NovelToon NovelToon
Pernikahan Berdarah Mafia

Pernikahan Berdarah Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Action / Dark Romance / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Damian adalah psikopat yang jatuh cinta, mencintai dengan cara menyiksa, menghancurkan, dan merusak.

Dia mengubah Alexa dari gadis polos menjadi Ratu Mafia paling kejam. Setiap malam dipenuhi darah, penyiksaan, pembunuhan.

Tapi yang paling mengerikan, Alexa mulai menikmatinya. Di dunia ini, cinta adalah peluru paling mematikan. Dan mereka berdua sudah ditembak tepat di bagian jantung.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bisnis Gelap

Seminggu setelah aku membunuh Matteo, Damian mulai melibatkanku dalam bisnis. Bisnis yang sebenarnya. Bukan yang tercantum di laporan resmi perusahaan.

Pagi ini aku duduk di ruang rapat pribadi di lantai bawah tanah mansion. Meja panjang dengan layar besar di dinding. Marco dan lima orang lain duduk di sepanjang meja. Semua menatapku dengan hormat yang nyata.

Bukan lagi kasihan. Bukan lagi ragu. Tapi hormat pada Donna yang baru saja mengeksekusi pengkhianat tanpa ragu.

Walau sebenarnya aku ragu. Sangat ragu. Tapi mereka tidak perlu tahu itu. Damian berdiri di depan layar. Presentasi terbuka. Peta dengan rute merah melintasi beberapa negara.

"Ini operasi terbesar kita tahun ini," katanya. "Penyelundupan senjata dari Rusia ke Asia Tenggara. Nilai transaksi dua ratus juta dolar. Keuntungan bersih delapan puluh juta."

Dia mengklik remote. Gambar kontainer berisi senjata muncul.

"Lima ribu senapan serbu. Dua ribu pistol. Satu ribu peluncur roket. Plus amunisi," lanjutnya. "Pembeli sudah siap. Rute sudah diatur. Tinggal eksekusi."

Aku menatap angka-angka di layar. Dua ratus juta. Untuk alat pembunuh.

Seharusnya aku merasa ngeri. Tapi yang aku rasakan hanya ketertarikan pada logistiknya. Bagaimana mereka bisa menyelundupkan sebanyak itu tanpa ketahuan?

"Dan kali ini," kata Damian sambil menatapku, "Alexa yang akan memimpin operasi."

Ruangan senyap, semua mata tertuju padaku.

"Apa?" bisikku.

"Kau yang akan memimpin," ulang Damian. "Mengatur logistik. Memastikan semua berjalan lancar. Mengatasi masalah kalau ada."

"Tapi, aku tidak tahu apa-apa tentang..."

"Makanya kau akan belajar," potongnya. "Aku dan Marco akan membimbing. Tapi kau yang membuat keputusan. Kau yang bertanggung jawab."

Dia berjalan mendekat. Berdiri di belakangku. Tangan di bahuku.

"Ini ujian berikutnya," bisiknya di telingaku. "Ujian untuk melihat apakah kau bisa memimpin operasi besar. Apakah kau layak jadi Donna yang sesungguhnya."

Jantungku berdetak cepat. Tapi bukan karena takut. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu seperti tantangan?

"Baik," kataku. Suaraku keluar lebih kuat dari yang kukira. "Apa yang harus kulakukan?"

Damian tersenyum. "Marco, jelaskan detailnya."

***

Lima jam kami duduk di ruangan itu. Mempelajari setiap detail. Setiap rute. Setiap kontak. Setiap kemungkinan masalah.

Dan aku menyerap semuanya seperti spons. Otakku bekerja cepat. Melihat pola. Melihat celah. Melihat risiko.

"Pejabat pelabuhan di Jakarta harus disuap," kata Marco sambil menunjuk peta. "Biasanya lima juta cukup. Tapi kalau dia minta lebih..."

"Beri sepuluh," kataku. "Tapi dengan syarat dia jamin tidak ada pemeriksaan mendadak selama sebulan ke depan. Kalau dia tidak bisa jamin, kita cari pejabat lain."

Marco menatapku sebentar. Lalu mengangguk. "Bijak, Nyonya."

"Dan untuk pengiriman dari Rusia," lanjutku sambil mempelajari jadwal, "kenapa kita pakai kapal kargo biasa? Kenapa tidak kapal ikan? Lebih tidak mencurigakan."

"Kapal ikan tidak cukup besar untuk muatan sebanyak ini," jawab salah satu pria.

"Lalu pakai tiga kapal ikan," kataku. "Bagi menjadi tiga shipment. Lebih kecil. Lebih tidak mencolok. Kalau satu ketahuan, dua lainnya masih aman."

Damian tersenyum lebar. "Bagus. Sangat bagus."

Aku terus bertanya. Terus mencari celah. Terus memperbaiki rencana.

Dan tanpa kusadari, aku sudah tenggelam. Sudah lupa bahwa ini tentang senjata yang akan membunuh orang. Yang kutahu hanya... ini tantangan. Puzzle yang harus kupecahkan.

Dan aku menikmatinya.

***

Dua hari kemudian, aku sudah terbang ke Jakarta bersama Damian dan Marco. Bertemu dengan pejabat pelabuhan di hotel mewah.

Pria gemuk berusia lima puluhan dengan mata yang serakah.

"Sepuluh juta," kataku langsung. Tidak ada basa-basi. "Untuk jaminan tidak ada pemeriksaan mendadak selama sebulan. Dan kau pastikan kontainer kami lewat tanpa dibuka."

Pejabat itu tersenyum licik. "Sepuluh juta terlalu kecil untuk risiko sebesar ini. Aku mau dua puluh."

Aku menatapnya dingin. "Sepuluh juta atau tidak sama sekali. Dan kalau tidak sama sekali, kau tahu konsekuensinya."

"Mengancam aku?" dia tertawa. "Kau pikir aku takut pada wanita muda sepertimu?"

Aku tidak menjawab. Hanya menatap Marco yang berdiri di belakang. Marco melangkah maju. Meletakkan foto di meja.

Foto anak pejabat itu. Sedang bermain di taman. Pejabat itu berhenti tertawa. Wajahnya pucat.

"Anak yang manis," kataku dengan nada datar. "Berapa usianya? Tujuh tahun? Delapan?"

"Jangan, jangan sentuh anakku."

"Maka jangan membuatku harus menyentuhnya," kataku sambil berdiri. "Sepuluh juta. Jaminan tidak ada pemeriksaan. Kontainer kami lewat bersih. Itu satu-satunya penawaran."

Aku berjalan ke arah pintu. Berhenti sebentar.

"Kau punya dua puluh empat jam untuk memutuskan," kataku tanpa menoleh. "Setelah itu, kami cari orang lain. Dan kau, yah... kecelakaan bisa terjadi pada siapa saja, kan?"

Kami keluar meninggalkannya di sana. Gemetar. Di mobil, Damian menatapku dengan tatapan yang intens.

"Kau mengancam anaknya," katanya.

"Ya."

"Tanpa ragu."

"Ya."

Dia menarikku ke ciuman. Kasar. Penuh nafsu.

"Kau sempurna," bisiknya ketika melepaskan bibirku. "Benar-benar sempurna."

Dan aku tersenyum, karena aku tahu dia benar. Aku sempurna untuk dunia ini. Aku sudah berubah menjadi sesuatu yang bahkan tidak kukenali lagi.

***

Dua minggu kemudian, semua kontainer sudah sampai dengan aman. Transaksi selesai. Dua ratus juta masuk ke rekening. Delapan puluh juta keuntungan bersih.

Dan aku yang mengatur semuanya. Dari awal sampai akhir. Tidak ada yang salah. Tidak ada yang ketahuan. Sempurna.

Malam itu Damian mengadakan pesta kecil di mansion untuk merayakan. Hanya orang-orang penting. Don dari beberapa keluarga lain yang terlibat dalam operasi.

Dan aku duduk di samping Damian seperti ratu yang sesungguhnya. Menerima pujian. Menerima hormat.

"Donna Alexa luar biasa," kata Don Russo. Pria yang dulu meremehkanku. Sekarang menatapku dengan hormat dan sedikit takut. "Operasi berjalan sempurna. Bahkan lebih baik dari yang kami harapkan."

"Terima kasih, Don Russo," kataku dengan senyum tipis. "Kami selalu memberikan yang terbaik."

Aku sudah bilang kami. Sudah menganggap diriku bagian dari mereka.

Setelah pesta, Damian membawaku ke ruang kerjanya. Membuka brankas. Mengeluarkan kotak kecil berlapis beludru.

"Untuk merayakan kesuksesanmu," katanya sambil membuka kotak itu.

Kalung berlian. Besar. Indah. Berkilauan di bawah cahaya lampu.

"Ini indah," bisikku.

"Berlian dari Afrika," kata Damian sambil mengalungkannya di leherku. "Dibeli dengan uang dari transaksi ini. Berlian yang dibeli dengan darah."

Tangannya mengaitkan kalung itu. Jari-jarinya menyentuh leherku. Hangat.

"Sepertimu," bisiknya. "Indah. Tapi berlumuran darah."

Aku menatap pantulanku di cermin dinding. Wanita dengan gaun hitam elegan. Kalung berlian mahal. Wajah cantik tapi mata yang... kosong.

Siapa wanita ini?

Bukan lagi Alexa yang membaca buku di perpustakaan. Bukan lagi gadis yang tersenyum polos.

Ini monster. Monster cantik dengan kalung berlian berlumuran darah.

"Kau suka?" tanya Damian sambil memelukku dari belakang.

Aku seharusnya bilang tidak. Seharusnya melepas kalung ini dan membuangnya.

Tapi mulutku bergerak sendiri.

"Ya," jawabku. "Aku sangat suka."

Dan aku melihat pantulan Damian tersenyum di cermin.

"Bagus," bisiknya. "Karena ini baru permulaan. Masih banyak operasi lain. Lebih besar. Lebih berbahaya. Lebih menguntungkan."

Tangannya bergerak ke perutku. Memelukku erat.

"Dan kau akan memimpin semuanya," lanjutnya. "Menjadi Donna yang paling ditakuti dan dihormati di negara ini."

Aku seharusnya takut dengan prospek itu. Seharusnya menolak. Tapi yang aku rasakan hanya kepuasan. Kebanggaan.

Aku menikmati kekuasaan ini. Menikmati rasa hormat dari orang-orang yang dulu meremehkanku. Menikmati sensasi mengendalikan operasi senilai ratusan juta.

Aku kehilangan diriku yang dulu, dan aku tidak yakin aku ingin menemukannya lagi.

***

Malam itu aku berdiri di balkon kamar. Menatap kota yang berkelap-kelip di kejauhan. Dengan kalung berlian di leher. Dengan darah di tangan yang tidak terlihat tapi terasa.

Berapa banyak orang yang akan mati dengan senjata yang aku selundupkan?

Ratusan? Ribuan?

Dan apakah aku peduli?

Pertanyaan itu yang paling menakutkan.

Karena jawabannya adalah, tidak.

Aku tidak peduli, selama uang masuk. Selama kekuasaan bertambah. Selama Damian menatapku dengan mata penuh kebanggaan dan cinta yang rusak itu.

Aku tidak peduli berapa banyak yang harus mati. Damian keluar ke balkon. Membawakan segelas wine. Menyerahkannya padaku.

"Untuk apa kau memikirkan?" tanyanya sambil bersandar di pagar.

"Berapa banyak yang akan mati," jawabku jujur.

Damian diam sebentar. Lalu dia menjawab dengan nada yang sangat tenang.

"Banyak. Tapi bukan tanggung jawabmu. Tanggung jawabmu hanya menyediakan alat. Apa yang mereka lakukan dengan alat itu bukan urusanmu."

"Tapi kalau aku tidak menyediakan alat."

"Orang lain yang akan menyediakan," potongnya. "Permintaan selalu ada. Kalau bukan kita, pesaing kita yang dapat untung. Jadi lebih baik kita yang dapat."

Logika yang rusak. Tapi masuk akal di dunia yang rusak ini. Dan aku menerimanya. Tanpa protes.

"Kau masih merasa bersalah?" tanya Damian.

Aku diam lama, mencari rasa bersalah di hatiku. Tapi tidak ada, hanya kekosongan. Dan kenikmatan kekuasaan yang memabukkan.

"Tidak," jawabku akhirnya. "Aku tidak merasa bersalah lagi."

Damian tersenyum. Menarikku ke pelukannya.

"Bagus," bisiknya. "Karena rasa bersalah hanya akan menghalangimu. Dan kau punya masa depan yang cerah di depanmu."

Masa depan yang cerah. Di dunia yang gelap.

Ironi yang menyakitkan. Tapi aku sudah tidak peduli dengan ironi. Atau moral. Atau apapun yang dulu kupedulikan.

Yang kupedulikan sekarang hanya kekuasaan. Uang. Dan pria yang memelukku ini dengan cara yang sama rusaknya seperti aku sekarang.

Dan ketika aku tertidur di pelukannya malam itu dengan kalung berlian masih di leher, satu pertanyaan terakhir menggema sebelum kesadaran menghilang: seberapa dalam lagi aku akan tenggelam sebelum tidak bisa kembali sama sekali?

Atau apakah aku sudah melewati titik itu tanpa sadar? Apakah masih ada harapan untuk jiwa yang sudah terjual pada kekuasaan dan darah?

1
Lubis Margana
posisi mu sangat sulit alexa berpihaklh sementara pada suami mu agar kau dapat cela..bisa lari dari suami mu
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
karya yang aku baca dengan menghabiskan 1/2 hari dengan fon...
Leoruna: knapa lgi tuh/Shy/
total 1 replies
kesyyyy
mantep bangett
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
cerita tentang kau dan aku🎼🎶🎵
Leoruna: astaga, knapa jdi kesana/Facepalm/
total 1 replies
kesyyyy
serem, tapi seruuu🤭
Leoruna: mkasih kak🤭🙏
total 1 replies
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
wow!!!!!
Leoruna: knapa tuh/Shy/
total 1 replies
Rahmawaty24
Ceritanya bagus
Leoruna: makasih, kak☺🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!