NovelToon NovelToon
Dia Masih Tetap Anaku

Dia Masih Tetap Anaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

Tiga hari ia bergulat dengan maut. Bayinya lahir tanpa tangis. Lalu diam selama 25 tahun.

Aryo hanya penarik becak. Istrinya buruh cuci. Mereka tak punya uang untuk rumah sakit, apalagi untuk terapi. Tapi ketika dokter bilang anaknya tak akan pernah normal, Aryo cuma berkata: "Dia tetap anakku."

Warga bilang anaknya kena guna-guna. Tetangga bergunjing di setiap pos kamling. Batu dilempar ke rumahnya tengah malam. Tapi Aryo bertahan. Sampai suatu hari, istrinya batuk darah. Dan Aryo harus memilih: selamatkan istri, atau rawat anak yang tak pernah bisa memanggilnya Bapak?

Kisah nyata seorang ayah yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.

Siap-siap sediakan tisu. Karena setiap bab akan membuatmu terisak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: 7 HARI

Hari pertama. Aryo bangun pagi-pagi. Matahari belum naik. Ia duduk di kursi plastik itu. Memandangi surat dari bank. Angka 7 juta. Jatuh tempo 7 hari.

7 hari. 7 juta. 1 juta per hari.

Ia hitung. Penghasilan narik becak dulu paling banter 50 ribu sehari. Itu pun kalau lagi ramai. Sekarang? Becak nggak ada. Tenaga masih lemah. Kaki masih pincang.

"Mas..."

Dewi bangun. Duduk di sampingnya. "Nggak tidur?"

"Mikir."

Dewi lihat surat itu. "Mas, kita gimana?"

Aryo geleng. "Nggak tahu, Ri."

Dari dipan, Risma nangis. Mereka berdua bangkit. Risma bangun. Mungkin lapar. Mungkin basah.

Dewi ganti popok. Aryo siapkan susu. Mereka kerja sama. Seperti biasa. Seperti nggak ada masalah.

Tapi masalah itu ada. 7 juta. 7 hari.

 

Pagi itu, Aryo pergi cari kerja. Jalan kaki. Kontrakan ke pasar. Pasar ke terminal. Terminal ke sawah.

Tawarkan diri ke semua orang.

"Pak, butuh kuli?"

"Bu, butuh angkat barang?"

"Pak, butuh kenek?"

Semua geleng. Semua tolak.

"Udah ada, Lek."

"Nggak butuh."

"Lain kali aja."

Sore harinya, Aryo pulang. Kaki pegal. Badan lelah. Tangan kosong.

Dewi lihat dari pintu. Wajah Aryo sudah kasih tahu. Nggak dapat.

"Mas, makan dulu."

Aryo duduk. Makan nasi sambal. Tapi nggak ada rasa. Yang ada cuma angka 7 juta.

"Ri, aku ke Bu Satinah. Pinjam dulu."

Dewi mengangguk. Tapi matanya berkata: udah pernah pinjam. Udah dibantu. Apa nggak malu?

Tapi mereka nggak punya pilihan.

 

Aryo ke rumah Bu Satinah. Rumah sederhana. Tapi lebih besar dari kontrakan mereka.

"Pak Aryo? Masuk."

Aryo duduk di kursi bambu. Bu Satinah bawa teh panas.

"Ada perlu apa, Pak?"

Aryo malu. Tapi ia paksakan. "Bu, saya... saya pinjam uang."

Bu Satinah diam. "Berapa, Pak?"

"2 juta. Buat bayar utang bank. Sisa 5 juta cari sendiri."

Bu Satinah menghela napas. "Pak, saya nggak punya uang sebanyak itu. Paling 500 ribu."

Aryo tunduk. "Nggak apa-apa, Bu. 500 juga cukup."

Bu Satinah ambil uang. "Ini, Pak. Nggak usah bayar. Ini bantuan."

Aryo geleng. "Nggak, Bu. Saya bayar. Nanti kalau udah bisa."

"Terserah Bapak."

Aryo terima uang. Makasih berkali-kali. Pulang.

500 ribu. Kurang 6,5 juta.

 

Malam harinya, Aryo hitung lagi. Utang bank 7 juta. Uang dari Bu Satinah 500 ribu. Sisa 6,5 juta. Waktu tinggal 6 hari.

Dewi duduk di sampingnya. "Mas, aku jualan gorengan lagi."

"Kamu? Risma?"

"Aku bawa. Taruh di depan."

"Kamu nggak kuat."

"Harus kuat, Mas."

Aryo pegang tangannya. Tangan Dewi kasar. Kapalan. Tapi hangat.

"Makasih, Ri."

Mereka tidur. Berdesakan. Tapi hangat.

 

Hari kedua. Aryo ke pasar lagi. Kali ini ketemu Haji Sulkan. Orang yang beli rumah mereka.

"Pak Haji, saya mau kerja."

Haji Sulkan lihat Aryo. "Kerja apa?"

"Apa aja. Kuli, jaga toko, apa aja."

Haji Sulkan mikir. "Bapak jaga kebun saya. Bayaran 50 ribu sehari. Mau?"

Aryo senang. "Mau, Pak. Mau."

"Mulai besok. Jam 7 pagi."

Aryo pulang. Cerita ke Dewi.

"Ri, aku dapat kerja! Jaga kebun! 50 ribu sehari!"

Dewi senang. Tapi langsung hitung. 50 ribu x 6 hari \= 300 ribu. Masih jauh dari 6,5 juta.

"Nggak apa-apa, Mas. Yang penting ada pemasukan."

 

Hari ketiga. Aryo jaga kebun. Panas terik. Keringat bercucuran. Tapi ia nggak mengeluh.

Pulang, bawa 50 ribu. Serahkan ke Dewi.

"Ini, Ri. Kumpulin."

Dewi terima. Masukkan ke celengan.

Malam, mereka hitung. 50 ribu dari Aryo, 30 ribu dari jualan Dewi. Total 80 ribu.

Sisa target: 6,42 juta. Waktu tinggal 4 hari.

Aryo nggak bisa tidur.

 

Hari keempat. Aryo jaga kebun lagi. Pulang bawa 50 ribu.

Dewi jualan dapat 35 ribu. Total 85 ribu.

Sisa target: 6,335 juta. Waktu tinggal 3 hari.

Aryo mulai putus asa.

"Ri, kita nggak akan cukup."

Dewi pegang tangannya. "Mas, kita coba dulu. Siapa tahu ada rezeki lain."

Tapi rezeki lain nggak datang.

 

Hari kelima. Aryo jaga kebun. Sore harinya, Haji Sulkan panggil.

"Pak Aryo, mulai besok nggak usah masuk."

Aryo kaget. "Kenapa, Pak?"

"Kebunnya udah selesai. Nggak butuh lagi."

Aryo lunglai. 50 ribu terakhir. Selesai.

Pulang, ia nggak bisa cerita ke Dewi. Ia hanya duduk di kursi. Diam.

Dewi tahu. Dari wajahnya. "Mas, dipecat?"

Aryo angguk.

Mereka diam. Saling pandang.

Dari dalam, Risma nangis. Dewi masuk. Tinggal Aryo di ruang tamu. Sendirian. Dengan angka 6,285 juta. Dengan waktu 2 hari.

 

Hari keenam. Aryo putus asa. Ia coba ke rentenir lain. Tapi semua tolak.

"Pak, reputasi Bapak jelek. Utang ke Kirman aja nunggak."

"Udah lunas, Pak."

"Iya, tapi pernah nunggak. Kami nggak mau ambil risiko."

Aryo pulang. Kosong.

Dewi jualan dapat 30 ribu. Sisa target: 6,255 juta. Waktu tinggal 1 hari.

Malam itu, mereka nggak tidur. Mereka duduk di kursi. Risma tidur di dipan.

"Mas, besok... gimana?"

Aryo geleng. "Nggak tahu, Ri."

"Mas, kita lari aja. Tinggalkan kontrakan. Kabur."

Aryo kaget. "Kabur? Lari dari utang?"

"Apa boleh buat? Darah kita disiksa. Risma butuh hidup tenang."

Aryo diam. Mikir. Lari? Ke mana? Dengan modal apa? Risma sakit, butuh kontrol.

"Ri, kita nggak bisa lari. Risma butuh dokter."

Dewi nangis. "Terus gimana, Mas? Mau diapain?"

Aryo pegang tangannya. "Hadapi, Ri. Besok kita ke bank. Bicar baik-baik. Minta keringanan."

Dewi nangis. "Mereka nggak akan dengar, Mas. Mereka preman."

"Kita coba dulu."

 

Hari ketujuh. Pagi-pagi, Aryo dan Dewi siap-siap. Risma digendong Dewi. Mereka ke bank.

Di bank, mereka ketemu petugas. Pria galak. Wajah dingin.

"Pak, saya minta keringanan. Saya nggak punya uang 7 juta."

Pria itu senyum sinis. "Bapak, ini bank. Bukan panti sosial. Bayar atau kami ambil jaminan."

"Jaminan apa? Saya nggak punya apa-apa."

Pria itu lihat Dewi. Lihat Risma. "Istri Bapak? Anak Bapak?"

Aryo kaget. "MAKSUD ANDA?"

Pria itu senyum. "Becanda, Pak. Santai. Tapi serius, kami akan ambil apa pun yang bisa diambil. Kontrakan Bapak? Perabotan? Becak? Laporan tetangga, Bapak jual rumah. Uangnya ke mana?"

Aryo diam. Nggak bisa jawab.

"Pak, saya tunggu sampai jam 5 sore. Kalau nggak bayar, kami datang ke kontrakan."

Mereka pulang. Dengan tangan kosong. Dengan hati hancur.

 

Siang harinya, mereka duduk di kontrakan. Risma tidur. Aryo pandangi lantai. Dewi pandangi Aryo.

"Mas, kita gimana?"

"Nggak tahu, Ri."

"Mas, aku takut."

"Udah, Ri. Pokoknya kita hadapi."

Jam 3 sore. Pintu digedor. Kencang.

"PAK ARYO! BUKA!"

Aryo buka. 5 orang berdiri di sana. Satu dari bank. Empat preman.

"Pak, uangnya?"

Aryo diam.

"Tidak punya?"

Aryo geleng.

Preman itu masuk. Satu pegang kerah Aryo. "Kamu pikir main-main dengan bank?"

Dewi menjerit. "JANGAN! JANGAN SAKITI DIA!"

Preman itu lempar Aryo ke tembok. Aryo jatuh. Kepalanya berdarah.

"MAS!"

Dewi lari ke Aryo. Tapi preman lain pegang tangannya.

"Bu, diam. Jangan banyak tingkah."

Risma bangun. Lihat keributan. Ia nangis. Nangis keras.

Preman itu lihat Risma. "Itu anaknya? Sakit? Katanya gila?"

Aryo bangkit. "JANGAN SENTUH ANAK SAYA!"

Preman itu ketawa. "Tenang, Pak. Kami nggak mau anak gila."

Aryo mau maju. Tapi dua preman pegang dia.

Pemimpin preman itu berkata, "Pak, kami ambil semua barang di sini. Tv, kulkas, perabotan. Besok kami datang lagi. Kalau masih nggak bayar, kami ambil istri Bapak. Jaminan ke kami."

Aryo teriak. "JANGAN! JANGAN SENTUH MEREKA!"

Tapi preman itu sudah pergi. Membawa tv bekas, kulkas kecil, dan perabotan.

Kontrakan kosong. Tinggal dipan, kompor minyak, dan beberapa pakaian.

Aryo jatuh duduk. Kepalanya berdarah. Dewi nangis di sampingnya.

Risma nangis di dipan. Nangis sendiri.

Hidup mereka hancur. Lagi. Dan kali ini, lebih hancur dari sebelumnya.

Aryo pandangi langit-langit. Ingat pesan terakhir preman itu. "Besok kami ambil istri Bapak."

Ia pegang tangan Dewi. Gemetar.

"Ri... kita harus pergi... sekarang..."

Dewi tatap dia. "Ke mana?"

Aryo geleng. "Nggak tahu. Tapi kita harus pergi."

Malam itu, mereka berkemas. Pakaian seadanya. Risma digendong. Mereka tinggalkan kontrakan.

Jalan kaki. Gelap. Dingin. Risma nangis. Mungkin lapar. Mungkin takut.

Dewi menyanyi pelan. "Nina bobo... o... nina bobo..."

Aryo di depan. Melangkah. Tak tahu arah. Yang ia tahu, mereka harus selamat. Dari preman. Dari utang. Dari hidup yang kejam.

Di kejauhan, ada lampu. Stasiun kereta.

"Ke stasiun, Ri. Naik kereta. Ke mana aja."

Mereka berjalan. Risma terus nangis. Tapi Dewi terus menyanyi.

"Nina bobo... o... nina bobo..."

Di stasiun, mereka naik kereta terakhir. Tujuan: nggak tahu. Yang penting pergi.

Aryo pegang tangan Dewi. Dewi pegang Risma.

"Nak... kita pergi... cari hidup baru..."

Risma diam. Lelah. Matanya terpejam.

Kereta jalan. Meninggalkan kota itu. Meninggalkan utang. Meninggalkan preman. Meninggalkan masa lalu.

Tapi Aryo tahu, masa lalu tak mudah ditinggal. Utang tetap utang. Preman tetap cari.

Besok, mereka akan cari. Tapi besok, Aryo sudah di tempat lain.

Ia pandangi Dewi. Dewi pandangi dia. Mereka tersenyum. Meski takut.

"Kita bisa, Ri."

"Kita bisa, Mas."

Risma tidur. Nyenyak. Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, ia tidur tenang.

Mungkin ia tahu. Mungkin ia rasakan. Bapak ibunya sedang berjuang. Untuknya.

 

[BERSAMBUNG]

 

1
Nurgusnawati Nunung
Ya Allah yang Maha Kuasa... semangat thor
Nurgusnawati Nunung
mewek lagi.. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
keluarga yang kuat.. semangat.
Nur Syamsiah
certNy bagus menyentuh
Nurgusnawati Nunung
semangat thor...
Ayaelsa: Terima kasih dukungannya😄
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
cerita di dunia nyata itu sangat mengerikan jika ada orang seperti Joko
Nurgusnawati Nunung
orang jahat banyak akal iblis
Nurgusnawati Nunung
Ada ada saja orang gila harta orang lain.,
Nurgusnawati Nunung
Mbah Kar sudah tiada.. semoga ada lagi orang baik sepertinya. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
berjuang lah Risma untuk orang tuamu yang tak henti berjuang untukmu.. sedih baca cerita ini. semangat thor
Ayaelsa: terimakasih sudah Sudi membaca
total 1 replies
Siti Dede
Semangaaaat👍
Nurgusnawati Nunung
kecil amat gaji sebulan
Nurgusnawati Nunung
kasihan sekali hidup mereka.. semoga selalu diberi kemudahan
Nurgusnawati Nunung
Alhamdulillah masih ada orang baik.
Nurgusnawati Nunung
Yaa Allah..
Ayaelsa: terima kasih sudah membaca kisah ini
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
sedih yaaa. alhamdulillah susternya pada baik. semangat
Nurgusnawati Nunung
Thor.. belum apa2 sudah lemas hatiku. sedih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!