagi."
Intimacy ini keras, posisi mereka saling menempel, tubuh Aluna ditekan ke dada Arsen, tapi sentuhan itu bukan kasih sayang; itu adalah punishment, sebuah ritual yang mengingatkan Aluna bahwa ia berada di bawah atap Arsen, di bawah kendalinya. Lengan Arsen memeluk pinggangnya erat, jari-jarinya meremas dengan possessiveness yang nyata, seperti mengklaim wilayah yang baru saja terancam invasi. Aluna merasakan denyut nadi Arsen di dadanya, irama yang sama dengan detak nadinya sendiri, tapi dominasi itu terasa seperti penghakiman, ia harus belajar menghormati batas, menghormati hak Arsen atas segalanya, termasuk waktu dan pikirannya.
"Kamu akan belajar," Arsen bisik, bibirnya menyentuh leher Aluna, sentuhan yang singkat tapi menusuk, seperti jarum yang menusuk kulit. "Kamu akan belajar bahwa di bawah atap ini, segala sesuatunya milikku. Termasuk harimu, pikiranmu, bahkan kenangan lamamu."
Aluna menelan ludah, napasnya pendek. Ia ingin menyangkal, ingin berdebat, tapi sensasi itu, tekanan di pinggulnya, aroma Arsen yang familiar tapi mendominasi, membuatnya diam. Ini bukan kekerasan fisik, tapi psychological possession yang lebih dalam, mengingatkan bahwa Arsen adalah pemiliknya, dan ia harus patuh jika ingin bertahan di hubungan ini. Intimacy ini adalah penghukuman yang efektif, mengubah momen intim menjadi alat kontrol, mengingatkan Aluna bahwa kebebasannya terbatas pada izin Arsen.
Untuk sementara, Aluna tetap di pangkuannya, posisi itu terasa seperti penyerahan sunyi, tapi di baliknya, ada api kecil yang mulai menyala, keinginan untuk melawan, untuk menuntut lebih banyak kebebasan. Namun, untuk hari ini, ia memilih diam, membiarkan Arsen mengambil alih, karena ia tahu bahwa pertempuran besar akan datang nanti, setelah mereka berdua sadar bahwa cinta ini butuh rekonsiliasi, bukan hanya dominasi.