Lydia tidak pernah menyangka, setelah dipecat dan membatalkan petunangan, ia dicintai ugal-ugalan oleh keponakan mantan bosnya.
Rico Arion Wijaya, keturunan dari dua keluarga kaya, yang mencintainya dengan cara istimewa.
Apakah mereka akan bersama, atau berpisah karena status di antara mereka? ikuti terus kisahnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noorinor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Mobil Audi A4 milik Lydia belum bergerak dari tempatnya. Arion bahkan belum juga menyalakan mesin, seolah ada sesuatu yang menahannya pergi dari sana. Di sampingnya, Lydia hanya memandangi kue ulang tahun di pangkuannya.
Sebenarnya, Arion ingin pergi ke rumah orang tuanya dan bertanya pada Airin. Namun, ia memilih diam di sana, daripada nanti emosinya menyakiti orang, seperti yang pernah ia lakukan pada Lydia.
Arion menghela nafas pelan, lalu menatap perempuan di sampingnya.
"Kenapa tidak dimakan?" tanyanya saat melihat Lydia yang hanya memandangi kuenya.
Lydia menoleh sambil melempar senyuman.
"Kakak sudah kenyang," jawabnya.
Padahal, Lydia sangat ingin sekali memakan kue itu, tapi situasinya saat ini membuatnya harus menahan diri. Ia tidak mungkin menikmati makanan ketika Arion tengah memikirkan adiknya dan kemungkinan bahwa Airin dan Marvin pernah melampaui batas.
Arion tahu Lydia masih ingin memakan kuenya. Jika tidak, tidak mungkin perempuan itu terus memandanginya sambil berusaha menahan ludah. Ia juga ingat Lydia menginginkan kue itu untuk mengembalikan mood-nya.
"Boleh aku minta?" tanya Arion sengaja agar Lydia juga mau memakan kuenya.
"Ini," ucap Lydia sambil mengangkat kue itu sedikit. Arion mengangguk pelan.
"Boleh, tapi sendoknya bekas Kakak. Mau Kakak ambilkan sendok lain?" tawar Lydia karena tidak enak jika Arion makan dengan sendok bekas mulutnya.
"Tidak usah, pakai sendok bekas Kakak saja," ujar Arion tidak mempermasalahkannya, lalu membuka mulut agar Lydia menyuapinya.
Lydia dengan ragu menyuapi Arion menggunakan sendok bekas mulutnya. Arion tertawa kecil, lalu menarik tangan Lydia mendekat dan langsung memakan kue dari sendok itu.
"Sekarang Kakak juga makan," kata Arion setelah menghabiskan kue di mulutnya.
Lydia tahu maksud dari tindakan Arion. Sudut bibirnya tanpa sadar tertarik membentuk senyuman. Ia pun akhirnya memakan kuenya.
Tangan Arion refleks terulur melihat senyuman di wajah Lydia. Sentuhan hangat bisa Lydia rasakan ketika tangan itu menyentuh kepalanya.
"Aku rasa aku mulai jatuh cinta dengan laki-laki ini," batin Lydia sambil tersenyum menatap Arion.
***
“Apa ini? Bayi beruang gue sudah bisa mengelus kepala perempuan?” ujar Haikal sambil menahan diri agar tidak menjerit.
Ia dan Jevan sedang mengamati mobil Audi A4 milik Lydia yang masih terparkir di parkiran restoran. Tidak disangka, dari dalam mobil itu, Haikal melihat Arion mengusap kepala Lydia.
Adegan semanis itu dilakukan oleh laki-laki yang dulunya hanya seorang bayi dengan kostum beruang, yang sering diasuh oleh Haikal. Melihatnya membuatnya sadar usianya sekarang sudah tidak muda lagi.
"Ngomong-ngomong, si Kakak lupa bayar ya?" tanya Haikal pada Jevan yang berada di sampingnya.
"Hem," sahut Jevan singkat dengan matanya yang tertuju pada mobil Lydia.
Haikal menoleh cepat. Ia mendengar nada tidak biasa dari jawaban Jevan barusan, dan merasakan ada sesuatu dengan sahabatnya itu.
"Lo kenapa, dah?" tanya Haikal heran. Jevan hanya mengangkat bahu sebagai respons.
***
Arion mengantarkan Lydia hanya sampai lobi apartemen, sementara dirinya kembali ke Adhivara Grup. Ia memutuskan tidak menemui Airin hari ini karena takut emosinya tidak stabil dan malah menyakiti perasaan adiknya.
Mungkin banyak yang mengira Arion bisa bekerja santai di perusahaan keluarganya. Kenyataannya, ia bekerja layaknya karyawan magang biasa, bergabung dalam tim pemasaran lapangan, yang di waktu tertentu harus turun langsung menyebarkan brosur.
Arion bisa saja bekerja di bagian lain, yang kedudukannya pantas untuk seorang pewaris. Namun, ia memutuskan untuk berada di sana, karena sudah tidak ingin menyalahkan kekuasaannya. Sudah cukup ia memecat orang karena salah paham.
"Mamah kamu pasti kaget kalau tahu anaknya menyebar brosur seperti ini," ucap Calvin, menghampiri Arion yang sedang beristirahat setelah membagikan brosur pada orang-orang yang berlalu lalang.
Sebenarnya, Calvin tidak tega membiarkan keponakannya melakukan pekerjaan seperti menyebar brosur. Namun, Arion sendiri yang menginginkannya dan ia tidak bisa menolak.
Arion menoleh, menatap pamannya yang mengambil tempat duduk di sampingnya. Bagi siapa pun yang mengenal mereka, pemandangan itu mungkin tampak seperti seorang pewaris yang sedang merakyat.
Keduanya duduk di trotoar jalanan, setelan jas yang mereka kenakan cukup mencolok di bawah terik matahari di siang hari.
"Kenapa Paman ada di sini?" tanya Arion, karena trotoar bukanlah tempat CEO bekerja.
"Paman cuma mau menghirup udara segar. Paman bosan di kantor, banyak sekali pekerjaan yang harus urus di sana," jawab Calvin, padahal kenyataannya ia memang sengaja ke sana untuk mengawasi Arion.
Baginya, Arion adalah anak-anak yang sedang belajar menghadapi dunia luar, dan ia ingin memastikan tidak terjadi hal buruk selama keponakannya itu bekerja.
Arion tidak pernah mengeluh selama ini. Tapi Calvin tahu, orang tua Arion akan mengeluh jika tahu Arion bekerja sebagai staff kecil perusahaan.
"Tapi Paman tidak memberitahu Mamah, kan?" seru Arion, tidak ingin membuat ibunya khawatir.
Arion masih sangat dimanja oleh ibunya, bahkan meskipun ia sudah dewasa dan anak pertama. Saat pertama tinggal di apartemen saja ibunya terus memintanya pulang.
Jika ibunya tahu, mungkin Arion tidak akan diizinkan lagi bekerja di Adhivara Grup, dan bahkan mungkin akan disuruh pulang ke rumah. Arion tidak ingin jika hal itu sampai terjadi.
"Tidak," jawab Calvin cepat. "Tapi mungkin Mamah kamu akan tahu dengan sendirinya." tambahnya.
"Aku tahu, tapi yang penting Paman tidak memberitahu Mamah," sahut Arion.
Setelah itu, Arion dan Calvin saling terdiam. Keduanya hanya menatap kendaraan dan orang-orang yang berlalu lalang.
Tidak berselang lama, Arion menatap Calvin. Ada hal yang ingin ia sampaikan pada pamannya itu.
"Kak Lydia bilang, Marvin sering menyewa kamar bersama selingkuhannya. Menurut Paman, apa mungkin Airin salah satunya?" tanyanya.
Tangan Calvin terkepal saat mendengar itu. Ia sendiri tidak tahu sejauh apa hubungan Airin dan Marvin. Namun, perkataan Arion membuatnya ikut bertanya-tanya.
"Nanti Paman cari tahu," ujar Calvin sambil tersenyum menatap Arion.
Ia boleh saja emosi memikirkan kemungkinan Airin telah tidur dengan Marvin, tapi ia tidak ingin menunjukannya di depan Arion.
"Bagaimana kalau benar Airin dan Marvin pernah tidur bersama?" tanya Arion, mengungkap keresahan di hatinya yang sejak tadi ia tahan.
"Kalaupun benar, yang penting Airin tidak sampai mengandung anak Marvin. Paman tidak rela Airin memiliki anak dari laki-laki brengsek seperti dia," ucap Calvin, masih berusaha menahan emosi.
Arion membenarkan itu. Ia juga tidak rela adiknya mengandung anak Marvin. Ayah keponakannya harus berasal dari keluarga baik-baik dan tidak memiliki riwayat selingkuh.
"Kamu jangan menanyakan ini ke Airin. Biar Paman saja yang mengurus semuanya. Paman akan memberi tahu kamu bagaimana hasilnya nanti," lanjut Calvin, tidak ingin Arion dan Airin bertengkar karena masalah ini.
Lagipula, ia harus memastikan terlebih dahulu apakah benar Marvin pernah meniduri Airin. Jika terbukti pernah, ia akan membuat laki-laki itu membayar mahal atas perbuatannya.
Calvin tidak akan membiarkan orang lain menyentuh ataupun menyakiti keluarganya. Ia akan pastikan itu.
"Terima kasih, Paman," ucap Arion, lega karena sudah menceritakan itu pada pamannya. Ia percaya pamannya bisa diandalkan untuk mengurus semuanya.
Calvin tersenyum dan menepuk pelan bahu Arion.
"Tidak perlu dipikirkan, kamu fokus saja dengan kuliah dan pekerjaan kamu. Oh ya, Lydia juga jangan lupa," ujarnya, sedikit menggoda Arion.
Arion hanya tertawa kecil menanggapi ucapan pamannya itu.