Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.
Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.
Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.
Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.
Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.
Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.
Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…
Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Pesan Terakhir
Keesokan harinya…
Ishani mempercepat langkah di koridor rumah sakit. Satu tangannya menyangga perut yang semakin membesar, tangan lainnya memencet tombol lift berulang kali. Keringat membasahi pelipisnya.
“Cepat…,” gumamnya tidak sabar.
Lift terasa lama. Ia menekan tombol lift di sebelahnya, kakinya mengetuk lantai dengan gelisah. Begitu pintu terbuka, ia hampir berlari masuk dan menekan angka empat.
Tangannya gemetar saat membuka ponsel. Pagi tadi Bu Maura menelepon. Semalam kondisi Biru membaik. Jantungnya stabil. Ia bisa bernapas tanpa ventilator. Bahkan mengeluh lapar dan meminta makan. Karena perkembangan itu, dokter memindahkannya dari ICU ke ruang rawat inap biasa.
Ding.
Pintu lift terbuka. Ishani setengah berlari menyusuri lorong, jantungnya berdegup lebih kencang dari langkahnya.
Tiga bulan sejak operasi itu, Biru tidak pernah benar-benar sadar. Hanya sesekali membuka mata, menyebut namanya dengan suara lemah, lalu kembali tertidur.
Ceklek.
Ishani membuka pintu kamar perlahan. Langkahnya terhenti.
Biru duduk tegak di ranjang, masih pucat namun jelas hidup, nyata, sedang menghabiskan makanannya.
Tangan Ishani melemah di gagang pintu. Hati Ishani terasa penuh dengan rasa bahagia dan lega.
Saat melihat Ishani, wajah Biru seketika berubah cerah. Senyum lebar terukir di bibirnya. “Sayang… Isha.”
Suara itu. Suara yang selama ini hanya hadir dalam mimpi dan doa. Lutut Ishani hampir goyah. Ia melangkah pelan mendekat.
Bu Maura berdiri dari kursi, memberi ruang.
Biru membuka kedua tangannya.
“Mas…”
Ishani masuk dalam pelukannya. Tangisnya pecah. Biru mendekapnya erat, membelai rambutnya perlahan, seolah memastikan istrinya benar-benar ada. Ia menunduk, menghirup wangi tubuh Ishani yang begitu dirindukannya.
Biru melepaskan pelukan, menghapus air mata di pipi Ishani, lalu mengecup keningnya lama. Tangannya turun ke perut Ishani yang membuncit, diusapnya lembut.
“Sudah tambah besar ya…”
“Dia kangen Ayahnya,” Ishani berbisik manja, menyandarkan wajahnya di dada Biru.
Biru tertawa kecil. Ia menunduk hingga wajahnya hampir menempel pada perut istrinya.
“Hai, jagoan kecil. Ayah juga kangen kamu.” Ia mengecup perut itu bertubi-tubi.
Lalu Biru menegakkan tubuhnya. Tatapannya berkeliling, memandang satu per satu orang di kamar. “Aku mau bilang sesuatu,” ujarnya tenang.
Matanya berhenti pada Langit, yang berdiri di sudut ruangan dengan tangan terlipat dan wajah tegang.
“Langit…” suara Bi lembut, “... makasih sudah datang. Gue mau titip ibu sama lo.”
“Biru, jangan ngomong sembarangan!” seru Bu Maura, cemas.
Biru meraih tangan ibunya. “Ibu tahu nggak, seberapa besar aku sayang ibu?” senyumnya seperti anak kecil. “Ibu nggak pernah capek ngerawat Biru yang sakit-sakitan. Sekarang giliran ibu yang dijaga.”
Air mata Bu Maura mengalir deras.
“Ibuku sayang…” Biru memeluknya erat, mengecup keningnya lama.
Biru menegakkan punggungnya. Tatapannya berhenti pada Langit. Mata Biru berkaca-kaca. Bukan hanya karena rasa sakit. Tapi karena ia tahu, sekali lagi, ia mungkin akan pergi lebih dulu… meninggalkan sesuatu yang seharusnya tidak pernah ia miliki.
Biru lalu menatap Ishani. “Sayang… kalau aku nggak ada, Langit yang jaga kamu.”
Langit tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras. Ada kemarahan, kecewa, dan rasa bersalah. “Lo sadar nggak sih apa yang lo omongin?” suara Langit rendah, tapi bergetar.
Biru menatapnya lurus. “Gue sadar.”
“Enggak. Lo nggak sadar.” Langit melangkah mendekat. “Dari kecil gue selalu di belakang lo. Selalu jadi yang ‘kuat’ karena lo yang sakit-sakitan. Selalu jadi tameng. Tapi ini beda, Biru.”
“Justru karena itu,” potong Biru. “Gue tahu cuma lo yang bisa jagain mereka.”
“Jaga mereka dari siapa?”
Biru terdiam.
Langit tertawa hambar. “Lo pikir hidup itu semudah estafet? Lo pergi, gue ganti posisi?”
“Gue cuma minta lo janji.”
“Janji buat apa? Buat jadi bayangan lo?”
Ruangan terasa lebih sesak.
Biru mengepalkan tangan di atas selimut. “Lo kakak gue.”
“Kembar,” koreksi Langit tajam. “Kita lahir beda lima menit. Jangan selalu pakai kartu ‘abang’ buat maksa gue.”
Ishani hanya bisa menatap mereka bergantian.
Biru menarik napas panjang. “Kalau gue nggak selamat, mereka nggak punya siapa-siapa.”
“Masih ada gue?” Ishani menyela, tersinggung.
Biru menatap istrinya lembut. “Kamu punya anak yang harus kamu jaga. Kamu nggak boleh sendirian.”
Langit mendengus kasar. “Lo ngomong seolah-olah lo sudah kalah.”
“Gue realistis.”
“Realistis atau pengecut?”
Bu Maura menutup mulutnya, tak menyangka kata itu keluar.
Tatapan Biru berubah. Ada luka di sana. “Selama ini gue yang di rumah sakit, Lang. Gue yang dengar dokter ngomong kemungkinan terburuk. Lo cuma sesekali datang, marah, lalu pergi.”
Giliran Langit yang terdiam sesaat.
“Lo pikir gue nggak takut?” suaranya meninggi. “Setiap telepon dari Ibu bikin gue ngerasa dunia berhenti. Tapi gue tetap berdiri karena gue percaya lo bakal bangun!”
“Dan kalau kali ini gue nggak bangun?”
Kalimat itu seperti menampar semua orang.
Langit mendekat sampai hampir menyentuh ranjang. “Kalau lo nggak bangun, itu berarti lo nyerah.”
Biru menggeleng pelan. “Ini bukan soal nyerah.”
“Ini soal lo menyerahkan hidup lo ke gue!”
“Gue cuma mau anak gue tetap punya ayah.”
Langit terdiam. Kalimat itu menusuk.
“Lo ayahnya, Lang,” lanjut Biru pelan, “Lo bukan pengganti gue.”
Sunyi panjang.
“Aku bukan benda yang bisa diwariskan,” suara Ishani bergetar.
Biru menatapnya penuh rasa bersalah.
“Aku tahu… tapi aku percaya sama Langit.”
Langit menatap Biru dengan mata memerah. “Gue nggak mau hidup dengan bayangan lo. Gue nggak mau setiap hari lihat anak lo dan ingat kalau gue gagal jagain lo.”
“Kita nggak pernah bisa jagain satu sama lain sepenuhnya,” jawab Biru lirih.
Langit mengepalkan tangan. “Kali ini lo harus janji buat sembuh, bukan janji buat nitipin orang.”
“Kalau gue nggak punya waktu lagi?” ucap Biru lemah.
Ishani menahan napas. Semua menunggu.
Brak
Langit membanting pintu sebelum air matanya benar-benar jatuh di depan semua orang.
Ruangan terasa semakin hening.
“Apa maksud, Mas?” tanya Ishani pelan, menahan gemetar.
“Isha, dengarkan aku…” Biru menarik Ishani untuk duduk di tepi kasur. “Nanti jangan tolak Langit. Aku cuma ingin kalian aman.”
“Kalau begitu sembuh! Aku capek melihat Mas begini!” Kata-kata itu keluar sebelum sempat ditahan.
Keduanya terdiam.
“Maaf, Mas…,” bisik Ishani, menyesal. “..bukan maksudku seperti itu.”
“Aku tahu.”
Senyum Biru tetap ada. Tapi ada sesuatu di matanya, sorot lelah yang amat sangat. Ia kembali menempelkan telapak tangannya ke perut Ishani. Kali ini lebih lama. Seperti seseorang yang sedang mencoba mengingat sesuatu.
“Kalau kamu nanti lahir, jangan cepat marah seperti ibumu, ya,” candanya.
“Mas!” Ishani mendengus, tapi senyumnya sudah kembali.
Tiba-tiba, bayi itu bergerak. Tendangan kecilnya terasa jelas. Biru terkekeh. “Tuh, dia setuju!”
Ishani tersenyum.
Mata Biru berkaca-kaca. Ia cepat-cepat menunduk lagi, pura-pura sibuk mengusap perut Ishani. “Ayah janji… apapun yang terjadi nanti, kamu dan ibumu tidak akan sendirian.”
“Mas…” Ishani mengusap rambutnya, rasa iba dan cinta bercampur jadi satu.
“Aku ngantuk. Temani aku tidur sebentar!” Biru membaringkan tubuh Ishani di sisi kasur, kemudian memeluknya dari belakang.
Malam itu, sebelum Ishani pulang, Biru kembali menempelkan dahi ke perutnya, menghembuskan napas panjang, seolah sedang mengucapkan doa penuh harapan dan rasa cinta.
Dan, Ishani tidak tahu…
Bahwa suara kekeh itu, sentuhan hangat tangan itu, serta napas yang menyentuh perutnya, akan menjadi satu-satunya kenangan anak mereka tentang ayahnya. Ayah yang sangat mencintainya bahkan sebelum menatap wajahnya.
Karena keesokan paginya, kondisi Biru kembali menurun. Ia kembali dilarikan ke ICU. Ishani menangis sepanjang hari, berdoa tanpa henti.
Dokter berusaha menstabilkan kondisinya, namun tanda vital Biru terus melemah. “Kami sarankan keluarga untuk berkumpul,” ucap dokter pelan.
Di malam itu, keluarga diizinkan berada di sisi Biru. Bu Maura terus menangis. Langit duduk di kiri ranjang. Ishani di kanannya, menggenggam tangan suaminya erat.
“Mas aku di sini… tolong jangan menyerah,” bisiknya menolak menerima vonis dokter.
Bunyi monitor terdengar semakin lambat. Setiap detik terasa seperti ancaman.
Matanya terus mengawasi gerakan garis pada layar. Ia masih berharap jika Biru akan bangun dan sehat kembali. Dia akan kembali pada kondisi seperti kemarin.
Subuh datang tanpa cahaya hangat. Kelopak mata Biru bergerak, tangannya meremas jemari Ishani.
“Mas…?”
“Bu, Mas Biru sadar,” lanjutnya lagi memanggil ibu mertuanya.
Bu Maura mendekat dengan langkah gemetar.
“La-Langit… janji.. janji,” suaranya sangat lemah.
Langit memeluk kepala kembarannya. “Iya. Gue janji.”
“I-isha… anakku… harus a–da… A-ayah,” ucap Biru tersenggal.
“Iya Mas… iya,” tangis Ishani pecah.
“I–ibu…,”
“Iya Biru, ibu ikhlas… ikhlas.” Tangisan Bu Maura tidak kalah memilukan.
Dokter masuk. Ishani tidak mendengar yang mereka katakan. Sayup-sayup ia mendengar suara Langit yang bergetar, membimbing Biru melewati sakaratul mautnya.
Tidak lama kemudian, suara monitor terdengar panjang. Terlalu panjang. Suara itu menandakan akhir perjuangan Biru. Tangan Biru masih dalam genggamannya ketika kehangatan itu perlahan menghilang.
Dan, untuk pertama kali dalam hidupnya, Ishani benar-benar merasa sendirian.
walaupun keras, langit orangnya bertanggung jawab, dan kayaknya dia beneran sayang sama kamu dan baby kamu ishanii /Slight/
Semangat!