NovelToon NovelToon
Lahirnya Kultivator Naga Keabadian

Lahirnya Kultivator Naga Keabadian

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Ahli Bela Diri Kuno / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Dijuluki "Sampah Abadi" dan dicampakkan kekasihnya demi si jenius Ma Yingjie tak membuat si gila kekuatan Ji Zhen menyerah. Di puncak dinginnya Gunung Bingfeng, ia mengikat kontrak darah dengan Zulong sang Dewa Naga Keabadian demi menjadi kultivator terkuat.

"Dunia ingin aku merangkak? Maka aku akan menaklukkannya lebih dulu!"

[Like, vote dan komentar sangat bermanfaat bagi kelanjutan cerita. Selamat membaca]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Titah Sang Guru

“Kau pulang lebih cepat dari dugaanku. Padahal aku baru saja ingin memejamkan mata sebentar lagi.”

Han Kong berbicara tanpa menoleh. Pria itu sedang duduk bersandar pada batang pohon raksasa yang menjadi fondasi rumah pohonnya. Caping lebarnya menunduk dalam, menyembunyikan sebagian besar wajahnya yang selalu terlihat lelah. Ekspresinya datar, matanya sayu seperti orang yang tidak tidur selama berhari-hari atau mungkin seperti seseorang yang sudah terlalu kenyang melihat kebusukan dunia. Kini dirinya sibuk memperbaiki letak capingnya dengan gerakan lambat, seirama dengan embusan angin hutan yang tenang.

Tak menunggu lama bagi Ji Zhen untuk segera melemparkan tanduk besar Banteng Roh Kulit Batu ke atas lantai kayu dengan suara berdentum keras. Wajahnya berseri-seri, napasnya masih sedikit memburu namun penuh kebanggaan.

“Guru, kau harus lihat sendiri! Binatang itu benar-benar monster! Kulitnya seperti perisai baja, setiap kali dia menyeruduk, tanah di lereng utara itu sampai retak. Aku harus menggunakan tiga Serigala Es sekaligus untuk mengecohnya, lalu menusuk paku es tepat di sendi kakinya sebelum akhirnya menghantam lehernya dengan tombak es paling tajam yang pernah aku buat!” Ji Zhen bercerita dengan tangan yang bergerak lincah, menggambarkan betapa menegangkannya pertarungan hidup mati yang baru saja ia lalui.

Sementara Han Kong hanya mendengarkan dengan tatapan kosong ke arah hamparan hijau di bawah mereka. Tidak ada pujian, tidak ada kekaguman. Ia lebih memilih untuk memotong kalimat Ji Zhen dengan nada yang sangat lirih namun tajam.

“Di mana gadis itu?”

Ji Zhen terhenti di tengah kalimatnya, berkedip beberapa kali, mendadak merasa kikuk. “Maksud Guru… Huiqing? Dia di penginapan. Aku merasa misi ini terlalu berbahaya untuknya. Lagipula, dia tidak punya kemampuan bertarung yang cukup untuk menghadapi banteng semacam itu.”

“Kenapa dia tidak ikut?” tanya Han Kong lagi, kali ini ia sedikit mengangkat dagunya, memperlihatkan rahangnya yang tak terawat. “Apa sebenarnya posisi gadis itu di matamu, Ji Zhen? Apakah benar-benar hanya seorang pelayan? Atau… kau menganggapnya sesuatu yang lebih rendah dari itu?”

Ji Zhen hendak menyahut dengan berbagai alasan logis tentang efisiensi misi dan keamanan, namun lidahnya mendadak kelu. Tatapan kuyu Han Kong seolah menembus masuk ke dalam tenggorokannya, menarik keluar kejujuran yang selama ini ia kubur di bawah tumpukan dendam. Ji Zhen mengunci mulutnya rapat-rapat, lalu menunduk, memandangi ujung sepatunya yang kotor oleh tanah basah. Ada rasa perih yang aneh muncul di dadanya, sebuah campuran antara rasa malu dan sesuatu yang tidak ingin ia akui.

“Dendam adalah beban yang sangat berat, Ji Zhen,” ujar Han Kong sambil menghela napas panjang. “Kau memeliharanya seolah itu adalah harta karun, padahal itu adalah karat yang perlahan memakan pedangmu sendiri. Jika kau terus memperlakukannya seperti anjing yang terikat rantai, pada akhirnya kau sendirilah yang akan tercekik oleh rantai itu. Dunia ini sudah cukup berat tanpa kau harus menambahinya dengan kebencian yang sudah basi.”

Ji Zhen mengepalkan tangannya. Apa yang kau tahu tentang masa laluku? Batinnya berteriak. Kau tidak tahu bagaimana rasanya dikhianati saat kau berada di titik terendah. Namun, ia tidak berani mengucapkannya secara langsung pada pria yang bisa menghancurkan batu hanya dengan sentilan jari ini.

Han Kong tetap dalam posisi santainya, seolah tidak peduli dengan gejolak batin muridnya. “Kau boleh merasa aku tidak tahu apa-apa. Tapi kau harus tahu satu hal, jika saat ini, Huiqing dan putri dari klan Yun itu sedang melangkah menuju jurang marabahaya yang sangat dalam.”

Ji Zhen langsung mendongak. Tubuhnya menegang seketika. “Apa maksudmu? Marabahaya apa? Yun Xia?”

“Gadis yang kau anggap sebagai anjing itu justru sedang mencoba kembali ke jalan kebenaran dengan menolong temannya,” Han Kong memperbaiki posisi duduknya. “Dia mempertaruhkan nyawanya untuk sesuatu yang benar. Lalu bagaimana denganmu, Ji Zhen? Apakah kau akan tetap di sini, membelai dendammu sambil menghitung koin emas?”

“Jangan dengarkan dia, Bocah! Itu hanya omong kosong filosofis untuk melemahkan ambisimu!” Zulong menyergah di dalam kepala Ji Zhen, suaranya penuh nada muak. “Kebenaran tidak akan memberimu kekuatan. Fokuslah pada kristal es dan cawan yang kau dapatkan!”

Ji Zhen mengabaikan Zulong kali ini. Ia menatap Han Kong dengan rahang yang mengencang. Ada sesuatu yang bergejolak dalam dirinya, insting untuk melindungi yang selama ini ia sangkal. Pemuda itu membungkuk dalam, memberikan hormat yang paling tulus sejak ia menginjakkan kaki di rumah pohon ini.

“Guru… katakan padaku. Apa yang harus aku lakukan agar bisa melindungi mereka? Apa yang harus aku lakukan agar bisa menghancurkan siapa pun yang mencoba menyentuh rekan-rekanku?”

Han Kong bangkit berdiri dengan sangat perlahan. Ia berjalan menuju tepi teras rumah pohon tanpa menoleh lagi. Punggungnya terlihat begitu lelah, seolah ia memikul seluruh beban langit di pundaknya.

“Tugasmu sederhana,” ucap Han Kong tanpa memutar tubuh. “Pergilah ke pusat kota. Cari pendekar bernama Tie Kuang. Kalahkan dia, dan rebut pedang pusaka yang ia menangkan di turnamen kemarin. Kau butuh pedang itu sebagai katalis agar kau bisa menerobos ke ranah Pembentukan Fondasi secara sempurna malam ini. Setelah kau memiliki kekuatan itu, baru kita bicarakan bagaimana caranya menghadapi klan Yun dan para tetua yang haus darah itu.”

Ji Zhen pun terdiam. Nama Tie Kuang memicu api kemarahan di matanya. Merebut kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya sambil menyelamatkan Huiqing? Itu adalah jenis misi yang sangat ia sukai.

“Aku mengerti,” jawab Ji Zhen mantap.

Ia berbalik dan melompat turun dari rumah pohon, melesat menembus hutan menuju Nancheng dengan kecepatan yang belum pernah ia capai sebelumnya. Di dalam batinnya, rasa haus akan kekuatan bertarung dengan kecemasan yang mendalam, menciptakan tekad yang lebih tajam dari tombak es mana pun.

1
YunArdiYasha
gas poll
MuhFaza
gas lanjutkan
MuhFaza
lanjut bg
Tuan Belalang
😍😍👍👍💪💪
YunArdiYasha
musuh
yuzuuu ✌
bagus ini ceritanya
DanaBrekker: terima kasih /Coffee/
total 1 replies
Tuan Belalang
😍👍👍👍
Tuan Belalang
sehat sehat othor
DanaBrekker: semoga semua pembaca karya othor juga sehat selalu
total 1 replies
Tuan Belalang
👍👍👍😍👍
Tuan Belalang
alamak, gukguk? 🤣
DanaBrekker: /Doge/
total 1 replies
Tuan Belalang
eyuhh najis 😄
Tuan Belalang
astoge udh gak ketolong nih anak 🤣
Tuan Belalang
pffftt mampus 👍👍🤣
DanaBrekker: /Cleaver//Gosh/
total 1 replies
Tuan Belalang
curang gak sih bangg 🤭🤭🤣
Tuan Belalang
mampus aja luu
Tuan Belalang
ji zhen nih tahan banting 💪
Tuan Belalang
mff bawell thorr abs novelmu bagus 😄😍👍🤭
DanaBrekker: terima kasih /Coffee/
total 1 replies
Tuan Belalang
🤭😍👍👍👍
Tuan Belalang
benr tu kt zilong
Tuan Belalang
😍😍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!