Arjuna kembali ke kampung halamannya hanya untuk menemukan reruntuhan dan abu. Desa Harapan Baru telah dibakar habis, ratusan nyawa melayang, termasuk ayahnya. Yang tersisa hanya sebuah surat dengan nama: Kaisar Kelam.
Dengan hati penuh dendam, Arjuna melangkah ke Kota Kelam untuk mencari kebenaran. Di sana ia bertemu Sari, guru sukarelawan dengan luka yang sama. Bersama hacker jenius Pixel, mereka mengungkap konspirasi mengerikan: Kaisar Kelam adalah Adrian Mahendra, CEO Axion Corporation yang mengendalikan perdagangan manusia, korupsi sistemik, dan pembunuhan massal.
Tapi kebenaran paling menyakitkan: Adrian adalah ayah kandung Sari yang menjualnya saat bayi. Kini mereka diburu untuk dibunuh, kehilangan segalanya, namun menemukan satu hal: keluarga dari orang-orang yang sama-sama hancur.
Ini kisah tentang dendam yang membakar jiwa, cinta yang tumbuh di reruntuhan, dan perjuangan melawan sistem busuk yang menguasai negeri. Perjuangan yang mungkin menghancurkan mereka, atau mengubah se
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: LATIHAN NERAKA
#
Tiga bulan.
Tiga bulan yang terasa seperti tiga tahun di neraka itu sendiri.
Arjuna bangun setiap hari jam empat pagi dengan tubuh yang masih sakit dari latihan kemarin. Hendrawan tidak pernah kasih ampun, tidak peduli Arjuna masih punya tulang rusuk yang baru sembuh atau lebam yang belum hilang. "Musuh tidak akan tunggu kau sembuh total," katanya dingin setiap kali Arjuna mengeluh.
Pagi hari untuk lari. Lari keliling desa yang diselimuti kabut tebal sampai paru-paru terasa terbakar. Lima putaran. Sepuluh kilometer. Tanpa berhenti. Kalau berhenti, Hendrawan tambah jadi tujuh putaran besok.
Setelah lari, latihan fisik. Push up seratus kali. Sit up seratus kali. Pull up sampai tangan tidak bisa angkat sendok untuk makan. Arjuna ingat hari pertama dia cuma bisa push up dua puluh kali sebelum jatuh. Sekarang dia bisa seratus tanpa napas terlalu tersengal.
Siang hari untuk combat. Hendrawan ajari dia cara memukul yang benar, bukan cuma asal pukul. Cara menghindar yang efisien, tidak buang tenaga. Cara mengunci lawan yang lebih besar, cara patahkan tulang kalau terpaksa, cara bunuh dengan tangan kosong kalau tidak ada pilihan lain.
"Kau tidak boleh ragu," kata Hendrawan sambil pukul perut Arjuna sampai dia terbatuk. "Di lapangan nanti, ragu satu detik itu artinya mati. Kau mengerti?"
"Mengerti," jawab Arjuna sambil batuk, ludahnya bercampur darah.
"Bagus. Sekarang serang aku lagi. Kali ini jangan pikir aku ayahmu. Pikir aku musuh yang mau bunuh orang yang kau sayang."
Arjuna menyerang. Lebih cepat. Lebih brutal. Tangannya bergerak tanpa pikir, tubuhnya bereaksi otomatis. Tinju ke wajah, tendang ke perut, sikut ke dada. Hendrawan blok semua tapi Arjuna tidak berhenti. Terus serang, terus serang sampai..
Sampai tangannya ditangkep Hendrawan, tubuhnya diputar, jatuh ke tanah dengan keras. Napasnya hilang sebentar.
"Lebih baik," kata Hendrawan sambil hulurkan tangan. "Tapi masih terlalu emosional. Emosi bikin kau ceroboh, bikin kau gampang dibaca. Besok kita coba lagi."
Besok. Dan besok. Dan besok setelahnya.
Pixel punya latihan sendiri. Dia tidak perlu latihan fisik sebanyak Arjuna, tapi Hendrawan paksa dia tetap lari dan push up. "Hacker yang tidak bisa lari dari musuh adalah hacker mati," katanya.
Tapi kebanyakan waktu Pixel dihabiskan di depan laptop. Mempelajari sistem keamanan Axion Corporation yang Hendrawan kumpulkan selama bertahun-tahun. Mencoba hack sistem latihan yang Hendrawan bikin, sistem yang didesain mirip dengan The Protocol.
"Ini gila," gumam Pixel suatu malam, matanya merah karena kurang tidur. "Ini sistem paling rumit yang pernah aku lihat. Enkripsi berlapis duabelas. Firewall yang berubah algoritmanya setiap tiga detik. Trap yang kalau kau injak sekali, langsung lockdown total."
"Maka kau harus lebih pintar," kata Hendrawan sambil duduk di sebelahnya. "Adrian mungkin jenius tapi dia juga manusia. Dan semua yang dibuat manusia pasti punya celah."
"Celah yang mana? Aku sudah coba seratus cara, semua gagal!"
"Karena kau coba hack dari luar," jawab Hendrawan. "Kau harus masuk dari dalam. Masuk ke server fisiknya. Dan begitu kau masuk, kau punya maksimal lima menit sebelum sistem deteksi kau."
"Lima menit untuk hack sistem terkompleks di dunia?" Pixel tertawa, tawa yang terdengar histeris. "Kau bercanda kan?"
"Aku tidak pernah bercanda soal ini."
Pixel menatapnya lama. Lalu ia kembali ke layar, ketik lebih cepat, lebih ganas. Jarinya hampir blur di atas keyboard.
"Maka aku harus bikin virus tercepat yang pernah ada," gumamnya. "Virus yang bisa replicate sendiri. Virus yang bisa bypass semua defense dalam hitungan detik. Virus yang..."
Ia berhenti. Matanya melebar.
"Virus yang belajar," bisiknya. "Virus AI."
"Apa maksudmu?" tanya Hendrawan.
"The Protocol adalah AI. Jadi untuk lawan AI, aku butuh AI juga. AI yang bisa belajar pola defense The Protocol secara real-time. Yang bisa adapt lebih cepat dari sistem bisa respond." Pixel mulai mengetik dengan gila-gilaan sekarang. "Kalau aku bisa bikin itu, kalau aku bisa program dengan benar, aku bisa hack The Protocol dalam tiga menit. Mungkin dua kalau beruntung."
Hendrawan menatap layar yang penuh kode aneh. "Kau bisa bikin itu?"
"Aku tidak tahu," jawab Pixel jujur. "Tapi aku akan coba. Karena itu satu-satunya cara."
Dan dia coba. Setiap malam. Setiap hari, Mengabaikan makan, mengabaikan tidur. Kadang Arjuna temukan dia pingsan di depan laptop, harus digendong ke kasur. Tapi beberapa jam kemudian dia bangun lagi dan lanjutkan coding.
Minggu ketiga, Arjuna mulai bisa ngimbangin Hendrawan dalam sparring. Tidak menang, tapi setidaknya tidak langsung jatuh dalam sepuluh detik. Hendrawan bahkan tersenyum tipis setelah sesi latihan.
"Kau cepat belajar," katanya sambil kasih Arjuna handuk. "Lebih cepat dari yang ayah pikir."
"Aku punya motivasi kuat," jawab Arjuna sambil lap keringat. Setiap hari dia pikir tentang Sari, Tentang dia sendirian di rumah Adrian. Tentang apa yang mungkin terjadi padanya. Dan setiap pikiran itu bikin dia latihan lebih keras.
"Sari akan baik-baik saja," kata Hendrawan seolah bisa baca pikiran. "Adrian tidak akan sakiti dia. Dia terlalu berharga."
"Berharga untuk apa? Untuk dijual seperti ibunya?" Arjuna melempar handuk ke tanah. "Setiap hari aku di sini adalah sehari lebih lama dia menderita di sana. Dan aku... aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa tahan ini."
"Kau harus tahan," kata Hendrawan tegas. "Kalau kau serang sekarang dengan skill seadanya, kau akan mati. Dan Sari akan kehilangan satu-satunya orang yang mau selamatkan dia. Apa kau mau itu?"
Arjuna diam. Tidak bisa jawab.
"Tiga bulan," lanjut Hendrawan. "Ayah kasih kau tiga bulan untuk jadi cukup kuat. Setelah itu kita serang. Itu janji ayah."
Tiga bulan. Masih dua bulan lagi. Enam puluh hari. Seribu empat ratus empat puluh menit. Setiap menit terasa seperti siksaan.
Minggu kelima, Pixel berteriak dari dalam rumah. Arjuna dan Hendrawan lari masuk, pikir ada bahaya. Tapi Pixel cuma duduk di depan laptop, ketawa sambil nangis.
"Aku berhasil," katanya. "Aku berhasil bikin prototypenya. Lihat!"
Di layar ada program sederhana dengan interface yang penuh angka dan grafik. Pixel klik tombol, program mulai berjalan. Di layar sebelah yang menampilkan simulasi sistem keamanan, virus mulai menyebar. Cepat. Sangat cepat. Dalam dua menit firewall pertama jebol. Menit ketiga, enkripsi terbuka. Menit keempat, full access.
"Empat menit," kata Pixel, suaranya bergetar. "Aku bisa hack sistem latihan dalam empat menit. Kalau ini The Protocol yang asli, kita punya kesempatan."
Hendrawan memeluk Pixel, sesuatu yang mengejutkan semua orang karena pria itu jarang tunjukkan emosi. "Kau jenius, anak muda. Kau benar-benar jenius."
"Aku tahu," jawab Pixel sambil lap air matanya. "Tapi tetap aja aku takut. Takut ini tidak cukup. Takut aku salah ngitung. Takut..."
"Rasa takut itu wajar," potong Hendrawan. "Yang penting kau tidak biarkan rasa takut itu lumpuhkan kau. Gunakan dia sebagai motivasi untuk jadi lebih baik."
Minggu kedelapan, Arjuna akhirnya menang melawan Hendrawan dalam sparring. Cuma sekali, dan mungkin Hendrawan sengaja lengah, tapi tetap saja itu kemenangan. Arjuna berhasil jatuhkan ayahnya, kunci tangannya di belakang, pisau latihan di lehernya.
"Menyerah?" tanya Arjuna.
Hendrawan tersenyum lebar. "Menyerah. Kau menang, anak ku."
Arjuna lepaskan kunciannya, bantu ayahnya berdiri. Dan untuk pertama kalinya sejak reuni mereka, mereka berpelukan. Bukan pelukan penuh air mata seperti dulu. Tapi pelukan dua pejuang yang saling menghormati.
"Ayah bangga padamu," bisik Hendrawan. "Sangat bangga."
"Terima kasih, Yah," bisik balik Arjuna. Dan kata "Yah" itu terasa asing di lidahnya setelah sekian lama, tapi juga terasa benar. Terasa seperti pulang.
Minggu kesembilan, hujan turun deras. Mereka tidak bisa latihan di luar jadi Hendrawan ajari mereka strategi. Cara membaca situasi. Cara bikin rencana cadangan. Cara improvisasi kalau semua rencana gagal.
"Dalam misi nanti, seribu hal bisa salah," katanya sambil bentangkan peta mansion Adrian di lantai. "Penjaga bisa lebih banyak dari perkiraan. Alarm bisa bunyi lebih cepat. Pintu bisa terkunci. Apapun yang bisa salah, akan salah. Itu hukum Murphy."
"Lalu gimana kita bisa sukses?" tanya Arjuna.
"Dengan bersiap untuk yang terburuk dan berharap yang terbaik," jawab Hendrawan. "Dengan punya rencana A, B, C sampai Z kalau perlu. Dan dengan percaya satu sama lain. Percaya total. Karena begitu kalian masuk ke mansion itu, kalian cuma punya satu sama lain."
Minggu kesepuluh, berita datang.
Seorang penduduk desa yang kadang turun ke kota untuk beli perbekalan kembali dengan koran. Di halaman depan, ada foto besar Adrian Mahendra dengan senyum lebar, berdiri di depan gedung mewah.
Judulnya: "Pengusaha Dermawan Adrian Mahendra Akan Gelar Gala Amal Terbesar Tahun Ini"
Hendrawan baca artikel itu dengan cepat. "Adrian akan gelar gala amal dua minggu lagi, Di ballroom hotel termewah di kota. Akan dihadiri menteri, pejabat tinggi, pengusaha besar. Semua orang penting akan ada di sana."
"Termasuk Adrian," kata Pixel.
"Termasuk Adrian," ulang Hendrawan. Ia tatap mereka berdua. "Ini kesempatan kita. Saat Adrian keluar dari mansion untuk gala, keamanan di mansion akan lebih longgar. Ini waktu terbaik untuk infiltrasi."
"Tapi kalau dia bawa Sari ke gala?" tanya Arjuna.
"Lebih baik," jawab Hendrawan. "Lebih mudah ambil dia dari keramaian dari pada dari mansion. Tapi kita harus pastiin dulu. Kita harus punya mata di dalam."
"Bagaimana?" Pixel menatapnya bingung.
Hendrawan tersenyum, senyum yang terlihat berbahaya. "Ayah punya teman lama. Teman yang bekerja sebagai koordinator event. Dia berhutang nyawa pada ayah. Sudah waktunya ayah tagih hutang itu."
Dua hari kemudian, Hendrawan pulang dari perjalanan rahasianya ke kota. Dia bawa informasi. Adrian memang akan bawa Sari ke gala. "Untuk tunjukkan pada dunia kalau dia ayah yang baik," kata Hendrawan dengan nada jijik. "Untuk perkuat image dermawannya."
"Jadi kita serang di gala?" tanya Arjuna.
"Tidak," Hendrawan menggeleng. "Terlalu banyak orang. Terlalu banyak penjaga. Kita tunggu sampai mereka pulang. Serang di perjalanan. Di jalan yang sudah kita pilih, Yang sudah kita siapkan jebakan. Saat mereka lengah."
"Penyergapan," kata Pixel.
"Ambush," koreksi Hendrawan. "Dan kalau berhasil, kita tidak cuma dapat Sari. Kita juga bisa bunuh Adrian di sana."
Minggu terakhir sebelum misi terasa paling cepat dan paling lambat di saat bersamaan. Arjuna tidak bisa tidur nyenyak, Setiap malam dia mimpi tentang Sari. Kadang mimpi indah dimana mereka bertemu lagi dan semuanya baik-baik saja. Kadang mimpi buruk dimana dia datang terlambat dan Sari sudah...
Dia tidak mau pikir tentang itu.
Malam sebelum mereka turun dari gunung, Hendrawan masak makanan spesial. Ayam bakar dengan bumbu sederhana tapi enak. Nasi hangat. Sayur sop. Makanan rumah yang bikin Arjuna ingat masa kecilnya.
Mereka makan dalam diam. Tidak ada yang bilang apa-apa tapi semua tahu ini mungkin makanan terakhir mereka bersama. Besok mereka turun. Besok mereka mulai persiapan final. Dan seminggu lagi...
Seminggu lagi mereka akan berhadapan dengan Adrian Mahendra.
Dan kemungkinan besar, beberapa dari mereka tidak akan pulang.
"Ayah mau bilang sesuatu," kata Hendrawan akhirnya, taruh sendoknya. "Kalau besok... kalau dalam misi nanti ayah tidak selamat, ayah mau kalian tahu..."
"Jangan," potong Arjuna cepat. "Jangan bilang seperti kau mau mati. Kita semua akan selamat. Kita semua akan pulang."
"Arjuna benar," tambah Pixel. "Kita tidak boleh pikir negatif. Pikiran negatif bikin kita gagal sebelum mulai."
Hendrawan tersenyum sedih. "Kalian masih muda. Masih optimis. Bagus. Pertahankan itu." Ia berdiri, jalan ke kamarnya, kembali dengan amplop coklat. "Tapi tetep saja, ayah mau kalian punya ini. Surat. Untuk kalian berdua. Dan satu untuk Sari. Baca kalau ayah sudah tidak ada."
"Ayah..." suara Arjuna bergetar.
"Ini bukan pamitan," kata Hendrawan cepat. "Ini cuma persiapan. Seperti rencana cadangan yang ayah ajari. Selalu siapkan untuk kemungkinan terburuk."
Arjuna terima amplop itu dengan tangan gemetar, Pixel juga. Mereka taruh di tas masing-masing.
"Sekarang tidur," kata Hendrawan. "Besok akan jadi hari panjang, Dan kalian butuh semua energi yang bisa kalian kumpulkan."
Mereka tidur. Atau coba tidur. Arjuna terbaring di kasur tipis, menatap langit-langit kayu, mendengar suara jangkrik dan angin di luar. Di sebelahnya di kasur lain, Pixel juga belum tidur.
"Pixel," bisik Arjuna.
"Ya?"
"Kalau aku mati besok..."
"Kau tidak akan mati."
"Tapi kalau aku mati," ulang Arjuna, "tolong jaga Sari. Tolong bilang ke dia kalau aku... kalau aku mencintainya. Meski aku tidak pernah sempat bilang langsung."
Hening. Lalu Pixel jawab dengan suara yang juga bergetar.
"Bilang sendiri nanti. Saat kita semua selamat. Saat ini semua berakhir. Bilang sendiri dan lihat mukanya yang merah. Itu akan lebih memuaskan daripada aku yang bilang."
Arjuna tersenyum di kegelapan. "Janji?"
"Janji."
Dan akhirnya, entah bagaimana, mereka berdua tertidur.
Mimpi tentang besok. Tentang pertempuran. Tentang darah dan api dan teriakan.
Tapi juga mimpi tentang setelahnya.
Tentang damai. Tentang ketenangan. Tentang kehidupan normal yang mungkin tidak akan pernah mereka punya.
Tapi setidaknya mereka bisa bermimpi.
Setidaknya untuk malam terakhir sebelum neraka yang sebenarnya dimulai.