Darren adalah anak yatim piatu yang diangkat anak oleh Jhon Meyer, Owner XpostOne. Prestasinya sangat gemilang sehingga dia sering di perintahkan oleh Jhon Meyer untuk bertugas di daerah konflik.
Umurnya sudah dua puluh delapan tahun dan belum menikah. Ia berjanji sebelum bisa membalaskan sakit hatinya kepada keluarga Blossom, ia tak mau menikah. Dulu saat berumur sepuluh tahun orang tua dan kakaknya di bakar hidup-hidup oleh keluarga Blossom.
Suatu hari ia di perintahkan oleh Jhon Meyer untuk menyelamatkan tiga orang gadis yang terperangkap didesa Beduwi. Dengan berat hati ia pergi ke Bali, tapi apa yang dia temukan di desa itu? Ilmu hitam atau Le-ak. Sangat mengerikan dan hampir saja ia menjadi tumbal.
Saat mengetahui salah satu dari ke tiga gadis itu adalah putri keluarga Blossom, ia pun membuat rencana jahat untuk menyiksa gadis itu.
Apakah yang direncanakan oleh Darren? silahkan baca sampai tamat.
Trimakasih, jangan lupa like, coment***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB.02. KE BALI.
Darren menghela nafas mendengar kalau orang menyewanya adalah konglomerat dengan bayaran miliaran. Seharusnya dia senang dan berjingkrak, tapi ia malah muak karena konglomerat itu backingan Jenderal. Ia jadi ingat ayahnya yang memerangi koruptor yang kebanyakan konglomerat.
"Bagaimana, apakah kamu keberatan?" tanya Jhon Meyer hati-hati.
"Bukankah itu daerah terlarang dan warga disana suka me-numb4l-kan pe-ra-wan?" sahut Darren tanpa ekpresi.
"Bukan pe-ra-wan saja, siapa pun lewat pasti dit4ng-kap dan di is4p d4-r4hnya."
"Ya ampun s4dis sekali, kenapa kepala daerah tidak men4ngkap mereka dan membumi h4ngvskan desa tersebut?"
"Semua cara mungkin sudah di lakukan, tapi gagal dan ada HAM. Lagipula ilmu hitam sulit dibuktikan."
"Strategi apa yang harus di pakai jika mau men4ng-kap Le-ak, tidak mungkin aku menunggunya berubah wujud menjadi Le-ak, baru di doorrr."
"Ada satu jalan yang ampuh, kamu harus membeli ilmu Le-ak ke seorang du-kun "Ngiwe" baru kamu bisa menyusup dan ikut bergabung dengan mereka."
"Jadi aku harus bisa nge-Leak dulu? Ya ampun... aku jadi merinding. Ilmu Le-ak sulit dimusnahkan kecuali ada pewaris. Aku sudah baca manuscript ilmu Le-ak itu." ucap Darren dengan mata melotot.
"Itu jalan terakhir. Coba cari di market place siapa tahu ada yang menjual ilmu Le-ak." ucap Jhon Meyer.
Jhon Meyer tak peduli kalau Darren bisa nge-Le-ak, karena ia tidak percaya ilmu Leak atau ilmu hitam lainnya. Halusinasi.
"Mana mungkin ilmu Le-ak ada yang jual, kecuali palsu. Papa menganggap remeh ilmu hitam, ini semua ada di Indonesia.."
"Bukan papa meremehkan Le-ak, apakah kurun waktu dua puluh lima tahun ini ada yang bertemu Leak? Kalau dulu mungkin ada, itupun masih diragukan."
Darren terpaksa mengalah, dengan berat hati ia mulai menyusuri market place, tapi tidak ada penjual ilmu Le-ak. Mereka juga mencari du-kun sakti yang bisa memberi m4n-tra mandraguna.
"Banyak ada du-kun, tapi aku tak percaya karena mereka minta di transfer uang dulu, baru ilmu dikirim jarak jauh. Bisa saja mereka p3ni-pu. Setahuku untuk membeli ilmu hitam pasti berpuasa dulu ada m4ntra tertentu sebagai pegangan." ucap Darren berdiri dan menuju kulkas mengambil air mineral. Ia merasa gerah dengan masalah yang akan dihadapinya.
Darren meneguk air mineralnya sampai tuntas, dadanya begitu panas mengingat bahaya yang menghadangnya. Apa yang bakal terjadi pada dirinya seandainya ia menemukan Le-ak dan me-nang-kapnya serta me-muti-lasi tu-buhnya. Haruskah dia jadi Le-ak untuk mengimbanginya?
Sungguh mati, ia tak menyangka bergulat dengan hal ghaib yang tidak masuk akal. Tak pernah terlintas dibenaknya akan bertemu dengan masalah ilmu hitam. Apalagi untuk menjadi Le-ak.
Haruskah dia mati konyol demi menolong tiga orang gadis yang tidak pernah di kenalnya? Yang paling memberatkan pikirannya adalah menjadi Le-ak, sangat miris.
"Kamu sudah tidak punya waktu, gadis itu harus cepat diselamatkan. Bagaimana kalau kamu berangkat ke Bali mencari info tentang ilmu Le-ak. Jangan masuk ke desa itu sebelum kamu bisa jadi Le-ak." ucap papanya memaksa secara halus.
"Paa, apakah ini tidak berbahaya, ini ilmu hitam yang k4ni-b4lis.."
"Ilmu itu dasarnya putih semua, kalau kita memakai dengan tujuan negatif ilmu itu akan jadi hitam." ucap Jhon Meyer.
Ia sendiri baru tahu kalau ada Le-ak di Bali, menurut cerita orang-orang, bahwa manusia bisa berubah wujud menjadi monyet, anjing, sesuai tingkatan ilmu yang dimiliki. Tidak masuk akal, pikir Jhon Meyer ikut tegang.
Darren berdiri mondar mandir, otaknya tiba-tiba buntu tidak bisa berpikir. Kalau di perintahkan menyusup ke sarang ma-fia ia tidak takut, masalah ini berbeda. Ilmu Le-ak ini tidak nyata sangat terkenal dan konon menjadi ilmu nomor dua paling di takuti di dunia.
"Kamu berangkat satu jam lagi, senjata dan semua perlengkapan mu akan di kirim ke privat jet. Sampai disana kamu hubungi Agung agen Exp.21." perintah Jhon Mayer tegas.
"Oke, aku akan berangkat." ucap Darren pasrah. Ada bening di sudut matanya. Kemudian ia beranjak menuju kamarnya dan mengambil koper. Rasa kecewa kepada papanya memenuhi relung hatinya.
"Good Bless You, Tuhan menyertaimu." ucap Jhon Meyer menepuk punggungnya dan mengantarnya ke mobil.
Orang tua paruh baya itu menenangkan putranya, walaupun Darren anak adopsi tapi ia sangat menyayanginya,. Maklum dari umur sepuluh tahun ia mengajaknya, mendidiknya dan mengisi hari-harinya sepinya.
Darren tumbuh menjadi anak cerdas yang mandiri dan baik prilakunya. Dia kuliah di Sekolah Tinggi Intelijen Negara, sebuah perguruan tinggi kedinasan di bawah naungan Badan Intelijen Negara (BIN) yang mencetak kader intelijen profesional.
Jhon Meyer sebagai orang tua angkatnya membimbingnya dengan disiplin tinggi dan menempatkan Darren sebagai orang ke dua di XpostOne.
Semenjak Darren menjadi agent rahasia XpistOne, dia sudah pernah dikirim ke beberapa negara, menyusup ke medan perang. Jam terbangnya sudah tinggi. Ia salah satu agen yang cakap dan sniper ulung dengan jarak tembak 2000 meter.
Pencapaiannya sangat membanggakan, kadang Jhon Meyer sedih saat Darren ngotot pergi ke negara konflik. Tapi ia pasrah karena itu keputusan Darren.
Setelah berbasa basi dengan papanya akhirnya Darren pergi ke Pulau Dewata.
AIRPORT NGURAH RAI.
Wajah tampannya terlihat tegang saat turun dari Private Jet. Ketika kakinya napak di tanah pulau Dewata, ia merasa pulau ini begitu religius dan sakral. Tak habis pikir kenapa perasaannya tiba-tiba jadi melow. Tubuhnya seketika merinding sukar di lukiskan dengan kata-kata.
Apa karena pikirannya yang terus dihantui ilmu Le-ak atau Le-ak itu sudah tahu akan kedatangannya? Iihhh..ngeri!
Darren menggeleng, ia terlalu naif, mana mungkin Le-ak tahu kedatangannya. Ini gara-gara membaca history tentang Le-ak pikiran warasnya jadi tumbang.
Darren mempercepat jalannya, Agung mendekatinya.
"Siang boss..." salam Agung tersenyum hormat.
"Siang Gung.." jawab Darren menyerahkan kopernya.
Mereka irit bicara, memakai masker dan topi eiger dan berjalan berjauhan. Agung membawanya keluar dari Bandara lewat pintu khusus yang biasa digunakan oleh orang-orang penting.
Ini pertama kalinya ia pergi ke pulau Bali. Ia merasa konyol, karena seluruh dunia sering ia sambangi, tapi pulau Dewata baru kali ini. Padahal cuma satu jam dari jakarta.
Kemudian Agung mempersilahkan Darren naik BMW i7 Protection, mobil anti peluru ke punyaan XpostOne. Mobil ini sangat canggih, berisi rudal Scud, senjata AK. 45 dan senjata lain yang mampu melindungi orang yang berada di dalam mobil.
"Bagaimana tugasmu?" tanya Darren ketika mobil masuk Toll Bali Mandara. Jembatan terpanjang se asia terbentang di atas laut Benoa.
"Tugas lancar, sudah finish, sekarang aku di tugaskan untuk menemanimu." jawab Agung. Ia sungkan kepada Darren yang terkenal berdarah dingin dan tegas.
*****