NovelToon NovelToon
Harmoni Lembah Biru "Kazumi Flora"

Harmoni Lembah Biru "Kazumi Flora"

Status: tamat
Genre:Romansa / Fantasi Wanita / Tamat
Popularitas:46
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Namaku Kazumi Flora. Dengan tinggi 154 cm, aku mungkin tampak mungil di tengah megahnya Lembah Biru, namun jiwaku seluas dan sedalam danau ini. Sejak kecil, alam adalah rumahku, dan bunga-bunga adalah sahabatku. Setiap helai kelopak, setiap hembusan angin, dan setiap riak air danau menyimpan cerita yang tak pernah usai aku dengarkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26

Wajahku terasa panas mendengar seruan seisi kelas. Aku menunduk dalam, mencoba berpura-pura sangat fokus membaca modul yang baru saja Kaelen berikan. Namun, detak jantungku yang kencang bukan lagi karena malu, melainkan karena rasa tidak nyaman yang mulai menjalar di perutku.

​Mungkin karena kejadian kemarin yang menguras emosi, atau mungkin karena aku belum sempat sarapan dengan benar karena terburu-buru menjemput Kaelen. Kepalaku tiba-tiba terasa berputar, dan pandanganku terhadap papan tulis di depan mulai mengabur.

​"Zu? Kamu nggak apa-apa? Wajahmu pucat banget," bisik Salsa khawatir sambil menyentuh lenganku.

​"Aku... aku cuma agak pusing, Sa," jawabku lirih. Aku mencoba mengatur napas, tapi keringat dingin mulai membasahi dahiku.

​Kaelen, yang meskipun sedang sibuk menuliskan poin-poin materi di papan tulis, seolah memiliki radar khusus untukku. Ia berhenti menulis dan menoleh ke arah barisan kami. Matanya yang tajam langsung menangkap sosokku yang lemas, bersandar pada bahu Salsa.

​Tanpa mempedulikan kalimat yang belum selesai ia tulis, Kaelen meletakkan spidolnya dengan keras. Ia berjalan cepat menuruni podium, langkahnya terdengar mendesak di lantai kelas yang sunyi.

​"Kazumi!" panggilnya, suaranya tidak lagi profesional, melainkan penuh kepanikan.

​Ia sampai di mejaku dan langsung berlutut di samping kursiku. Tangannya yang hangat menyentuh dahiku, lalu berpindah ke pipiku yang dingin. "Kamu pucat sekali. Kenapa tidak bilang kalau sedang tidak enak badan?"

​"Kael, nggak apa-apa... lanjutin aja kelasnya," gumamku lemah, tapi kepalaku justru terkulai ke dadanya saat ia mendekat.

​"Kelas ini tidak lebih penting dari kesehatanmu," tegasnya. Ia berdiri dan menatap tajam ke arah seluruh mahasiswa yang menonton dengan cemas. "Praktikum mandiri dimulai sekarang. Pelajari modul halaman satu sampai sepuluh. Saya harus membawa Kazumi ke ruang kesehatan."

​Tanpa menunggu jawaban siapa pun, Kaelen langsung mengangkat tubuhku kembali dalam gendongannya. Ia tidak peduli lagi pada wibawa asisten dosennya. Di matanya hanya ada kekhawatiran yang mendalam.

​Sambil membawaku keluar kelas, ia berbisik di dekat keningku, "Tahan sebentar, Sayang. Aku di sini. Maafkan aku karena memaksamu berangkat pagi ini."

"Tidak apa-apa, tidak perlu meminta maaf, Kael. Aku hanya butuh sedikit duduk tenang," bisikku lemah sambil menyembunyikan wajahku di ceruk lehernya. Aroma sandalwood darinya sedikit membantuku menghalau rasa mual yang melanda.

​Kaelen tidak menjawab, langkah kakinya justru semakin cepat menelusuri koridor menuju ruang kesehatan kampus. Begitu sampai, ia menendang pintu pelan dan langsung membaringkanku di atas tempat tidur putih yang empuk. Ia segera menarik selimut hingga sebatas dadaku.

​"Diam di sini. Jangan mencoba duduk sampai dokter memeriksamu," perintahnya mutlak.

​Beberapa menit kemudian, Profesor Haryo muncul di ambang pintu dengan wajah heran sekaligus khawatir. "Kaelen? Saya dengar dari mahasiswa di kelas kalau kamu membubarkan sesi penjelasan karena tunanganmu pingsan?"

​Kaelen berdiri tegak, membelakangi tempat tidurku seolah sedang melindungiku dari pandangan siapa pun. "Dia tidak pingsan, Profesor, tapi kondisinya sangat menurun. Saya tidak bisa membiarkannya tinggal di asrama sendirian dalam keadaan seperti ini."

​Profesor Haryo menghela napas, melihat betapa keras kepalanya asisten andalannya itu. "Lalu apa maumu? Kamu tidak bisa meninggalkan kelas begitu saja setiap kali dia bersin, Kaelen."

​"Saya minta izin untuk membawa Kazumi pulang lebih awal," jawab Kaelen tanpa ragu. "Bukan ke asrama, tapi ke apartemen saya. Di sana saya bisa mengawasinya sambil mengerjakan laporan penelitian Anda. Saya akan memastikan semua tugas asisten saya selesai malam ini, tapi sekarang, saya harus membawanya pergi."

​Profesor Haryo melongo, lalu menggeleng-gelengkan kepala. "Kamu benar-benar sudah bucin (budak cinta) ya... Ya sudah, bawa dia pergi. Tapi pastikan besok dia sudah sehat dan kamu tidak telat mengumpulkan laporan itu!"

​"Terima kasih, Profesor," ucap Kaelen pendek.

​Begitu Profesor pergi, Kaelen kembali menoleh padaku. Tatapannya yang tadi keras pada Profesor kini melunak seketika. Ia membungkuk, mengusap rambutku dengan jemari hangatnya.

​"Kita ke tempatku ya? Kamu bisa istirahat dengan tenang di sana tanpa gangguan Salsa atau mahasiswi lain. Aku akan memasakkan sesuatu yang hangat untukmu," bisiknya lembut.

​Aku hanya bisa mengangguk pasrah. Di satu sisi aku malu karena harus dibawa ke apartemennya, tapi di sisi lain, membayangkan dirawat oleh Kaelen membuat hatiku merasa jauh lebih tenang.

Kaelen segera membantuku duduk sejenak untuk meminum air hangat sebelum ia kembali menggendongku menuju mobil. Sepanjang perjalanan singkat menuju apartemennya, tangannya tak pernah lepas menggenggam jemariku, seolah ia ingin menyalurkan seluruh kekuatannya untuk meredakan pusing yang kurasakan.

Sesampainya di sebuah gedung apartemen modern yang tak jauh dari kampus, Kaelen membawaku ke unitnya di lantai atas. Begitu pintu terbuka, aroma sandalwood yang sangat akrab langsung menyapa indra penciumanku. Apartemennya sangat rapi, didominasi warna monokrom, namun terasa hangat karena banyak tanaman hijau di sudut-sudut ruangan—khas seorang asisten dosen botani.

Ia membawaku langsung ke kamar utamanya. "Tidurlah di sini. Ini tempat yang paling nyaman," ucapnya sambil membaringkanku di atas tempat tidur dengan sprei berwarna abu-abu yang harum.

"Tapi Kael, ini kamarmu..." protesku pelan, merasa tidak enak.

"Sekarang ini adalah tempat istirahatmu. Jangan banyak protes, Sayang," potongnya sambil mengecup keningku. Ia melepas jaket yang kupakai, lalu menyelimutiku dengan sangat hati-hati. "Aku akan ke dapur sebentar. Tetaplah terpejam."

Aku mencoba memejamkan mata, namun rasa penasaran membuatku sedikit melirik ke arah meja kerja di sudut kamarnya. Di sana, tertumpuk banyak buku botani dan sketsa. Karena rasa peningku sedikit berkurang, aku mencoba bangkit perlahan dan berjalan mendekati meja itu.

Mataku membelalak. Di balik tumpukan modul praktikum, terdapat sebuah buku sketsa yang terbuka. Di setiap lembarnya, terdapat lukisan wajahku dalam berbagai ekspresi—saat aku tertawa, saat aku sedang serius menanam bunga, bahkan saat aku sedang tertidur lelap di taman dunia lama kami. Di bawah salah satu lukisan, terdapat tulisan tangan Kaelen yang rapi: 'Satu-satunya tujuanku di dunia mana pun.'

Tiba-tiba, suara langkah kaki mendekat. Kaelen masuk membawa nampan berisi semangkuk sup hangat. Ia tertegun melihatku sudah berdiri di depan meja kerjanya.

Wajah Kaelen yang biasanya datar mendadak memerah tipis. Ia meletakkan nampan itu dan berjalan mendekatiku, menutup buku sketsa itu dengan gerakan canggung.

"Seharusnya kamu istirahat, bukan memeriksa rahasia pribadiku," gumamnya, namun ia menarikku ke dalam pelukannya dari belakang, menyandarkan dagunya di bahuku seperti yang ia lakukan di pantai kemarin.

"Kamu melukis semua ini?" bisikku haru, menyentuh sampul buku itu.

"Setiap malam saat aku merindukanmu dan tidak bisa menjangkaumu, hanya ini yang bisa kulakukan," jawabnya jujur. "Tapi sekarang, objek aslinya sudah di sini, jadi aku tidak butuh lukisan lagi. Ayo, makan supmu. Aku membuatnya dengan resep khusus agar tenagamu kembali."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!