NovelToon NovelToon
Najma Dan Hidupnya Yang Menarik

Najma Dan Hidupnya Yang Menarik

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Kehidupan di Kantor / POV Pelakor / Office Romance / Romantis / Tamat
Popularitas:71
Nilai: 5
Nama Author:

Cerita tentang Najma, gadis 24 tahun yang sedang mengusahakan hidupnya untuk jadi semenarik mungkin. Tapi, bayang-bayang masa lalu dari cowok di masa kuliahnya, serta persahabatan yang kandas karena cinta segitiga buat Najma harus menghindar dari segalanya. Tanpa Najma sadari, ada cowo aneh yang ngejar Najma dan buat hidupnya jadi tarik-menarik beneran

Najma dan Pekerjaannya

“Semenjak gue kenal lo, dunia gue rasanya lebih berasa ya. Beda.”

Aku tahu itu bohong. Semua yang dia katakan rasanya fiktif belaka. Tapi nyatanya aku tetap percaya. Aku senang bukan kepalang. Aku merasa terbang ke langit tingkat tujuh dan berpikir bahwa akhirnya ada yang menyadari keberadaanku di dunia ada gunanya. Aku bisa merubah hidup seseorang menjadi lebih berwarna.

Aku tersenyum simpul, mencoba terlihat elegan tapi ternyata gagal total. Mukaku memerah dan senyumku seperti anak kecil berumur lima tahun baru ketemu boneka impian.

Aku merasa tidak peduli lagi pada isi dunia. Hal yang hanya aku sadari adalah aku menyukainya. Sangat suka. Walupun aku tahu aku tak boleh memilikinya.

Sungguh menyedihkan bahwa aku menyukai pria yang bahkan tak layak untuk kuperjuangkan di masa depan. Kenapa? Kenapa aku selalu mencintai pria yang salah?

Mungkin jawabannya begini,

Dia satu dari ratusan pria yang pernah mengobrol denganku dan bertahan begitu lama mendengar semua ocehanku. Dia mengagumi pola pikirku yang begitu abstrak dan mengatakan bahwa itu merupakan suatu bentuk kepintaranku. Dia berkata aku gigih dan mengidolakan kemandirianku. Dia, seorang laki-laki yang merasa aku adalah satu dari sejuta wanita yang ingin berenang di angkasa di saat semua wanita ingin bersantai di tepi pantai saat langit senja.

Salah satu yang paling utama yang mungkin membuatku jatuh cinta padanya adalah cara dia menatapku dengan senyumannya yang mematikan. Dia yang sudah menatap mataku di saat aku baru melihat wajahnya. Dia yang satu-satunya membuatku malu dan menutup wajahku ketika dia mengulitiku dengan pandangannya yang begitu tajam.

Dia mungkin satu-satunya yang membuatku merasa spesial.

Jadi, aku mengerti bila ada seorang wanita yang jatuh cinta hingga mendekati gila, padahal wanita tersebut tahu betul perilaku laki-laki itu tak layak dicinta.

Aku tahu betul definisi cinta buta. Aku mengerti bagaimana mendeskripsikan cinta hingga sakitnya seperti dikuliti dan memar tak berkesudahan.

Apakah kamu mengerti definisi tentang cinta yang putus asa?

Bagiku, definisinya begini:

Ketika seseorang begitu yakin menemukan setengah dari jiwanya berada di dalam tubuh orang lain karena dia begitu menyukainya. Lalu, dia selalu berandai untuk menghabiskan hari berdua, entah tidur di rumput menikmati awan yang berjalan lambat mengudara, atau memandang bintang yang begitu jauhnya di angkasa. Lalu, sadar bahwa hanya tersisa waktu tak lebih dari beberapa jam untuk menjadikannya kenyataan, dia dan pasangannya harus berlari cepat dari waktu yang berusaha memisahkan. Dia dan pasangannya harus menangis berpelukan karena begitu takutnya untuk tak kembali bersua di masa datang.

Setidaknya, aku belajar dari kecintaan yang putus asa. Aku tahu bahwa mencintai seseorang tidaklah menjadikan kamu bahagia, atau merana tak berujung. Perasaannya seperti mengambang di atas langit satu tingkat, indah ketika memandang ke lenskep bumi, tapi tahu pasti bahwa akan sakit rasanya jika turun tanpa sarana perlindungan yang menahan kita dari kecepatan udara.

Tapi, entah kenapa, aku merasa sangat bersyukur sudah pernah mengalaminya. Itu adalah masa paling spektakuler yang pernah kulalui. Aku pernah begitu bahagia hingga ingin terbang ke angkasa ketika ia datang menemuiku ke pulau nan jauh dari tempat yang biasanya. Lalu menangis hingga kejang karena diolok-olok satu dunia.

Semuanya begitu terjal dan tak terkontrol.

Semuanya begitu tak terbayangkan untuk kualami di usia semuda ini.

Najma dan Aga ketika berjalan di area kampus sore hari.

“Aku kepikiran game untuk main di kereta. Konsepnya gini, Mereka harus cari penjahat di satu gerbong penuh sesak dalam waktu yang super terbatas.”

“Tapi tunggu dulu,” Ia menahan udara dengan tangan kanannya. “Orangnya kira-kira berapa? Terus apakah mereka dibuat duduk semua atau ada yang berdiri?”

“Namanya juga penuh sesak, pasti berdiri semua.”

“Gimana caranya buat si pemain utama mencari si penjahat?”

“Ya gampang tinggal jalan.” Mukaku mendekat padanya. “Tunggu deh, pasti kamu pikir ini game di app handphone ya?”

Mukanya seperti tertangkap basah. “Oh, bukan ya?” lalu tertawa.

“Ini game nyata. Seperti game show pake eksprimen manusia.”

“Hahaha. Ternyata sudut pandang kita memang selalu beda.”

Tawanya sungguh renyah. Aku begitu bersyukur berbeda dunia dengannya.

Tapi aku menyesalkan mengapa harus dia.

Mengapa harus dia orangnya?

Najma ketika bangun dari mimpi.

Aku memandang kosong ke depan. Gamang rasanya menyadari bahwa setiap hari aku harus bekerja penuh tekanan, namun di saat tak ada apapun yang kupikirkan, aku akan mengingat seseorang yang tidak boleh disebut namanya ini, karena pasti aku merasa ingin muntah, rasanya ada yang mengganjal di bilik arteri dan venaku, berat dan pengap. Aku tidak tahan.

Tidak ada yang nyaman rasanya dalam kehidupan. Aku sering bertanya kata ‘kenapa’ pada udara dan akhirnya kutahu itulah pertanyaan retoris di dunia.

Mengapa ada orang lain yang hidupnya sempurna? Wajah cantik – tubuh tinggi langsing – populer karena keramahannya yang mendunia – dan pintar bukan kepalang. Lebih sempurna lagi karena ia seumuran denganku dan ia sudah menikah dengan seseorang yang begitu memujanya. Lebih sempurna lagi karena ia seumuran denganku dan jabatannya berada di atasku. Lebih sempurna lagi karena aku terus iri padanya.

Kini angin berhembus semakin kencang hingga membuat tubuhku menggigil. Aku melihat sekitarku, berharap ada seseorang yang mengalami hidup lebih nelangsa daripada aku.

“Najma!”

“Hai.”

Ia teman sekantor, namanya Gian. Ia tersenyum super ceria seperti menyindirku yang terlihat temaram. Seperti tak semangat hidup.

“Jam lima kita brainstorming tentang brief yang baru gue ambil. Lo siapin ide ya, siapa tahu bisa mulai bikin deck malam ini.”

“Yap. I will.”

“Kenapa, Ma?”

Aku berpindah pandangan dari bawah tanah menuju matanya. Pertanyaan yang sangat membingungkan hingga aku ingin keluar lift dan tidak ingin bertemu lagi dengannya, tapi aku terjebak di lautan tanda tanya. Seseorang, apakah ada yang mau menolongku?

“Oh, mungkin karena gue kurang minum susu.”

“Hahaha! Apa hubungannya?”

“Hehe.” Hanya itu yang bisa kulakukan untuk menghargainya.

Kami berjalan beriringan menuju ruang meeting untuk mendengarkan penjelasan Gian tentang brief project yang baru. Dari sorot pandang bosku aku sudah tahu bahwa akulah yang akan mengerjakan proyek ini ke depannya.

“Najma. Project ini menyasar anak kuliahan, khususnya untuk yang kuliahnya masih belum fokus skripsi. Lo ada ide, nggak?”

Kulihat penjelasan di layar proyektor di depan kami semua. Proyek ini adalah tentang sebuah laptop dengan prosesor AMD yang tidak begitu populer untuk laptop di Indonesia, khususnya bagi anak kuliah karena kebanyakan dari mereka akan memilih laptop dengan bentuk mini dan ringan, serta prosesor yang umum sehingga mudah bagi mereka untuk memperbaikinya manakala di masa depan terjadi kerusakan. Prosesor AMD biasanya akan ditemukan di rakitan komputer berbasis PC yang digunakan untuk gaming atau video editing karena ketahanan panas yang sangat baik.

Aku menghela nafas sebentar dan memperbaiki mimik wajahku yang mengerucut menjadi lebih ceria dan super bahagia.

“Menurut saya sih, Pak, kita harus tunjukkin insight si AMD ini buat target pasarnya. Kan kelebihannya nggak cepet panas. Jadi mari kita bikin sesuatu yang cool – sesuatu yang bisa juga diterjemahkan menjadi keren. Kata tersebut memiliki banyak pengertian yang cocok untuk anak muda, kan?”

“Oke, berarti Najma yang pegang proyek ini. Siap, ya? Besok gue minta draft satu untuk idenya. Sip?”

Begitulah Bosku, begitu sembrono memutuskan apapun dalam hidupnya. Aku hanya tersenyum tipis ketika ia melongos pergi dari ruang meeting. Karena aku, dan semua orang di ruang meeting tersebut pun tahu bahwa percuma untuk menyanggah apapun yang dikatakannya. Per-cu-ma. Buang-buang waktu saja.

**

Pukul sembilan malam. Aku terdiam nanar menatap jam kecil berwarna kuning di meja kerjaku. Bahkan karena ide-ide tidak juga datang untuk draft yang harus kupersembahkan kepada bosku tersayang besok siang, aku tidak berani mengecek notif-notif yang memenuhi ponselku sedari siang. Para teman kantorku pun satu persatu hilang untuk bersenang-senang dengan hidupnya.

“Najma, makan dulu, yuk!”

Gian menghampiriku dan menyadarkanku dari dunia yang fana ini.

“Makan di mana?”

“Fastfood depan. Yuk!”

Dengan pasrah aku pun menggerakkan seluruh tubuhku sekuat tenaga mengikuti Gian di belakang.

Kami memesan dua burger dan dua ayam serta satu paket kentang super besar dengan dua soda ukuran jumbo. Tanpa bicara Gian begitu mengerti kemalanganku karena aku tak berselera mengerjakan pekerjaannku sedari siang tadi.

“Oke, waktunya cerita.”

“Apa?” aku tak mengerti maksudnya Gian barusan.

“Najma yang gue kenal nggak selemes ini. Ayolah, lo lebih baik dari ini, tahu!”

“Najma mana yang lo kenal? Lo aja baru masa probation di kantor.”

“Haha! Tapi kan kita ketemu tiap hari. Dan cewek kayak lo, gue baru nemu jadi nggak sulit untuk mengidentifikasi setiap suasana hati lo.”

“Hah?”

“Kalau lo lagi happy, lo akan nyanyi dengan headset lo sampai bos aware dan ngecek sumber suara saking berisiknya.”

“Masa? Kok gue nggak tahu, ya?”

“Lo kan nggak peka! Dan kalau lo lagi mentok sama ide pasti lo tidur di kolong meja pas jam makan siang sampai sore.”

“AHAHAHA.”

Terima kasih, Gian. Akhirnya aku tertawa lagi.

“Tapi gue nggak tahu suasana hati lo hari ini. Lo cuma diam mematung dengan posisi tegak belasan menit dan ketika jalan lo cuma menunduk sampai gue pikir lo lagi banyak hutang. Bukan itu, kan, masalahnya?”

Aku meminum sodaku dengan kecepatan penuh hingga kurasa sedotannya pun ikut sobek karena angin dari mulutku begitu kencang.

“Ma, woles aja.”

“Gian, lo harus bantu gue. Lo tahu kan presentasi kemarin gatot alias gagal total karena gue telat dan sebagainya? Padahal lo tahu kalau dua hari sebelumnya gue nggak tidur ngerjain proposal project itu!”

“Gue harus bantu apa?”

“Gue mau nginep di kantor. Lo harus bangunin gue jam enam pagi dan ngecek semua slide proposal gue sampai semuanya terstruktur. Ya? Ya? Ya? Hiks.”

“Kalau itu gue nggak yakin. Sorry.”

“Kenapaaaaa? Huwee!”

“Karena jam segitu gue pasti masih tidur. Sori. Minta bangunin aja pacar lo!”

Aku menjauh dari jarakku dengan Gian di bangku restoran ini. Mukaku mendadak sebal dan berpaling dari wajah menuju kentang goreng yang lebih indah untuk dipandang.

“Gue nggak punya pacar. Puas?!”

“Haha! Biasa aja kali, Ma. Sebel banget kayaknya. Pokoknya lo pasang alarm yang banyak deh. Di hape kek, di jam weker lo kek yang ada di meja, atau suruh Pak Satpam bangunin, kan dia dinas dua puluh empat jam di kantor.”

“Bahkan gue lebih cinta sama Pak Satpam daripada lo, hih!”

“Bodo. Gue udah punya cewek jadi cinta lo nggak berguna, wek!”

Gian yang menyebalkan mirip dengan Aga.

Sudahlah, memikirkan Aga di saat seperti ini jauh lebih tak berguna untuk hidupku.

**

Pukul dua belas malam.

Slide proposalku sudah terisi beberapa. Aku tak yakin ide yang aku buat kali ini akan menakjubkan hingga bosku dan semuanya kagum padaku. Suasana hati hari ini adalah distraksi yang paling buruk. Aku seharusnya tak usah tahu bahwa Aga sudah menikah, atau Magi tak seharusnya berteman di Facebook dengan Aga. Semuanya runyam, aku kacau dan berantakan.

Pukul tiga pagi.

Aku membuat coklat panas di pentri dan melihat sisi kantor bagian belakang sudah gelap dan kosong. Mengapa aku tidak merasa takut sedikitpun berada sendirian di kantor ini? Aku lebih merasa hampa tak berkesudahan karena patah hati menahun dan tak pernah terselesaikan.

Aku kembali menuju meja kerjaku dan meminum coklat panasku hingga setengah cangkir. Lalu kumulai lagi mencari ide dengan melihat-lihat kembali foto-foto masa dunia kampus yang penuh cerita dan tawa. Apa yang paling kami suka saat itu, bagaimana kerasnya masa tugas yang kejam dengan ketepatan waktu.

Lalu satu foto muncul dengan aku yang sedang mengambil selfie sembari berlari dan Aga yang mengejar dari belakang sehingga wajahnya tidak fokus dan terkesan goyang. Aku ingat benar kapan foto ini diambil. Masa di mana aku selalu iseng pada Aga di saat pulang kuliah saat ia selalu melempar becandaan yang super garing sehingga aku mengatainya ‘culun’ karena tak mampu membuatku tertawa.

Najma dan Aga saat pulang kuliah berdua.

“Binatang apa yang hurufnya cuma satu?”

“Gajah!”

“Salah!”

“Yah, bener dong! Kan Gajah, G- ajah. Gue bener dong!” kataku memaksa.

“Mau tahu yang benar? Jawabannya, I-kan. I---kan? Ya, kan?”

Aku benar-benar takjub atas kegaringannya yang meningkat setiap harinya. Kutendang lututnya dan berlari karena takut ia akan membalasku. Di saat itu kukeluarkan kamera ponselku dan kufoto momen itu dengan spontan. Aku sudah tahu bahwa suatu hari saat itu adalah hal yang paling kurindukan.

Kembali ke dunia nyata.

Aku lirik jam weker kuningku, sudah pukul empat pagi.

Baiklah, akan kubuat proposal tentang laptop AMD ini menjadi batu loncatan karirku. Aku tak boleh hanya membuat proposal ini seadanya. Aku sudah tidak tidur hari ini, dan bisa dipastikan bahwa aku akan sangat sibuk beberapa hari ke depan sehingga tak boleh kubuat project ini seadanya saja.

Lihat, Aga. Perempuan yang kamu tinggalkan ini adalah seseorang yang jauh diluar jangkauanmu. Selamat menyesal.

**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!