Enam belas tahun lalu, ia menyimpan rasa pada seorang perempuan yang tak pernah ia temui secara nyata.
Waktu berlalu, hidup menuntutnya dewasa,
namun perasaan itu tak pernah benar-benar pergi.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali,
perempuan itu telah menjadi ibu dari tiga anak,
dan ia dihadapkan pada cinta yang tak lagi sederhana.
Di antara keyakinan, tanggung jawab, dan logika,
ia harus menjawab satu pertanyaan paling berat dalam hidupnya:
apakah cinta cukup untuk memulai segalanya dari awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilacPink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melepas Masa Lalu
Sudah tiga hari sejak kejadian di mall itu.
DM Hana sama sekali tak ada, tapi statusnya muncul setiap hari di beranda, tanpa aku harus mengintip. Aku hanya memberi like, tanpa komentar.
Tapi hari ini rasanya… aku harus memastikan. Aku menarik napas panjang, mengetik pesan dengan hati-hati.
“Han..”
Beberapa menit kemudian balasan muncul:
“Iya ka. Kenapa ka, tumben manggil?”
Aku menahan jantung, mengetik:
“Aku mau ngomong sesuatu dong, Han.”
“Ah iya… mau ngomong apa? Ini serius ya, tumben banget 😄”
“Han… maaf lancang ya… dulu itu kamu tiba-tiba menikah tanpa cerita apapun ke aku. Boleh aku tahu alasannya?”
Hening beberapa saat, hanya muncul:
“Ohhh…”
Lumayan lama… aku jadi merasa was-was.
“Maaf lama, aku lagi ingat-ingat ka.”
Akhirnya Hana mulai bercerita:
“Dulu itu aku kan memang punya pacar ya? Aku lupa kamu tau ga kalau aku punya pacar?”
“Aku tau sih, pas pacaran itu. Tapi kamu ga pernah cerita ada rencana pernikahan. Memang pernikahannya mendadak? Sampai ga sempat cerita?”
“Benar, Ka Memang mendadak… jadi waktu itu, abis lamaran sebulan kemudian aku menikah.”
Aku tercengang mendengar penjelasannya, lalu Hana menambahkan
“Dulu itu SMS kamu aku balas singkat-singkat aja, ga sempat aku cerita karena banyak yang harus diurus. Sejak saat itu aku lupa… benar-benar lupa ngabarin apa-apa sama kamu. Ga kepikiran juga sih… kan kita cuma kenal lewat SMS, ya udah aku pikir nanti aja.”
Aku terkejut lagi saat mendengar:
“Oh ya, aku kaget pas yang angkat telepon suamimu.”
“Iya ka, maaf ya. Waktu itu suamiku yang angkat telepon, malah dia mematahkan kartu HP-ku di depanku saat selesai matikan telepon dengan mu. Jadi aku benar-benar nggak bisa ngabarin kamu sama sekali. Karena hape dulu nomermu tersimpan di kartu itu"
Ganjalan itu sepertinya sudah terjawab. Aku tak lagi penasaran. Sesederhana itu penjelasannya.
Mungkin memang sudah saatnya aku melepaskan perasaan ini, menyingkirkan kenangan lama yang terus menghantui.
Tapi… Hana tetap begitu misterius bagiku.
Meski semua pertanyaan sudah terjawab, ada sesuatu tentangnya yang tak bisa kugapai. Senyumannya, cara bicaranya, semua itu tetap menempel di kepala.
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan hati.
“Sudahlah, Raka… ini waktunya melangkah. Tapi… misteri itu… tetap ada.”
Di luar sana, dunia terus berjalan, orang-orang tertawa, bekerja, menikmati hidup.
Sementara aku? Aku masih menatap layar ponsel, mengingatnya sekali lagi, sebelum akhirnya menutupnya dan mencoba menatap langkahku sendiri.
Aku tersenyum getir sendiri
"ka.. Raka.. kenapa tiba tiba bahas itu?"
Aku menarik napas panjang, menatap layar ponsel sejenak, lalu membalas di hati.
Ah… bukan tiba-tiba. Semua ini sudah ada di pikiranku sejak lama, cuma baru sekarang aku bisa mengungkapkan dengan tenang.
“Ini bukan tentang mengulang masa lalu… tapi aku harus menyelesaikannya di hatiku sendiri. Sudah saatnya aku melepaskan, meski misterinya tetap ada.”
Aku tersenyum sendiri sambil menatap layar ponsel.
“Ah… aku cuma penasaran aja, Han. Kenapa tiba-tiba putus komunikasi? Kenapa tiba-tiba hapeku sunyi? Kenapa aku merasa sepi saat itu 😄… itu aja kok.”
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan hati yang masih sedikit bergetar.
“Tapi, aku tetap bahagia lihat kamu sekarang… sudah punya keluarga, suami yang tanggung jawab, dan hidup yang terlihat bahagia. Itu yang penting, Han.”
Sejenak aku membiarkan diriku merasakan campuran lega dan haru, menutup sedikit pintu kenangan lama, tapi tetap menyimpan rasa hangat untuknya.
"Wkwkwk iya kalau boleh jujur aku kehilangan tempat curhat. rumah tangga itu ga semulus yang di bayangkan semua pahit udah aku lewatin tanpa kamu teman curhat dunia Maya yang ga akan bisa bocorin apapun hahahah karna kalau curhat ke teman kadang suka ga amanah bocor kemana mana atau kadang kalau curhat sama temen Deket rasanya tetep ga terbuka kayak aku sama kamu waktu itu. dan aku boleh jujur lagi ga?
Bukan karena bingung mau jawab apa, tapi karena kalimat itu kena tepat di dadaku.
Pelan-pelan, Aku mengetik.
“Boleh, Han… jujur aja. Aku dengerin.”
Di kepalaku, Aku sadar satu hal yang selama ini aku pura‑pura tak paham. ternyata aku bukan sekadar kenangan. aku pernah jadi tempat pulang, walau hanya di dunia maya. Tempat seseorang bisa bicara tanpa takut dihakimi, tanpa takut ceritanya bocor ke mana-mana. Dan justru di situlah letak bahayanya. Karena kadang, yang paling sulit dilepaskan bukan cinta…tapi kebiasaan saling membuka diri.
"Raka... suamiku dulu pernah selingkuh dan lama selingkuhnya hampir 8 tahun aku sempat menyerah ka. aku hampir pisah ka. tapi akhirnya aku memilih bertahan nah saat suamiku masih diam diam rasanya aku pingin balas dendam. aku mencarimu ka. di medsos logo biru. di medsos logo hitam aku ketik namamu banyak yang keluar tapi satu persatu dari yang ku cari aku ga yakin itu kamu ka. jadi itulah kejujuranku. bahwa aku pernah benar benar mencarimu"
Aku membaca itu pelan.
Sekali. Dua kali. Lalu berhenti lama.
Dadanya terasa berat, bukan karena senang justru karena terlalu banyak yang akhirnya masuk akal. Tentang kemunculan Hana yang tiba‑tiba.
Tentang kedekatan yang dulu terasa “aneh tapi hangat”. Tentang Aku yang seperti dipakai sekaligus dijauhkan.
Aku mengetik, lalu berhenti. Menghapus. Mengetik lagi.
“Han… makasih udah jujur.”
Kalimat itu terasa paling aman, tapi juga paling jujur.
“Sekarang aku paham. Kenapa waktu itu rasanya kita dekat tapi juga jauh. Kenapa aku selalu merasa ada dinding yang ga kelihatan.”
Raka menarik napas panjang.
“Tapi Han… justru karena itu, aku sedih.”
Bukan sedih karena tak dipilih.
Tapi sedih karena ia sadar, dirinya pernah jadi pelarian, bukan tujuan.
“Aku ga marah kamu nyari aku. Aku ga ngerasa tersinggung. Tapi aku takut… kalau yang kamu cari waktu itu bukan aku, tapi rasa aman yang lagi hilang.”
Aku berhenti lagi. Jujur pada diri sendiri kalau percakapan ini datang beberapa tahun lebih awal, mungkin Aku akan bangga. Sekarang tidak.
“Dan sekarang kamu udah bertahan, udah berjuang, udah punya keluarga…aku ga mau jadi bayangan dari masa paling gelapmu.”
Aku tersenyum kecil, pahit tapi tenang.
“Aku senang kamu jujur. Itu artinya ganjalan di hatiku benar‑benar selesai malam ini.”
Aku menutup ponsel sebentar, lalu membuka lagi.
“Mungkin kita memang ditakdirkan cuma sampai jadi tempat singgah. Bukan tempat tinggal."
Hana menjawab santai
"Iya ka memang kita hanya sebatas itu kan? sejak dulu ga berubah kan? yang berubah adalah keadaan karna aku menikah. maafin aku ya ka. kalau sudah menikah memang harus jaga jarak dengan lawan jenis 🥹 jadi aku menerima kenyataan itu"
Aku membaca pesannya lama.
Bukan karena tak paham justru karena terlalu paham. Aku tersenyum tipis. Kali ini bukan pahit. Lebih ke… pasrah yang tenang.
“Iya Han… sejak dulu memang ga berubah.”
Aku mengetik pelan, tanpa emosi berlebihan, tanpa menyalahkan siapa pun.
“Yang berubah cuma waktunya. Dan pilihan hidup kita masing‑masing.”
Ada jeda.
Aku menatap layar, lalu melanjutkan.
“Kamu ga salah. Kamu justru benar. Orang yang sudah menikah memang harus tahu batasnya.”
Kalimat itu terasa seperti menutup pintu dengan lembut tidak dibanting, tidak dikunci kasar.
“Dan aku menghargai itu, Han. Beneran.”
Untuk pertama kalinya sejak lama, dadaku terasa lebih ringan.
“Maaf kalau aku sempat muncul lagi sebagai ganjalan. Sekarang sudah ga ada lagi. Aku juga menerima kenyataan ini.”
Aku menambahkan satu kalimat terakhir jujur, dewasa, dan selesai.
“Semoga kamu tenang dengan pilihanmu.
Dan aku…akan baik‑baik saja
Aku meletakkan ponsel. Bukan karena kalah.
Tapi karena akhirnya Aku tidak perlu bertanya lagi pada masa lalu.
"terimakasih ya ka. jangan blokir aku lagi. sakit hatiku ka. wkkww jangan pokoknya.. siapa tau sewaktu waktu aku butuh tempat curhat lagi 😉"
Aku terdiam sesaat. Pesan itu dibaca pelan bukan dengan senyum, bukan juga dengan marah. Ada getir kecil yang lewat, lalu reda.
Aku membalas singkat, jujur, dan tetap menjaga jarak.
“Hehe… iya Han. Aku ga akan blokir kamu lagi.”
Jariku sempat berhenti, lalu aku menambahkan:
“Tapi kita tetep tahu batas ya.
Aku ga mau jadi tempat yang salah buat kamu.”
Ada kelegaan di sana bukan kelegaan karena diharapkan, tapi karena akhirnya aku merasa memilih posisi yang benar.
“Kalau kamu butuh cerita, aku dengerin.
Selama itu masih wajar dan ga nyakitin siapa pun.”
Aku menutup chat itu tanpa rasa ingin menunggu balasan cepat. Untuk pertama kalinya, Aku tidak menggenggam masa lalu Aku hanya membiarkannya duduk di kejauhan, tanpa harus pergi, tanpa harus dimiliki.
Aku menatap layar ponselku untuk terakhir kalinya malam itu. Setelah percakapan panjang, setelah jujur dan terbuka, hatiku terasa lebih ringan.
Semua ganjalan yang selama ini menghantui pertanyaan, rasa penasaran, kebingungan akhirnya terjawab. Aku menarik napas panjang, perlahan meletakkan ponsel.
Tidak ada lagi rasa marah, tidak ada lagi dendam, hanya rasa tenang yang hangat mengalir di dadaku. Aku tersenyum tipis, pahit tapi damai, menyadari satu hal masa lalu boleh indah, tapi kini waktunya melangkah maju.
Aku berdiri, menatap jendela kamar yang gelap diterangi lampu kota. Di luar sana, dunia terus berjalan. Aku tahu, Hana bahagia dengan pilihannya sendiri, dan Aku juga akan baik-baik saja.
Untuk pertama kalinya dalam 16 tahun, Aku merasakan kelegaan murni: melepaskan, tapi tetap menghargai.
“Sudahlah,” bisikku pelan.
“Semua sudah jelas. Semua sudah selesai. Dan aku… tenang.”
Aku duduk kembali, menutup mataku sejenak.
Malam itu, Aku tidur dengan hati yang ringan, lega, dan siap menghadapi hari baru tanpa ganjalan, tanpa rasa penasaran, hanya rasa damai yang hangat.
Dan ternyata akulah robot bagi Hana😄.