Seorang gadis kecil yang dipaksa menjadi 'ibu' bagi kakaknya di tengah reruntuhan rumah tangga orang tuanya, harus berjuang melawan kemiskinan dan rahasia kelam pelecehan demi menemukan arti kesucian yang sesungguhnya."
Maya tidak pernah memilih untuk dewasa lebih cepat. Namun, aroma toge di dapur ibunya dan tamparan keras ayahnya adalah guru pertama yang mengajarinya tentang pahitnya dunia. Ditelantarkan di rumah nenek yang dingin dan paman yang ringan tangan, Maya bertahan hidup dengan memungut besi tua dan menjual biji jambu monyet. Di balik ketangguhannya, ia menyimpan rahasia keji yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun: sebuah pengkhianatan dari tetangga yang menghancurkan persepsinya tentang harga diri.
Tahun-tahun berlalu, Maya tumbuh menjadi wanita sukses yang mandiri secara finansial. Namun, ketika bayang-bayang masa lalu kembali menghantui, ia harus menjawab pertanyaan paling menyakitkan dalam hidupnya: Setelah semua yang terjadi, apakah aku masih suci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Parasit tetap lah Parasit
Ketegangan antara aku dan Bayu berlangsung selama hampir satu minggu. Rumah yang biasanya hangat dengan aroma masakan Sari, mendadak terasa hambar. Bayu sengaja menghindari tatapanku, dan setiap kali kami berpapasan di meja makan, ia hanya mendengus, seolah ingin menunjukkan bahwa ia adalah "orang suci" yang sedang dizalimi oleh adiknya yang angkuh.
Aku tetap bertahan pada prinsipku. Mas Aris mendukungku dalam diam, meski ia sempat membisikkan agar aku tetap sabar. Namun, kebenaran tidak butuh waktu lama untuk menunjukkan wajah aslinya.
Sore itu, aku baru saja pulang dari kantor ketika mendengar suara keributan dari arah dapur belakang, tempat Bayu menyimpan kotak uang hasil katering harian. Suara Sari terdengar melengking, bercampur dengan isak tangis yang panik. Aku segera berlari ke sana.
Di sana, aku melihat sebuah pemandangan yang sudah kuprediksi: Bayu sedang memegangi tangan Paman kedua dengan sangat kencang. Di lantai, berserakan lembaran uang ratusan ribu yang baru saja diambil dari laci. Wajah Paman yang tadinya tampak memelas dan sakit-sakitan, kini berubah menjadi beringas, penuh dengan sisa-sisa keserakahan yang tidak pernah hilang.
"Apa-apaan ini, Paman?!" teriak Bayu. Suaranya pecah, ada nada kekecewaan yang mendalam di sana. "Aku sudah memberimu tempat berteduh di kontrakan belakang, aku memberi makan, aku mengobatimu! Kenapa Paman mencuri uang modal kateringku?"
Paman itu meludahi lantai, sebuah tindakan yang sangat tidak tahu diri. "Cuma segini kamu bilang bantuan? Adikmu kaya raya, punya rumah besar, tapi pelitnya minta ampun! Kamu juga sama saja, cuma kasih aku remah-remah! Aku butuh modal buat balik ke desa, aku nggak mau hidup seperti pengemis di sini!"
Sari menangis histeris. "Itu uang buat belanja bahan besok pagi, Mas! Kita bisa gagal kirim pesanan kalau uang itu hilang!"
Aku berdiri di ambang pintu, bersedekap. Aku tidak mengatakan sepatah kata pun, namun mataku menatap langsung ke arah Bayu. Bayu perlahan melepaskan cengkeramannya. Ia tertunduk lesu, dirinya terguncang. Ia baru saja menyadari bahwa "kemuliaan" yang ia banggakan tempo hari hanyalah kenaifan yang tidak berdasar.
"May..." panggil Bayu lirih tanpa berani menatapku. "Kamu benar. Dia... dia nggak pernah berubah."
"Parasit tidak akan pernah berubah menjadi inang, Bang," kataku pelan. "Mereka hanya berganti cara untuk memeras. Kemarin pakai rasa iba, sekarang pakai pencurian." Aku melangkah maju, mengambil uang yang berserakan di lantai dan menyerahkannya pada Sari. Kemudian, aku menatap Paman itu.
"Pergi sekarang. Sebelum saya panggil polisi. Jangan pernah muncul lagi di radius rumah ini atau di depan bisnis Abang saya. Jika Paman butuh modal untuk ke desa, ambil saja uang di tangan Paman itu sebagai ongkos terakhir dari kami. Anggap itu adalah bayaran atas semua luka yang Paman tanamkan di hati Ayah."
Paman itu merampas sisa uang di tangannya dan pergi tanpa sepatah kata terima kasih, menghilang di balik pagar dengan langkah seribu.
Malam itu, Bayu duduk di teras, persis di posisi tempat aku dulu sering merenung. Aku membawakannya kopi hitam. Kami terdiam cukup lama sebelum akhirnya ia bicara.
"Maafkan aku, May. Aku merasa jadi laki-laki yang gagal lagi. Aku pikir dengan menjadi pemaaf, aku lebih hebat darimu. Ternyata aku hanya bodoh," ujarnya pahit.
Aku menepuk bahunya. "Abang nggak gagal. Abang cuma terlalu baik. Tapi di dunia yang keras ini, kebaikan harus punya pagar. Rumah ini lunas karena aku tahu kapan harus menutup pintu, Bang. Bukan karena aku jahat, tapi karena aku ingin melindungi apa yang tersisa dari keluarga kita."
Bayu mengangguk pelan, air matanya jatuh ke dalam cangkir kopi. "Terima kasih sudah menjaga pagar itu tetap berdiri, May."
Hari itu, keretakan di antara kami kembali rapat. Pelajaran pahit ini menjadi pengingat bagi kami semua: bahwa rumah bukan hanya soal bangunan fisik, tapi soal siapa yang berhak berada di dalamnya. Cicilan rasa sakit hati pada Bayu sudah lunas malam itu, digantikan oleh pengertian baru yang lebih dewasa.
Kerennnn