Ryuga Soobin Dewangga adalah CEO dingin yang terjebak dalam trauma masa lalu dan konspirasi bisnis yang mengancam nyawanya. Hidupnya yang kaku berubah total saat ia bertemu Kiara Adiningrat, asisten pribadi tangguh yang lebih ahli memegang senjata dan memperbaiki jam antik dari pada menyeduh kopi.
Di tengah ancaman pembunuhan dan pengkhianatan orang terdekat, keduanya terpaksa menjalin kesepakatan tengah malam yang berbahaya. Antara tuntutan profesional, hobi yang saling bersinggungan, dan ego yang setinggi langit, mereka harus menghadapi musuh yang mengintai di balik bayang-bayang.
Mampukah cinta tumbuh di antara peluru dan rahasia, ataukah kesepakatan ini justru menjadi awal kehancuran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Detik yang Berhenti di Brankas Nomor 9
SUV hitam yang dikemudikan Dino meluncur bak peluru membelah jalanan Kota Tua yang basah. Di kursi belakang, Ryuga dan Kiara terengah-engah. Bau mesiu dari petasan Dino dan aroma debu brankas masih melekat kuat di pakaian mereka.
"Kita aman? Katakan padaku kita aman!" teriak Dino sambil membanting setir ke arah jalan layang. "Jantungku sudah pindah ke ginjal, Ryuga! Aku tidak dibayar untuk adegan Fast & Furious!"
"Diam dan terus mengemudi, Dino!" sahut Ryuga tajam. Ia segera menoleh ke arah Kiara. "Kau terluka?"
Kiara menggeleng, namun tangannya gemetar saat memegang jam saku perak itu. Ryuga melihat sobekan panjang di bagian bawah Gaun Biru Safir Kiara, menampakkan luka gores kemerahan di betisnya akibat terkena rak besi tadi. Tanpa bicara, Ryuga merobek sedikit kain sapu tangan mahalnya, lalu membungkuk di ruang sempit itu untuk membalut luka Kiara.
Tangan Ryuga yang besar namun lembut menyentuh kulit kaki Kiara.
Kiara tersentak sedikit, bukan karena perih, tapi karena kontak fisik yang mendadak itu. Di bawah lampu jalan yang berkelip masuk ke kabin mobil, mata mereka bertemu.
"Ini akan perih sebentar," bisik Ryuga.
"Terima kasih, Pak," sahut Kiara pelan. "Tapi jam ini... Hendra bilang ayah saya mencoba mengkhianatinya. Apa itu benar?"
Ryuga menghentikan gerakannya. Ia menatap jam saku itu, lalu beralih ke wajah Kiara yang tampak rapuh namun kuat. "Hendra adalah ular, Kiara. Dia memutarbalikkan fakta. Tapi satu hal yang pasti, jam ini berhenti di detik yang sama saat kecelakaan itu terjadi. Detik yang membeku."
Dino, yang sedang mencoba menenangkan diri dengan menyalakan radio, tiba-tiba mematikan musiknya dengan kasar.
"Tunggu... tunggu dulu. Kenapa ada suara desis statis di frekuensi radio cadangan kita?"
Dino mengotak-atik panel monitor di dasbor. Wajahnya yang biasanya penuh tawa berubah pucat. "Ryuga! Kiara! Jangan bicara sepatah kata pun!"
"Ada apa, Dino?" tanya Kiara cemas.
Dino menunjukkan layar tabletnya. Ada gelombang sinyal yang bergerak sinkron dengan suara napas mereka di dalam mobil. "Hendra... dia tidak cuma mengejar kita secara fisik. Dia menanam penyadap frekuensi di dalam Gaun Biru itu, Kiara! Bukan di kainnya, tapi di bros permata yang diberikan pelayan tadi!"
Kiara segera meraba dadanya, menemukan bros kecil berbentuk bunga yang memang tersemat di gaunnya.
"Sialan," kutuk Ryuga. Ia mengambil bros itu dari tangan Kiara dan membukanya. Benar saja, ada micro-chip pelacak di dalamnya.
"Dino, cari truk sampah atau kendaraan apa pun yang menuju ke arah berlawanan!" perintah Ryuga.
Dino melihat sebuah truk logistik besar di jalur sebelah. "Target terkunci! Pak Bos, silahkan lakukan lemparan mautnya!"
Ryuga menurunkan kaca jendela sedikit. Angin malam yang dingin menerjang masuk, menerbangkan rambut Kiara. Dengan akurasi seorang atlet, Ryuga melempar bros itu tepat ke bak truk yang melaju ke arah Bekasi.
"Sekarang, kita hantu lagi," gumam Ryuga sambil menutup jendela.
Misteri S-1945
Kiara membuka jam saku itu kembali. Ia menyadari sesuatu yang aneh.
Jarum detiknya tidak benar-benar berhenti, melainkan bergetar halus seolah mencoba bergerak maju tapi tertahan sesuatu.
"Ryuga, ini bukan sekadar jam tangan rusak," Kiara mendekatkan jam itu ke telinganya. "Ada detak mekanis didalamnya. Ini adalah 'jam hidup'. Ayah saya merancangnya agar hanya bisa berjalan jika disatukan dengan komponen lain."
"Komponen apa?"
Kiara menatap Ryuga dengan serius.
"Restorasi jam raksasa di balai kota. Itu bukan sekadar monumen, Ryuga. Itu adalah pemancar sinyal pusat S-1945. Dan kita harus kesana sebelum fajar."
Ryuga terdiam, lalu ia menggenggam tangan Kiara yang memegang jam. "Kalau begitu, kita tidak akan tidur malam ini. Lagi."
Dino menghela napas panjang dari depan. "Oke, fajar di balai kota. Tapi setelah ini, aku menuntut bonus berupa liburan ke Bali dan satu truk martabak manis! Tanpa tawar-menawar!"
Hening sejenak menyelimuti kabin SUV setelah bros pelacak itu dilemparkan keluar. Dino masih fokus menatap jalanan yang licin, sementara Ryuga masih memegang kain perban di betis Kiara. Sentuhan itu bertahan sedikit lebih lama dari yang diperlukan, sebuah pengakuan bisu atas ketakutan yang baru saja mereka lewati.
"Pak," suara Kiara memecah kesunyian, "Anda bisa melepaskannya sekarang. Saya sudah tidak apa-apa."
Ryuga tersentak pelan, seolah baru tersadar dari hipnotis. Ia melepaskan tangan dari kaki Kiara dan kembali duduk tegak, merapikan jas hitamnya yang kini ternoda debu bata merah. "Maaf. Aku hanya memastikan pendarahannya berhenti."
"Masalahnya bukan cuma soal pelacak di bros itu, Ga," sela Dino, suaranya terdengar lebih serius dari biasanya. "Aku baru saja memindai ulang data dari ponsel Victor yang kita salin di Gala Dinner tadi. Ada satu nomor yang sering muncul di log panggilannya."
Dino memutar tabletnya agar bisa dilihat oleh Ryuga dan Kiara melalui celah kursi. "Nomor ini terdaftar atas nama sebuah yayasan medis. Namanya 'The Healing Hands'. Kalian tahu siapa pemiliknya?"
Mata Ryuga menyipit. Rahangnya mengeras seketika. "Seline."
Kiara melirik Ryuga, menangkap perubahan drastis pada aura pria di sampingnya. Nama itu seolah memiliki daya ledak yang lebih besar daripada petasan Dino tadi. "Seline? Siapa dia?"
"Orang lama," jawab Dino singkat dengan nada cemas. "Mantan tunangan Ryuga yang seharusnya berada di London untuk studi kedokteran. Kalau dia terlibat dengan Victor dan Hendra, berarti kita benar-benar dalam masalah besar."
*Luka yang Kembali Terbuka*
Suasana di dalam mobil mendadak mendingin. Kiara merasakan dorongan aneh di dadanya sesuatu yang terasa seperti duri kecil yang menusuk. Tunangan? Ia tahu Ryuga punya masa lalu, tapi mendengar status itu secara langsung membuat Gaun Biru Safir yang ia kenakan terasa semakin sempit dan menyesakkan.
"Kita butuh tempat untuk bersembunyi sementara sambil menunggu fajar," ucap Ryuga, mencoba mengalihkan topik. "Gedung Balai Kota dijaga ketat sampai jam operasional dimulai pukul enam pagi."
"Aku tahu satu klinik yang tidak akan dilaporkan ke polisi," ujar Dino ragu-ragu. "Tapi itu klinik milik Seline. Dia baru saja kembali ke Jakarta minggu lalu. Dan dia satu-satunya orang yang punya peralatan medis untuk menjahit luka Kiara tanpa meninggalkan jejak digital di rumah sakit."
Ryuga terdiam lama, menatap hujan yang menghantam kaca jendela. "Ke sana sekarang, Dino. Kita tidak punya pilihan."
Kiara memperhatikan profil samping wajah Ryuga. Ada luka yang jauh lebih dalam daripada sekadar goresan di kakinya yang tercermin di mata pria itu. Tanpa sadar, Kiara menggenggam jam saku perak pemberian ayahnya lebih erat.
"Anda tidak harus melakukannya jika itu menyakitkan, Pak Ryuga," bisik Kiara pelan.
Ryuga menoleh, menatap Kiara dengan intensitas yang membuat napas Kiara tertahan. "Apanya?"
"Bertemu dengannya."
Ryuga mengulurkan tangan, perlahan menyisipkan sehelai rambut Kiara yang berantakan ke belakang telinganya. Sentuhan itu sangat lembut, sangat berbeda dengan sikap dinginnya biasanya. "Restorasi hidupku dimulai saat aku bertemu denganmu di gudang itu, Kiara. Masa lalu hanyalah jam rusak yang tidak bisa diperbaiki lagi."
Dino berdehem keras dari kursi depan. "Oke, tolong simpan puisinya untuk nanti! Kita sampai di depan klinik. Kiara, siap-siap. Pertemuan antara asisten tercinta dan mantan tunangan ini sepertinya akan lebih menegangkan daripada kejaran Hendra tadi!"
ini juga teman kocak si Dino gangguin aja, 🤣🤣
tp seru dan tegang.. penasaran kode apa itu ya?