NovelToon NovelToon
Salah Hati, Tepat Cinta

Salah Hati, Tepat Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / BTS
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rania Venus Aurora

Ryn Moa memilih kampusnya demi satu alasan: Kim Taehyung, pria yang telah lama ia sukai. Namun upayanya mendekati Taehyung justru membawanya pada ketertarikan lain-J-Hope, sahabat Taehyung yang ceria.

Di tengah perasaan yang berubah-ubah itu, hadir Kim Namjoon, teman mereka yang tidak setampan dua pria sebelumnya, tetapi memiliki ketenangan, kecerdasan, dan senyum manis yang perlahan merebut hati Ryn Moa.

Tanpa disadari, pencariannya akan cinta membawanya menemukan sosok yang paling tepat, justru dari arah yang tak pernah ia duga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.33

Cahaya mentari sore terlihat begitu indah, Ryn Moa duduk bersama teman-temannya yang heboh setengah mati. Kalau dilihat dari luar, mereka tampak seperti sekumpulan mahasiswa yang sedang menghabiskan sore dengan santai, tertawa, minum, dan bercanda seperti biasa. Tapi kalau diperhatikan lebih dekat, meja itu seperti sarang konspirasi kecil yang siap meledak kapan saja. Mereka memilih duduk di sudut kantin kampus yang agak tersembunyi, jauh dari keramaian mahasiswa lain. Meja panjang itu dipenuhi gelas minuman; es teh, jus jeruk, kopi susu dan beberapa camilan yang sudah hampir habis. Suasana sore terasa santai, tapi energi di meja itu sama sekali tidak tenang. Kursi sedikit bergeser ke dalam, membentuk setengah lingkaran yang mencurigakan. Tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar fokus pada minumannya. Bahkan sedotan di gelas Ryn Moa sudah lama tidak ia sentuh. Ryn Moa duduk di tengah, punggungnya sedikit tegang, seolah ia sudah tahu bahwa momen ini tidak akan berakhir dengan damai. Ia melirik satu per satu wajah dari wanita di sekelilingnya ini, dan nalurinya berteriak, ini jebakan !!.

“MOA”

“Kami harus intervensi nih.”

“Kami curiga sesuatu terjadi.”

Tiga suara datang hampir bersamaan, membuat Ryn Moa menyandarkan punggung ke kursi. Ia menatap wajah-wajah di sekelilingnya, Melly yang bersedekap penuh curiga, Arella yang sudah condong ke depan seperti detektif, dan Ida yang menyipitkan mata seolah sedang memindai kebohongan. Sementara itu, Windi sudah memegang ponsel, siap mencatat atau merekam, entah apa. Celine terlihat paling tenang, tapi justru itulah yang membuat Ryn Moa semakin waspada. Dan Ody tersenyum kecil, seperti seseorang yang tahu ledakan akan segera terjadi dan memilih menikmati detik-detik sebelum itu.

“Apa sih?” Ryn Moa menatap mereka bingung.

Nada suaranya defensif, tapi juga pasrah. Ia tahu teman-temannya tidak akan berhenti sampai mendapatkan jawaban yang memuaskan mereka. Melly menunjuk wajah Ryn Moa

“Kau terlihat glowing.”

“Hah? Glowing apaan?”.

Ryn Moa menyentuh pipinya. Ia bahkan menarik ponselnya, membuka kamera depan, dan menatap refleksi dirinya sendiri dengan kening berkerut.

“Aku pakai bedak yang sama kayak kemarin.”

Arella mendekat.

“Kau jatuh cinta, kan?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja, tanpa basa-basi. Ryn Moa membeku, waktu seperti berhenti satu detik untuknya. Sendok berhenti di udara, sedotan berhenti di mulut, bahkan Ody berhenti mengunyah.

“Eh?? Sama siapa??”

Kalimat itu keluar terlalu cepat, Ryn Moa sendiri terlihat seperti orang yang sedang kebingungan. Ida mulai menghitung dengan jari satu persatu sambil menyebut,

“Bisa jadi J-hope.”

Ia mengangkat satu jari, ekspresinya serius seperti sedang menyusun teori konspirasi.

“Data pendukung,” lanjut Ida tanpa diminta. “Dia sering duduk sebelahan sama kamu. Kamu ketawa paling keras kalau dia yang ngomong. Dan...”

“Dan kamu pernah minum dari gelasnya,” sela Melly dramatis.

“Itu karena aku salah ambil!” bantah Ryn Moa cepat.

“Bisa jadi Taehyung.” Windi menimpali,

Jari kedua terangkat. Windi bahkan mengangguk sendiri, merasa hipotesisnya sangat masuk akal.

“Tatapan kamu ke dia aneh,” lanjut Windi. “Kayak… antara mau marah, mau senyum, tapi bingung.”

“Itu ekspresi bingung biasa!” Ryn Moa berkilah.

Celine berdehem pelan.

“Bisa jadi… Namjoon.”

Nama itu terucap pelan, tapi efeknya seperti menjatuhkan batu ke air tenang. Ryn Moa langsung hampir tersedak es teh nya yang sedang ia sedot. Ia terbatuk keras, wajahnya memerah, membuat Ody sontak langsung menepuk punggungnya.

“Minum pelan-pelan,” kata Ody sambil menahan tawa. “Kita belum sampai klimaks.”

“AKU TIDAK TAHU!!” Ryn Moa memekik.

Beberapa mahasiswa di meja sebelah menoleh. Ada yang berbisik, ada yang tersenyum geli. Ryn Moa menutup wajahnya dengan kedua tangan, malu setengah mati. Ia bisa merasakan panas menjalar sampai ke telinga.

“Ya makanya kita bantu,” kata Ody santai. “Sekarang pertanyaan penting, siapa yang membuat hatimu berdebar hari ini?”

Pertanyaan itu lebih tenang. Tidak menghakimi. Justru terdengar… serius. Dan justru karena itu, Ryn Moa tidak bisa langsung menjawab. Ia diam dan suara di sekitarnya seperti mengecil. Tawa, obrolan, dan bunyi sendok beradu dengan gelas perlahan menjauh dari kesadarannya. Pikirannya mundur mengingat sesuatu. Ia teringat pagi tadi, cara Namjoon menoleh ketika melihatnya datang. Cara ia menyapanya dengan lembut tanpa suara keras, seolah tahu Ryn Moa tidak suka jadi pusat perhatian. Cara ia menyodorkan buku dengan gerakan sederhana, tanpa menyentuh, tapi cukup dekat. Ia teringat lesung pipi itu muncul setiap kali Namjoon tersenyum kecil, bukan senyum lebar, tapi senyum yang terasa tulus dan tenang. Bukan senyum yang membuat jantung berlari, tapi yang membuatnya merasa ingin duduk lebih lama. Tatapan bijak yang tidak menghakimi dan tidak menekan. Tidak menuntut apa pun. Suara bariton berat yang tidak pernah memaksa, tapi selalu terdengar menenangkan hatinya setiap ada kalimat yang keluar dari pria itu. Semua potongan itu tidak datang bersamaan. Mereka datang satu per satu, seperti potongan puzzle yang akhirnya membentuk gambar utuh.

“…Namjoon,” bisiknya.

Suaranya nyaris tidak terdengar, tapi cukup. Dan keenam temannya langsung berteriak seperti melihat BTS konser depan mata.

“AKU TAU!!!”

“INI TERASA SEJAK AWAL!”

“LESUNG PIPI ITU MEMANG BAHAYA!”

“RYN KITA BUTUH DETAIL!”

“DARI KAPAN??”

“SEJAK KAPAN KAMU SENYUM SENDIRI LIAT PONSELMU”

Ryn Moa menutup wajahnya lagi. Kali ini bukan karena malu, tapi karena senyumnya tidak bisa ia tahan.Pipinya pegal karena terlalu lama tersenyum.

“Berisik banget sih,” keluhnya, tapi suaranya tidak terdengar kesal sama sekali.

“Ya ampun,” kata Melly sambil memegang dadanya. “Ini momen sejarah.”

“Screenshot ini,” ujar Windi ke Ody. “Moa akhirnya mengaku.”

“Aku nggak mengaku!” bantah Ryn Moa cepat.

“Barusan kamu bilang Namjoon,” sahut Ida tanpa ragu.

“Itu...” Ryn Moa terdiam. “Itu cuma… pengakuan sementara.”

“Pengakuan sementara itu awal dari kehancuran,” kata Celine tenang.

“Dari kebucinan,” sambung Ody memperbaiki kalimat Celine.

Mereka semua tertawa. Di tengah tawa dan teriakan teman-temannya, ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya. Pengakuan kecil itu meski hanya diucapkan pelan, membuat perasaannya terasa lebih nyata. Tidak lagi sekadar dugaan. Tidak lagi sekadar kebingungan. Ia belum tahu ke mana perasaan ini akan berakhir. Ia belum tahu apa yang Namjoon rasakan. Ia bahkan belum tahu apa yang sebenarnya ia harapkan. Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak menyangkalnya. Seperti lingkaran kecil yang mulai terbentuk. Pelan tapi mengikat.

...⭐⭐⭐...

Bersambung....

1
Amiera Syaqilla
romantis 💕
Rania Venus Aurora: terimakasih 🙏🏻
total 1 replies
falea sezi
author penggemar bts ya/Scream/
Rania Venus Aurora: Aku pernah dimasukan ke grup ARMY, karena teman-temanku ARMY semua. Cerita yang ada tentang BTS juga terinspirasi dari para ARMY disana.😊
total 1 replies
Ai_Li
Namanya unik-unik yaa
Ai_Li
Saya mampir kak, bagus ceritanya
Avocado Juice 🥑🥑: Semangat kak aku baca lagi aku kirim hadiah ya biar semangat /Smile/
total 2 replies
Livia Aira
Lanjut thor 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!