Kisah tentang cinta yang tak memandang usia, tentang keberanian menerima masa lalu seseorang, dan tentang dua hati yang memilih bersama meski dunia sempat meragukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Dira berdiri dari tikar sebentar.
“Maaf ya, aku angkat dulu,” katanya sopan pada ibu-ibu itu.
“Iya, santai aja Mbak,” sahut Rani sambil kembali merapikan buah.
Dira melangkah sedikit menjauh ke dekat pagar teras, lalu mengangkat telepon itu.
“Halo?”
Suara Andreas terdengar dari seberang, agak berat seperti baru selesai bekerja.
“Kamu di rumah?”
Dira melirik ke arah ibu-ibu yang masih tertawa di tikar.
“Lagi di rumah tetangga. Ada ibu-ibu lagi bikin rujak,” jawabnya jujur.
Di ujung sana Andreas diam sebentar.
“Rujak?”
“Iya,” Dira tersenyum kecil. “Baru kenalan sama mereka.”
“Hm.”
Hening beberapa detik.
“Aku mungkin pulang agak malam,” kata Andreas kemudian. “Ada meeting lagi.”
Dira sebenarnya sudah menduga.
“Iya, nggak apa-apa.”
“Kamu sudah makan?”
“Belum. Ini baru rujakan.”
Suara Andreas terdengar lebih pelan.
“Jangan cuma makan rujak.”
Dira hampir tertawa.
“Iya.”
Sekali lagi hening muncul di antara mereka.
Tidak canggung… tapi juga belum sepenuhnya hangat.
“Aku telepon cuma mau bilang itu,” lanjut Andreas. “Sama… kalau kamu butuh apa-apa, bilang aja.”
Kalimat itu sederhana, tapi membuat Dira sedikit terdiam.
“Ya,” jawabnya pelan. “Terima kasih.”
“Ya sudah. Hati-hati di luar.”
“Iya.”
Telepon pun terputus.
Dira menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum memasukkannya kembali ke tas.
Entah kenapa… nada suara Andreas tadi terasa berbeda.
Tidak dingin.
Tidak juga sepenuhnya dekat.
Tapi ada sesuatu yang sedang mencoba… berubah.
“Dipanggil suami ya, Mbak?” celetuk Siska dari tikar begitu Dira kembali.
Dira tertawa kecil.
“Iya, cuma nanya aku di mana.”
“Wah enak tuh, suami perhatian,” kata Lita sambil menyenggol Rani.
“Punya aku mah nanya kalau gas habis doang,” tambahnya membuat yang lain tertawa lagi.
“Eh tapi serius,” kata Rani sambil menyodorkan potongan mangga terakhir ke Dira. “Kalau butuh apa-apa jangan sungkan ya. Di komplek ini biasanya kalau sore suka kumpul juga.”
“Iya Mbak, kadang ada yang bawa gorengan,” tambah Siska.
“Kadang malah curhat,” sahut Lita sambil tertawa.
Dira ikut tertawa.
“Aku boleh ikut?”
“Lah harus!” jawab mereka hampir bersamaan.
Untuk pertama kalinya sejak pindah ke rumah itu, Dira merasa seperti tidak sendirian.
Tidak semua orang di tempat baru akan menilai masa lalunya.
Tidak semua percakapan harus berat.
Kadang… cukup duduk di tikar, makan rujak, dan tertawa bersama orang yang baru dikenal.
Beberapa menit kemudian Dira pamit pulang.
“Udah dulu ya Mbak, makasih rujaknya.”
“Iya, kapan-kapan mampir lagi!” kata Rani.
Dira berjalan kembali menyusuri jalan kompleks menuju rumahnya.
Langit mulai berubah warna. Sinar sore jatuh di atap-atap rumah, membuat suasana terlihat hangat.
Ia membuka pagar rumah pelan.
Rumah itu masih sama.
Sepi.
Tapi entah kenapa… tidak sesunyi tadi siang.
Dira masuk ke dalam rumah, meletakkan tasnya di meja.
Lalu tanpa sadar ia melirik ponselnya lagi.
Tidak ada pesan baru dari Andreas.
Namun kalimat yang tadi ia dengar masih teringat jelas.
"Kalau kamu butuh apa-apa, bilang aja."
Dira berdiri beberapa detik di ruang tamu.
Lalu ia berjalan ke dapur.
Membuka kulkas.
Melihat bahan makanan yang tadi pagi ia beli.
Tangannya mengambil sayur dan telur.
Mungkin… ia bisa memasak sesuatu malam ini.
Di luar, suara anak-anak yang bermain sepeda mulai mereda.
Senja turun perlahan di kompleks kecil itu.
Dira masih duduk di sofa dengan televisi menyala.
Suara dari layar terus berganti—iklan, acara komedi, lalu berita malam. Tapi pikirannya tidak benar-benar mengikuti apa yang ditampilkan.
Matanya kembali melirik jam di dinding.
Sembilan lewat lima.
Rumah tetap sepi.
Dira menarik napas pelan lalu bangkit dari sofa. Ia berjalan ke dapur, membuka tudung saji, dan melihat masakan yang tadi ia buat.
Tumis buncis dan telur itu sudah tidak hangat lagi.
Ia menatapnya beberapa detik.
Lalu kembali ke ruang tamu dan mengambil ponselnya.
Jarinya ragu sebentar sebelum akhirnya menekan nama Andreas.
Telepon berdering.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tidak ada jawaban.
Dira menatap layar ponselnya sampai panggilan itu akhirnya terputus sendiri.
Ia menghela napas kecil.
“Mungkin lagi meeting…” gumamnya mencoba berpikir positif.
Beberapa detik kemudian ia mencoba menelepon lagi.
Kali ini tidak menunggu terlalu lama.
Baru dering kedua—
telepon itu diangkat.
“Halo?”
Dira langsung hendak bicara.
“Andreas—”
Tapi suaranya terhenti.
Karena suara yang menjawab di seberang bukan suara Andreas.
Suara itu perempuan.
“Hallo?”
Nada suaranya lembut, tapi jelas bukan orang yang ia kenal.
Dira terdiam.
Beberapa detik terasa sangat panjang.
“Ini… siapa ya?” tanya perempuan itu lagi.
Dira menggenggam ponselnya sedikit lebih erat.
“Ini… Dira.”
Ada jeda singkat.
“Oh.”
Perempuan itu terdengar seperti menyadari sesuatu.
“Maaf, Pak Andreas lagi di dalam ruang meeting. Tadi HP-nya ketinggalan di meja, jadi saya yang angkat.”
Dira tidak langsung menjawab.
Pikirannya sempat kosong sepersekian detik.
“Oh… begitu.”
“Iya, Mbak. Nanti kalau beliau sudah keluar, saya bilangin ada telepon.”
“Iya… tidak apa-apa.”
“Baik, Mbak.”
Telepon itu pun terputus.
Dira masih memegang ponselnya beberapa detik lebih lama.
Rumah tetap sunyi.
Televisi masih menyala, tapi ia tidak lagi memperhatikannya.
Perempuan tadi terdengar sangat biasa.
Sangat normal.
Mungkin hanya rekan kerja.
Mungkin sekretaris.
Atau mungkin hanya staf kantor yang kebetulan ada di sana.
Tidak ada yang aneh.
Tidak ada yang salah.
Tapi entah kenapa—
dada Dira terasa sedikit lebih berat.
Ia menatap layar ponselnya sebentar sebelum meletakkannya kembali di meja.
Kemudian ia berjalan ke dapur, membuka tudung saji, dan mengambil piring.
Kalau Andreas memang pulang larut…
setidaknya ia tidak perlu menunggu lagi.
Dira duduk di meja makan.
Untuk beberapa detik ia hanya menatap makanan di depannya.
Lalu mengambil satu suapan pelan.
Rasanya sama seperti tadi.
Tapi malam ini…
Dira menghabiskan makanannya perlahan.
Hanya beberapa suapan. Setelah itu sendoknya berhenti di tengah piring.
Perutnya sebenarnya tidak lapar.
Ia berdiri, membawa piring itu ke wastafel. Air mengalir, tangannya bergerak otomatis mencuci piring, tapi pikirannya tidak benar-benar ada di sana.
Suara perempuan di telepon tadi masih terngiang.
“Pak Andreas lagi di toilet…”
Dira menghela napas pelan.
“toilet…” gumamnya lirih.
Ia menaruh piring yang sudah bersih di rak, lalu mengeringkan tangannya.
Dapur kembali rapi.
Persis seperti tadi sore.
entah kenapa terasa sedikit lebih hambar.
Ia mematikan lampu dapur lalu berjalan ke ruang tamu.
Televisi masih menyala, tapi kini suaranya terasa terlalu bising di telinganya.
Dira mengambil remote dan mematikannya.
Seketika rumah kembali sunyi.
Terlalu sunyi.
Ia berdiri beberapa detik di tengah ruang tamu.
Ponselnya masih di tangannya.
Tanpa sadar ia melihat layar itu lagi.
Tidak ada pesan.
Tidak ada panggilan balik.
Dira tertawa kecil… tapi hambar.
“Tenang, Dira,” gumamnya pada dirinya sendiri.
Ia berjalan pelan ke arah jendela.