NovelToon NovelToon
Ramadan'S Promise

Ramadan'S Promise

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: ayuwidia

Dilarang memplagiat karya!


"Dia memilih kakakku..." --Hawa--

"Dan aku memilihmu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau." --Ramadan--

Hawa terpaksa menelan kenyataan pahit saat Damar--sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya, justru melamar Hanum--kakak kandungnya.

Di tengah luka yang menganga, hadir Ramadan sebagai penyejuk jiwa. Tak sekadar menawarkan cinta, Ramadan juga menjadi kompas yang menuntun Hawa keluar dari gelapnya kecewa menuju cahaya ketulusan yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 13 Pengorbanan

Happy reading

Langit pagi ini sedikit cerah meski semalam hujan deras menghantam bumi, menyisakan genangan di beberapa sudut aspal.

Hawa memelankan laju Scoopy-nya saat memasuki gerbang kampus, menghirup dalam-dalam aroma tanah basah yang menguar--sejenak menyejukkan jiwa dan menghempas penat.

Setelah memarkir motor, kakinya terayun mantap menuju ruang sekretariat BEM. Namun baru beberapa langkah, detak jantungnya seakan dipaksa berhenti mendadak.

Damar berdiri tepat di hadapannya. Jarak yang tiba-tiba terkikis itu membuat Hawa terperanjat, nyaris kehilangan keseimbangan.

"Damar..." gumamnya lirih, hampir tak terdengar.

Lengkung senyum tipis terbit di bibir Damar, diiringi tatapan lekat yang sulit dibaca. Ada sesal yang bersembunyi di balik binar matanya, juga luka yang seolah minta diobati.

"Wa, aku butuh bicara empat mata. Penting," ucapnya. Suaranya rendah, namun menggetarkan udara di antara mereka.

Hawa mengambil satu langkah mundur, menjaga jarak aman agar hatinya tak goyah melihat wajah Damar yang menyendu--wajah yang seolah sedang mengiba.

Ia menarik napas panjang, menegakkan kembali benteng pertahanan yang nyaris runtuh.

"Aku nggak punya banyak waktu. Teman-teman BEM udah menunggu di basecamp," ujar Hawa sedikit ketus sambil menggenggam erat tali tas punggungnya dan memalingkan wajah--menghindari kontak mata dengan Damar.

"Aku udah minta Tiyo mengundur rapatnya nanti siang."

Hawa berdecak pelan. Ia lupa, laki-laki di depannya itu adalah Wakil Sekretaris Jenderal BEM yang punya kuasa untuk sekadar menggeser jadwal demi ego pribadinya.

"Sepuluh menit dari sekarang," cetus Hawa sambil melirik mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Setengah jam. Cukup," sahut Damar cepat. Tak ada tawar-menawar. Tatapannya memaksa Hawa untuk menyerah.

"Setengah jam. Setelah itu, tolong jangan lagi mencampuri hidupku," suara Hawa terdengar tenang, namun setiap katanya terasa tajam dan penuh penekanan.

Damar meraup udara dalam-dalam, lalu mengangguk lemah, seolah baru saja menerima vonis yang berat. Selanjutnya, ia membawa Hawa menuju Kafe Kenangan--sudut sunyi di dekat kampus yang dulu sering mereka singgahi, namun kini terasa asing.

Secangkir Arabica panas dan segelas orange juice dingin tersuguh di meja, menjadi saksi bisu dua insan yang kini saling membisu.

Mereka duduk berhadapan, namun seolah terpisahkan oleh jurang yang sangat lebar, terpenjara dalam kegaduhan pikiran dan sisa-sisa kenangan yang mendadak menyeruak.

Uap kopi yang mengepul di depan Damar seolah mewakili kepalanya yang sedang berisik, sementara embun di gelas Hawa mencerminkan hatinya yang mendadak sedingin es.

Hawa mengaduk jus favoritnya, memecah hening dengan dehaman pelan yang terdengar dipaksakan.

"Apa yang mau kamu bicarakan?" tanyanya tanpa basa-basi.

Damar menghela napas berat, menatap lekat pahatan indah yang sampai detik ini masih bertahta di ruang rasa. Ironis, kini statusnya telah bergeser paksa; dari sahabat sekaligus lelaki yang dicinta, menjadi calon kakak ipar.

"Tolong, jangan berubah. Tetaplah seperti dulu," ucap Damar, sebuah pinta yang terdengar egois.

Hawa membuang napas kasar, memalingkan wajah ke sembarang arah. Ia enggan membalas tatapan itu, sebab takut pertahanannya akan runtuh.

"Nggak bisa. Ada hati yang mesti kamu jaga. Hati Kak Hanum, kakakku sekaligus calon istrimu," ujarnya. Ia berusaha keras menjaga suaranya agar tidak bergetar, meski dadanya seakan terhimpit batu besar saat mengucap kalimat itu.

"Wa, aku melamar Hanum agar kita tetap bisa dekat. Agar aku bisa terus berada di sisimu, menjaga dan melindungimu."

Hawa tertawa hambar. "Maksudmu apa? Tolong diperjelas, biar aku paham pola pikirmu yang ajaib ini."

"Saat ini, aku nggak bisa kasih tahu kamu kenapa aku pilih jalan ini. Melamar Hanum, meski aku nggak pernah mencintainya."

"Kamu jahat, Dam! Kamu tega mengorbankan perasaan orang yang nggak punya salah apa-apa. Apa pun alasanmu, caramu ini salah! Dan aku nggak akan pernah maafin kamu kalau sampai hidup Kak Hanum hancur gara-gara kamu!" Hawa tak kuasa lagi membendung ledakan emosinya. Suaranya meninggi, selaras dengan dadanya yang kembang kempis menahan amarah sekaligus luka.

"Wa, dengerin aku. Tolong, kabulkan permintaanku sekali ini saja. Jangan biarkan pengorbananku sia-sia."

"Pengorbanan, katamu?" Hawa kembali tertawa--sumbang. Air matanya mulai menggenang, siap tumpah kapan saja.

"Kalau memang Bundamu nggak mengizinkan kita dekat, ya jauhi aku! Jangan jadikan Kak Hanum alat buat mengikuti egomu. Jangan korbankan dia!"

"Wa..."

"Aku tahu, pasti Bundamu yang minta kamu menjauh dariku. Beliau membenciku, dan bodohnya aku nggak pernah tahu apa sebabnya. Bahkan bukan cuma Bundamu, keluarga besar Bundaku-pun membenciku! Seolah aku ini cuma anak pungut yang nggak patut dikasihi, apalagi dicintai..."

Ketegaran yang ia bangun sejak di rumah tadi akhirnya runtuh. Tanggul pertahanannya jebol, bersamaan dengan air mata yang luruh membasahi pipi.

"Sampai detik ini, aku nggak pernah tahu alasan kenapa mereka begitu membenciku," isaknya pilu.

Tubuh Hawa bergetar hebat. Pertahanannya benar-benar lumat; air matanya mengalir tanpa segan, membasahi pipi yang kini memucat.

Sakit. Bahkan terasa sangat menyayat ketika memori tentang tatapan dingin Ibunda Damar dan perlakuan keluarga besar Gistara kembali berputar di kepala. Luka lama itu menganga lagi, lebih lebar dari sebelumnya.

"Wa..." Damar mengulurkan tangan, berniat merengkuh bahu Hawa untuk menenangkan badai di sana. Namun, Hawa lebih cepat.

Ia beranjak dari kursi dengan gerakan mendadak, lalu menyeret kakinya pergi--meninggalkan kafe itu dengan langkah yang dipaksakan tegak, meski hatinya telah luluh lantak.

Damar hampir saja melompat untuk mengejar, namun gawai di saku kemejanya bergetar tanpa henti. Sebuah panggilan video call dari Hanum muncul di layar. Nama itu seolah menjadi rantai yang mengikat langkahnya.

Damar menyugar rambutnya dengan kasar. Frustrasi. Ia terjebak dalam dilema yang mencekik: mengejar Hawa yang sedang hancur, atau menerima panggilan Hanum--wanita yang 'hanya' dalam dua minggu lagi akan resmi menjadi istrinya.

Sekian detik, Damar bergeming. Dunianya seolah berhenti berputar di antara getar gawai dan punggung Hawa yang kian menjauh.

Berpikir, menimbang, hingga akhirnya nuraninya menang; ia memilih untuk mengejar Hawa, mengabaikan panggilan Hanum yang perlahan padam.

Namun, ia terlupa bahwa waktu tidak pernah mau menunggu.

Damar terpaku di ambang pintu kafe. Terlambat.

Hawa sudah berada di sisi Rama.

Lelaki itu tidak menawarkan ketenangan lewat pelukan atau janji-janji manis yang semu. Rama hadir dengan kata-kata penyejuk yang merambat masuk ke celah-celah luka Hawa, menguatkan hati gadis itu dengan menunjukkannya pada jalan cahaya.

Damar hanya bisa menyaksikan dari kejauhan saat Rama membimbing Hawa menuju masjid kampus.

Di sana, di bawah naungan cahaya pagi yang meluncur masuk melalui celah jendela, Hawa bersujud. Menyerahkan segala sesak dan tanya dalam rakaat-rakaat Dhuha, mencari jawaban yang tidak bisa diberikan oleh manusia mana pun.

🍁🍁🍁

Bersambung

1
ren_iren
bakal malu setengah hidup itu nanti emaknya hawa😂😂😂
yg dikira perintis ternyata pewaris 😂😂
ren_iren
pelayan warung merapi tp aslinya mas Rama itu pewaris lo... jgn underestimate dulu mas Damar🤭😁😂
Ayuwidia: Tau aja, Kak 😄
total 1 replies
Mila Mulitasari
gimana reaksi bu gistara kalau tahu pemuda yg diremehkan adalah anak sahabatnya sendiri
Ayuwidia: Mungkin syok berat, Kak 😄
total 1 replies
Najwa Aini
uangmu banyak sekali Rama, aslinya...
boleh lah kasih thr kami para pembacamu ini
Ayuwidia: Bukan cuma pembaca yg dikasih, tapi othornya juga 😆
total 1 replies
Najwa Aini
sok kenal pada owner kafe..padahal ya emang kenal banget...
Ayuwidia: Betoel
total 1 replies
Najwa Aini
Nah si Rama kalau udah mode khotbah..Bi .Ijah pun pasti meleyott
Ayuwidia: Penulisnya pun mleyot
total 1 replies
Najwa Aini
Itu sih mobil bapaknya sendiri
Ayuwidia: Tahu ajah
total 1 replies
Najwa Aini
Semuanya nyaman dibaca kok...
upps..belum apa² dah komen
Ayuwidia: Saking nyamannya, yg baca cuma singgah. Nggak mau kenalan sama othornya 😆
total 1 replies
Ririn Rira
Bener kata Rama nggak ada yang nama nya membawa sial.
Ayuwidia: Betoel, Kak
total 1 replies
Nofi Kahza
kapan lagi bisa dicintai cowok keren kayak Rama coba. terima aja cintanya ya Hawa. aku restuin😆
Ayuwidia: Iya, Mak 😆
total 1 replies
Nofi Kahza
setuju sih aku..
Nofi Kahza
mending sudahin semuanya skrg, Damar.
Nofi Kahza
Nah betul. Bi Ijah kok gaul sih cara pikirnya. Nggak kolot kayak ortunya Hawa yg jelas2 lebih berpendidikan👍
Ayuwidia: dipaksa gaul sama othornya 😎
total 1 replies
Nofi Kahza
Bi Ijah tauuuuk aja😆
Nofi Kahza
beeeugh! badas si Rama. sukakkk
Nofi Kahza
ini baru jantan..👍
Nofi Kahza
Rama, aku padamu🥰
Ayuwidia: Aku bilangin Bang Jae
total 1 replies
Nofi Kahza
pengorbanan apa sih??
Nofi Kahza
keren nih🥰
Nofi Kahza
nggak ada tawar menawar katanya, tapi situ sendiri baru aja nawar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!