Ryn Moa memilih kampusnya demi satu alasan: Kim Taehyung, pria yang telah lama ia sukai. Namun upayanya mendekati Taehyung justru membawanya pada ketertarikan lain-J-Hope, sahabat Taehyung yang ceria.
Di tengah perasaan yang berubah-ubah itu, hadir Kim Namjoon, teman mereka yang tidak setampan dua pria sebelumnya, tetapi memiliki ketenangan, kecerdasan, dan senyum manis yang perlahan merebut hati Ryn Moa.
Tanpa disadari, pencariannya akan cinta membawanya menemukan sosok yang paling tepat, justru dari arah yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.32
Sore hari, di taman kampus, Taehyung duduk sendiri sambil memainkan ponselnya. Pikiran tentang Ryn Moa terus berputar. Kalau ditanya sejak kapan tepatnya wajah itu mulai menetap di kepalanya, Taehyung mungkin tidak bisa menjawab dengan pasti. Ia hanya tahu, sejak siang tadi, pikirannya seperti radio rusak, terus memutar satu nama tanpa henti, meski ia sudah mencoba mengganti frekuensi. Ia sudah mencoba mengalihkan diri dengan hal-hal sepele. Membuka media sosial, menonton video pendek yang seharusnya lucu, membaca komentar random dari orang-orang yang bahkan tidak ia kenal. Tapi semua itu terasa hambar. Jarinya bergerak, tapi pikirannya tertinggal jauh di tempat lain. Nama itu tetap muncul, konsisten, bandel, seolah tidak peduli seberapa keras ia mencoba mengusirnya.
Taman kampus menjadi tempat pelarian banyak mahasiswa sore itu. Bangku-bangku kayu di bawah pohon besar hampir penuh, angin sepoi-sepoi membawa aroma rumput dan tanah yang hangat. Beberapa mahasiswa duduk sambil tertawa keras, ada yang sibuk berfoto dengan cahaya sore yang dramatis, ada pula yang rebahan di rumput seolah dunia tidak punya tenggat waktu. Suara tawa dan obrolan saling bertumpuk, menciptakan latar yang hidup. Ada gitar dipetik pelan di kejauhan, ada suara notifikasi kamera, ada langkah kaki yang berlalu-lalang tanpa arah jelas. Semua terlihat… normal. Terlalu normal untuk seseorang yang sedang tidak tenang.
Namun Taehyung memilih duduk sedikit menjauh, di bangku yang tidak terlalu ramai. Bangku itu sedikit miring, catnya mulai terkelupas, dan salah satu kakinya mengeluarkan bunyi kriet setiap kali ia bergeser. Tapi justru karena itulah Taehyung memilihnya, tidak ada yang cukup waras untuk duduk lama-lama di situ. Ia ingin sendiri. Atau lebih tepatnya, ia ingin merasa tidak diperhatikan. Ponselnya menyala di tangan, tapi layar itu tidak benar-benar ia lihat. Jarinya hanya menggulir tanpa tujuan, membuka aplikasi lalu menutupnya lagi. Chat kosong. Notifikasi tidak penting. Story orang-orang yang hidupnya terlihat jauh lebih teratur daripada miliknya. Satu per satu wajah muncul di layar, teman-teman yang tertawa, pasangan yang saling bersandar, caption penuh emotikon hati. Ia melewatinya tanpa emosi. Semua itu terasa jauh, seperti kehidupan orang lain yang tidak sedang ia tinggali. Ia bahkan sempat membuka kontak Ryn Moa.Menatap nama itu, lalu menutupnya lagi. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat hanya karena deretan huruf itu muncul di layar. Tidak ada foto. Tidak ada status. Hanya nama yang terlalu sederhana untuk efek sebesar itu.
“Apa yang aku lakukan ?” gumamnya pelan, kesal pada dirinya sendiri.
Ia merasa terlambat. Perasaan itu datang tidak pada waktunya. Dan ia paling benci menyadarinya. Ada bagian dalam dirinya yang ingin menyangkal. Menganggap ini cuma kebetulan, cuma fase, cuma reaksi sesaat. Tapi semakin ia menekan, semakin jelas rasa itu terasa. Seperti air yang ditahan terlalu lama, pasti akan menemukan celah untuk keluar.
Taehyung menyandarkan kepala ke bangku, menatap langit sore yang mulai berwarna jingga. Awan bergerak lambat, seolah ikut menikmati sore tanpa beban, berbeda dengan dirinya yang kepalanya penuh. Ia mengingat kembali hari-hari sebelumnya, saat Ryn Moa selalu ada di sekitarnya, saat ia menganggap perhatian itu sesuatu yang biasa. Senyum Ryn Moa saat menertawakan hal sepele. Cara Ryn Moa mengerutkan dahi ketika bingung. Kebiasaan Ryn Moa yang selalu minta maaf bahkan saat tidak salah. Ia teringat bagaimana Ryn Moa selalu menoleh ketika namanya dipanggil, bagaimana matanya berbinar saat membicarakan hal-hal kecil yang ia sukai, bagaimana ia sering menahan tawa dengan menutup mulut, kebiasaan yang dulu tidak pernah ia pikirkan, tapi sekarang terasa terlalu jelas untuk diabaikan. Dulu, semua itu hanya terasa… normal. Sekarang, semua terasa berbeda.
Dadanya terasa sedikit sesak, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam. Bukan sakit, bukan juga panik, lebih seperti perasaan tidak nyaman yang menuntut untuk diakui. Ia tidak suka perasaan ini. Tidak suka kehilangan kendali. Tidak suka fakta bahwa satu orang bisa membuat pikirannya berantakan tanpa melakukan apa pun secara sadar.
“Seseorang lagi jatuh cinta,” kata Seokjin sambil duduk di sebelahnya.
Taehyung tersentak kecil. Ia hampir menjatuhkan ponselnya. Jantungnya memukul tulang rusuk dengan keras, seolah baru saja tertangkap basah melakukan sesuatu yang dilarang.
“Tidak,” bantah Taehyung.
Jawaban itu keluar terlalu cepat, seperti refleks yang sudah sering ia latih. Bahkan sebelum otaknya sempat memproses pertanyaan itu, mulutnya sudah menolak mentah-mentah. Seokjin menoleh, menatap wajah Taehyung yang jelas tidak santai. Ia menyipitkan mata, ekspresinya seperti dosen yang sedang menilai mahasiswa paling bandel.
“Kalau begitu, kenapa kau kelihatan kayak orang baru sadar dompetnya ketinggalan?”
Taehyung mendengus, tapi tidak menjawab. Ia tahu Seokjin tidak asal bicara. Kakaknya itu punya insting mengerikan soal hal-hal semacam ini, terutama kalau menyangkut perasaan orang lain. Taehyung sudah berkali-kali jadi korban analisis sok bijak Seokjin.
Seokjin tidak memaksa jawaban. Ia hanya duduk santai, menyilangkan kaki, menatap ke depan seolah pemandangan sore lebih menarik daripada wajah Taehyung yang kusut. Tapi keheningan itu justru terasa menekan.
“Diam itu pengakuan, tahu?” lanjut Seokjin santai.
Taehyung hendak membalas, tapi sebelum sempat membuka mulut..
“Bagus,” sahut Yoongi yang tiba-tiba muncul dari belakang. “Soalnya Namjoon sedang menyukainya juga. Dia menyukai Ryn Moa”
Kalimat itu menghantam tanpa peringatan. Seperti petir di sore cerah. Taehyung langsung menoleh cepat.
“APA??”
Matanya membesar, dadanya terasa mengencang. Otaknya seperti berhenti sebentar, lalu bekerja terlalu cepat. Nama Namjoon langsung muncul, lengkap dengan wajah tenang itu, nada suara datar tapi perhatian, dan caranya selalu berada di dekat Ryn Moa tanpa terlihat memaksa. Semuanya tersambung dengan cepat, terlalu cepat. Cara Namjoon selalu ada saat Ryn Moa butuh. Cara ia mengingat hal-hal kecil tentangnya. Cara ia berbicara dengan nada yang tidak pernah meninggi, tapi selalu membuat orang merasa aman. Jimin, yang berdiri tak jauh sambil menyilangkan tangan, menyeringai.
“Kau pikir kami tidak tahu? Namjoon hanya menunggu waktu saja.”
Nada suara Jimin terdengar santai, bahkan sedikit menghibur, seolah yang mereka bicarakan bukan masalah hati, melainkan jadwal makan malam. Taehyung merasa dadanya mengencang. Bukan karena marah. Bukan karena benci. Tapi karena kenyataan itu masuk akal, terlalu masuk akal untuk disangkal.
Namjoon memang seperti itu. Tidak pernah terburu-buru. Tidak pernah terang-terangan. Tapi selalu ada. Selalu konsisten. Selalu tepat sasaran. Ia tidak merebut perhatian, Ia mendapatkannya. Taehyung menunduk perlahan, seperti baru saja menerima kenyataan yang menyakitkan.
Jika ia terlambat menyadari perasaannya…
Akankah ia juga terlambat mendapatkan gadis itu?
Taehyung menggenggam ponselnya erat, lalu meletakkannya di samping. Untuk pertama kalinya, ia tidak punya bantahan. Tidak punya candaan. Tidak ada komentar sarkas yang biasanya ia gunakan untuk menutupi kegugupannya. Yoongi menepuk bahunya pelan. Tepukan itu ringan, hampir tidak terasa, tapi cukup untuk menyampaikan sesuatu yang tidak diucapkan.
“Kadang, yang paling menyebalkan dari perasaan itu bukan ditolak… tapi sadar kalau kita telat mulai.”
Taehyung menelan ludah. Kalimat Yoongi terasa seperti ringkasan hidup yang terlalu akurat. Seokjin mengangguk.
“Dan Namjoon bukan tipe yang main-main.”
Kalimat itu membuat suasana semakin berat. Tidak ada yang tertawa. Tidak ada yang menyela. Angin sore berhembus pelan, menggoyangkan dedaunan di atas mereka, tapi tidak cukup kuat untuk mengusir rasa sesak di dada Taehyung.
Taehyung menutup matanya sebentar. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Seolah mencoba menenangkan dirinya sendiri, atau mungkin menerima sesuatu yang selama ini ia hindari. Di kepalanya, wajah Ryn Moa muncul, bingung, hangat, dan selalu tulus. Senyumnya yang canggung. Tatapannya yang jujur. Cara ia sering tidak sadar betapa banyak orang yang memperhatikannya. Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa rasa yang ia anggap remeh itu sudah tumbuh jauh sebelum ia berani mengakuinya. Ia mengingat momen-momen kecil, saat Ryn Moa tertawa karena lelucon bodohnya, saat ia refleks mencari gadis itu di keramaian, saat hatinya terasa sedikit kesal melihat Ryn Moa terlalu dekat dengan orang lain, sesuatu yang dulu ia abaikan begitu saja. Sekarang, semua potongan itu tersusun rapi. Dan hasilnya… menyebalkan. Sore itu, di taman kampus yang tenang, tiga hati bergerak ke arah yang berbeda dan tidak satu pun tahu bagaimana cara kembali sejalan.
...⭐⭐⭐...
Bersambung....