NovelToon NovelToon
Bumi Dan Hal - Hal Yang Belum Usai

Bumi Dan Hal - Hal Yang Belum Usai

Status: tamat
Genre:Duniahiburan / Cintapertama / Berbaikan / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

persahabatan sederhana dari anak SMA ,yang mulai menumbuhkan benih cinta tapi ego masa muda mereka lebih tinggi dari pada rasa cintanya.ada hal yang ingin di sampaikan tapi tak mungkin Untuk di utarakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: Tentang Bengkel Tua dan Cara Memperbaiki yang Benar

Jumat pagi ini saya tidak berangkat sekolah menggunakan Si Kumbang. Motor tua itu masih "opname" di bengkel Mang Asep, tidak jauh dari gang rumah. Mang Asep hanya geleng-geleng kepala melihat sayatan di ban itu. Beliau tahu itu bukan karena kena beling, tapi karena dendam yang tajam. Akhirnya, saya berangkat naik angkot, duduk di pojokan sambil memperhatikan penumpang lain yang sibuk dengan urusan mereka sendiri.

Sekolah terasa berbeda saat kamu tidak membawa kendaraan sendiri. Kamu jadi punya waktu untuk melihat detail-detail kecil yang biasanya terlewat. Saya melihat gerbang sekolah yang catnya mulai mengelupas, saya melihat pohon kamboja di parkiran yang sekarang tampak kesepian tanpa kehadiran Si Kumbang di bawahnya.

"Bumi! Tumben naik angkot? Motor lo berubah jadi transformer?"

Bangka menyapa saya di depan mading. Dia sedang memegang sisir saku, merapikan rambut jambulnya yang terkena angin.

"Lagi istirahat, Bangka. Bannya butuh napas baru," jawab saya pendek.

"Gue denger si Arkan habis kena semprot Kayla kemarin sore ya? Satu sekolah lagi heboh, katanya Kayla nangis-nangis di parkiran gara-gara ban lo disayat," Bangka tertawa kecil, tapi matanya menatap saya dengan rasa peduli. "Lo nggak apa-apa, Mi?"

"Saya aman, Bangka. Cuma dompet saja yang sedikit kaget karena harus beli ban luar-dalam sekaligus," kata saya sambil melangkah menuju kelas.

Di kelas, suasana sangat sepi. Arkan tidak ada di kursinya. Kayla juga tidak terlihat. Hanya ada Dara yang sudah duduk manis di barisan belakang, tepat di samping kursi kosong yang biasa saya duduki bersama Bangka belakangan ini.

"Selamat datang di dunia pejalan kaki, Bumi," gumam Dara tanpa menoleh dari bukunya.

"Rasanya lebih membumi, Dara. Kaki saya jadi tahu seberapa keras aspal sekolah ini tanpa perantara karet ban," jawab saya sambil menaruh tas.

"Arkan tidak masuk hari ini. Katanya sakit, tapi saya rasa dia cuma malu karena topeng satria bergitarnya sudah copot dan memperlihatkan wajah aslinya sebagai penyayat ban," Dara menutup bukunya, lalu menatap saya. "Kayla tadi pagi ke sini, dia taruh ini di laci meja kamu."

Dara menunjuk ke arah laci meja saya. Saya merogohnya dan menemukan sebuah amplop cokelat. Di dalamnya ada beberapa lembar uang ratusan ribu—cukup untuk mengganti ban Si Kumbang—dan secarik kertas kecil.

Isinya: Bumi, ini buat ganti ban Si Kumbang. Tolong jangan ditolak. Aku beneran malu sama kelakuan Arkan. Maafin aku karena sudah bawa dia ke hidup kita.

Saya menatap uang itu. Ada rasa perih yang aneh. Kayla menganggap masalah ini bisa selesai dengan uang, padahal yang bocor bukan cuma ban motor saya, tapi kepercayaan saya pada persahabatan kami.

"Mau dikembalikan?" tanya Dara.

"Tidak. Saya akan simpan ini, tapi bukan untuk ban. Saya akan kembalikan ke dia saat dia sudah sadar bahwa maaf itu tidak punya nilai nominal," kata saya sambil memasukkan kembali amplop itu ke tas.

Saat jam istirahat, Senja datang menghampiri meja saya. Dia membawa sebuah kotak bekal kecil. "Bumi, saya dengar motor kamu rusak. Ini ada nasi kuning buatan Ibu, katanya biar kamu tetap semangat meskipun harus jalan kaki."

Saya tersenyum menatap Senja. "Terima kasih, Senja. Kamu selalu tahu cara mengisi tangki bensin saya dengan hal-hal yang tulus."

Kami makan bersama di barisan belakang. Di depan sana, kursi Kayla masih kosong. Kabarnya dia sedang menenangkan diri di ruang UKS. Saya tidak pergi ke sana. Saya tidak ingin menjadi pahlawan yang datang membawa tisu. Saya ingin menjadi Bumi yang sedang belajar untuk tidak lagi terpengaruh oleh pasang surutnya air laut.

Nama saya Bumi. Dan hari ini, saya belajar bahwa memperbaiki motor itu jauh lebih mudah daripada memperbaiki hati yang sudah terlanjur kecewa. Tapi setidaknya, di tengah ban yang kempes, saya punya orang-orang yang mau berjalan kaki bersama saya.

1
Vivi Zenidar
karya yg bagus... bahasanya puitis... semoga akan banyak yg baca
Vivi Zenidar
senja dan dara lebih baik
nickm
cerita ini layak dibuat film
nickm
cerita yang luar biasa, aku akan menunggu metamorfosis bumi kedepannya
nickm
semakin menarik ceritanya
nickm
bagus sekali ceritanya, bahasa yang runtut, alur mengalir pasti
nickm
bagus sekali, paragraf pertama yang membuatku masuk ke dimensi cerita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!