Pernikahan Amel yang sudah di depan mata itu mendadak batal karena calon suaminya terjebak cinta satu malam dengan perempuan lain. Demi untuk menutupi rasa malunya akhirnya Amel bersedia dinikahi oleh pria yang baru dikenalnya di acara pernikahannya tersebut. Revan yang bekerja sebagai hacker itu akhirnya menjadi suami Amel. Serba-serbi unik dua manusia asing yang terikat dalam hubungan pernikahan itu membuat warna tersendiri pada kehidupan keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rens16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 : Bulan madu tipis-tipis
Pagi itu Amel dan Revan bangun secara bersamaan. Amel tersenyum manis saat membalas tatapan suami tampannya yang memang benar-benar tampan itu.
"Kenapa? Aku ganteng?" tanya Revan dengan suara serak khas orang tidur.
Amel mengangguk pelan, memang Revan setampan itu kan, Amel pun tak perlu mengelak dengan kenyataan itu.
"Mandi bareng yuk, Ney!" ajak Revan membuat mata Amel membulat sempurna.
Tanpa meminta persetujuan Amel, Revan langsung menarik Amel dan membawanya ke kamar mandi.
Di pintu kamar mandi itu Revan melucuti pakaiannya dan pakaian Amel lalu membimbingnya masuk ke dalamnya.
Amel salah tingkah melihat kelakuan suaminya yang...terlalu apa adanya dan tak ada rasa malu sama sekali.
"Udah pernah lihat, nggak usah malu!" Revan membingkai wajah cantik itu dan mencium keningnya dalam dan lembut.
"Ternyata di balik cool-nya kamu itu terselip jiwa genit dan doyan begituan!" ucap Amel lembut, tak ada nada tinggi di dalam ucapannya.
"Nggak papalah genit dan doyan sama istri sendiri!" sahut Revan teduh.
"Awas aja kalau doyan ama orang lain, aku pites ntar!" ancam Amel dengan mata mendelik.
"Nggak akan dan nggak pernah, cukup kamu yang aku mau!" Revan mulai mengikis jarak sambil menyalakan shower.
Mereka saling membelit dan menyatu di bawah guyuran shower itu keduanya menikmati madu pernikahan.
Revan terus bergerak mengisi kekosongan itu, sementara Amel yang membelakangi Revan sambil kedua tangannya bertumpu pada tembok di depannya tak berhenti mendesah sambil memejamkan mata menikmati sentuhan itu.
Selama hampir satu setengah jam keduanya berada di dalam kamar tersebut lalu keduanya keluar sambil membalut tubuh mereka dengan handuk.
"Nggak usah cemberut!" Revan mengecup bibir itu lalu terkekeh pelan.
"Ngeselin banget, maunya nambah terus!" Amel mengomel sambil mengaduk koper mencari baju ganti untuknya dan untuk Revan.
"Aelah cuman nambah sekali doang kale, nggak yang berkali-kali!" ucap Revan santai.
"Asli ngeselin!" ketus Amel lalu masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya.
Amel memilih memakai bajunya di dalam kamar mandi itu semata agar Revan tak menyerangnya lagi.
Amel memakai kaos putih lengan pendek dan celana jeans gombrong untuk outfitnya kali ini, rencananya Amel akan melengkapi penampilannya pagi itu dengan topi dan sepatu sneaker.
Amel menatap Revan dengan tatapan kagum. Suaminya itu selalu menarik dengan apapun busana yang dikenakannya.
Meskipun hanya menggunakan celana pendek sepanjang lutut dan kaos berwarna biru navy, tapi penampilan Revan selalu terlihat keren di mata Amel.
"Jam tanganku dimana ya, Ney?" Revan menyisir meja nakas di sisi ranjang tempat tidur mereka untuk mencari jam tangannya.
"Nih, kemarin aku pindahin di meja sini!" Amel menyerahkan jam tangan tersebut kepada suaminya.
Mereka sudah rapi dan keren lalu mereka memutuskan untuk keluar dari hotel sekalian mereka memutuskan untuk check out dari hotel tersebut.
"Nggak papa kan kita check out sekarang?" tanya Amel.
"Nggak papa, kan rencananya kita bakalan langsung pulang setelah makan siang! Banyak kerjaan juga kan kamu?" tanya Revan sambil menggandeng tangan Amel lembut.
"Aku cuman mikirin kamu takut kamu kecapaian kalau langsung pulang ke Jakarta."
"Aman, Ney! Ini mah nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan pekerjaan aku waktu itu!" ucap Revan membuat Amel mengeryitkan keningnya bingung.
Amel memilih memendam rasa penasarannya, dia tak mau acara bulan madunya tipis-tipis bersama suaminya itu menjadi berantakan karena rasa sedih yang tiba-tiba hadir karena Revan harus menceritakan tentang masa lalunya yang pahit.
"Aku pengen makan dimsum yang viral itu, Be!" ucap Amel saat keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Cek dulu udah buka belum!" perintah Revan sambil menyalakan mesin si city.
Amel membuka ponselnya dan memeriksa jam buka restoran yang dimaksud.
"Bukanya jam sebelas!" ucap Amel.
"Sarapan bubur aja dulu, aku tahu yang jual bubur chinese enak di sini!" Revan pun melajukan mobil itu ke penjual bubur di sekitaran hotel tempat mereka menginap.
Mereka mengisi perut di kedai itu sambil menunggu jam buka restoran dimsum yang dimaui oleh Amel.
"Dari kedai dimsum itu, mau belanja pakaian nggak? Di sana model bajunya keren-keren!" ajak Revan.
"Bajuku banyak banget, Be! Tapi kalau kamu mau beli ya ayo aja!" Amel setuju karena kemungkinan Revan juga ingin membeli beberapa potong pakaian juga kan.
"Bajuku juga banyak banget! Aku nggak begitu suka numpuk barang soalnya!"
Amel mengangguk lalu dalam hatinya dia berjanji akan membelikan beberapa potong baju dan celana untuk Revan setelah mereka kembali ke Jakarta nanti.
Dari kedai bubur itu mereka melanjutkan perjalanan ke kedai dimsum, sengaja tadi memilih menu sarapan dalam porsi kecil karena mereka akan melanjutkan perjalanan ke tempat makan berikutnya.
Hari masih terbilang pagi tapi pengunjung di tempat itu sudah lumayan ramai.
"Aku minta nasi goreng, Ney!" ucap Revan sebelum Amel menyebutkan pesanan mereka.
Amel mengangguk sebelum menyebutkan pesanan makanan mereka. Amel menyebutkan pesanannya dan pramusaji itu mencatatnya di selembar kertas kecil.
Mereka menunggu sebentar sampai pesanan mereka dateng. Revan sempat shock melihat pesanan Amel yang lumayan banyak itu.
"Habis nggak ini?" tanya Revan.
"Kan ada kamu yang bantu ngabisin!" jawab Amel santai membuat Revan menghela nafas panjang.
Keduanya menikmati makanan mereka sambil bercanda dan berbincang receh yang bisa membuat Amel tertawa pelan.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata menatap keduanya dengan penasaran. Orang yang tak lain adalah sepupu Doni itu juga mengambil gambar keduanya dengan diam-diam.
Lalu setelah itu foto kebersamaan Amel dan Revan pun dikirimkan oleh orang itu ke nomor Doni.
Dia berharap Doni menyesal karena telah membuang Amel yang semakin stunning dengan suaminya.
"Bodo banget sih ngebuang Amel dapet Nita yang nggak jelas gitu. Tapi ya sudahlah namanya juga cintanya sama yang onoh!" ucapnya lalu kembali memperhatikan Amel dan Revan yang sedang mendebatkan sesuatu.
"Pakai ini!" Revan menyodorkan kartu debitnya untuk membayar makanan mereka.
"Kamu kan udah bayar hotel, bensin, tol, sekarang giliran akulah!" Amel berusaha menolak.
"Gue nggak terbiasa dinafkahi cewek!" ketus Revan.
Amel mengkeret setiap Revan mengatakan kata yang sama bahwa dia tak terbiasa dinafkahi perempuan.
Akhirnya Amel menerima kartu itu untuk membayar makanan mereka di kasir.
Baru setelah melihat itu sepupu Doni paham kenapa Amel sekarang semakin stunning, karena laki-laki yang tampangnya berandalan itu ternyata memperlakukan Amel dengan sangat baik.
Sambil menunggu kasir memproses pembayarannya, Amel menoleh ke arah sang sepupu mantannya itu, tapi sepupu Doni itu buru-buru memalingkan wajahnya agar tidak dikenali oleh Amel.
Amel menerima kartu ATM itu lalu kembali kepada Revan dan keduanya meninggalkan tempat itu.