"Mencintai Pak Alkan itu ibarat looping tanpa break condition. Melelahkan, tapi nggak bisa berhenti"
Sasya tahu, secara statistik, peluang mahasiswi "random" sepertinya untuk bersanding dengan Alkan Malik Al-Azhar—dosen jenius dengan standar moral setinggi menara BTS—adalah mendekati nol. Aris adalah definisi green flag berjalan yang terbungkus kemeja rapi dan bahasa yang sangat formal. Bagi Aris, cinta itu harus logis; dan jatuh cinta pada mahasiswa sendiri sama sekali tidak logis.
Tapi, bagaimana jika "jalur langit" mulai mengintervensi logika?
Akankah hubungan ini berakhir di pelaminan, atau justru terhenti di meja sidang sebagai skandal kampus paling memilukan? Saat doa dua pertiga malam beradu dengan aturan dunia nyata, siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatin fatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 4
Dunia Sasya mendadak terasa seperti server yang terkena serangan DDoS. Pagi itu, saat ia tengah asyik mengantre mendoan di kantin belakang, sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya. Pesan dari nomor yang jarang sekali mengirim chat kecuali untuk urusan darurat atau menanyakan sisa saldo tabungan.
Ayah: "Sya, Ayah sudah di masjid kampus kamu. Tadi habis ada keperluan di kota, sekalian mampir mau lihat kampus anak Ayah yang katanya dosennya pinter-pinter itu."
Sasya tersedak mendoan panas. "Uhuk! Put, mampus gue!"
"Kenapa lagi? Pak Alkan lewat?" Putri menyodorkan air mineral dengan panik.
"Bukan! Bokap gue! Beliau di masjid kampus sekarang. Lo tahu kan Bapak gue orangnya gimana? Beliau itu mantan tentara yang kalau nanya orang kayak lagi interogasi tersangka teroris. Kalau beliau ketemu Pak Alkan, bisa hancur citra gue!"
Sasya langsung lari tunggang langgang menuju Masjid Al-Fattah. Pikirannya melayang kemana-mana. Ayahnya, Pak Baskoro, adalah tipe pria yang sangat "straight to the point". Sasya takut ayahnya tiba-tiba masuk ke ruang dosen dan bertanya, "Kenapa anak saya belum lulus-lulus? Apa Anda mempersulitnya?" atau yang lebih parah, "Anda sudah punya istri?"
Di teras Masjid Al-Fattah yang teduh, Alkan baru saja selesai menunaikan salat Duha. Ia sedang memakai sepatunya ketika seorang pria paruh baya dengan kemeja batik rapi dan wajah tegas namun ramah menyapanya.
"Mas, boleh tanya? Ruang dosen Teknik Informatika sebelah mana ya?" tanya pria itu.
Alkan berdiri, memberikan senyum sopan khasnya. "Oh, kebetulan saya dosen di sana, Pak. Saya Alkan. Bapak ada keperluan dengan siapa?"
Pria itu, yang tak lain adalah Pak Baskoro, menyipitkan mata, mengamati Alkan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Seolah-olah sedang melakukan quality control. "Oh, dosen toh? Muda sekali. Saya Baskoro, ayahnya Sasya. Saya cuma mau lihat-lihat saja, katanya anak saya lagi bimbingan sama dosen yang... siapa ya namanya, Al-Al gitu."
Jantung Alkan berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Jadi ini Ayahnya Sasya? "Saya, Pak. Saya Alkan, dosen pembimbing Sasya," jawab Alkan dengan nada yang tetap tenang namun penuh hormat.
Pak Baskoro tertawa kecil, menepuk bahu Alkan dengan cukup keras. "Wah, kebetulan sekali! Mari duduk sebentar, Mas Alkan. Mumpung di masjid, suasananya enak buat ngobrol laki-laki."
Alkan tidak punya alasan untuk menolak. Mereka duduk di bangku taman dekat air mancur masjid.
"Sasya itu anak satu-satunya saya yang perempuan, Mas Alkan," buka Pak Baskoro. "Dia agak ceroboh, tapi hatinya tulus. Kalau di kampus dia nakal atau skripsinya berantakan, tolong dimarahi saja. Tapi jangan dipatahkan semangatnya."
"Sasya mahasiswa yang sangat rajin, Pak. Logika berpikirnya bagus," puji Alkan tulus. "Hanya saja, terkadang dia terlalu banyak berpikir (overthinking), yang membuat langkahnya sedikit terhambat."
Pak Baskoro menatap Alkan dengan tatapan tajam yang menyelidik. "Mas Alkan sendiri... sudah berkeluarga?"
Ini dia. Pertanyaan runtime error yang selalu dihindari Alkan di lingkungan kampus. Alkan menarik napas panjang. "Belum, Pak. Saya masih fokus pada riset dan pengabdian. Tapi, saya sedang dalam proses memantapkan diri untuk menuju ke sana. Saya percaya, pernikahan itu bukan soal cepat, tapi soal kesiapan tanggung jawab di mata Allah."
Pak Baskoro mengangguk-angguk puas. "Jawaban yang bagus. Jarang anak muda sekarang mikirnya 'tanggung jawab di mata Allah', biasanya cuma mikir 'cinta-cintaan' di mata manusia."
"AYAAAH!"
Sasya muncul dengan napas tersengal-sengal, jilbabnya sedikit miring, dan wajahnya merah padam karena lari maraton dari kantin. Ia membeku saat melihat Ayahnya sedang tertawa akrab sambil menepuk-nepuk lengan Pak Alkan.
"Eh, Sasya. Panjang umur kamu. Baru saja Ayah puji di depan Mas Alkan," ujar Pak Baskoro enteng.
Sasya menatap Alkan dengan tatapan 'Tolong-bilang-sama-gue-Bapak-gue-nggak-ngomong-aneh-aneh'. Alkan hanya memberikan tatapan datar, namun ada sedikit binar geli yang tertahan di sana.
"Ayah kok nggak bilang-bilang kalau mau ke sini?" Sasya menarik tangan ayahnya. "Ayo, Sya anterin ke kantin aja, jangan ganggu Pak Alkan, beliau sibuk mau... mau benerin server!"
"Servernya sudah aman, Sasya," sela Alkan dengan suara beratnya. "Pak Baskoro, kalau Bapak ada waktu, kapan-kapan saya ingin mengobrol lebih banyak. Saya rasa diskusi kita tentang 'tanggung jawab' tadi sangat menarik."
Pak Baskoro berdiri, menjabat tangan Alkan dengan erat. "Tentu, Mas Alkan. Pintu rumah saya selalu terbuka buat orang yang punya prinsip jelas seperti kamu. Sya, ini nomor HP Mas Alkan kamu simpan, nanti kalau Ayah mau mampir lagi, Ayah biar gampang kabari beliau."
Sasya ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga. "Yah, dia dosen Sasya, bukan teman mabar Sasya!"
Alkan hanya tersenyum tipis—kali ini senyum yang benar-benar terlihat. "Tidak apa-apa, Sasya. Masukkan saja nomor saya ke daftar kontak kamu. Untuk urusan 'koordinasi' dengan Pak Baskoro."
Sore itu, setelah ayahnya pulang, Sasya terduduk lesu di lab. Ia menatap layar ponselnya. Ada sebuah kontak baru tersimpan di sana.
Kontak: Pak Alkan (Dosen & Idaman Jalur Langit)
Tiba-tiba, sebuah notifikasi WhatsApp masuk dari nomor tersebut.
Pak Alkan: "Sasya, Ayah kamu orang yang luar biasa. Beliau sangat menyayangi kamu. Pastikan skripsi kamu selesai tepat waktu, jangan sampai mengecewakan beliau."
Sasya mengetik dengan jari gemetar. Sasya: "Maaf ya Pak kalau Ayah saya tadi ganggu waktunya. Beliau memang agak random."
Pak Alkan: "Tidak mengganggu. Malah, kehadiran beliau memberikan saya 'data' baru yang sangat valid untuk rencana masa depan saya. Semangat revisinya."
Sasya melempar ponselnya ke atas meja dan berteriak tanpa suara. "DATA BARU APAAN?! RENCANA MASA DEPAN APAAN?! PAK ALKAN, JANGAN BIKIN JANTUNG GUE REBOOT DADAKAN!"
Di ruangannya, Alkan membuka sebuah catatan di komputernya. Ia tidak sedang mengerjakan jurnal ilmiah. Ia sedang mengetik sesuatu di sebuah file terproteksi: “Langkah 1: Mendapatkan restu wali. [Completed]”