Arc 1 : Bab 1 — 41 (Dunia Melalui Mata Bayi Ajaib)
Arc 2 : Bab 42 — ... (On-going)
Aku terlahir kembali di dunia kultivasi dengan ingatan utuh dan selera yang sama.
Di sini, kekuatan diukur lewat tingkat kultivasi.
Sedangkan aku? Aku memulainya dari no namun dengan mata yang bisa membaca Qi, meridian, dan potensi wanita sebelum mereka menyadarinya sendiri.
Aku akan membangun kekuatanku, tingkat demi tingkat bersama para wanita yang tak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 : Biji Cahaya dan Simpul Luka.
[PoV Shen Yu]
Dalam tidurku.
Aku bermimpi lagi.
Tapi kali ini, bukan mimpi biasa.
Aku berdiri atau setidaknya kesadarananku yang berdiri di sebuah ruang kosong yang penuh dengan cahaya keemasan.
Di depanku, ada dua aliran sungai cahaya.
Satu berwarna keemasan murni milikku. Mengalir lancar, meski masih kecil dan lemah.
Satunya lagi berwarna perak, tapi terhalang oleh gumpalan hitam milik Yu Yan.
Dalam mimpi ini, aku bisa bergerak. Aku mendekati sungai perak itu, mengulurkan tangan.
Dan menyentuh gumpalan hitam itu.
Dingin.
Sakit.
Tapi juga ... sedih.
Bukan hanya rasa sakit fisik. Ini adalah rasa sakit yang penuh kenangan ledakan energi, teriakan ayah, darah, ketakutan seorang ibu yang mengandung, lalu lahirnya seorang bayi dengan luka yang sudah ada sebelumnya.
"Kamu bisa merasakannya?" suara itu muncul tiba-tiba.
Aku menoleh. Di sampingku, berdiri seorang wanita dengan cahaya keemasan yang jauh lebih terang dari milikku. Wajahnya kabur, tapi aku tahu siapa dia.
Ibu.
Tapi bukan Ibu seperti yang kukenal. Ini adalah versi spiritualnya.
"Ini adalah ingatan energi," katanya. "Cedera yang parah bisa meninggalkan jejak di Qi, bahkan di keturunan berikutnya."
"Bagaimana cara menyembuhkannya?" tanyaku atau pikiranku bertanya.
"Dengan kesabaran. Dengan kasih sayang. Dan dengan memahami akarnya." Tangannya atau versi cahaya dari tangannya menyentuh gumpalan hitam itu. "Pertama, kau harus membersihkan lapisan luar. Rasa sakit saat ini. Baru kemudian akar sejarahnya."
"Apakah aku bisa?"
"Dengan waktu. Dan dengan bantuan." Dia menatapku. "Yu Yan akan tinggal bersama kita tak lama lagi. Itu baik. Untukmu dan untuknya."
"Kenapa Ibu melakukan semua ini?" tanyaku. "Mengajariku, membantuku, bahkan membawa Yu Yan ke dalam keluarga?"
Banyak orang yang bilang mimpi adalah bunga tidur. Ini hanya mimpi, setidaknya biarkan aku bermimpi perempuan seksi selain Ibuku di dunia ini.
Aku suka berada di mimpi.
Karena dalam mimpi ini, aku bisa bertanya dengan jelas.
Sedangkan Ibu—versi spiritualnya—tersenyum.
"Karena semua ini akan membutuhkanmu, Shen Yu. Dan mereka yang berada di sekitarmu akan menjadi kekuatanmu. Jangan pernah meremehkan kekuatan sebuah ikatan."
Lalu, dia mulai memudar.
"Tidurlah, Nak. Besok adalah hari baru. Dan perjalananmu baru saja dimulai."
Sedangkan di dunia luar mimpi. Aku merasakan Qi ibuku sebelum aku tertidur.
***
[PoV Ibu Shen]
Aku berdiri di balik pintu kayu, jari-jariku menempel ringan pada daun pintu yang dingin.
Aku sudah kembali sejak sepuluh menit lalu.
Aku tahu.
Tapi kakiku tidak melangkah masuk.
Di celah kecil antara pintu dan kusen, aku melihat mereka. Shen Yu di pangkuan Yu Yan. Tubuh bayi itu kecil, rapuh namun dahinya … bercahaya.
Biji cahaya itu aktif.
Tidak terang. Tidak meledak. Tapi cukup jelas bagi mata yang tahu harus melihat ke mana.
Sinar keemasan lembut merembes keluar, seperti embun pagi yang disentuh matahari. Tipis, nyaris tak kasatmata bagi orang biasa namun bagiku, itu seperti lonceng yang berdentang pelan.
Yu Yan terengah-engah sebelumnya.
Aku ingat benar posturnya saat aku meninggalkan rumah tadi. Tegang, napas patah-patah, aura peraknya tercekik lapisan abu-abu kusam yang berdenyut tidak stabil.
Sekarang berbeda.
Aku melihat dadanya naik dan turun lebih teratur. Wajahnya masih pucat, tapi tidak lagi mati. Ada warna di pipinya sedikit, tapi cukup untuk membuat perbedaan antara bertahan dan runtuh.
Dan auranya …
Lapisan abu-abu itu menipis.
Bukan hilang.
Hanya bergeser, seperti kotoran lama yang dibilas air bersih.
Aku tersenyum tanpa sadar.
Aku sadar, Shen Yu masih bayi dan aku ibu yang gila karena menanamkannya.
Aku yakin, Shen Yu seperti ayahnya. Dia anak tercinta dari suami yang kucintai itu.
Ada kebanggaan yang menghangatkan dadaku. Shen Yu … anakku … sudah mulai menyentuh dunia dengan hadiahnya. Bahkan tanpa tahu apa yang sedang ia lakukan.
Namun senyumku tidak pernah sederhana.
Karena di balik kebanggaan itu, ada rasa dingin yang merayap pelan di tulang punggungku.
Bakat seperti itu tidak pernah tumbuh dalam diam.
Dan bersama ketakutan itu, sebuah keputusan lama yang selalu kutunda … akhirnya mengeras.
Ketika Yu Yan bergerak, mengangkat Shen Yu yang sudah tertidur, aku melangkah keluar dari bayangan. Lantai kayu berderit pelan di bawah kakiku.
Dia terkejut saat melihatku.
“Ibu Shen?” suaranya masih basah, matanya merah, tapi kini hidup.
“Yu Yan,” kataku lembut. “Masuklah. Ada yang ingin Ibu bicarakan denganmu.”
Dia ragu sekejap. Lalu mengangguk kecil.
Kami duduk berhadapan di meja kayu tua. Shen Yu sudah kupindahkan ke boks kecil di dekat kami. Napasnya teratur, wajahnya damai, seolah dunia luar tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Aku menatap Yu Yan lama sebelum bicara.
“Aku tahu tentang simpul gelap di meridianmu,” kataku akhirnya.
Tubuhnya menegang seketika. Tangannya mengepal di pangkuannya.
“Itu bukan kutukan,” lanjutku pelan. “Itu luka. Luka energi yang diturunkan. Ayahmu terluka parah dulu, dan sebagian dampaknya … mengalir ke dalam dirimu.”
“A-apa itu bisa … disembuhkan?” Bibirnya bergetar.
Aku tidak menghindar dari tatapannya.
“Aku tidak tahu,” jawabku jujur.
Kejujuran itu menyakitinya, aku bisa melihatnya tapi dia tidak menunduk. Dia bertahan atau mungkin akalnya belum mengerti karena usianya masih dini.
“Tapi apa yang terjadi tadi,” kataku sambil melirik Shen Yu, “itu bukan kebetulan.”
Yu Yan mengikuti pandanganku.
“Biji cahaya di dahinya,” lanjutku. “Adalah warisan keluarga kami. Kemampuan untuk melihat, merasakan, dan menyentuh Qi pada tingkat yang lebih dalam dari kebanyakan kultivator.”
“Jadi dia benar-benar …” Suaranya mengecil. “Menyembuhkanku?”
Aku menggeleng pelan.
“Bukan menyembuhkan,” kataku. “Lebih seperti … membersihkan. Seperti air yang mengalir di atas luka lama. Perih, tapi perlu.”
Aku menatap anakku.
“Dia masih bayi,” lanjutku. “Kemampuannya pun masih seperti itu. Lemah. Tidak stabil. Tapi nyata.”
Keheningan jatuh di antara kami.
“Kenapa Ibu memberitahuku semua ini?” tanya Yu Yan akhirnya.
Aku menatapnya lurus.
“Karena aku punya tawaran.”
Matanya membesar.
“Tinggallah di sini,” kataku. “Bantu aku menjaga Shen Yu. Dan biarkan dia … membantumu. Sedikit demi sedikit.”
“Tapi aku tidak punya apa-ap—”
“Kau sudah membayar,” potongku lembut tapi tegas. “Dengan kesetiaan. Dengan kerja keras. Dengan fakta bahwa kau tidak lari walau tubuhmu sendiri menyakitimu setiap hari.”
Aku menarik napas dalam.
“Dan ada alasan lain,” kataku. “Shen Yu perlu belajar mengontrol kemampuannya. Dan kau …” Aku menatap dadanya. “Adalah latihan yang sempurna.”
Yu Yan terdiam lama.
Matanya beralih ke Shen Yu. Lalu ke tangannya sendiri, yang masih mengingat hangatnya sentuhan tadi.
“Ayahku …” suaranya nyaris tak terdengar. “Apa ayahku bisa disembuhkan juga?”
Pertanyaan itu berat.
Aku menghela napas perlahan.
“Cederanya jauh lebih parah,” jawabku. “Tapi … tidak ada yang sepenuhnya mustahil.”
Itu cukup.
Air mata Yu Yan jatuh tanpa suara. Dia mengangguk berkali-kali, seperti takut jika berhenti, keberaniannya akan runtuh.
“Aku akan tinggal,” katanya. “Aku akan melakukan apa pun.”
Aku bangkit, meraih tangannya dengan kedua tanganku.
Kurus. Hangat. Masih hidup.
“Selamat datang di keluarga kami, Nak,” kataku pelan.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, aku merasa bahwa keputusan ini walau berbahaya sekalipun tetap keputusan yang benar.
Untuk ayahnya Yu Yan, aku tak perlu khawatir.
Istrinya—Ibu Yu Yan—bertanggung jawab atas suaminya. Dan, tak kusangka anak ini walau masih berusia lima tahun cukup kuat menahan sakitnya, terlebih lagi dia seorang perempuan.