Satu di Hati.
Kamu seperti matahari,
Hangat di pagi hari,
Menyengat di siang hari,
Meredup saat senja hari.
Namun kamu tetap satu di hati.
# Red_Dexter (pinterest)
Kisah cinta ringan antara Erick dan Jeny. Bagi Erick, Jeny adalah mataharinya, ia tidak bisa hidup tanpanya.
Keraguan, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan Jeny.
Senja, waktu favorit Jeny, dan Erick memastikan bahwa Jeny harus melihat kearahnya saat senja.
Kisah nyata seorang kenalan, dengan bumbu dramatisasi, untuk menemani kamu melepas penat menjelang tidur agar bermimpi indah tentang cinta.
Full of love,
Author ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom fien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa depan?
Aku terbangun dengan tubuh polosku berada dalam pelukan kak Erick. Memori semalam membanjiri ingatanku. Aku tau aku melakukannya secara sadar dan juga menikmatinya, tapi juga menyalahkan alkohol karena aku berani melakukannya tanpa alat pelindung. Ini sungguh gila, kamu sungguh gila Jen! Makiku dalam hati.
Aku berusaha melepaskan diri dari pelukan kak Erick, namun berakhir membangunkannya.
"Babe...", ucapnya parau, dengan suara khas bangun tidur.
Aku memberinya sedikit jarak dan menutupi tubuhku dengan selimut. Sepertinya tindakanku membuatnya benar-benar bangun dari tidurnya.
"Apa kamu ingat tentang semalam?"
Aku menjawabnya dengan menganggukkan kepalaku. Ia menjulurkan tangannya dan mengelus pipiku.
"Apa kamu baik-baik saja? Apa terasa sakit?"
"Ya, hanya berasa ga nyaman sedikit."
Ia mendekatiku dan memelukku.
"Apa kamu menyesalinya? Maaf seharusnya aku bisa menahan nafsuku kemarin."
"Babe aku takut hamil.", ucapku pelan.
"Maafkan aku Jen, harusnya aku bisa lebih dewasa ga terbawa nafsu dan memanfaatkan kamu yang agak mabuk.", ucapnya lagi.
"Aku sadar saat melakukannya kemarin.", ucapku pelan.
"Kamu tau kan aku akan selalu disisimu, kamu hanya perlu mengijinkanku maka aku akan langsung menikahimu."
"Aku tau itu."
"Aku sangat mencintaimu, selamanya.", kemudian ia mengangkat daguku, dan menciumku.
"Babe, nanti belikan aku obat pencegah kehamilan ya."
"Ya sayang."
Selama sisa liburanku bersama kak Erick di Surabaya, kami hanya berdiam diri di rumah dan membicarakan pertemuan kami selanjutnya yaitu berlibur bersama keluarganya ke China.
"Babe gimana kalau aku belajar bahasa Mandarin?"
"Ya baguslah babe, mau ga mau bahasa itu sering digunakan dalam dunia bisnis."
"Kalau aku belajarnya di China kamu ijinin ga?"
"Hah, kamu kok tiba-tiba nanya gini? Hanya karena kita mau liburan kesana?"
"Yah ga juga sih, aku pengen aja rasain kalau sekolah diluar kaya gimana, terus karena kita mau kesana aku jadi iseng lihat-lihat penawaran sekolah bahasa disana. Ada yang cuma 1 tahun, maksimal 2 tahun babe."
"Jen ga ya, masa aku harus pisah sejauh itu sama kamu."
"Kak dengar dulu, setelah itu aku mau kerja di kantor bareng kakak, jadi sekretaris, nanti aku yang urus semua keperluan kamu."
"Ga ya Jen, Surabaya Jakarta aja udah susah buat aku, kamu nyuruh aku lebih susah lagi."
"Gimana kalau aku setuju tunangan dulu sebelum pergi?"
"Mau kamu setuju nikah aja, aku masih ga mau lepas kamu sejauh itu. Kalau alasannya cuma ingin belajar diluar kamu bisa pilih negara yang lebih dekat, Singapore aja gimana?"
"Babe, aku mau belajar apa disana? Bahasanya aja Singlish, lagian apa bedanya sama Jakarta."
"Jen ayolah kamu setega itu pergi jauh dari aku."
"Iya iya.... kita cuma akan liburan aja disana."
Kemudian kami terdiam sesaat.
"Babe maaf, aku beneran ga bisa jauh dari kamu. Aku akan penuhin keinginan kamu yang lain bagaimana? Apa saja ok selama kamu ga pergi jauh."
"Babe...", ucapnya lagi.
"Iya aku tau, nanti aku bilang kalau mau sesuatu ok."
Ia mencium pipiku, kemudian bibirku.
"Babe kamu beneran tertarik kerja bareng aku?"
"Sejujurnya entahlah, aku tertarik dengan pengalaman bekerja, ada perasaan bersalah juga selama ini lari dari perusahaan papa, jadi ya kenapa engga dicoba."
"Kenapa sekretaris? Apa itu hal yang paling mudah menurut kamu?"
"Mungkin, ditambah aku ga suka sekretaris kamu sekarang, menurutku dia beneran suka sama kamu tau, kamunya aja yang ga peka atau pura-pura ga peka. Kamu senang ya diperhatiin lebih sama dia?"
"Babe... aku senang, kalau cemburu kamu posesif sama aku."
"Aku serius, mana ada sekretaris kirim pesan kasih tau kalau dia baru selesai kerja."
"Kamu cek WA aku babe?"
"Iya."
"Babe aku jadi gemes sama kamu."
"Aku serius kak Erick."
"Ok baiklah, akan aku pikirkan alasan apa yang masuk akal agar ia ga jadi sekretarisku lagi. Nanti aku cari ibu-ibu yang sudah menikah sambil nunggu kamu jadi sekretaris aku."
"Ya ga perlu segitunya, aku hanya mau kamu tau biar kamu ga terjebak sama sikap manisnya."
"Babe... aku jadi pengen nahan kamu seminggu lagi disini. Pulang bareng aku aja yuk babe."
"Aku sudah janji sama Belva, lagian kamu pasti banyak kerjaan sebelum cuti kan."
"Iya juga sih, mangkanya nikahin aku babe, jadi aku bisa lebih sering sama kamu.", rayunya.
"Iya nanti", ucapku menolaknya secara halus, sambil bercanda mencubit pelan hidungnya.