NovelToon NovelToon
Hanya Wanita Pelarian

Hanya Wanita Pelarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Cahaya Tulip

"AYA!! Ingat kamu cuma istri formalitas. Kamu tak punya hak mengatur dengan siapa aku berhubungan, " teriak Rama.

BLAMM!!

Aya terduduk di sisi ranjang dengan air mata yang berderai.

"Aku tahu, aku hanya pelarian buatmu. Setidaknya, jangan buat aku merasa semakin hina dengan menemui wanita itu terang-terangan, " gumam Aya lirih.

Cahaya Insaniah, seorang wanita yang mendapat amanah menjadi istri seorang pemuda penerus perusahaan sawit di Kalimantan bernama Rama.

Rama yang jatuh hati dengan seorang Model lokal, terpaksa menikahi Cahaya karena pesan terakhir mamanya yang tak sadarkan diri akibat kecelakaan mobil.

Mampukah Cahaya menjalankan amanah menjadi istri Rama? Akankah Rama berpaling dari Model lokal itu?

Ikuti kisah mereka dalam Karya HANYA WANITA PELARIAN

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hampa

Waktu berlalu tak terasa, makin dekat dengan acara resepsi yang sudah disiapkan jauh hari beberapa minggu sebelumnya.

Aya masih bersikap dingin seperti awal ia tinggal di rumah Rama. Dihadapan keluarga Rama ia melayani seperti biasa, tapi saat di dalam kamar. Masih ada jarak di antara mereka.

Bukan Rama yang kurang usaha membujuk dan memberi pengertian, tapi karena Aya yang sudah terlanjur terluka. Sudah beberapa malam ia tidur beralas kasur lipat yang ia beli sepulang kerja.

Rama hanya bisa menghela nafas, saat ia masuk ke kamar melihat Aya sudah tidur di kasur lipatnya.

Raka, Harum dan Jaka bukannya tak tahu, mereka merasa harus Rama sendiri yang menyelesaikan.

Hari itu, Rama pagi-pagi sekali ke rumah umi Haura. Ia akhirnya ijin sehari full untuk menyelesaikan desakan dari keluarganya. Besok sudah acara resepsi, ia harus menjelaskan semua situasi yang selama ini di rahasiakan Aya dari umi dan aminya.

"Ada apa Rama? pagi-pagi sekali kamu sudah ke sini? "

"Ami Usman, bisa ke sini kan Umi? "

"Bisa in syaa allah, masih di jalan. Aya libur juga hari ini? "

"Aya kerja Umi, ijin setengah hari saja. Sudah Rama minta ijin satu hari full Aya sungkan karena baru seminggu kerja di kantor baru."

"Oh ya sudah, tidak apa-apa kalau dia yang meminta begitu."

"Assalamu'alaikum," sapa Usman yang baru datang.

Rama berdiri, bersalaman dengan Usman.

"Kenapa Rama? ada hal mendesak sampai kamu ke sini pagi-pagi begini?" tanya Usman tak kalah penasaran.

Haura kembali setelah mengambilkan secangkir teh untuk Usman, kakak iparnya.

"Maaf Umi, Ami. Rama mendesak ajak bertemu pagi begini. Sebenernya banyak hal yang Rama rahasiakan dari keluarga Aya. Dari Umi dan Ami."

Rama menceritakan soal hubungannya dengan Amel dan diketahui oleh Aya. Dan syarat apa saja yang diminta Aya dan akhirnya akad nikah itu terjadi.

Haura dan Usman tak bisa menutupi keterkejutan mereka. Haura terduduk lesu, ia merasa kecewa terlambat tahu, dan sedih melihat kondisi putrinya yang di gantung.

"Kenapa kamu baru cerita Rama? kalau tahu begini, sejak awal saya tidak akan menyetujuinya, " ujar Usman kesal.

"Maaf Ami, karena saat itu yang saya cemaskan kondisi Mama makanya saya tidak bisa menceritakan semuanya. Aya juga setuju pada akhirnya. Memang salah saya, belum berhasil memastikan hubungan dengan Amel selesai sebelum resepsi. Jujur saya masih merasa bersalah dengannya, perasaan itu yang mengganggu saya."

"Kalau begitu, berapa lama kamu mau membuat status Aya menggantung? " tanya Usman ketus.

"Saya usahakan segera, saya juga tak ingin semua ini berlarut-larut. Dia sedang di luar negri, makanya kami belum bisa bicara baik-baik."

"Rama, setelah resepsi. Umi mau Aya kembali tinggal di rumah ini sampai kamu selesaikan urusanmu, " ujar Haura tegas.

"Umi.. " panggil Rama dengan nada memohon.

Haura menggeleng.

"Umi nggak rela anak umi kamu permainkan seperti itu. Ini yang terbaik. Umi masih bersikap baik tak membatalkan resepsi kalian sekarang juga."

Usman menghela nafas kasar, ia saja kesal apalagi Haura.

Rama tertunduk, ia tak bisa mengelak.

"Baik, Umi. Rama akan antar Aya pulang setelah resepsi. Tolong umi kasih kesempatan Rama, ya. Kasih Rama waktu buat selesaikan dengan Amel. Rama akui sudah bersikap salah."

"Kamu itu kepala keluarga Rama, kamu tidak bisa plin plan. Kamu harus tegas. Yang kamu bawa ke rumahmu itu anak orang lain, yang nggak bisa kamu perbuat seenaknya begitu."

Rama hanya terdiam mendengar luapan kemarahan dan nasihat dari Usman. Rama sadar, itu hak Usman karena dialah wali Aya setelah abanya meninggal.

Haura hanya bisa menangis dalam diam. Sesekali ia menyeka airmatanya. Ia terlalu terluka untuk bisa berkata-kata. Cukup Usman yang bicara dan menasihati Rama.

Rama akhirnya pamit setelah dua jam lebih disana. Itu pun karena Usman yang menyuruhnya pulang untuk mengurus persiapan acara besok.

"Ingat kata-kata Ami. Kalau memang kamu sudah istikharah dan sudah punya bulat keputusan mu, hubungi Ami untuk jawabannya. Jangan lewat Aya atau Umi Haura langsung ke Ami."

"Baik, Mi. Rama permisi, Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, " jawab keduanya berbarengan.

"Ya Allah bang, kenapa jadi begini? " tanya Haura lagi. Ia masih tak percaya.

"Qadarullah Haura, Mudah-mudahan ada hikmah dibaliknya. Abang yakin, Aya bisa melaluinya, pun sampai sekarang dia bisa menghadapinya. Aku pamit dulu ya, Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam, Terima kasih ya bang."

Usman mengangguk dan berlalu pergi dengan motor maticnya. Menyisakan Haura yang masih tertegun, mencerna semua cerita Rama.

***

"Aya, sudah jam dua belas kamu bisa pulang lebih awal, " ujar Mila saat melintas di meja kerjanya.

"Baik, Bu. Terima kasih. "

Aya bergegas merapikan berkas di atas mejanya. Mematikan ipad dan menyimpannya di laci.

"Jadi, kamu ijinnya berapa hari? " tanya Feni memastikan.

"Paling senin sudah masuk kantor, " sahut Aya santai.

"Loh, bukannya mau bulan madu? "

"Nggak ada rencana kok, cuma nginap di villa sini aja beberapa hari. "

Feni melongo, benar-benar pernikahan asal ada, pikirnya.

"Oke deh, Semoga lancar, Aya. Ketemu besok di tempat acara, " ujar Feni ramah.

"Aamiin, terima kasih Fen, " sahut Aya.

Ia melambai dan bergegas turun ke parkiran. Sebenarnya sikap buru-buru hanya kepura-puraan. Sampai di parkiran ia justru tak terlihat seantusias tadi. Aya malah terasa enggan buru-buru pulang.

Aya akhirnya melajukan motornya ke salon muslimah searah perumahan. Ia ingin bersantai disana. Tiga atau empat jam cukup untuk paket lengkap.

Ponselnya berdering terus sejak tadi, tapi dia benar-benar malas menjawab telpon dari Rama.

Sesampainya di salon Aya hanya mengirim pesan sekedar memberitahu keberadaannya. Pasti itu yang ingin Rama ketahui darinya.

[Aku ke salon, mau perawatan. Mungkin jam tiga atau jam empat aku pulang. ]

[Baiklah. Jam lima kita berangkat ke Vila. ]

Hanya itu jawaban Rama. Ia tahu Aya masih tak respek padanya.

"Assalamu'alaikum Kak, mau perawatan yang mana? " tanya pegawai salon ramah.

"Wa'alaikumsalam. Kak, paket perawatan untuk pernikahan ada? "

"Ada kak ini, paket lengkap sama ratus, free totok wajah."

"Oke saya ambil paket ini aja."

"Baik, Kak. Mari silahkan."

Mereka masuk ke dalam sebuah ruangan kecil, ada sebuah kasur busa khusus massage.

Aya berganti pakaian khusus. Petugas datang memulai perawatan.

"Permisi ya kak, kita mulai perawatan."

Aya mengangguk, lalu proses massage dimulai. Mereka mengobrol hal kecil, seperti kapan acara pernikahan dan lainnya. Aya merasa rileks, dia menikmati pijatan di pundak dan belikat. Sampai tak terasa ia tertidur.

Setelah massage Aya minta ijin untuk sholat dzuhur dulu dan makan siang, lalu lanjut perawatan lain.

Waktu bergulir cepat, tepat jam empat Aya selesai seluruh perawatan. Ia mengendarai motornya santai memasuki perumahan rumah mertuanya.

"Assalamu'alaikum, " sapanya setelah sampai.

"Wa'alaikumsalam, " sahut Rama dan Harum bersamaan di ruang tengah.

"Wah makin segar setelah perawatan, " ujar Harum mencairkan suasana.

"Iya, Ma. Sudah lama nggak ke salon. Akhirnya ada kesempatan, " sahut Aya sambil duduk di samping Harum masih dengan tas kerja di pundaknya.

"Aya, " panggil Rama dengan wajah serius.

Aya yang sejak tadi tak menatap Rama sama sekali, menoleh dengan ekspresi enggan.

"Pagi tadi, Abang ke rumah umi."

"Ngapain? " tanyanya penasaran.

"Abang bicarakan soal Amel ke umi dan Ami Usman."

Aya terhenyak, menatap Rama dengan wajah tegang.

"Umi minta, setelah acara.. Kamu tinggal kembali ke rumah. Jadi, bawa barangmu sekalian ya. Dari vila abang antar ke rumah."

"

Umi sama Ami gimana reaksinya? "

"Marah pastinya. Makanya Umi memutuskan begitu."

"Nggak apa-apa, Aya ikut kata umi aja dulu ya. Kapan-kapan bisa jalan- jalan ke sini. Umi benar, biar Rama menyelesaikan urusan nya dulu dengan Amel. Meski sebenarnya Mama lebih berharap kamu tetap disini menemani Rama. Dia butuh kamu untuk menguatkan keputusannya. Tapi, Mama juga nggak bisa mengelak. Rama memang salah membuat masalah ini berlarut-larut."

Aya memeluk Harum. Ia sadar, Harumlah yang menjadi penguat nya selama tinggal di rumah itu. Kalau bukan karena melihat kondisi Harum yang belum begitu sehat ia mungkin sejak lama pulang kembali ke rumah uminya.

"Maaf ya, Ma. Aya belum berbuat banyak buat Mama. Mungkin Aya juga mengecewakan, Mama."

"Nggak kok sayang, Mama tahu bagaimana perasaanmu. Mama nggak mungkin kecewa sama kamu, mama kecewa sama anak mama sendiri yang bikin kamu sedih, " sahut Harum sambil melirik ke arah Rama. Spontan Rama salah tingkah.

"Terima kasih pengertiannya, Ma."

Aya berlalu ke kamar berkemas barangnya sebelum berangkat ke Vila.

Di perjalanan menuju Vila, Aya masih diam. Aya tak bisa membayangkan betapa kecewanya umi dan Ami usman. Tapi ia bersyukur, keputusan umi membuatnya tidak merasa beban meninggalkan rumah itu. Apalagi Harum sudah menerima keputusan itu.

"Aya, aku pastikan segera menyelesaikan urusanku dengan Amel dan segera menjemput mu kembali."

"Aku nggak mau berharap apa-apa bang, putuskan lah dengan pikiran jernih. Apapun keputusanmu, aku akan terima."

Rama hanya bisa terdiam. Senja itu menjadi moment yang akan sulit dilupakan bagi keduanya. Suasana jalan menuju Vila terasa lengang. Begitu juga hati keduanya yang kini hampa dan kosong kehilangan kehangata.

1
Retno Harningsih
lanjut
falea sezi
laki goblok klo aya tau dia mending cerai ma laki oon kayak lu ram
Retno Harningsih
up
Retno Harningsih
lanjut
falea sezi
lagi Thor cerai aja aya
Retno Harningsih
up
falea sezi
dateng2 nampar jalang emank si amel ini
Retno Harningsih
lanjut
Retno Harningsih
up
Retno Harningsih
lanjut
falea sezi
uda end kah thor
Cahaya Tulip: belum akak.. ditunggu ya.. msh progress next bab.. baru bisa up besok🙏☺
total 1 replies
falea sezi
laki bejat
Retno Harningsih
lanjut
Cahaya Tulip: siap kak.. msh progress di up besok ya🤗🥰🙏
total 1 replies
Retno Harningsih
up
Cahaya Tulip: otw kak.. msh progress review.. 🥰🙏
total 1 replies
Retno Harningsih
lanjut
Retno Harningsih
up
Retno Harningsih
lanjut
Retno Harningsih
up
Retno Harningsih
lanjut
Cahaya Tulip: masih review ya kak🥰🙏
total 1 replies
Retno Harningsih
up
Cahaya Tulip: masih direview sistem kak.. ditunggu ya🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!