Setelah enam tahun tak bertemu, Senja kembali bertemu mantan kekasihnya Arsean.
Pertemuan kembali mereka, mengingatkan luka dan rasa sakit pada dirinya Senja.
Karena di saat itu dia tengah hamil anaknya Sean, namun Sean tak tau. Kedua orang tua Sean pun seolah bungkam dan menginginkan anak dalam kandungannya Senja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Interview Akhir
Arsean sedang menghadiri rapat penting di perusahaan milik papanya. Hari inu adalah hari pertama ia resmi bekerja, dan langsung diangkat sebagai wakil direktur.
Keputusan tersebut sempat menuai pro dan kontra dari para petinggi perusahaan. Namun Arsean membuktikan bahwa dirinya memang pantas berada di posisi itu. Ia menyampaikan ide-ide segar, menjawab setiap pertanyaan dengan tenang, dan menunjukkan sikap profesional yang membuat sebagian besar peserta rapat akhirnya mengangguk setuju.
Di tempat lain, Rea juga memulai hari pertamanya bekerja di perusahaan kedua orang tuanya. Sebelum menikah, mereka sepakat untuk menyibukkan diri dengan pekerjaan masing-masing, sambil perlahan menyiapkan segala kebutuhan pernikahan mereka.
Malam harinya, Rea yang keluar dari lobi perusahaan dengan senyum sumringah menatap Sean yang sudah menunggunya di dalam mobil. Ia menurunkan kaca jendela dan menyambut Rea dengan senyum bahagia.
Rea segera membuka pintu dan duduk di samping Sean.
“Bagaimana hari pertama kamu?” tanya Sean sambil melirik Rea.
“Lumayan sibuk dan sedikit ribet,” jawab Rea, menyandarkan punggungnya.
“Kamu sendiri gimana hari pertamanya, beb?”
“Hmmm… gimana ya?” goda Sean sambil tersenyum jahil.
“Kamu ini… suka kali becandain aku!” Rea mencubit pelan lengan Sean.
Sean terkekeh kecil.
“Apa kamu memang seperti ini sebelumnya dengan mantan-mantan kamu?”
“Mantan-mantan? Aku cuma punya satu mantan, tau!” jawab Sean cepat.
“Oh ya? Siapakah dirinya yang juga mendapatkan rayuan maut kamu?” Rea menaikkan alisnya, pura-pura penasaran.
Sean terdiam sejenak.
“Dia…” Sean menggantung ucapannya.
“Senja?” tebak Rea spontan.
Sean langsung menyalakan mesin mobil.
“Ayo, aku antar kamu pulang. Udah malam juga, dan kamu harus istirahat,” ucapnya dengan ekspresi yang tiba-tiba berubah.
Rea menatap Sean dari samping.
“Sean… ada yang kamu rahasiakan dari aku."
Sean tetap diam, fokus ke jalan, lalu mulai melajukan mobilnya.
“Sean… aku tak peduli bagaimana masa lalu kamu. Tapi aku harap kamu selesaikan semuanya. Aku tak mau masa lalu kamu mengganggu hubungan kita. Ingat, hubungan kita bukan hubungan main-main. Kita akan segera menikah!” ucap Rea tegas, karena ia bisa merasakan bahwa Sean belum benar-benar berdamai dengan masa lalunya.
Sean menarik napas panjang.
“Rea… kamu tahu aku tak pernah membicarakan wanita lain saat bersama kamu. Dan aku harap kamu jangan pernah memancingnya.”
“Jadi aku yang salah?” Rea tersenyum lirih.
“Bukan begitu, sayang. Cuma aku tak suka kalau di saat kita berdua, kamu membicarakan sesuatu yang tak ada hubungannya dengan kita.” Sean akhirnya melunak dan menatap Rea dengan tulus.
Rea menunduk sebentar.
“Maaf… aku tak tahu kalau kamu kesal membahas masa lalu kamu.”
Sean tersenyum, lalu mengusap lembut kepala Rea.
Perdebatan kecil di antara mereka pun berakhir, digantikan keheningan hangat di dalam mobil, sementara lampu-lampu kota menemani perjalanan pulang mereka.
***
“Doakan ibuk diterima ya.” Senja mengusap lembut kepala Angkasa yang berdiri di depannya.
“Iya, buk!”
“Bantu-bantu Nini ya. Jangan nakal-nakal.”
“Oke buk!” jawab Angkasa penuh semangat.
“Ya sudah, ibuk pergi dulu. Kamu masuk sana, temani Nini.”
Angkasa mengangguk lalu berlari kecil masuk ke dalam warung makan Bu Asni.
Senja menarik napas panjang, menata tas di pundaknya, lalu melangkah pergi dengan hati penuh keyakinan dan harapan.
Hari ini bukan hari biasa. Ini adalah interview terakhir yang akan menentukan apakah ia diterima bekerja atau tidak di perusahaan kemaren.
Sepanjang perjalanan, Senja terus menguatkan diri. Ia mengingat wajah Angkasa, mengingat perjuangan mereka selama ini. Ia tak boleh gagal.
Sesampainya di perusahaan itu, Senja melihat beberapa orang lain sudah menunggu di ruang tunggu. Wajah-wajah tegang tampak jelas. Dari balik pintu ruangan, suara interview terdengar silih berganti.
Senja duduk sambil meremas jemarinya sendiri, mencoba menenangkan degup jantungnya.
Tak lama kemudian, pintu terbuka.
“Senja Diandra, silakan masuk!” ucap seseorang di depan ruangan.
Senja berdiri dengan bahu tegap dan melangkah penuh keyakinan. Namun baru saja ia masuk, tubuhnya sempat sedikit goyah saat melihat siapa saja yang duduk sebagai pewawancara.
Bukan hanya Senja yang terkejut. Sean yang duduk di hadapannya pun membeku sesaat. Ia tak menyangka pelamar bernama Senja Diandra itu adalah Senja yang ia kenal.
“Silakan duduk,” ucap salah satu pewawancara.
Senja mengangguk dan mengambil tempat. Tangannya sempat gemetar, tapi ia segera menguasai diri cepat. Dia harus fokus.
Satu per satu pertanyaan dilontarkan.
Senja menjawab dengan lancar, runtut, dan penuh keyakinan. Beberapa pewawancara saling pandang, terlihat cukup terkesan.
Begitu juga Sean.
Sean sangat tahu bagaimana Senja dulu saat sekolah. Dalam setiap debat antarsekolah, Senja selalu tampil percaya diri dan sering keluar sebagai pemenang. Dan hari ini, Sean kembali melihat sisi itu.
Akhirnya tiba giliran Sean berbicara.
“Senja Diandra.” Sean mengangguk, berpura-pura tak mengenalnya.
“Dari segi jawaban yang berkaitan dengan perusahaan ini, kamu menjawab cukup bagus dan berbeda dengan yang lain. Tapi saya ingin bertanya hal lain.”
Senja menatap Sean lurus.
“Misalnya kamu punya masalah pribadi dengan salah satu orang di perusahaan ini, bagaimana kamu menyikapinya?”
Senja menarik napas sebentar sebelum menjawab.
“Saya akan tetap profesional dengan pekerjaan saya. Saya tidak akan mencampurkan urusan pribadi ke dalam pekerjaan. Saya akan tetap bekerja seperti biasa dan bersikap normal kepada orang tersebut. Karena perusahaan adalah tempat bekerja dan berkarier, bukan tempat membahas masalah pribadi ataupun masa lalu,” jawab Senja tegas tanpa ragu.
Sean mengangguk pelan, lalu melingkari nama Senja di lembar penilaian.
“Baiklah.”
“Kamu bisa pulang dulu. Silakan tunggu kabar dari kami,” lanjut salah satu pewawancara.
Senja berdiri.
“Baik. Terima kasih, Pak Sean,” ucapnya sopan sebelum melangkah keluar ruangan.
Begitu pintu tertutup, Sean masih menatap ke arah pintu itu beberapa detik, mungkin Senja akan bisa bersikap biasa saja, namun bagaimana dengan dirinya?
Senja mungkin bisa mengubur mas lalu itu karena menyakitkan. Tetapi Sean tak bisa semudah itu mengubur masa lalunya dengan Senja, apalagi diantara mereka masih ada hal yang belum terselesaikan sampai detik ini.