Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.
Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.
Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.
"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sangkar Emas dan Bidikan Pertama
Bentley hitam itu perlahan menanjak melewati jalanan setapak yang dikelilingi pohon-pohon pinus raksasa. Kabut tipis menyelimuti pegunungan, memberikan kesan terisolasi dari peradaban. Di ujung jalan, sebuah gerbang besi hitam tinggi menjulang, terbuka secara otomatis begitu mobil Maximilian mendekat.
Rebecca Sinclair mengerjap, menatap pemandangan di depannya dengan mulut sedikit terbuka. "Om bilang ... ini rumah sederhana?"
Maximilian hanya bergumam tidak jelas sambil merapikan jam tangannya. Di hadapan mereka berdiri sebuah mansion megah bergaya modern kontemporer yang didominasi oleh kaca besar dan batu alam hitam. Meski disebut "rumah pegunungan", tempat itu lebih menyerupai markas militer elit yang dibungkus kemewahan. Di sisi kiri, terlihat hamparan rumput luas untuk latihan berkuda, dan di sisi kanan, sebuah kolam renang infinity yang airnya tampak membeku tertimpa cahaya pagi.
Namun, yang paling mencolok adalah puluhan pria dan wanita berpakaian taktis hitam yang sedang berlatih di berbagai area. Ada yang sedang bertarung tangan kosong, ada yang merayap di bawah kawat berduri, dan suara rentetan tembakan terdengar konstan dari arah bukit di belakang bangunan utama.
"Ini adalah markas Valkyrie Private Security," ucap Maximilian saat keluar dari mobil. "Agen rahasia bayaran terbaik yang pernah kau temui. Dan mulai hari ini, mereka adalah gurumu."
"Tapi Om, aku baru saja hampir mati! Aku butuh istirahat, aku butuh tidur!" protes Rebecca sambil berusaha menyamai langkah panjang Maximilian.
Maximilian berhenti mendadak, membuat Rebecca hampir menabrak punggung tegapnya. Ia berbalik, menatap Rebecca dengan mata yang tidak memiliki celah untuk negosiasi. "Musuhmu tidak tidur, Rebecca. Enzo Valenti tidak sedang beristirahat sekarang. Jika kau ingin tidur dengan tenang, kau harus bisa memastikan siapa pun yang mencoba membangunkanmu akan berakhir di liang lahat."
Max melambaikan tangan ke arah seorang wanita yang sedang berdiri tegak di dekat area latihan menembak. Wanita itu memiliki rambut pirang pendek yang dipotong rapi, wajahnya simetris dan cantik, namun sorot matanya setajam mata pisau. Ia mengenakan tanktop hitam ketat dan celana kargo, memperlihatkan otot lengan yang kencang namun tetap feminin.
"Erica," panggil Maximilian.
Wanita itu mendekat dengan langkah militer yang mantap. Ia adalah Erica, satu-satunya agen wanita di kelompok itu, sekaligus primadona yang disegani sekaligus ditakuti oleh para agen pria.
"Ya, Tuan Maximilian," suara Erica dingin dan tenang. Ia melirik Rebecca dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan, seolah sedang melihat serangga yang tersesat di medan perang.
"Ajari dia dasar-dasar menembak. Aku ingin dia setidaknya bisa mengenai sasaran dalam jarak sepuluh meter sebelum matahari terbenam," perintah Maximilian.
Erica mendengus pelan, sebuah tawa sinis tersungging di bibirnya. "Anda bercanda, Tuan? Gadis ini? Lihat tangannya, dia bahkan gemetar hanya karena mendengar suara peluru di kejauhan. Mengajarinya menembak adalah pemborosan peluru dan waktuku."
Rebecca menunduk, mencengkeram erat jaket pemberian Max. Ia merasa sangat kecil dan tidak berguna di hadapan wanita sehebat Erica.
"Dia terlihat seperti beban yang akan membuat kita semua terbunuh jika Valenti menyerang," lanjut Erica, suaranya sengaja dikeraskan agar terdengar oleh beberapa agen pria yang mulai menonton di pinggir lapangan. "Apa Anda benar-benar ingin mengotori tempat ini dengan gadis manja yang hanya tahu cara menangis, Tuan?"
Suasana mendadak menjadi sangat sunyi. Para agen pria yang tadinya berbisik-bisik langsung terdiam saat melihat rahang Maximilian mengeras. Aura di sekitar Max berubah menjadi sangat pekat dan mengintimidasi.
Maximilian melangkah satu tindak mendekati Erica. Meskipun Erica adalah agen elit, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mundur satu langkah saat merasakan tekanan dari sang Mafia.
"Erica," suara Maximilian sangat rendah, namun sanggup membekukan aliran darah siapa pun yang mendengarnya. "Aku membayar kalian untuk melakukan apa yang kuperintahkan, bukan untuk memberikan opini sampah tentang tamu pribadiku."
Maximilian menunjuk Rebecca dengan dagunya. "Dia bukan beban. Dia adalah milikku. Dan jika kau merasa waktumu terlalu berharga untuk mengajarinya, mungkin aku harus mencari agen baru untuk menggantikan posisimu—yang tentu saja akan jauh lebih mudah daripada mencari pengganti gadis ini."
Erica tertegun. Matanya membelalak kaget. Ia tidak pernah melihat Maximilian membela siapa pun, apalagi seorang gadis asing yang terlihat lemah. Keberanian dan kesombongan yang tadi ia tunjukkan langsung sirna, digantikan oleh rasa takut dan harga diri yang terluka.
"Maafkan saya, Tuan. Saya ... saya akan segera memulainya," ucap Erica sambil menundukkan kepala dalam-dalam. Ia tidak berani menatap mata Maximilian lagi.
Maximilian berpaling ke arah Rebecca. Ia mencengkeram bahu Rebecca, meremasnya sedikit seolah memberikan kekuatan. "Masuk ke lapangan. Jangan buat aku menyesal telah membelamu."
Dengan langkah gontai dan jantung yang berdebar kencang karena trauma, Rebecca mengikuti Erica menuju area latihan menembak. Erica meletakkan sebuah pistol Glock di atas meja kayu di depan Rebecca.
"Ambil," perintah Erica singkat, nadanya tetap dingin namun tidak lagi menghina secara terang-terangan.
Rebecca menatap pistol itu. Bayangan gang gelap, suara pakaian yang robek, dan wajah para berandal tadi malam kembali berputar di kepalanya. Tangannya mulai berkeringat dan gemetar hebat.
"Om ... aku tidak bisa ..." Rebecca menoleh ke arah Maximilian yang berdiri beberapa meter di belakangnya, mengawasi dengan tangan bersedekap.
"Pegang senjatanya, Rebecca! Fokus!" bentak Erica, mencoba meluapkan kekesalannya karena ditegur Max tadi. "Lihat sasaran itu! Bayangkan itu adalah pria yang mencoba menyentuhmu semalam! Apa kau mau mereka kembali dan menyelesaikan apa yang mereka mulai?"
Rebecca memejamkan matanya rapat-rapat. Air mata mulai mengalir. "Aku takut ...."
Tiba-tiba, ia merasakan tubuh besar dan hangat menempel di punggungnya. Maximilian telah berdiri tepat di belakangnya. Ia melingkarkan tangannya yang besar ke tangan Rebecca, memaksa jemari gadis itu menggenggam gagang pistol dengan benar.
"Buka matamu, Rebecca," bisik Maximilian tepat di telinga gadis itu. "Jangan lihat pistolnya. Lihat musuhmu. Aku ada di belakangmu, aku adalah dindingmu. Tapi tanganmu yang harus menarik pelatuk itu."
Sentuhan Maximilian memberikan kehangatan yang aneh di tengah ketakutan Rebecca. Rebecca membuka matanya perlahan. Dengan bantuan tangan Max yang kokoh, ia mengarahkan moncong senjata ke sasaran kertas yang berada sepuluh meter di depan mereka.
"Fokus. Tarik napas. Tembak," bisik Max lagi.
Duar!
Suara tembakan itu memecah kesunyian pegunungan. Pistol itu tersentak ke atas, namun karena tangan Maximilian menahan tangan Rebecca, mereka tidak kehilangan kendali. Peluru itu mengenai bagian tepi sasaran, tidak tepat di tengah, tapi itu adalah sebuah awal.
Rebecca terengah-engah, bau mesiu memenuhi indra penciumannya. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa seperti korban. Ada sedikit rasa kekuatan yang mengalir dalam darahnya.
Erica yang melihat itu hanya bisa terdiam dengan wajah kaku. Ia menyadari bahwa posisi Rebecca di mata Maximilian jauh lebih penting dari sekadar "jaminan hutang".
"Lagi," perintah Maximilian tanpa melepaskan pegangannya pada tangan Rebecca. "Sampai kau tidak perlu tanganku lagi untuk menembak jantung mereka."
Di bawah langit pegunungan yang mendung, di antara agen-agen mematikan yang menonton dengan rasa ingin tahu, Rebecca Sinclair mulai belajar satu pelajaran penting: di dunia Maximilian, cinta dan peluru adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐬𝐝𝐡 𝐬𝐥𝐡 𝐩𝐡𝐦 𝐢𝐧𝐢 🤣🤣🤣