Shin Kurogane bukanlah remaja biasa. Di balik penampilannya yang santai dengan jaket kulit dan ikat kepala merah, ia membawa beban harapan kakeknya untuk menjadi sosok yang bermanfaat. Namun, hidupnya berubah total saat ia menginjakkan kaki di Kamakura Private High School, sebuah institusi elit tempat bertemunya tiga dunia yang berbeda.
Tiba-tiba, sebuah suara sarkastik dari entitas bernama Miu bergema di kepalanya, memperkenalkan "Template Pekerjaan". Kini, Shin bukan hanya harus menyeimbangkan hidupnya sebagai siswa, tapi juga sebagai penulis novel jenius, koki berbakat, dan ahli medis dadakan.
Di sekolah ini, ia terjebak di antara sepupu-sepupunya yang dingin seperti Yukino dan Eriri, guru-guru yang butuh perlindungan emosional seperti Shizuka dan Mafuyu, hingga gadis-gadis misterius seperti Utaha dan Megumi. Tanpa kekuatan supranatural atau sihir, Shin harus menggunakan kecerdasan analitis, karisma alami, dan bantuan sistemnya untuk menavigasi drama remaja, persaingan kreatif, da
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perayaan di Atap Sekolah
Gema riuh rendah dari aula besar perlahan memudar saat aku melangkah menaiki anak tangga menuju lantai tertinggi gedung utama Akademi Sakura. Di belakangku, pintu besi berat yang menuju ke atap berderit pelan saat kudorong, menyambutku dengan embusan angin sore yang membawa aroma musim semi yang kini terasa lebih manis. Langit Chiba telah berubah menjadi kanvas gradasi antara jingga membara dan ungu gelap, menandakan bahwa hari yang panjang ini mulai mendekati peristirahatannya.
Di sana, di balik pagar kawat tinggi yang membatasi atap sekolah, kelima gadis Nakano sudah menungguku. Mereka tampak seperti siluet yang indah di depan matahari terbenam. Ichika bersandar pada pagar dengan gaya santainya, sementara Yotsuba tampak sedang mengatur beberapa kotak makanan di atas tikar plastik yang entah dari mana mereka dapatkan.
"Ah, sang pahlawan kita akhirnya datang!" seru Ichika, suaranya membawa nada menggoda yang khas namun kali ini terasa jauh lebih hangat.
Aku berjalan mendekat, meletakkan tas bahuku di lantai beton yang masih menyimpan sisa panas matahari siang. "Aku tidak tahu atap sekolah sekarang menjadi tempat pesta rahasia. Bukankah Hiratsuka-sensei melarang siswa berada di sini setelah jam festival berakhir?"
Nino melangkah maju, menyilangkan tangan di depan dadanya. Meskipun matanya masih sedikit kemerahan bekas konfrontasi di aula tadi, wajahnya memancarkan kebanggaan yang sulit disembunyikan. "Jangan jadi kaku begitu, Saiba. Setelah apa yang kau lakukan pada Haruno-san di bawah tadi, menganggapmu sebagai 'siswa biasa' yang harus patuh pada aturan rasanya sudah tidak relevan lagi."
[Keahlian Analitis: Master]
[Status: Evaluasi Pasca-Konflik Selesai]
[Bahasa Sistem: Semua subjek dalam kondisi euforia emosional tingkat tinggi]
"Kami hanya ingin berterima kasih," Miku berbicara pelan dari balik syalnya, namun ia tidak lagi menunduk. Ia menatapku langsung dengan binar mata yang jernih. Di tangannya, ia memegang sebuah kantong kertas kecil. "Tadi, setelah turun dari panggung, banyak orang yang datang memuji tulisan kami. Mereka bilang... mereka merasa tidak sendirian setelah mendengar bagianku."
Aku duduk di atas tikar bersama mereka, melipat kakiku dengan santai. "Itu karena kau memberikan mereka cermin yang jujur, Miku. Aku hanya membantu membersihkan debunya."
Itsuki kemudian menyodorkan sebuah kotak bento yang tampak sangat rapi dan penuh dengan berbagai macam lauk. "Ini... aku membuatnya pagi-pagi sekali. Tadinya aku ragu untuk memberikannya padamu jika proyek ini gagal. Tapi karena naskah kita sukses besar, anggap saja ini sebagai kompensasi atas semua kata-kata pedasmu selama seminggu ini."
Aku menerima bento itu, merasakan berat dan kehangatan yang ada di dalamnya. Sifat dewasaku membuatku menghargai setiap detail kecil dari usaha mereka. Aku mengambil sumpit dan mulai mencicipi salah satu bagian masakan Itsuki. Rasa gurih dan sedikit manis menyentuh lidahku—sebuah variabel rasa yang dikerjakan dengan penuh ketelitian.
"Ini enak, Itsuki-san. Variabel rasanya sangat seimbang," pujiku tulus.
Itsuki tersenyum lebar, wajahnya merona karena bangga. Di sisi lain, Yotsuba melompat-lompat kecil di sekeliling kami. "Saiba-san! Bagaimana menurutmu bagianku? Apakah penutupnya cukup keren? Aku melihat banyak orang yang bertepuk tangan sangat keras saat bagianku dibacakan!"
"Kau memberikan energi yang dibutuhkan untuk menutup sebuah tragedi menjadi sebuah harapan, Yotsuba. Tanpa bagianmu, naskah itu akan terlalu gelap untuk sebuah festival sekolah," jawabku sembari mengacak rambutnya pelan, membuat gadis energik itu tertawa riang.
Keheningan yang nyaman menyelimuti kami saat matahari mulai benar-benar tenggelam di cakrawala. Kami duduk bersama di sana, mengamati lampu-lampu kota yang mulai menyala satu per satu seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi. Di momen ini, aku bukan lagi seorang pria dengan sistem di kepalanya, atau seorang murid pindahan dengan masa lalu yang kelam. Aku hanya seorang pria yang merasa utuh.
Nino duduk di sampingku, sedikit lebih dekat daripada biasanya. Ia tidak bicara, hanya memandang jauh ke arah cakrawala. Aku bisa merasakan jemarinya sesekali menyentuh kain kemejaku, seolah sedang memastikan bahwa keberadaanku di sini bukan sekadar ilusi dari naskah yang kami tulis.
"Kau tahu, Saiba..." Nino akhirnya bicara, suaranya sangat lirih, hampir tenggelam oleh desau angin malam. "Tadi di aula, saat kau berdiri di samping Haruno-san... untuk pertama kalinya aku merasa bahwa aku tidak perlu terus-menerus menjadi perisai bagi saudara-saudaraku. Karena ada seseorang yang lebih kuat yang berdiri di depan kami."
Aku menoleh padanya, menatap profil wajahnya yang diterangi oleh cahaya bulan yang mulai muncul. "Kau tetap perisai mereka, Nino. Aku hanya bertugas untuk memastikan perisaimu tidak hancur karena tekanan yang salah."
Nino tersenyum tipis—sebuah senyum yang lembut dan penuh rahasia. Ia menyandarkan kepalanya sejenak di bahuku, sebuah tindakan yang sangat berani bagi seorang Nino Nakano, sebelum ia menariknya kembali dengan cepat seolah baru saja tersengat listrik.
[Status Pekerjaan: 100%]
[Status Hubungan: Kembar Lima (Sangat Intim - Level Kepercayaan Maksimal)]
[Bahasa Sistem: Sinkronisasi emosional mencapai titik optimal]
"Jadi," Ichika memecah suasana dengan nada nakalnya, "setelah festival ini berakhir, apakah editor kita akan menghilang seperti karakter di novel misteri, atau dia akan terus mengawasi naskah hidup kami?"
Aku menutup kotak bento Itsuki dan berdiri, memandang ke arah langit malam yang luas. "Naskah kalian baru saja dimulai, Ichika. Festival ini hanyalah prolog. Dan selama variabel di dunia ini masih menarik untuk diamati... aku tidak punya alasan untuk pergi."
Mereka berlima berdiri bersamaku, melingkari aku di tengah atap sekolah itu. Di bawah sinar bulan, kami berjanji secara bisu bahwa apa yang terjadi hari ini bukan sekadar tugas sekolah, melainkan awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Angin malam yang lebih dingin mulai berembus, memaksa Ichika, Yotsuba, dan Itsuki untuk merapatkan seragam mereka. Setelah tawa dan obrolan panjang di atas tikar, satu per satu dari mereka mulai merasa kelelahan yang manis merayap di tubuh. Ichika, dengan kepekaan kakaknya yang tajam, melirik ke arahku, lalu ke arah Miku yang sejak tadi hanya diam sambil memandangi naskah di pangkuannya.
"Yah, mataku sudah mulai berat," ujar Ichika sambil meregangkan tubuhnya secara dramatis. "Ayo, Itsuki, Yotsuba... bantu aku membawa sisa makanan ini ke bawah. Kurasa kita harus membiarkan 'Editor-san' kita ini memberikan catatan penutup secara pribadi pada penulis utama kita hari ini."
Itsuki sempat ingin protes karena masih ada sepotong kue yang tersisa, namun tarikan tangan Yotsuba dan kerlingan mata Ichika membuatnya mengerti. Nino sempat ragu sejenak; ia menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan—setengah protektif, setengah pasrah—sebelum akhirnya mengikuti saudara-saudaranya menuruni tangga.
Kini, hanya tersisa aku dan Miku di atap sekolah yang luas itu.
Hening kembali meraja, namun bukan keheningan yang menyesakkan seperti di perpustakaan hari itu. Ini adalah keheningan yang penuh dengan kata-kata yang sudah tidak perlu lagi diucapkan dengan suara keras. Miku berdiri dari duduknya, berjalan perlahan menuju pagar kawat dan menyandarkan kedua tangannya di sana.
[Keahlian Analitis: Master]
[Status: Subjek (Miku Nakano) berada dalam kondisi refleksi mendalam]
[Bahasa Sistem: Sinkronisasi variabel keberanian mencapai puncaknya]
Aku melangkah mendekat, berdiri di sampingnya dengan jarak yang cukup untuk memberikan rasa aman namun tidak mengintimidasi. Aku melihat tangannya masih menggenggam erat pulpen yang kuberikan tempo hari—pulpen yang kini sudah menjadi saksi bisu lahirnya sebuah kejujuran.
"Kau melakukannya dengan sangat baik hari ini, Miku," ucapku lembut. "Suaramu tidak lagi bergetar karena takut, tapi bergetar karena kau benar-benar merasakan setiap kata yang kau ucapkan."
Miku menoleh sedikit, rambut cokelatnya tertiup angin hingga menutupi sebagian wajahnya. Ia menyampirkan anak rambut itu ke belakang telinganya, memperlihatkan rona merah yang bukan lagi berasal dari rasa malu yang menyakitkan.
"Saiba-kun..." suaranya hampir menyerupai bisikan angin. "Saat aku berdiri di sana tadi... aku merasa seolah-olah seluruh dunia menungguku untuk melakukan kesalahan. Tapi kemudian aku melihatmu di barisan belakang. Kau tidak terlihat cemas, kau juga tidak terlihat menuntut. Kau hanya... ada. Dan entah kenapa, itu membuatku merasa bahwa meskipun aku melakukan kesalahan, itu tidak akan menjadi akhir dari segalanya."
"Memang bukan," balasku, menatap lurus ke arah lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. "Kesalahan hanyalah salah satu variabel dalam sebuah draf. Kau bisa menghapusnya, menulisnya ulang, atau membiarkannya ada sebagai bagian dari perkembangan karaktermu. Yang paling penting adalah kau sudah berani memegang penanya sendiri."
Miku terdiam sejenak, lalu ia merogoh kantong kecil di seragamnya dan mengeluarkan sebuah gantungan kunci kecil—sebuah replika helm panglima perang zaman Sengoku yang sangat ia sukai. Ia menyodorkannya padaku dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Ini... aku membelinya saat perjalanan sekolah tahun lalu. Aku tidak pernah punya keberanian untuk memberikannya pada siapa pun karena aku takut mereka akan menganggap hobiku aneh," Miku berhenti sejenak, menarik napas dalam. "Tapi sekarang, aku ingin kau menyimpannya. Sebagai tanda bahwa kau adalah orang pertama yang benar-benar membaca naskah hatiku."
Aku menerima benda kecil itu. Logamnya terasa dingin, namun maknanya memberikan bobot baru pada tanggung jawabku sebagai pelindung mereka. Sifat protektif dan dewasaku membuatku tidak hanya melihat ini sebagai sekadar hadiah, melainkan sebagai sebuah kontrak kepercayaan.
"Aku akan menyimpannya sebagai pengingat, Miku. Bahwa naskah terindah bukan ditulis oleh mereka yang paling pintar, tapi oleh mereka yang paling berani menghadapi dirinya sendiri."
Miku tersenyum—sebuah senyum yang paling lebar dan paling cerah yang pernah ia tunjukkan sejak aku pindah ke sekolah ini. Di bawah cahaya bulan, ia tampak seperti protagonis wanita yang baru saja menyelesaikan busur perkembangannya dengan sempurna.
[Status Pekerjaan: 100%]
[Hubungan: Miku Nakano (Ikatan Jiwa - Terkunci)]
[Bahasa Sistem: Emosi subjek selaras sepenuhnya dengan narasi 'Ren Saiba']
"Sudah malam," ujarku memecah suasana magis itu dengan nada yang dewasa namun hangat. "Ayo turun. Nino pasti akan mengamuk jika aku membiarkanmu kedinginan di sini terlalu lama."
Miku tertawa kecil, suara tawa yang jernih dan manis. "Kau benar. Nino bisa sangat menyeramkan jika menyangkut jam pulang kami."
Saat kami berjalan menuju pintu keluar, Miku tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menarik ujung lengan kemejaku. Ia berjinjit sedikit, lalu membisikkan sesuatu tepat di dekat telingaku.
"Saiba-kun... mulai besok, jangan panggil aku 'Nakano-san' lagi saat kita bicara berdua. Panggil saja aku Miku. Karena penulis dan editornya tidak boleh terlalu kaku, bukan?"
Tanpa menunggu jawabanku, ia berlari kecil menuju tangga dengan wajah yang sangat merah, meninggalkan aku yang terpaku sejenak di ambang pintu. Aku menyentuh gantungan kunci di saku celanaku dan tersenyum tipis.
Dunia fusi ini... variabel manusianya jauh lebih kompleks dan indah daripada algoritma mana pun yang pernah kubayangkan.
Aku menyusul mereka turun, menutup pintu atap dengan perlahan, seolah-olah aku sedang menutup bab pertama dari buku yang sangat tebal. Festival sudah berakhir, namun di tanganku, aku merasakan beban dari lima takdir yang kini telah menyatu dengan takdirku sendiri.