Dibenci atasan dan rekannya, itulah Rangga. Dia memang seorang polisi yang jujur dan baik, Rangga semakin disukai masyarakat karena paras tampannya.
Inilah kisah Rangga yang siap dan bekerja keras menyelesaikan berbagai kasus kejahatan. Suatu hari sebuah kasus menuntunnya pada titik terang menghilangnya kakak iparnya. Kasus itu juga membawanya kembali bertemu dengan kakak kandungnya. Maka saat itulah Rangga menyusun rencana balas dendam. Ia tak akan peduli dengan siapapun, bahkan atasannya yang bobrok dirinya hancurkan kalau perlu. Bagaimana ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22 - Ketemu Lagi
"Benarkah begitu? Tapi aku mendengar kalau kau dan Fira sering membully adiknya Dian di sekolah. Kalian katanya bahkan menyebarkan video telanjangnya," tukas Rangga.
"Bohong! Aku nggak pernah melakukan itu. Mirna itu emang cewek gatal. Dia bahkan tidur bareng guru olahraganya, Mas!" cerocos Nadia. "Oh iya, dia juga tidur sama beberapa cowok di sekolah. Termasuk mantanku!" tambahnya.
Rangga mengerutkan dahi. Bukannya mendapat jawaban, dia malah mendapat informasi baru. Namun Rangga tak tahu apakah informasi yang dikatakan Nadia benar atau tidak.
"Ya sudah kalau begitu. Aku pamit sekarang," imbuh Rangga.
"Eh, tapi, Mas... Aku boleh minta nomor hpnya nggak?" tanya Nadia.
Rangga tersenyum singkat. "Enggak," jawabnya cepat. Kemudian segera beranjak dari kamar Nadia.
Kini Rangga beranjak dari rumah sakit. Ia matikan perekam suaranya. Dia berjalan menuju dimana motornya berada. Sambil berjalan, Rangga memeriksa ponselnya. Bersamaan dengan itu, seseorang tiba-tiba menabrak dan membuat ponsel Rangga jatuh.
"Hei!" protes Rangga. Namun dia langsung membulatkan mata saat melihat orang yang menabraknya adalah Dita. Perempuan itu tampak tersengal-sengal, berkeringat, dan memasang raut wajah tegang.
"Kak Dita?" ujar Rangga.
"Rangga!" Mata Dita melotot. Tapi tak berlangsung lama, karena dia segera menoleh ke belakang.
Terlihat ada dua lelaki berbadan kekar yang berlari tak jauh. Buru-buru Dita pergi tanpa mengatakan apapun.
Rangga yang melihat tentu kebingungan. Dia ingin mengejar Dita. Namun dirinya lebih penasaran dengan alasan Dita dikejar. Dua pria yang mengejar Dita itu sama sekali tak membuat Rangga takut.
"Itu dia!" seru salah satu lelaki berbadan kekar.
"Berhenti! Kalian mau apa?" Rangga sigap menghentikan dua lelaki itu.
"Kau tidak usah ikut campur, Mas. Ini urusan pribadi. Bukan kasus yang harus di urus olehmu!" sahut pria kekar berkepala pelontos.
"Ini urusanku. Terutama kalau kalian mengejar wanita itu. Kalian mengejarnya?" tanya Rangga penasaran.
"Ya! Dia berhutang banyak uang pada kami. Sekarang kami akan menagihnya!" sahut pria kekar berkumis tebal.
"Hutang?" Dahi Rangga berkerut dalam. Dia bisa menyimpulkan dua lelaki kekar di depannya sekarang mungkin adalah rentenir.
"Iya!" tanggap pria kekar berkepala pelontos.
"Boleh aku tahu berapa hutangnya?" tanya Rangga.
Kedua pria kekar itu bertukar pandang. Pria berkumis tebal segera menjawab, "Sekitar 80 juta. Tapi itu belum termasuk bunganya."
"Apa?! 80 juta?!" Rangga terperangah.
Dari kejauhan, Dita melihat Rangga bicara dengan dua rentenir itu. Buru-buru dia berlari menghampiri mereka. Dita tak akan biarkan rahasianya diketahui oleh Rangga.
"Rangga! Kau sebaiknya pergi. Biar aku mengurus urusanku," kata Dita seraya mendorong pelan Rangga.
"Eh! Tumben sekali kau nggak lari. Cepat bayar hutangmu! Bulan ini hutangmu udah nunggak!" timpal pria berkepala pelontos.
"Aku akan membayarnya lewat transfer." Dita mengambil ponsel dan segera mentransfer sejumlah uang pada rentenir itu.
"Sudah aku kirim. Itu sekalian sama bulan depan," kata Dita.
"Nah begini dong, Sayang. Aku suka kalau begini." Kedua pria kekar itu tersenyum puas. Mereka langsung beranjak pergi.
Sementara sejak tadi Rangga terdiam sambil menatap Dita. Dia masih bingung kenapa perempuan tersebut punya hutang sebanyak itu.
"Kehidupanku tidak sebahagia yang kau lihat. Aku dan Mas Kemal terpaksa berhutang untuk membeli rumah." Seolah tahu rasa penasaran Rangga, Dita langsung menjelaskan.
"Jadi Kakak benar-benar sudah menikah?" tanya Rangga.
"Begitulah. Safea adalah kebahagiaanku," jawab Dita. Memaksakan dirinya tersenyum. Sungguh, dia sebenarnya sangat ingin memeluk Rangga. Dia bahkan ingin sekali menciumnya. Akan tetapi sengaja ditahan karena tak mau Rangga berharap pada dirinya. Setelah melihat Rangga sukses jadi polisi, entah kenapa Dita merasa levelnya berada jauh di bawah Rangga. Ia merasa tidak pantas bersama lelaki itu. Menurutnya Rangga lebih baik bersama gadis yang sama sukses sepertinya.
udahlah gk mau aku jodoh"in lg,kumaha km we lah rangga rek dua" na ge teu nanaon,kesel
Untuk Dita & Astrid harus nyadar diri bahwa cinta tak harus memiliki & harus merelakan bahwa mereka berdua adalah masa lalu bukan masa depan Rangga & mereka berdua harus nyadar diri mereka gak bersih kelakuanya = Rangga 😄