NovelToon NovelToon
TAHANAN DI PELUKAN SANG PSIKOPAT

TAHANAN DI PELUKAN SANG PSIKOPAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Psikopat
Popularitas:648
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Jika aku memang pembunuh yang kau cari, kenapa jantungmu berdetak begitu kencang saat aku menyentuhmu?"
Ghea, seorang detektif hebat, terbangun tanpa ingatan di sebuah villa mewah. Seorang pria tampan bernama Adrian mengaku sebagai tunangannya. Namun, Ghea menemukan sebuah lencana polisi berdarah di bawah bantalnya.
Saat ingatan mulai pulih, kenyataan pahit menghantam: Pria yang memeluknya setiap malam adalah psikopat yang selama ini ia buru. Terjebak dalam sangkar emas, apakah Ghea akan memilih tugasnya sebagai detektif atau justru jatuh cinta pada sang iblis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: PELURU KOSONG DAN BENIH PENGKHIANATAN

Ghea duduk di tepi ranjang, jemarinya bergerak lincah menyusup ke dalam jahitan kecil di pojok bantalnya. Ia bisa merasakan logam dingin kunci titanium itu terselip aman di sana. Setiap malam, sebelum tidur, ia akan memastikan benda itu masih ada—satu-satunya jangkar kewarasannya di tengah lautan kebohongan Adrian.

"Ghea? Sudah siap?" suara Adrian menggema dari balik pintu.

Ghea segera merapikan bantalnya dan berdiri. "Sudah, Adrian."

Hari ini, Adrian menjanjikan sesuatu yang berbeda. Pria itu ingin "melatih kembali" insting pertahanan diri Ghea. Mereka berjalan menuju halaman belakang yang luas, namun kali ini jauh lebih ke arah hutan, di area yang tertutup oleh pepohonan rimbun sehingga tidak terlihat dari arah jalan setapak manapun.

Di atas meja kayu, sebuah pistol semi-otomatis jenis Glock terletak dengan angkuh.

"Kau dulu sangat mahir menggunakan ini, Ghea. Kau adalah salah satu penembak terbaik di angkatanmu," ujar Adrian sambil mengambil senjata itu. Ia melakukan pengecekan mekanis dengan gerakan yang sangat profesional.

Adrian berdiri di belakang Ghea, lalu menyerahkan senjata itu. Ghea merasakan sensasi dingin dan berat yang familiar saat telapak tangannya menyentuh grip pistol tersebut. Ingatan ototnya bereaksi; jarinya secara otomatis berada di luar pelatuk, posisinya sempurna.

"Lihat? Tubuhmu tidak lupa," bisik Adrian. Pria itu menempelkan tubuhnya ke punggung Ghea, memegang kedua tangan Ghea untuk membantu mengarahkan moncong senjata ke arah sasaran kayu yang berjarak sepuluh meter.

"Pistol ini kosong, tidak ada peluru di dalamnya," lanjut Adrian. "Aku hanya ingin kau mengingat rasanya. Mengingat tarikan pelatuknya. Karena suatu saat nanti, kau mungkin harus menggunakannya untuk melindungiku... atau melindungi kita."

Ghea menarik napas dalam-dalam. Bau parfum Adrian yang bercampur dengan bau minyak senjata membuatnya pening. Ia bisa merasakan detak jantung Adrian di punggungnya—stabil dan penuh percaya diri.

"Kenapa kau tidak memberiku peluru asli jika kau percaya padaku?" tanya Ghea dengan nada yang sengaja dibuat menantang namun manja.

Adrian terkekeh, napasnya terasa hangat di leher Ghea. "Sabar, Sayang. Kita harus belajar merangkak sebelum berlari. Aku tidak ingin kau kaget dengan hentakan senjatanya. Fokus pada sasaran itu. Bayangkan sasaran itu adalah orang yang ingin memisahkan kita."

Ghea membidik. Di dalam kepalanya, sasaran kayu itu berubah menjadi wajah Adrian. Ia menarik pelatuknya.

Klik.

Suara hampa itu menggema di kesunyian hutan. Ghea merasa ada kepuasan aneh yang menjalar di hatinya setiap kali ia menarik pelatuk itu sambil membayangkan wajah pria di belakangnya.

"Bagus. Sekali lagi," perintah Adrian.

Sambil berlatih, Ghea mulai menjalankan rencananya. Ia harus menanamkan benih pengkhianatan yang halus. "Adrian, kau bilang aku dulu detektif yang hebat. Tapi kenapa di berita itu dikatakan aku gugur saat pengejaran tunggal? Bukankah detektif biasanya punya rekan?"

Adrian terdiam sejenak, tangannya yang berada di atas tangan Ghea sedikit mengeras. "Kau punya rekan. Namanya Bram. Tapi dia mengkhianatimu, Ghea. Dia yang membiarkanmu terjebak dalam kecelakaan itu karena dia bekerja sama dengan penjahat yang kau kejar."

Ghea mengerutkan kening. Bram? Nama itu terasa asing, namun ada rasa sakit yang muncul di dadanya. "Lalu di mana dia sekarang?"

"Dia sudah mendapatkan balasannya," jawab Adrian dingin. "Jangan pikirkan dia lagi. Dia adalah bagian dari dunia kotor yang sudah kita tinggalkan."

Ghea menarik pelatuk lagi. Klik.

Ia tahu Adrian sedang berbohong. Adrian sedang mencoba memutus semua ikatannya dengan masa lalu dengan cara memfitnah orang-orang yang mungkin mencarinya. Pria ini sedang menciptakan narasi di mana hanya Adrian satu-satunya orang yang bisa dipercaya di dunia ini.

"Kau sangat melindungiku, ya?" Ghea membalikkan tubuhnya dalam dekapan Adrian, menatap mata gelap itu dengan pandangan yang tampak penuh pemujaan.

"Lebih dari nyawaku sendiri, Ghea," balas Adrian dengan intensitas yang mengerikan.

Ghea tersenyum manis, lalu menyandarkan kepalanya di dada Adrian. Di dalam hatinya, ia berjanji: setiap detik latihan ini, setiap klik dari pistol kosong ini, adalah persiapan untuk saat ia benar-benar memegang peluru asli.

Ia tidak akan menjadi pendamping seorang pembunuh. Ia akan menjadi eksekutor bagi monster yang telah mencuri hidupnya.

"Ayo, ajari aku lagi, Adrian," bisik Ghea. "Aku ingin menjadi sehebat yang kau katakan."

Adrian tersenyum menang, tidak menyadari bahwa di balik kepatuhan Ghea, sang detektif sedang menghitung setiap langkah menuju kehancurannya.

1
sun
sinopsisnya bagus thor,tapi kalau untuk penulisannya kurang bagus,karena banyak kata yang hilang dan tidak nyambung.
sarannya sebelum di update dibaca ulang yah thor....
Leebit: makasih ya atas komentarnya. sya usahakan bab 2 lebih baik lagi😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!