NovelToon NovelToon
Pengantin Genderuwo

Pengantin Genderuwo

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Dunia Lain / Suami Hantu
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

Mirasih gadis yatim piatu yang di tinggal orang tuanya karena kecelakaan, di adopsi Pamannya.Tapi di balik kebaikan semu pamanya,ternyata semua harta ayah ibu nya di ambil semua ,dia dijadikan pembantu,kerap di siksa dan di pukuli hingga di jadikan tumbal pesugihan nya kepada genderuwo.Hanya secercah harapan kepada Aditya yang membuatnya kuat dan sabar menghadapi semuanya.. Apakah Aditya jujur dan setia janjinya kepada Mirasih?Sampai kapanpah Mirasih menjadi pengantin Ki Ageng sang Genderuwo itu ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecantikan Mirasih

​Perubahan itu terjadi begitu cepat, seolah-olah jiwa Mirasih yang lama telah dicabut paksa dan digantikan oleh entitas lain yang jauh lebih dingin dan penuh rahasia.

Sejak pulang dari rumah Aditya dengan hati yang hancur berkeping-keping, Mirasih tidak lagi mengurung diri. Pagi itu, saat matahari baru saja menyentuh atap rumah, pintu kamar depan terbuka. Mirasih melangkah keluar dengan rambut yang sudah tersisir rapi, meski tubuhnya masih tampak kurus kering, namun tatapan matanya tajam dan hidup dengan cara yang ganjil.

​Ia berjalan menuju dapur, tempat Bibi Sumi dan Siska sedang bersantai. Tanpa sepatah kata pun, Mirasih mengambil celemek, menyalakan kompor, dan mulai meracik bumbu. Bunyi pisau yang beradu dengan talenan terdengar ritmis dan cepat.

​"Loh, Mirasih? Kamu... kamu mau apa?" tanya Bibi Sumi dengan dahi berkerut. Ia bergidik ngeri melihat gerakan Mirasih yang begitu luwes, seolah tidak pernah terjadi penderitaan hebat beberapa hari lalu.

​Mirasih menoleh sedikit, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman yang tidak sampai ke mata. "Memasak, Bi. Bukankah Bibi bilang aku harus sehat agar Tuan senang? Aku ingin makan enak hari ini."

​Siska mencibir sambil melipat tangannya di dada. "Sok rajin. Kemarin aja mewek kayak mau mati. Sekarang tiba-tiba jadi koki. Dasar aneh."

​Mirasih tidak membalas. Ia justru mengambil sepotong daging ayam dari wajan, mencicipinya, lalu tertawa kecil. "Hmm... enak sekali. Masakanku memang selalu yang terbaik, bukan?" ucapnya memuji diri sendiri dengan nada suara yang datar namun menusuk.

​Bibi Sumi saling pandang dengan Siska. Bulu kuduk mereka berdiri. Ada sesuatu yang salah dengan tawa itu. Itu bukan tawa gadis remaja yang bahagia, melainkan tawa seseorang yang sudah tidak lagi memiliki rasa takut karena tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan.

​Setelah masakan matang, Mirasih menatanya di atas meja makan dengan sangat rapi, hampir terlihat seperti perjamuan. Tak lama kemudian, pintu depan terbuka kasar. Paman Broto masuk dengan langkah sempoyongan. Bau alkohol yang tajam langsung menusuk hidung, bercampur dengan aroma parfum wanita yang sangat menyengat dan murah—bukan aroma parfum Bibi Sumi.

​"Mana makanan? Aku lapar!" teriak Broto sambil melempar jaketnya ke kursi. Ia tidak memperhatikan atmosfer aneh di rumah itu. Matanya merah dan wajahnya tampak kusam.

​"Ini, Paman. Sudah Mirasih siapkan," ucap Mirasih sambil mendekat dan menyodorkan piring berisi nasi dan lauk pauk.

​Broto menerima piring itu dan makan dengan lahap, hampir rakus. "Enak... ini baru masakan manusia. Kamu sudah pintar sekarang, Mir," ucapnya di sela-sela kunyahan. Setelah habis, ia langsung bangkit, mengusap mulutnya dengan kasar, dan berjalan menuju kamar tanpa menoleh lagi.

​Mirasih berdiri diam, memperhatikan punggung pamannya. Hidungnya yang sensitif menangkap sisa-sisa parfum wanita di udara yang ditinggalkan Broto. Ia tersenyum dingin, sebuah senyum penuh kebencian yang tersembunyi.

​"Sepertinya ada yang sedang bermain api di luar sana," bisik Mirasih pelan, cukup untuk didengar oleh Bibi Sumi yang sedang mencuci tangan.

​Sumi tersentak. "Apa maksudmu, Mir?"

​"Tidak ada, Bi. Hanya saja... uang emas itu memang bisa membeli segalanya, termasuk kesetiaan yang palsu, bukan?" Mirasih lalu melenggang pergi, meninggalkan Bibi Sumi yang mendadak merasa gelisah dan curiga pada suaminya sendiri.

​Keesokan harinya, hari Senin. Suasana menuju malam Selasa mulai terasa. Namun, kali ini Mirasih tidak menunggu untuk diseret. Siang itu, ia mengenakan baju terbaik yang ia punya dan meminta uang kepada pamannya.

​"Paman, aku butuh uang. Aku ingin ke pasar," ucap Mirasih di depan kamar Broto.

​Broto yang masih pusing akibat mabuk semalam, merogoh dompetnya tanpa banyak tanya. Ia memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu. "Beli apa pun yang kamu mau. Yang penting besok malam kamu tampil sempurna."

​Mirasih menerima uang itu dengan tangan yang mantap. Ia berjalan menuju pasar desa dengan langkah santai, tidak lagi menunduk seperti budak. Di pasar, ia menjadi pusat perhatian. Ia mendatangi toko kain terbaik, memilih jarik bermotif sidomukti yang biasanya dipakai pengantin, lalu membeli baju kebaya baru berbahan brokat halus yang mahal.

​Terakhir, ia mendatangi penjual bunga. "Bu, berikan aku bunga setaman yang paling segar. Mawar merah yang banyak, melati yang baru dipetik, dan kantil yang belum mekar," pesannya.

​"Wah, mau ada acara apa, Nduk? Wangi sekali bunganya," tanya si penjual bunga.

​Mirasih tersenyum tenang. "Acara penyambutan suami, Bu."

​Si penjual bunga terdiam, merasa ada yang ganjil dengan jawaban itu, namun ia tetap membungkus pesanan Mirasih.

​Dalam perjalanannya pulang, Mirasih menatap langit biru yang mulai menguning. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, rasa sakit akibat surat Aditya telah bermutasi menjadi kegilaan yang terencana. Ia merasa telah dikhianati oleh cinta manusia, maka ia memutuskan untuk merangkul kegelapan. Jika ia harus menjadi istri mahluk halus, maka ia akan menjadi istri yang paling hebat.

Ia akan meminta harta yang lebih banyak, ia akan meminta kekuatan, dan ia akan memastikan bahwa setiap orang yang telah menyakitinya akan merangkak di bawah kakinya suatu hari nanti.

​Jika Aditya bisa melupakanku, maka aku akan menjadi sesuatu yang tidak akan pernah bisa dia bayangkan, batinnya.

​Malam Selasa tiba.

​Suasana rumah Broto berubah menjadi hening yang mencekam. Bau kemenyan mulai dibakar di sudut-sudut rumah. Paman Broto dan Bibi Sumi sudah bersiap di ruang tengah.

​Namun, mereka terkejut saat melihat Mirasih keluar dari kamarnya.

​Mirasih tampak luar biasa cantik, namun kecantikannya terasa berhawa dingin. Ia mengenakan kebaya brokat barunya, jarik sidomukti yang melilit pinggangnya yang ramping, dan rambutnya digulung rapi dengan hiasan bunga melati dan kantil yang harumnya memenuhi seluruh ruangan. Ia tidak menangis. Ia tidak gemetar.

​"Aku sudah siap,jangan ada yang masuk kamarku ataupun ganggu kami nanti" ucap Mirasih datar.

​Bibi Sumi bergidik. "Nduk... kamu tidak apa-apa? Kenapa kamu... berdandan seperti ini?"

​Mirasih menatap bibinya dengan mata yang seolah tidak memiliki pupil. "Bukankah ini yang kalian inginkan? Aku adalah aset kalian. Aku adalah tambang emas kalian. Maka biarkan aku melayani suamiku dengan layak."

​Paman Broto menelan ludah. Ia merasa ngeri melihat keponakannya yang kini tampak seperti penguasa rumah itu. "I-iya... bagus kalau kamu sudah sadar. Ayo, masuk ke kamarmu. Tuan pasti sudah menunggumu."

​Mirasih masuk ke dalam kamarnya yang sudah ia taburi dengan bunga setaman di atas tempat tidur. Ia mematikan lampu, membiarkan ruangan itu hanya diterangi oleh cahaya rembulan yang masuk dari sela jendela. Ia duduk tenang di pinggir tempat tidur, menunggu kehadiran mahluk yang telah merenggut kemanusiaannya.

​Hawa dingin mendadak menyerbu. Bau singkong bakar muncul di udara.

​Mirasih tidak bergeming. Saat sosok pria tampan dengan aura gelap itu muncul di kegelapan, Mirasih tidak memalingkan wajah. Ia justru menatap mahluk itu dan mengulurkan tangannya.

​"Selamat datang, Tuan," ucap Mirasih dengan suara yang tenang namun dingin.

​Sosok pria tampan itu—sang Genderuwo—tampak sedikit terkejut melihat perubahan mempelainya. Namun, keterkejutan itu segera berganti dengan kepuasan yang liar. Ia mendekat, membelai wajah Mirasih dengan tangan dinginnya.

​"Kau berbeda malam ini, Mirasih..." bisik mahluk itu di dalam kepalanya.

​"Aku telah melepaskan duniaku yang lama, Tuan. Sekarang, aku hanya milikmu. Tapi sebagai istrimu, aku ingin mahar yang lebih besar. Berikan aku emas yang tidak akan pernah habis, berikan aku perhiasan yang paling indah, dan berikan aku kekuatan agar tidak ada lagi manusia yang bisa merendahkan ku," tuntut Mirasih.

​Mahluk itu tertawa, sebuah suara geraman yang membuat dinding kamar bergetar. "Kau cerdik, Istriku. Aku akan memberikannya. Malam ini, kau akan mendapatkan segalanya."

​Di ruang tengah, Paman Broto dan Bibi Sumi gemetar saat mendengar suara tawa dari dalam kamar Mirasih. Itu bukan tawa Mirasih, tapi suara tawa mahluk ghaib yang sangat puas. Tak lama kemudian, mereka mendengar suara Mirasih tertawa pelan—suatu hal yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam ritual ini.

​"Pak... aku takut," bisik Bibi Sumi sambil memeluk lengan suaminya. "Mirasih seperti sudah bukan Mirasih lagi. Dia tertawa dengan Tuan itu."

​Broto hanya bisa diam, meskipun hatinya pun dicekam kengerian yang dalam. Ia merasa telah melepaskan seekor singa dari kandangnya, dan ia tidak yakin apakah ia masih bisa mengendalikannya.

1
☠ 🍒⃞⃟🦅 SULLY
kelamaan kamu mnjadi bodoh Mirasih ,
apa pasrah bgtu saja hidupmu
di permainankan paman bibi mu ??
sia sia pengorbanan orangtua mu selama hidup
bangkit donk
balas perbuatan busuk mereka
Halwah 4g: ashiapppppppppp kaa...lagi pasang kuda-kuda dia..masih bucin akut dulu 🤭
total 1 replies
☠ 🍒⃞⃟🦅 SULLY
hukuman yang seperti apa akan di terima Broto dan Sumi
manusia busukk
Asphia fia
mampir
Halwah 4g: trimksih kaa 😍
total 1 replies
Evi Anjani
mampir🥰
Halwah 4g: terima ksih kka cantikkkkkk 😍
total 1 replies
Amiera Syaqilla
pengantinnya seram tapi kok juga cantik banget sih😅
Halwah 4g: iya ka🤭 biar gek jlek2 bnget
total 1 replies
Bp. Juenk
sadis amat thor sama gendruwo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!