Kisah tentang cinta yang tak memandang usia, tentang keberanian menerima masa lalu seseorang, dan tentang dua hati yang memilih bersama meski dunia sempat meragukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Dira berdiri di tengah dapur, menatap ruang yang bersih itu seolah mencari sesuatu untuk dilakukan.
Tangannya meraih gelas, lalu meletakkannya kembali.
Ia berjalan ke ruang tamu. Duduk. Berdiri lagi.
“Apa sih yang sebenarnya aku tunggu?” gumamnya pelan.
Pikirannya sempat kembali pada pesan Nadia. Lalu pada pesan ibunya. Lalu pada kalimat tentang “melayani suami yang benar.”
Dira menghela napas panjang.
Ia tahu pernikahan bukan sekadar tentang melayani. Bukan hanya tentang bertahan. Tapi tentang dua orang yang sama-sama mau belajar.
Ponselnya ia ambil lagi. Dibuka. Ditutup. Tidak ada pesan baru.
Akhirnya ia memutuskan keluar ke teras.
Ia masuk ke dalam.
Kali ini ia mengambil tas kecilnya.
Mungkin ia bisa keluar sebentar lagi. Ke minimarket. Atau sekadar berjalan keliling komplek.
Dira melangkah keluar pagar rumah.
Langkahnya pelan, tanpa tujuan yang benar-benar jelas. Hanya ingin bergerak.
Jalan kompleks siang itu tidak terlalu ramai. Beberapa anak kecil bermain sepeda. Seorang ibu muda duduk di teras sambil mengupas sayur.
Dira berjalan melewati mereka dengan senyum kecil.
Di tikungan dekat taman kecil kompleks, ia berhenti. Ada bangku kayu di bawah pohon ketapang yang cukup rindang.
Ia duduk di sana.
Angin siang berembus pelan, membuat ujung rambutnya bergerak tipis.
Dari tempat duduknya, ia bisa melihat rumah-rumah berjajar rapi. Semua terlihat normal. Tenang. Seolah tidak ada drama, tidak ada rahasia, tidak ada luka.
“Orang-orang ini kelihatannya biasa saja,” gumamnya
Pelan.
Tiba-tiba terdengar suara sapaan.
“Baru pindah, ya?”
Dira menoleh. Seorang ibu sekitar usia empat puluhan berdiri tidak jauh darinya, membawa kantong belanja.
“Iya, Bu. Baru beberapa hari,” jawab Dira sopan.
“Oh, yang rumah ujung itu, ya? Sama Pak Andreas?”
Dira sedikit terkejut mendengar nama suaminya disebut.
“Iya…” jawabnya hati-hati.
“Pak Andreas jarang kelihatan. Kerja terus ya?” tanya ibu itu sambil tersenyum ringan, tidak bermaksud apa-apa.
“Iya, lumayan sibuk,” jawab Dira singkat.
Ibu itu mengangguk. “Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan. Di sini orangnya saling baik baik”
“Terima kasih, Bu.”
Setelah ibu itu berjalan pergi, Dira kembali memandang taman kecil di depannya.
Ternyata kabar cepat menyebar di kompleks seperti ini.
Ia menarik napas panjang.
Pindah ke tempat baru bukan hanya soal rumah. Tapi juga soal lingkungan. Soal orang-orang. Soal pandangan.
Dira berjalan lagi menyusuri jalan setapak kecil.
Kali ini langkahnya tidak seberat tadi.
Di tengah perjalanan pulang, Dira melihat beberapa ibu-ibu muda sedang berkerumun di teras salah satu rumah. Terdengar suara tawa kecil bercampur bunyi ulekan yang beradu dengan cobek.
Aroma mangga muda dan sambal kacang tercium samar sampai ke jalan.
Baru saja ia hendak lewat pelan, salah satu dari mereka melirik ke arahnya.
“Mbak… yang baru pindah, ya?”
Dira berhenti, tersenyum canggung. “Iya…”
“Masuk aja, Mbak! Lagi bikin rujak nih!” seru yang lain dengan ramah.
Dira sempat ragu sebentar. Ia tidak terbiasa langsung akrab dengan orang asing. Tapi suasananya terlihat ringan. Tidak ada tatapan menilai. Hanya ibu-ibu yang duduk lesehan di atas tikar.
“Ayo, Mbak. Cuma rujakan kok bukan rapat penting” canda salah satu dari mereka.
Dira akhirnya tersenyum lebih lebar “Boleh… sebentar ya.”
Ia melepas sandal dan duduk di sudut tikar.
Di tengah mereka, cobek besar berisi sambal rujak sudah hampir jadi. Irisan mangga, bengkuang, nanas, dan kedondong tersusun di baskom plastik warna-warni.
“Namanya siapa, Mbak?” tanya seorang ibu berkerudung cokelat.
“Dira.”
“Oh, Mbak Dira. Aku Rani. Ini Siska, ini Lita,” mereka memperkenalkan diri satu per satu.
Dira mengangguk, mencoba mengingat nama-nama itu.
“Suaminya kerja kantoran ya? Jarang kelihatan” tanya Rani santai sambil mengulek sambal lagi.
“Iya… kerjanya lumayan sibuk,” jawab Dira.
“Wah, sabar ya kalau suami sibuk terus harap dimaklumi” timpal yang lain sambil tertawa kecil.
Dira ikut tersenyum. Tidak tersinggung. Tidak juga merasa terpojok.
Beberapa menit kemudian, piring kecil berisi rujak disodorkan ke arahnya.
“Nih, Mbak Dira duluan. Tamu baru”
Dira menerima piring itu. Pedas, asam, manis bercampur jadi satu di lidahnya.
Dan entah kenapa… rasanya seperti lama sekali sejak terakhir kali ia duduk santai seperti ini. Tanpa membahas dokumen. Tanpa membahas mantan. Tanpa membahas pindah rumah.
Hanya obrolan ringan.
Tentang harga cabai yang naik. Tentang anak sekolah. Tentang tukang gas yang sering telat.
Dira tertawa kecil saat salah satu dari mereka bercerita tentang suaminya yang salah beli gula jadi garam.
Untuk beberapa saat, ia merasa normal.
Bukan istri yang sedang memperbaiki pernikahan.
Bukan perempuan yang pernah dikhianati.
Hanya Dira.
Di tengah tawa kecil dan rujak yang makin pedas, Dira sadar—
Mungkin rumah bukan hanya soal dinding dan alamat.
Tapi tentang apakah ia mau membuka diri… atau tidak.
Obrolan terus mengalir ringan. Cobek hampir kosong, sambal rujak tinggal sisa tipis di pinggirnya.
Tiba-tiba Siska menoleh ke Dira.
“Eh, Mbak Dira dulu kerja apa?”
Dira berhenti sebentar sebelum menjawab.
“Kantoran… tapi udah resign.”
“Loh, kenapa?” tanya Rani spontan, bukan menginterogasi, hanya penasaran.
“Ibu sakit waktu itu,” jawab Dira pelan. “Jadi disuruh pulang. Terus jaraknya juga jauh… dulu kerja di Jakarta.”
“Wah, Jakarta?” Lita membulatkan mata. “Pantesan kelihatan beda auranya” candanya ringan.
Dira tertawa kecil. “Beda gimana?”
“Ya… lebih rapi gitu,” sahut Siska sambil tertawa, membuat yang lain ikut tertawa juga.
“Tapi berat ya ninggalin kerjaan?” tanya Rani lebih lembut kali ini.
Dira terdiam sepersekian detik.
“Lumayan,” jawabnya jujur. “Soalnya udah lama di situ. Tapi ya… keluarga tetap nomor satu jadi yah mau gimana lagi”
Ibu-ibu itu mengangguk paham.
“Iya sih, kalau orang tua sakit pasti kita kepikiran terus maunya dekatan” kata Lita.
“Sekarang ibunya gimana?”
“Udah lebih baik,” jawab Dira. “Makanya aku bisa fokus ke sini”
“Baguslah kalau gitu,” ujar Rani sambil merapikan potongan buah yang tersisa. “Kadang hidup emang bikin kita belok arah ya, Mbak.”
Dira tersenyum tipis.
Belok arah.
Kata itu terasa pas sekali.
Bukan cuma soal resign.
Bukan cuma soal pindah kota.
Tapi juga soal pernikahan. Soal kepercayaan. Soal memulai lagi.
“Yang penting sekarang bahagia ya, Mbak,” tambah Siska santai.
Dira tidak langsung menjawab.
Ia hanya tersenyum kecil.
Bahagia.
Ia belum yakin apakah itu kata yang tepat untuk menggambarkan hidupnya sekarang.
Tapi ia tahu… ia sedang berusaha menuju ke sana.
Tak lama kemudian, ponselnya bergetar di tasnya.
Dira menoleh sebentar.
Nama Andreas muncul di layar.
Ia menarik napas kecil sebelum mengangkatnya.