Ketika gadis SMA memilih kerja sampingan sebagai seorang sugar baby.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pendarahan
"Jangan."
Kata itu keluar dari mulut Mega sebelum Lily selesai bicara.
Lily menatapnya.
"Mega..."
"Jangan." Mega mengulang, dan kali ini lebih pelan tapi tidak lebih lemah. Ia menggeser kursi plastiknya lebih dekat, mencondongkan tubuh ke depan. "Aku serius, Ly. Jangan lakukan itu."
Lily menghela napas. Panjang. Seperti seseorang yang sudah mengantisipasi percakapan ini dan sudah mempersiapkan diri untuk melewatinya. "Kalian tidak mengerti..."
"Kami mengerti." Yuna bicara kali ini, dengan nada yang dijaganya agar tidak terdengar menghakimi, karena ini bukan tentang menghakimi, dan Lily tidak butuh itu sekarang. "Kami mengerti kamu takut. Kami mengerti situasinya tidak mudah. Tapi Lily..." Ia berhenti sebentar. Memilih kata dengan hati-hati. "Ini bukan jalan yang aman."
"Tidak ada jalan yang aman di situasi ini." Lily menjawab dengan cepat. "Semuanya tidak aman. Semuanya berisiko. Setidaknya kalau aku melakukan ini..."
"Kalau kamu melakukan ini kamu bisa kehilangan nyawamu." Mega tidak menurunkan nadanya. "Kamu tahu itu, kan? Kamu tahu risikonya?"
Lily diam.
"Tempat-tempat yang menangani hal seperti ini di luar prosedur resmi..." Yuna melanjutkan, pelan, "tidak ada jaminannya, Ly. Tidak ada. Kalau ada yang salah, kamu sendirian. Tidak ada yang bisa membantu."
"Aku sudah sendirian dari awal."
Kalimat itu keluar dengan nada yang datar sekali hingga terasa seperti fakta, bukan keluhan. Dan mungkin memang itu yang dimaksud Lily bukan untuk minta dikasihani, hanya menyatakan sesuatu yang ia anggap sudah terbukti.
Mega menggigit bibirnya.
Yuna merasakan sesuatu menekan di dadanya, frustrasi, bukan pada Lily, tapi pada situasi ini secara keseluruhan. Pada Juan yang pergi begitu saja. Pada kenyataan bahwa gadis yang duduk di depannya sekarang, di kamar pengap ini, merasa tidak punya pilihan lain.
"Kamu tidak sendirian," kata Yuna. "Kami ada."
"Kalian tidak bisa ikut menanggung ini..."
"Kami tidak bilang kami bisa menanggung semuanya." Yuna memotong, tapi tidak keras. "Tapi kami bisa ada. Kami bisa menemani kamu ke dokter yang benar. Kami bisa duduk di sebelah kamu waktu kamu bilang ke orangtuamu. Kami bisa Lily, kami bisa hadir di setiap langkahnya. Kamu hanya perlu mengizinkan kami."
Lily menatap lantai.
Diam yang panjang.
Mega mengulurkan tangannya lagi.. meletakkannya di atas lutut Lily, tidak berkata apa-apa, hanya ada di sana.
"Kamu tidak harus memutuskan semuanya malam ini," kata Mega akhirnya, lebih lembut dari sebelumnya. "Kamu tidak harus tahu jawabannya sekarang. Tapi tolong... jangan lakukan sesuatu yang tidak bisa dibalik. Belum. Tidak malam ini."
Lily tidak mengangkat matanya dari lantai.
Satu detik. Dua detik. Lima.
Lalu, sangat pelan, ia mengangguk.
Anggukan itu tidak terasa seperti kemenangan.
Yuna mengenal perbedaan antara seseorang yang setuju karena yakin dan seseorang yang setuju karena terlalu lelah untuk berdebat lebih lama... dan yang ia lihat di wajah Lily masuk ke kategori yang mana, ia tidak bisa sepenuhnya memastikan. Tapi untuk malam ini, anggukan itu cukup. Untuk malam ini, itu yang mereka punya.
Mereka bertiga duduk lebih lama dari yang direncanakan.
Lily makan sedikit, lebih banyak dari yang terlihat seperti kemampuannya beberapa jam lalu, yang Yuna anggap sebagai tanda baik.
Ketika jarum jam sudah menunjuk hampir setengah sepuluh, Mega melirik Yuna dengan ekspresi yang keduanya pahami tanpa perlu diucapkan.
"Kami harus pulang," kata Mega, mulai membereskan bungkusan kosong. "Sudah malam."
Lily mengangguk. Ada perubahan tipis di wajahnya... tidak lebih baik, tapi berbeda. Seperti seseorang yang sedikit mengosongkan beban yang dibawa, meski tidak semuanya.
Di depan pintu, Yuna berhenti. Menoleh.
"Lily." Ia menunggu sampai Lily menatapnya langsung. "Besok kami datang lagi. Kita pikirkan langkah selanjutnya bersama-sama. Tapi..." Ia menjaga kontak mata. "Jangan lakukan apa pun malam ini. Atau besok sebelum kami datang. Janji."
Lily menatapnya sebentar.
"Janji," katanya.
Yuna mengangguk. Mega memeluk Lily sebentar, pelukan yang singkat tapi erat dan kemudian mereka keluar, menyusuri koridor remang menuju tangga, meninggalkan pintu nomor tujuh tertutup di belakang mereka.
---
Di dalam kamar, Lily berdiri di tengah ruangan setelah suara langkah sahabat-sahabatnya menghilang di tangga.
Ia menatap tas besar di sudut. Menatap ponsel di atas kasur. Menatap jendela sempit yang memantulkan cahaya lampu kuning ruangan karena di luar sudah terlalu gelap untuk terlihat apa pun.
Sesuatu di dadanya masih berputar, perasaan yang tidak bisa ia namai dengan tepat, campuran antara hangat karena tadi tidak sendirian dan sesuatu yang lebih dingin di baliknya yang sudah ada jauh sebelum Yuna dan Mega datang.
Ia duduk di tepi kasur.
Tangannya bergerak ke perutnya, pelan, hampir tanpa sadar. Menyentuh permukaan kaus oversized itu dengan ujung jari.
Delapan minggu.
Ia memikirkan kata-kata Yuna. Memikirkan kata-kata Mega. Memikirkan janji yang baru saja ia ucapkan.
Lalu ia memikirkan hal-hal lain.
Orangtuanya. Wajah ibunya kalau tahu. Wajah ayahnya. Sekolah. Ujian kelulusan yang kurang dari dua bulan lagi. Juan yang tidak mengangkat telepon. Kamar ini yang sudah ia bayar dengan uang tabungan terakhirnya dan tidak akan bisa ia perpanjang lewat minggu depan.
Semua itu berputar.
Berputar dan berputar hingga tidak ada satu pun yang terasa bisa dipegang.
Lily mengangkat ponselnya. Membuka aplikasi browser. Mengetik sesuatu. Membaca hasilnya dalam diam, dengan wajah yang tidak berubah ekspresinya, datar dengan cara yang terjadi ketika seseorang sudah melampaui titik di mana perasaan bisa muncul ke permukaan.
Ia menutup browser.
Meletakkan ponsel.
Duduk diam selama beberapa menit.
Lalu bangkit dan membuka lemari.
---
Hoodie hitam. Kacamata gelap yang biasa ia pakai ketika tidak ingin dikenali di mal. Masker medis yang masih tersisa dari sisa pandemi yang belum pernah ia buang.
Lily berpakaian dengan gerakan yang terlalu tenang.
Ia mematikan lampu kamar. Mengunci pintu. Menuruni tangga tanpa suara.
Di luar, malam sudah sepenuhnya turun dengan udara yang lebih dingin dari sore tadi. Gang sempit di depan bangunan sepi, hanya satu motor yang melintas jauh, lampu depannya menyapu dinding sebentar sebelum menghilang.
Lily menarik hoodie-nya lebih rapat. Menyesuaikan maskernya. Lalu berjalan ke arah yang berlawanan dari jalan utama, ke gang yang lebih dalam, ke bagian kota yang tidak banyak orang tahu kalau tidak mencarinya dengan sengaja.
Ia sudah mencarinya dengan sengaja.
Lily berjalan.
Lima belas menit. Dua puluh. Melewati warung yang sudah tutup, gang yang semakin menyempit, rumah-rumah yang lampu depannya sudah padam.
Berhenti di depan sebuah rumah yang tidak berbeda dari rumah-rumah lain di sekitarnya kecuali ada cahaya remang dari balik jendela yang tirainya tidak sepenuhnya tertutup.
Ia mengetuk.
Dua ketukan. Jeda. Satu ketukan lagi... seperti yang tertulis di instruksi yang ia baca.
Pintu terbuka.
---
Yang terjadi sesudahnya tidak berlangsung lama.
Atau mungkin berlangsung sangat lama, Lily tidak sepenuhnya bisa memastikan karena waktu terasa berbeda di ruangan itu, di atas permukaan yang dingin, di bawah cahaya bohlam tunggal yang menggantung terlalu rendah dari langit-langit.
Perempuan tua itu bekerja dengan cara yang terasa seperti sudah dilakukan ribuan kali, gerakan-gerakan yang terlatih dengan kecepatan yang tidak seharusnya menenangkan tapi entah kenapa terasa seperti itu di awalnya.
Di awalnya.
Kemudian ada rasa sakit yang berbeda dari yang Lily antisipasi. Ia mengerutkan dahi. Menggigit bibirnya. Memberi tahu dirinya sendiri bahwa itu normal, bahwa itu pasti akan berlalu, bahwa...
Perempuan tua itu bergerak lebih cepat.
Lily tidak bisa melihat ekspresinya dari sudut pandangnya, hanya bayangan di dinding dari cahaya bohlam tunggal itu... tapi ada sesuatu dalam percepatan gerakan itu, dalam suara yang keluar dari mulut perempuan itu yang bukan kata-kata yang bisa Lily pahami, yang membuat sesuatu di dalam dirinya mengerti bahwa sesuatu tidak berjalan seperti yang seharusnya.
Rasa sakit itu meluas.
Bukan lagi di satu titik. Bukan lagi sesuatu yang bisa ditahankan dengan menggigit bibir dan meyakinkan diri sendiri.
Lily membuka mulutnya untuk berkata sesuatu, meminta sesuatu, ia tidak tahu apa... tapi yang keluar bukan kata-kata.
Panas yang aneh. Kemudian dingin yang lebih aneh lagi. Kemudian langit-langit dengan bohlam tunggal yang mulai terlihat seperti berputar meski Lily tahu langit-langit tidak berputar.
Di suatu titik, ia tidak tahu kapan, tidak bisa menghitung berapa menit setelah apa, perempuan tua itu mengatakan sesuatu yang akhirnya bisa Lily pahami.
"Kita harus ke rumah sakit."
Lily ingin menjawab.
Ingin berkata bahwa ia tidak mau ke rumah sakit, bahwa nanti semua orang tahu, bahwa orangtuanya.
duh2 gimana ya kalo Bastian mau Nina ninu kan yuna lagi di rumah mama nya