Seorang pemulung menemukan jasad tanpa wajah di Kampung Kemarin. Hanya ada cincin bertanda 'S' dan sehelai kertas tentang "kayu ilegal" sebagai petunjuk.
Detektif Ratna Sari menyadari kasus ini tidak biasa – setiap jejak selalu mengarah pada huruf 'S': dari identitas korban, kelompok tersembunyi, hingga lokasi rahasia bisnis gelap.
Ancaman datang dari mana saja, bahkan dari dalam. Bisakah Ratna mengungkap makna sebenarnya dari 'S' sebelum pelaku utama melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1 (one)
Senja merah menyebar seperti kain yang diolesi warna darah di atas langit Kecamatan Sukamaju pada sore hari tanggal 8 Januari 2026. Udara terasa lembap dan berat. Sisa hujan deras sejak tengah malam masih meninggalkan genangan di lorong-lorong tanah liat Kampung Lereng Kemuning, membuat setiap langkah terasa licin dan membebani.
Mansur, pria berusia 52 tahun dengan rambut yang mulai memutih di pelipis, sedang membungkuk di tepi Sungai Ciliwung Kecil. Tangan kanannya yang kasar menyisir sela-sela batu, mencari botol plastik atau kaleng aluminium untuk mengisi tong plastiknya.
"Hari ini harus dapat banyak ya, Mbah?" teriak cucu laki-lakinya yang sedang bermain ayunan bambu tak jauh dari sana.
Mansur tersenyum, menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan. "Iya, Cu. Besok ulang tahun adikmu, kan? Mbah harus kumpul uang buat beli kue paling enak di pasar." Ia meneguk air dari botol lusuh, mengabaikan badannya yang mulai menggigil karena angin sore. Baginya, kemiskinan jauh lebih menakutkan daripada rasa dingin.
Karena hasil di tepi sungai mulai menipis, Mansur memutuskan pergi ke area yang dihindari banyak orang: bagian belakang Rumah Kosong Cemara. Bangunan itu sudah lima tahun tak berpenghuni. Rumor mengatakan tempat itu angker, tapi bagi Mansur, perut yang lapar tidak punya waktu untuk takut pada hantu.
Area belakang rumah itu adalah hutan kecil yang rimbun. Pohon-pohon cemara tua menjulang, menghalangi cahaya matahari yang mulai redup. Saat Mansur menyibak rerumputan setinggi pinggang, indra penciumannya langsung dihantam bau busuk yang tajam bukan bau bangkai hewan biasa, melainkan campuran daging membusuk dan aroma zat kimia yang menyengat, seperti amonia.
"Bau apa ini?" gumamnya seraya menutup hidung dengan ujung baju.
Dengan sisa keberaniannya, ia mendorong tumpukan semak. Matanya membelalak, mulutnya menganga tanpa suara.
Di atas tanah berlumpur, tergeletak sebuah jasad mengenakan seragam kerja biru tua. Yang membuat jantung Mansur seolah berhenti adalah wajah korban. Wajah itu bukan lagi wajah manusia; hancur total, hancur oleh hantaman benda tajam yang berat. Tangan dan kakinya terikat erat dengan kawat baja jenis yang biasa digunakan untuk mengikat gelondongan kayu besar.
Teriakan Mansur akhirnya pecah, membelah keheningan senja dan menerbangkan burung-burung dari dahan cemara.
Tiga puluh menit kemudian, sirene polisi mengoyak ketenangan Kampung Lereng Kemuning. Garis kuning dipasang, membatasi warga yang mulai berkerumun dengan rasa ngeri.
Sebuah mobil SUV hitam berhenti di depan gerbang. Dari dalamnya keluar seorang wanita dengan langkah tegap. Rambut hitamnya disanggul rapi, jas biru tuanya tampak kontras dengan lingkungan yang kumuh. Detektif Ratna Sari melangkah masuk ke area steril.
"Lapor, Bu Detektif," Brigadir Teguh menyambut. "Korban pria, usia 35-45 tahun. Wajah hancur total, kemungkinan besar akibat kapak atau parang besar. Ada tiga luka tusuk di dada. Kami menemukan cincin perak bertanda 'S' di jari manisnya, dan sobekan kertas di sakunya tentang 'kayu ilegal'."
Ratna berjongkok di dekat jasad, mengamati tanah berlumpur dengan bantuan senter.
Matanya yang tajam menangkap sesuatu yang ganjil. "Teguh, lihat ini. Selain jejak sepatu bot pelaku, ada jejak sepatu hak tinggi tipis di sini."
Teguh mengerutkan kening. "Di tanah berlumpur seperti ini? Bagaimana mungkin dia bisa berjalan tanpa terperosok?"
"Itulah masalahnya," sahut Ratna dingin. "Pemilik sepatu ini tahu persis cara menapak, atau dia sangat terbiasa dengan medan ini. Ambil cetakannya."
Ratna kemudian masuk ke dalam Rumah Kosong Cemara. Di sebuah kamar belakang yang berdebu, ia menemukan meja kayu dengan bekas noda cairan yang belum sepenuhnya kering. Menggunakan penjepit, Ratna menarik sehelai kertas kecil yang terselip di celah kayu meja.
Kertas itu berisi tulisan tangan yang terburu-buru:
"Dia tahu tentang kayu ilegal... jangan biarkan dia bicara... temukan dia sebelum dia menemukan kita – H"
Ratna terdiam, memutar cincin perak bertanda 'S' yang kini ada di kantong bukti. 'S' untuk Sukamaju? Atau 'S' untuk sesuatu yang jauh lebih gelap?
Saat ia berdiri untuk keluar, bulu kuduk Ratna meremang. Ia merasa diawasi. Ia menoleh cepat ke arah rimbunnya pohon cemara di luar jendela. Di sana, di antara bayangan hitam, ia sempat melihat kilatan kecil seperti pantulan cahaya dari lensa kacamata sebelum bayangan itu melesat hilang ditelan kegelapan malam.
"Kasus ini bukan sekadar pembunuhan," bisik Ratna pada dirinya sendiri. "Ini adalah awal dari perang."
Ratna Sari berlutut di atas papan kayu yang diletakkan petugas agar tidak merusak tanah berlumpur. Ia tidak peduli dengan ujung celananya yang mulai terkena percikan air kotor. Fokusnya tertuju pada kawat baja yang melilit pergelangan tangan korban.
"Kawat ini bukan kawat sembarangan, Teguh," ujar Ratna sambil menunjuk bekas gesekan di kulit korban yang sudah membiru. "Ini kawat sling baja untuk mengangkut kayu log di perhutanan. Pelaku tidak hanya ingin mengikat korban; dia menggunakan alat yang biasa dia pegang setiap hari. Kita berurusan dengan orang yang sangat akrab dengan industri kayu."
Ratna beralih ke bagian wajah yang hancur. Ia menyalakan senter UV kecil dari saku jasnya. Di sela-sela luka yang mengerikan itu, ia melihat sisa kristal putih yang hampir tak kasat mata.
"Ada residu garam alkali di sini. Pelaku sengaja menyiramkan zat korosif setelah menghancurkan wajahnya dengan benda tumpul. Dia benar-benar ingin memastikan jasad ini tidak punya identitas."
Di luar garis polisi, kegaduhan warga mulai mereda saat Ratna berjalan mendekat ke arah Mbah Mansur. Pria tua itu masih duduk di kursi plastik yang dipinjamkan warga, tangannya masih gemetar hebat saat memegang gelas teh hangat.
"Mbah Mansur," sapa Ratna dengan suara yang jauh lebih lembut daripada saat ia memberi perintah pada anak buahnya. "Saya Ratna. Bisa Mbah ceritakan, sebelum Mbah menemukan jasad itu, apakah ada suara kendaraan atau orang yang lewat di belakang Rumah Cemara ini?"
Mansur mendongak dengan mata berkaca-kaca. "Tidak ada suara mobil, Bu Detektif. Tapi... saat saya baru sampai di dekat pohon cemara besar itu, saya mencium bau parfum. Bau bunga yang sangat manis, tapi menusuk hidung. Tidak cocok dengan bau busuk mayat itu."
Ratna mencatat hal itu dalam benaknya. Bau parfum bunga dan jejak sepatu hak tinggi. Dua petunjuk feminin di tengah lokasi pembunuhan yang sangat maskulin dan brutal.
Ratna kemudian melangkah masuk ke dalam bangunan utama Rumah Kosong Cemara. Lantainya berderit di bawah sepatunya. Debu beterbangan di udara yang pengap. Saat itulah ia menemukan ruang belakang yang tersembunyi di balik lemari tua yang miring.
Di atas meja kayu yang sudah kita bahas tadi, selain kertas sobekan, Ratna menemukan sesuatu yang lebih kecil. Sebuah serpihan kayu tipis yang tampak seperti baru saja diketam. Ia mencium kayu itu; aromanya sangat khas manis seperti vanila tapi ada jejak bau tanah.
"Kayu Gaharu," bisik Ratna. "Kayu terlarang. Satu kilogram harganya bisa puluhan juta. Jadi ini bukan sekadar kayu ilegal biasa. Ini perburuan harta karun hitam."
Tiba-tiba, suara langkah kaki cepat terdengar dari arah loteng rumah. Ratna segera mencabut pistol Glock dari sarungnya. "Polisi! Jangan bergerak!"
Hening. Hanya suara tetesan air hujan dari atap yang bocor. Ratna memberi kode pada Teguh untuk mengecek ke atas, namun saat mereka sampai di sana, jendela loteng sudah terbuka lebar. Di kusen jendela yang rapuh, tertempel sehelai benang sutra berwarna merah darah.
Ratna menatap ke arah luar jendela, ke arah hutan gelap yang menelan bayangan pengintainya tadi. Di tangannya, cincin bertanda 'S' terasa semakin dingin. Huruf 'S' itu bukan sekadar inisial; itu adalah peringatan.
"Teguh," panggil Ratna tanpa mengalihkan pandangan dari kegelapan. "Cari tahu semua pemegang izin konsesi kayu di wilayah Sukamaju yang namanya berawal dari huruf 'S'. Dan jangan percayai siapa pun di kantor untuk saat ini. Kita tidak tahu seberapa jauh 'S' ini sudah menanam akarnya."
Malam pun jatuh sepenuhnya di Kampung Lereng Kemuning, membawa rahasia yang terkubur bersama jasad tak berwajah itu.